Thursday, 29 May 2014

GANTENG????

May 23, 2013 at 12:00pm

Masa-masa indah di asrama...

“ADA COWOK GANTEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEENG… MATI ANA.”

Seorang kawan tergopoh-gopoh lari sambil berteriak-teriak seperti sedang dikejar maling. Tapi isi teriakannya sungguh syahdu mendayu sehingga membuat semua penghuni asrama putri bagian belakang berhamburan keluar mendekati sang pembawa kabar gembira.

“Tarek meja… Angkat kursi… Cepaaaaaaaaaaat..” Dengan napas yang masih ngos-ngosan, pembawa kabar memberi aba-aba kepada anggota kamar  9 untuk mengeluarkan satu-satunya meja multifungsi yang berada dalam kamar tersebut.

Meja dan kursipun didorong mendekati tembok setinggi  dua setengah meter yang menjadi pembatas blok putra dan putri.

“Pegang.Pegang.. Ana duluan. Tar gantian.” Ucap pembawa kabar dengan terburu-buru sembari menaiki meja beralas kertas kado bergambar teddy bear yang sudah berada tepat di seberang tembok pembatas.

“Ya Allah… Jamil jiddan. Mati ana..” Dia terus berceracau mengulang kata-kata yang sama sehingga membuat kami yang menunggu giliran untuk melihat santri baru yang sedang diantar Ustadz menuju Blok putra, menjadi sangat penasaran.

“Khalash. Inzily… Baddil. Baddil,,” Bahasa Arab broken terdengar dari mulut seorang kawan yang lain yang juga kelihatan sangat tidak sabaran.

“Ain? Ainalladzi jamiil?? Ada tiga orang tu.”Seorang santriwati lain bertanya dari atas kursi yang sedang dinaikinya.

“Athwal..Athwal .” kata-kata dari si gadis pembawa kabar tadi menerangkan bahwa si ganteng adalah yang paling tinggi diantara ke tiga murid baru.

“Udah.. Turun.Turun. kak Sumi juga mau liat.” Antrian panjang kami yang sedang penasaran tiba-tiba dipotong oleh Kak Sumi, kakak dapur kami yang paling baik budi, yang suka menambah jatah ikan jika rayuan kami mempan, tanpa sepengetahuan ibu dapur, tentunya..

“Kalau gak turun, kak Sumi laporin ustadz.” Ancam Kak Sumi sambil menarik-narik rok biru berbunga-bunga kecil yang dipakai kawanku yang sedang mengintip dari balik tembok panjang.

“Ihhh, kak Sumi ni…” Ia yang buru-buru turun menggerutu mendengar ancaman kak Sumi.

“Aduuuhhh. Uda mau masuk asrama, gak nampak lagi.” Intonasi suara kak Sumi terdengar kecewa.

Namun kekecewaan yang terbesar adalah milik kami, yang telah rela mengangkat meja dan kursi, rela mengantri lama,tapi tidaak mendapatkan apa-apa.. Gara-gara kak Sumi datang memotong kompas, harapan kami melihat cowok-cowok ganteng tersebut pupus sudah.

“Labaksa, ghadan faqadh,  fil fashl..” Ucapku menghibur wajah-wajah kami yang kecewa…

Dan ketika keesokan paginya aku bertemu cowok ganteng yang telah menjadi gossip paling hangat di asrama putri  Nyawong School malam itu, aku terpana. Terpana bukan karena kegantengan si cowok yang sepanjang malam dielu-elukan oleh kawan-kawan yang sempat mengintip, namun terlebih karena cowok itu, adalah salah seorang kawanku saat di Mts dulu.

Dan ternyata yang satunya lagi juga kawanku saat aku masih belajar di bangku Mts.

Sudah hampir dua tahun aku tidak bertemu mereka... karena di penghujung kls II, aku pindah sekolah, tak kuasa menjalankan program di Tsanawiyah favorit itu, karena otakku yang kurang encer, mungkin.

Aku heran, kenapa kawan-kawanku menganggap mereka itu ganteng dan keren. Padahal aku telah lama mengenal mereka. Kenapa aku tak pernah tahu kalau mereka mempuyai aura yang mampu menghipnotis mata dara-dara yang sedang duduk di kelas I MA Nyawong School. Mungkin aku sudah mulai harus berkaca mata. Mungkin.

Namun.... Dari saat itulah, aku baru dapat memahami sebuah ungkapan keseringan yang selalu keluar dari mulut kawan-kawanku, “Ganteng itu relatif.”

No comments:

Post a Comment