Aku berdiri di depan cermin sekali lagi pagi ini, tak ada yang berubah. Wajah itu masih selalu sama, meskipun usiaku sekarang sudah mencapai angka 29. Mungkin ada sesuatu yang telah berganti, namun aku tidak begitu menyadarinya karena aku tidak pernah benar-benar peduli tentang penampilanku. Ternyata ketidakpedulian itu cukup untuk mengejutkanku bahwa sekarang tatapan itu mulai redup dan senyum itu sudah mulai samar.
Setelah menyelesaikan sarapan pagiku dengan sepotong roti, aku kembali berangkat bekerja dalam kesendirian. Hal ini telah terjadi selama beberapa tahun. Meskipun aku telah menjadi istri seseorang, tapi aku masih saja sendirian di sini, melawan rasa sepi .
Terkadang aku merasa sangat lelah menjalani kehidupan ini tanpa suami yang selalu siap mendampingi. Tapi kesendirian itu bukan sepenuhnya salahnya. Toh dia telah memintaku mengikutinya ke Jerman untuk menemaninya menyelesaikan program paska sarjana. Aku menolaknya karena ketakutanku akan kehilangan momen-momen indah bersama murid-muridku.
Berhenti di traffic light aku melirik sejenak ke arah jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Waktu masuk kelas hampir tiba, ketika tanda lampu berubah hijau, buru-buru aku larikan motorku ke arah sebuah bangunan boarding school tingkat menengah atas di Kota Banda Aceh tempat dimana aku telah mengabdi selama lima tahun.
"Di sini Kau rupanya, Junia. Beberapa siswa mencarimu tadi." Kata salah seorang teman segera setelah aku masuk ke ruang guru.
"Emm, kayaknya aku gak ada janji hari ini.” Aku menjawab malas.
"Kau tak harus membuat janji dengan siapapun, tetapi siswa-siswa kita akan selalu mencarimu. Kamu kan guru favorit. Hahaha." Lita berkata sambil tertawa.
"Jangan godain aku, Ta. Jadi guru baik aja belum mampu, apalagi
jadi guru favorit. Mereka hanya perlu
mendiskusikan sesuatu karena ujian akhir sudah dekat." Aku menjawab kata-kata Lita sambil berjalan keluar
melalui pintu kantor yang bercat
abu-abu.
"Aku duluan." Izinku kepada sahabat karibku dan segera melangkah menuju kantor keduaku di laboratorium Biologi tempat dimana beberapa siswa sedang menungguku.
"Miss.. kami udah nungguin sekitar lima belas menit." Sambut mereka melihat aku mendekat.
Entah kenapa semua orang memanggilku dengan sebutan 'Miss' ketika aku baru mengajar di sini lima tahun yang lalu. Mungkin alasannya hanya karena aku suka menyapa semua orang dengan sapaan Inggris seperti, "Hallo, Good morning dan Good afternoon."
"Maaf, Nak, Miss ada kegiatan pagi ini. Jadi datang sedikit terlambat." Itu bisa menjadi alasan yang sempurnakan?
"Kalian bisa SMS Miss kalau memang butuh bantuan. Miss bisa datang lebih awal lain kali." Aku menambahkan.
Lalu sekitar lima orang siswi berdiri mengelilingi mejaku dan mulai menanyakan masalah ini dan itu. Kami hanya melakukan diskusi - sepuluh menit karena bel segera mengingatkan kami bahwa waktu istirahat sudah berakhir.
"Oke, Miss mau masuk kelas sekarang. Lanjutkan diskusinya dengan teman-teman nanti."
"Terima kasih, Miss, kami juga harus masuk kelas. Sampai jumpa." Mereka mengambil tas mereka, menciumi tanganku dan buru-buru berlari ke kelas masing-masing.
