Thursday, 29 May 2014

GANTENG????

May 23, 2013 at 12:00pm

Masa-masa indah di asrama...

“ADA COWOK GANTEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEENG… MATI ANA.”

Seorang kawan tergopoh-gopoh lari sambil berteriak-teriak seperti sedang dikejar maling. Tapi isi teriakannya sungguh syahdu mendayu sehingga membuat semua penghuni asrama putri bagian belakang berhamburan keluar mendekati sang pembawa kabar gembira.

“Tarek meja… Angkat kursi… Cepaaaaaaaaaaat..” Dengan napas yang masih ngos-ngosan, pembawa kabar memberi aba-aba kepada anggota kamar  9 untuk mengeluarkan satu-satunya meja multifungsi yang berada dalam kamar tersebut.

Meja dan kursipun didorong mendekati tembok setinggi  dua setengah meter yang menjadi pembatas blok putra dan putri.

“Pegang.Pegang.. Ana duluan. Tar gantian.” Ucap pembawa kabar dengan terburu-buru sembari menaiki meja beralas kertas kado bergambar teddy bear yang sudah berada tepat di seberang tembok pembatas.

“Ya Allah… Jamil jiddan. Mati ana..” Dia terus berceracau mengulang kata-kata yang sama sehingga membuat kami yang menunggu giliran untuk melihat santri baru yang sedang diantar Ustadz menuju Blok putra, menjadi sangat penasaran.

“Khalash. Inzily… Baddil. Baddil,,” Bahasa Arab broken terdengar dari mulut seorang kawan yang lain yang juga kelihatan sangat tidak sabaran.

“Ain? Ainalladzi jamiil?? Ada tiga orang tu.”Seorang santriwati lain bertanya dari atas kursi yang sedang dinaikinya.

“Athwal..Athwal .” kata-kata dari si gadis pembawa kabar tadi menerangkan bahwa si ganteng adalah yang paling tinggi diantara ke tiga murid baru.

“Udah.. Turun.Turun. kak Sumi juga mau liat.” Antrian panjang kami yang sedang penasaran tiba-tiba dipotong oleh Kak Sumi, kakak dapur kami yang paling baik budi, yang suka menambah jatah ikan jika rayuan kami mempan, tanpa sepengetahuan ibu dapur, tentunya..

“Kalau gak turun, kak Sumi laporin ustadz.” Ancam Kak Sumi sambil menarik-narik rok biru berbunga-bunga kecil yang dipakai kawanku yang sedang mengintip dari balik tembok panjang.

“Ihhh, kak Sumi ni…” Ia yang buru-buru turun menggerutu mendengar ancaman kak Sumi.

“Aduuuhhh. Uda mau masuk asrama, gak nampak lagi.” Intonasi suara kak Sumi terdengar kecewa.

Namun kekecewaan yang terbesar adalah milik kami, yang telah rela mengangkat meja dan kursi, rela mengantri lama,tapi tidaak mendapatkan apa-apa.. Gara-gara kak Sumi datang memotong kompas, harapan kami melihat cowok-cowok ganteng tersebut pupus sudah.

“Labaksa, ghadan faqadh,  fil fashl..” Ucapku menghibur wajah-wajah kami yang kecewa…

Dan ketika keesokan paginya aku bertemu cowok ganteng yang telah menjadi gossip paling hangat di asrama putri  Nyawong School malam itu, aku terpana. Terpana bukan karena kegantengan si cowok yang sepanjang malam dielu-elukan oleh kawan-kawan yang sempat mengintip, namun terlebih karena cowok itu, adalah salah seorang kawanku saat di Mts dulu.

Dan ternyata yang satunya lagi juga kawanku saat aku masih belajar di bangku Mts.

Sudah hampir dua tahun aku tidak bertemu mereka... karena di penghujung kls II, aku pindah sekolah, tak kuasa menjalankan program di Tsanawiyah favorit itu, karena otakku yang kurang encer, mungkin.

Aku heran, kenapa kawan-kawanku menganggap mereka itu ganteng dan keren. Padahal aku telah lama mengenal mereka. Kenapa aku tak pernah tahu kalau mereka mempuyai aura yang mampu menghipnotis mata dara-dara yang sedang duduk di kelas I MA Nyawong School. Mungkin aku sudah mulai harus berkaca mata. Mungkin.