Aku menutup pintu kantorku -sebuah ruang berukuran 4 x 5 meter yang terhubung dengan Lab. Biologi yang juga sebuah tempat yang sempurna untuk menyembunyikan kesepianku - dan berjalan menuju ke tangga. Seseorang telah menunggu disana. Aku tidak benar-benar yakin apakah ia sedang menungguku atau kami hanya secara kebetulan tiba pada saat yang sama. Tapi hal itu telah terjadi berkali-kali. Dia berdiri di sana hampir setiap pagi atau setelah jam istirahat, tepat setiap kalinya aku mempunyai jadwal mengajar di lantai dua.
" Assalamualaikum, Miss." Dia menyapaku seperti biasa.
"Wa'alaikumsalam. Yuk, masuk." Ajakku sembari menjawab salamnya.
Dan seperti biasa, dia berjalan di sampingku tanpa berkata apa-apa. Ia masuk kelas dan aku melewati kelasnya ke ruang lain.
"Anak baik." Ujarku dalam hati .
Aku baru saja mulai menjelaskan tentang teori Botani kepada siswa-siswi kelas XI- IA2 ketika tanpa sengaja aku melihat seseorang berdiri di luar jendela menatap ke arahku.
"Hmm, itu dia ." Bisik hatiku .
Aku berusaha untuk tidak melihat ke arah jendela tempat seorang anak laki-laki tanggung berwajah tampan sedang berdiri disana, dengan melanjutkan penjelasanku tentang materi Botani. Aku menebak dia telah berdiri disana sekitar 3 menit dan sekarang ia berdiri di depan pintu ruang kelas XI-IA3 untuk meminjam tinta kepadaku.
"Maaf Miss, boleh saya minta tinta?” Ujarnya dengan ramah.
" Boleh dong, ini dia." Aku menyerahkan tinta, dan ia pergi setelah mengucap terima kasih.
Sebenarnya
aku sedikit terganggu dengan sikapnya, tapi sepertinya aku
suka.
" Oke, waktu sudah habis. Kita lanjutkan minggu depan. Sampai jumpa. Assalamu'alaikum."
Aku menutup kelasku dengan salam dan segera keluar sehingga siswa-siswiku tidak harus mengantri untuk menyalamiku. Mereka menyalamiku setiap saat. Aku tidak benar-benar tahu untuk apa mereka melakukan itu. Aku sering mencoba menghindari hal ini dengan berjalan keluar secepatnya setelah kelas usai.
“Guru yang aneh.”
Aku tersenyum sendiri.
Aku melangkah
sendiri menuju tangga sebelum seorangpun dari siswaku meninggalkan kelas. Tapi alangkah terkejutnya aku mendapati si remaja
tanggung telah berada di
sana, menungguku.
" Pulang, Miss?"
"Oo ya, ayo turun." Aku sedikit terkejut ketika menjawab pertanyaannya.
Kami berjalan berdampingan tanpa berkata apa-apa.
" Miss duluan ya." Kataku setelah mencapai tangga terakhir.
" Iya, Miss.” Jawabnya sambil berlari ke asrama dengan cepat.
.
Sebenarnya dia bukanlah siswa baru. Dia telah menjadi siswaku selama sekitar satu setengah tahun. Tidak ada yang istimewa dari sikapnya selama ini, tapi sekarang aku merasa dia benar-benar aneh.
Sebenarnya dia bukanlah siswa baru. Dia telah menjadi siswaku selama sekitar satu setengah tahun. Tidak ada yang istimewa dari sikapnya selama ini, tapi sekarang aku merasa dia benar-benar aneh.
Suara azan dhuhur bergema mengiringi langkahku melalui loudspeaker dari musalla yang bertempat di tengah area kampus. Musalla ini adalah jantungnya sekolah boarding SMAN 21 Harapan Ummah.
Di sisi kanan musalla berjejer bangunan kelas dan beberapa bangunan laboratorium. Di bagian kiri berdiri sebuah bangunan lantai tiga berwara biru yang berfungsi sebagai asrama untuk para siswa. Sementara lapangan basket mengapit mushalla melalui kedua sisi depan dan belakang.
Ini adalah sebuah lingkungan yang sempurna. Dengan pohon-pohon rindang beserta bangunan-bangunan besar dengan fasilitas lengkap di dalamnya. Hal ini benar-benar sesuai dengan gelar sekolah unggul yang disandang oleh instansi ini. Bukanlah sebuah keanehan jika kemudian banyak orang tua memilih sekolah ini untuk menyiapkan masa depan anak mereka.
Tiba di
ruang kantor, aku mendengar
Laura Pausini bernyanyi dari ponselku.
"Dimana, Buk ?" Suara khas Alia terdengar dari seberang sana.
"Sekolah."
"Kami mau keluar untuk makan siang ni, sama Muthy. Mau ikutan?" Tambah Alia.
" Boleh." Aku masih memberikannya sebuah jawaban singkat .
" Oke, kami tunggu di kantor Muthy ya. Lima belas menit." Alia menantangku .
Dan aku selalu menyukai tantangan itu."Oke, aku akan berada di sana sebelum lima belas menitmu. Bye."
Aku memakai jaket dan menutupi kepala dengan helem hitam tebal. Sekali lagi, mulai mengendarai kesepian ini. Aku menjalankan sepeda motor secepat aku bisa. Ini adalah kebiasaan buruk menurutku. Sejujurnya, aku tidak pernah bermimpi untuk menjadi pembalap, tapi waktu seperti pisau, tebas dia atau dia akan menebasmu. Dan tanpa sengaja aku harus melawan waktu untuk memotong sekitar 12 mil setiap hari, sekitar lima tahun pada saat aku sedang belajar di universitas dahulu. Dan kebutuhan itu kemudian menjadi kebiasaan. Ini benar-benar kebiasaan, bukan hobi. Percayalah!
***
" Lantai dua, Miss?" Salah seorang siswa lewat di depanku, menjabati tanganku dan berlari ke arah tangga. Giliran kelasnya sekarang. Dan dia ada di sana di puncak tangga tersenyum dan menyapa.
"Assalamu'alaikum, Miss."
"Wa'alaikumsalam warahmatullah."
Kami berjalan menuju ruang kelas bersama-sama.
"Oke, Nak, silahkan buka buku kalian di Bab Sistem Jaringan. Namun sebelumnya, lebih baik kalian duduk dalam kelompok dulu karena kita akan mengadakan sedikit diskusi hari ini."
Aku mulai menerangkan apa yang mereka harus pahami dari bab ini. Kemudian aku berjalan berkeliling kelas memeriksa kerja mereka satu per satu.
Setelah mengontrol semua kelompok, aku mengambil tempat di salah satu kelompok siswi. Beberapa orang siswi memintaku mengulang penjelasanku tadi Sementara aku menjawab pertanyaan siswi-siswiku, tanpa kusadari sepasang mata sedang menatap ke arahku atau mungkin ke arah seorang siswi di sampingku, entahlah.
Aku penasaran dengan sepasang mata itu dan memalingkan muka untuk melihat ke arah kepala yang sedang ditelungkupkan ke atas meja dengan kedua lengan menutupinya. Ternyata itu adalah dia, si remaja penunggu tangga. Dia pasti sangat malu karena dia tidak menyangka aku berbalik menatap ke arahnya .
Usai kelas, aku memutuskan untuk berbicara dengannya. Tapi aku tidak tahu harus melakukannya atas alasan apa.
Semua siswa lari menuruni tangga secepat yang mereka bisa. Tapi dia masih berdiri di luar sana, menungguku.
"Emm, bisa kita bicara sedikit?" Aku bertanya dengan hati-hati.
"Tentu saja, Miss. Di sini?" Dia balik menanyaiku.
" Di dalam aja." Dia mengikuti duduk di seberang meja guru.
"Apa Miss pernah buat salah waktu mengajar?" Aku mencoba mencari sebuah pembukaan yang baik, tapi aku gagal.
"Gak, Miss. Saya sangat menyukai kelas Miss. Menurut saya kawan-kawan lain juga seperti itu." Dia menjawab dengan jujur.
"Tapi Miss merasa tidak nyaman karena ada seseorang yang selalu melihat ke arah Miss waktu Miss ngajar." Padahal faktanya bukan seperti itu. Dia bukan melulu melihat ke arahku ketika aku mengajar, tetapi lebih sering di kesempatan lain.
"Itu membuat Miss merasa bersalah.” Aku menambahkan.
"Anak kelas mana, Miss ?" Ia tampak benar-benar ingin membantu .
"Hufff, dia tak bersalah! Ini hanya perasaanku saja." Aku membisiki hatiku.
"Miss tidak tau harus ngomong gimana, tapi Miss benar-benar tidak nyaman dilihatin oleh laki-laki, walaupun dia hanya seorang anak kecil…… sepertimu." Akhirnya aku mengaku.
"APAAA? Ssssaya?" Dia benar-benar terkejut.
"Miss salah paham. Saya benar-benar tidak pernah bermaksud melakukannya." Wajahnya berubah merah saat ia menjawab pertanyaanku.
Aku melakukan kesalahan yang sangat besar hari itu. Ya, kesalahan yang amat sangat besar. Keadaan kelaspun berubah menjadi sangat tidak ramah. Apakah dia marah atau malu, aku benar-benar tidak tahu.
"Maafkan Miss, Nak. Miss cuma ingin kamu jadi anak baik yang selalu dapat menjaga pandangan dari segala hal yang buruk." Pikiranku kosong sama sekali. Aku tidak tahu bagaimana harus menutup pembicaraan tak terduga ini. Kalau saja aku bisa memutar waktu, aku bersumpah aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh tersebut.
Dia diam tak berkata apa-apa lagi.
"Maafin Miss karena harus ngomong yang sebenarnya. Miss sangat berharap kita masih bisa berteman seperti biasa." Aku berdiri dan berjalan keuar kelas perlahan-lahan. Dia menyusul di belakangku dengan gontai. Aku menunggunya di tangga, tapi ia kembali ke kelas. Mungkin ia ketinggalan sesuatu. Aku kemudian melangkah menuruni tangga, sendirian.
Ini akan membawa perubahan besar dan menciptakan sebuah tembok tinggi antara aku dan siswaku yang tanpa kusadari telah menjadi salah satu siswa yang sangat kusayang.
Aku berjalan menuju ruang guru dan mengiriminya sebuah pesan singkat untuk meminta maaf . Tapi aku tidak akan pernah mendapatkan balasannya sampai neraka membeku.
Dan semuanya memang berubah seperti dugaanku. Kami masih bertemu setiap hari tetapi ia tidak pernah mengatakan ‘Hallo’ atau tersenyum kepadaku lagi. Dia tampak seperti berusaha menghindariku sebisanya.
Aku menyalahkan diri untuk keadaan yang tidak menyenangkan ini. Pasti akan makan waktu lama untuk mencairkan suasana yang sudah sebeku gunung es.
Dan sebaliknya, kini aku yang menatapnya. Atau hanya mencoba untuk menyapa dan memberinya senyum. Tapi siswaku itu tampak tak peduli. Ia masih terluka, mungkin. Hingga akhirnya, aku menyerah dan memutuskan untuk berhenti mencoba. Tapi aku tetap harus mengajar di kelasnya seminggu sekali.
Frustasi
dengan situasi ini, aku tiba-tiba ingat
Amel -seorang
sahabat karib yang sedang belajar di Khourtoum University, Sudan- yang pernah
kucurhati tentang masalah ini
dan aku segera membuka email.
Ternyata dia
telah lama membalas emailku.
Dear, Ukhti..
Hal yang anti hadapi saat ini adalah hal yang lumrah terjadi di tempat kerja. Kadang-kadang kita berhasil melakukan pekerjaan dengan baik, tapi kadang kala juga melakukan beberapa kesalahan.
Ane tahu, anti terganggu oleh situasi ini tapi belum ketemu cara jitu untuk menyelesaikan masalah anti.
.
Menurut ane lebih baik anti cari tahu tentang latar belakang siswa tersebut biar bisa faham kenapa dia seperti itu. Mungkin ia membutuhkan perhatian, atau ia hanya mengagumi anti sebagai seorang guru yang baik yang peduli terhadap semua siswa. Terus berpikir positif yaa.
Menurut ane lebih baik anti cari tahu tentang latar belakang siswa tersebut biar bisa faham kenapa dia seperti itu. Mungkin ia membutuhkan perhatian, atau ia hanya mengagumi anti sebagai seorang guru yang baik yang peduli terhadap semua siswa. Terus berpikir positif yaa.
Keadaan anti sekarang sepertinya juga sedang futur. Anti uda lama gak halaqahkan? Anti seharusnya tidak boleh sendirian dalam jangka waktu yang lama, karena banyak hal yang bisa terjadi pada kita dan kadang-kadang kita tidak bisa menghadapinya sendiri. Kita perlu orang lain untuk berbagi.
Ane tau anti sedang begitu kesepian sekarang karena anti hidup sendirian jauh dari keluarga dan suami. Anti juga tidak berinteraksi dengan baik dengan partner di lingkungan kerja kan? Itu jelas membuat anti kesepian, Ukhti.
Ane tau perasaan anti, ane bisa merasakannya, meskipun ane berada ribuan mil jauh darimu.
Ane benar-benar percaya bahwa anti dapat menghadapi masalah ini dan mengatasinya dengan baik. Dan pengalaman akan menuntunmu menjadi seorang guru besar suatu hari nanti. Percayalah!"
Dia menutup surelnya dengan pelukan hangat.
Suratnya telah menjawab semua pertanyaan yang kusimpan dalam pikiranku. Dia tahu segala apa yang kurasakan.
"Jutaan terima kasih, Ukhti ... dekat atau jauh kau selalu dapat diandalkan."
Seusai membalas pesannya, akupun merebahkan diri sejenak. Pikiranku terasa sangat ringan seolah-olah tubuhku bisa terbang karena beban berat telah meninggalkan alam pikiranku.
Bunyi beep dari ponselku memberitahu bahwa ada sebuah pesan yang kuterima.
"Lo baik-baikkan?" Uda beres masalahnya?” Itu Alia.
"Ya .. Nampaknya udah." Balasku cepat.
"Nampaknya? Apa maksudnya tuh?! Bantai,Buk!”
Kata-katanya selalu bisa membuatku merasa lebih baik.
"Ha .. ha .. ha .. Pastinya." Aku mengirim pesan terakhir.
Rabbi .. Betapa bersyukurnya aku kepada-Mu untuk anugrah teman-teman luar biasa seperti mereka yang selalu ada setiap kali kubutuhkan.
***
SAATNYA BERAKSI ....
SAATNYA BERAKSI ....
Aku berjalan dengan penuh semangat seperti sedang mendengar salah satu soundtrack dari Film Alvin and the Chipmunks yang berjudul " Follow Me Now . "
Aku tersenyum pada semua orang, menyapa setiap siswa yang kulewati dan sampai ke kelas aku masih merasa sangat bersemangat .
" Assalamu'alaikum." Aku membuka kelas dengan kisah orang-orang yang saling mencintai karena Allah. Yang harus mereka lakukan hanyalah saling memberi salam.
Lalu, akupun melanjutkan penjelasan tentang Sistem Sirkulasi .
Setelah menyelesaikan penjelasan, aku menulis beberapa tugas di papan tulis.
Dan dia berada disana, salah satu anggota kelas ini .
Aku mendekatinya dan berkata, "Hallo , Gimana kabarnya?"
"Saya baik, Miss." Dia tersenyum.
Dan gunung espun mulai mencair.
Tapi ternyata itu bukan akhir dari cerita .....
“Tok, tok.” Pak Syah salah satu staf di administrasi mengetuk pintu kelas.
"Anda ditunggu oleh kepala sekolah di kantornya sekarang, Bu. " Katanya
sambil tersenyum.
" Saya segera kesana, Pak . " Aku menjawab dan memohon izin sebentar kepada siswa-siswiku .
Kabar baik apalagi yang saya akan kuterima di
sana di ruang kepala sekolah? Aku mencoba menebak.
" Assalamu'alaikum, Pak." Aku masuk ke ruang kepala sekolah.
" Masuklah, silakan." Katanya buru-buru.
Aku duduk di salah satu sofa di hadapan bosku. Aku merasa sedikit gugup demi memerhatikan wajah bosku tampak tidak ramah.
"Saya baru saja mendapat surat pemindahan Ibu ke sekolah lain." Dia terdengar kecewa.
"APA?" Aku seakan mendengar suara guntur.
"Saya sangat menyesal memberitahu Ibu bahwa Anda tidak dapat lagi mengajar disini. Anda telah membuat kesalahan besar kepada salah satu siswa kita." Intonasinya semakin keras.
"Tidakkah Anda menyadari bahwa seseorang yang Anda cari masalah itu adalah keponakan Pak Muhibuddin, kepala departemen pendidikan dan kebudayaan? Saya sangat kecewa dengan Anda.”
Aku benar-benar terkejut. “Aku pernah cari masalah dengan siapa? Apa jenis masalah besar yang sekarang akan menendangku keluar dari sekolah ini.” Aku bertanya-tanya bingung.
Aku bukan jenis orang yang memberi banyak perhatian terhadap latar belakang murid-muridku. Sulit untuk menemukan nama yang berkaitan dengan Pak Muhibuddin dan akhirnya aku gagal.
"Anda tidak hanya mempermalukan diri Anda sebagai guru, tetapi juga sekolah kita. Mengapa Anda tidak berpikir secara mendalam sebelum
melakukan suatu hal bodoh yang akan memberikan kesan buruk terhadap sekolah ini?"
Aku benar-benar tidak faham tapi tak berani menyanggah.
" Ini adalah hal yang memalukan ketika Anda memiliki hubungan pribadi dengan siswa Anda." Dia benar-benar marah sekarang.
“Hubungan apa maksud Bapak dan dengan siapa saya menjalin hubungan itu? Saya benar-benar tidak mengerti, Pak." Aku mencoba membela diri.
"Jangan pura-pura lupa dengan apa yang telah Anda lakukan pada Faizul Mubarak. Bukankah Anda mengganggunya dengan……" Bosku tampak gemetar ketika mengucapkan kalimat yang tak sempat diselesaikannya.
Dan aku benar-benar sangat terkejut mendengar nama itu.
"Anda seorang guru ... " Dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Aku bersumpah belum pernah melihatnya semarah ini sepanjang lima tahun aku mengenalnya.
Dia rupanya orang yang sedang kami bicarakan. Aku tidak tahu apa yang telah ia katakannya kepada orang tuanya, tapi ia tampak telah memenangkan kasus ini dan akan segera mengusirku dari sekolah ini.
" Oke, Pak. saya akan segera pergi. Saya akan mengambil semua barang-barang saya Sabtu sore ketika tidak ada orang di sekolah."
Aku merasa lelah dengan semua ini. Aku benar-benar ingin pulang. Aku merangkul jiwaku yang kosong. Ia sangat rapuh sekarang.
Semua ini seperti mimpi. Baru saja aku mendapatkan sebuah senyuman yang akan mengakhiri semua masalah. Begitu aku sempat berpikir. Tetapi semuanya hancur dalam sekejap.
Aku berjalan ke kantor administrasi, mengambil semua lisensi yang akan kuperlukan. Dan lirik-lirik Bee Gees yang terdengar dari komputer Pak Syah membangunkanku dari mimpi yang menyakitkan.
I started a joke
which started the whole world crying.
But I
didn’t see that the joke was on me.
I started to cry which started the whole world laughing. Oh if I’d only seen that the
joke was on me.
Setelah mendapatkan semua surat yang kuperlukan dari Pak Syah, aku meninggalkan ruangan dengan terisak.
Till I finally died which started the whole world living. Oh if I’d only seen that the joke was on me
Bee Gees telah menyadari semenjak dulu bahwa pecundang perlu tahu bahwa mereka tidak benar-benar penting di dunia ini. Mereka hanya orang-orang menyedihkan yang telah membuat dunia tersenyum atas tangisan mereka. Membuat dunia hidup di atas kematian mereka. Dan para pecundang itu harus suka rela menyenangkan semua orang dengan keabsenan mereka. Dan hari itu, aku benar-benar yakin bahwa mereka menulis lagu itu untukku.
Aku menyapa semua orang yang kulewati dengan senyum yang kupaksakan, aku pergi menjemput takdirku melewati dunia yang sedang tertawa.
Keputusan sudah kubuat. Aku akan berhenti dari pekerjaanku. Aku tidak berpikir bahwa tempat kerja baru akan lebih baik daripada di sini. Semua hal yang melintas kembali dalam ingatanku cukup yang untuk mengingatkan bahwa lebih baik untukku meninggalkan kota tercinta ini sesaat. Aku akan terbang ke Jerman minggu depan. Itu sudah keputusan final.
***
"Aku pulaaaaaaaaang. Kita sudah kembali. Kita sudah sampai, Sayang.” Aku berteriak senang luar biasa pada saat tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda.
Empat tahun sudah sejak aku meninggalkan kampung halaman tercinta, Banda Aceh. Dan sekarang aku akan berada di sini selamanya untuk waktu yang tak terbatas. Aku bersumpah !
Dan hal yang paling menyenangkan adalah aku tidak akan sendirian lagi. Suamiku juga sudah di sini menemaniku, bersama dengan seorang gadis kecil berusia dua tahun. Ini adalah sebuah dunia yang sempurna untuk dijalani.
Kita tidak pernah tahu apa yang telah Allah siapkan untuk hidup kita. Hal-hal buruk yang sepenuhnya telah terlupa, tergantikan oleh banyak hal-hal luar biasa. Aku tidak pernah merencanakan bahwa keberangkatanku ke Jerman yang tadinya untuk mendampingi suami, ternyata telah mengantarkanku untuk menyelesaikan program pasca sarjana.
Setelah beberapa bulan kepulangan kami, aku memutuskan untuk bekerja lagi. Aku akan menjadi asisten dosen di salah satu universitas favorit di Banda Aceh. Tidak menjadi masalah bagiku melakukan pekerjaan yang sederhana ini. Aku sangat menyadari bahwa aku tidak bisa lagi menahan diri tanpa melakukan apapun. Aku akan merasa sangat bosan.
Dan .. disinilah aku hari ini, melangkah dengan penuh semangat dan wajah penuh senyuman demi menghadiri pertemuan pertamaku di kampus ini.
Aku baru saja melangkahkan kaki di tangga pertama ketika tiba-tiba aku mendengar seseorang berucap di belakangku.
"Assalamu'alaikum, Miss."
Aku memutar leher dan dengan senang hati menjawab salam pertama untukku di hari pertama kumengajar. Di sana aku melihat seorang pemuda tampan berpostur tinggi. Dan sekonyong-konyong, itukah dia, si Faiz kecilku sedang berdiri di depanku dan tersenyum?
Aku benar-benar terkejut demi menyadari itu benar-benar dia, seseorang yang telah benar-benar kuusahakan untuk kulupa selama empat tahun ini karena telah menyeretku ke dalam kasus-kasus yang tak terlupakan.
" Lantai atas, Miss?" Dia memberi pertanyaan lain karena melihatku terbengong tidak menjawab salamnya.
" Oo.. ya. Ayo sama-sama." Akhirnya, hanya kata itu yang keluar dari mulutku .
Kami berjalan berdampingan tanpa suara. Terlalu banyak pertanyaan yang harus diutarakan sehingga pilihan untuk diam adalah pilihan terbaik.
“Ia tak
bersalah”. Bisik
hatiku. “Tak sedikitpun”. Aku benar-benar yakin.
For : Muhammad-Muhammad
Thanks for inspiring. The story will never release without your being.
For : Muhammad-Muhammad
Thanks for inspiring. The story will never release without your being.
No comments:
Post a Comment