Namun.... Dari saat itulah, aku baru dapat memahami sebuah ungkapan keseringan yang selalu keluar dari mulut kawan-kawanku, “Ganteng itu relatif.”

Wednesday, 28 May 2014

Ketika seorang perempuan menatap laki-laki yang bukan muhrimnya,
si perempuan berdosa, namun laki-laki yang ditatapnya tidak.
tapiii
Ketika seorang laki-laki menatap perempuan yang bukan muhrimnya
Laki-laki itu berdosa. dan perempuan yang ditatapnya juga berdosa.
Dosa perempuan double, baik ketika menatap pun ketika menjadi target tatapan. Hmmm

Tuesday, 27 May 2014

Wahai Yang Maha Memberi rasa, arahkanlah perasaan ini ke tempat yang Kau redha

Monday, 26 May 2014

Semua magnet di dunia menarik kutub yang berlawanan.
Kecuali magnet HATI..
Ia akan menarik kutub yang sama

Rindu Bisu

Di semilir pucuk-pucuk pohon angsana
segenggam jiwa sedang terpaku
dibuai lara sapa sang bayu
tersentuh rindu tanpa suara
berteriak lantang di dalam sukma.
Ya.. hanya di dalam raga.

Rindu yang bisu...
diam tak berdentang

Untold Longing

Ketika merinduimu...
aku memilih rasa sakit untuk kunikmati.
karna aku ternyata
hanya punya dua pilihan..
membuangmu dari hatiku
atau
hidup bersama bayangmu
meski terselubung lara

When I was missing you..
I choose this hurt to feel
As I have only two choices
Leaving you..
or
Living with your shadow
even I have to be in pain

Saturday, 24 May 2014

Biarlah Rindu menjadi buliran rasa yang bebas menguap di udara, 
tak terpasung oleh sebuah pertemuan. 
Biarkan ia menari menembus athmosphere 
dgn terus melafazkan namaku dan namamu 
dan menghantarkannya ke surga

Friday, 23 May 2014

Loving is when you leave someone because of Allah, even you really want to be closed with.

Thursday, 22 May 2014

I LOVE YOUR EYES. So Whaat??

March 21, 2014 at 11:42pm

Aku Suka Matamu…

Syahdan, di sebuah zaman, hiduplah seorang gadis shalehah bermata indah di sebuah pemukiman yang sangat nyaman. Ia masih tinggal dengan kedua orang tua yang sangat luar biasa yang berhasil mendidik dan menjaganya sehingga ia tumbuh menjadi seorang gadis yang benar-benar bisa menjaga diri.

Si gadis yang sedang tumbuh dewasa itu bukan hanya memiliki akhlak yang indah namun juga wajah yang sama sempurna dengan akhlaknya. Saya ingin sekali menyebutnya dengan istilah ‘Ahsani Taqwiim’. Karena khawatir keindahan itu menjadi fitnah, si gadis meutuskan untuk memakai purdah (cadar) ketika ia memasuki usia remaja.

Dan dari mana lahir seorang anak dara seluarbiasa itu jika bukan dari sepasang orangtua yang telah Allah fahamkan agama yang sempurna ke dalam hatinya. Sang Ayah adalah seorang laki-laki hebat yang tak pernah membiarkan istri dan anak gadisnya pergi ke luar rumah tanpa dikawal olehnya. Sesibuk apapun beliau, selalu saja memberikan waktu khusus untuk keluarganya dan membereskan semua urusan ekstern dalam rumah tangga mereka.

Namun takdir waktu kemudian mengubah sesuatu. Formasi kepala keluarga yang sangat berhasil dipangku oleh Ayah yang luar biasa itu, kini mulai sedikit melemah karena beliau mendadak sakit. Dan beliau hanya memiliki seorang istri  dan seorang anak saja yang bisa menolongnya merawatnya di rumah. Dan ketika suatu saat keadaan si ayah bertambah lemah, ibunda yang bijaksana memutuskan untuk mengutus anak gadisnya mencarikan obat untuk ayahnya di kota.

Si gadis yang hampir tak pernah keluar rumah awalnya merasa sedikit takut, namun demi kesembuhan ayah tercinta semuanya rela ia lakukan.

Setelah mendapatkan seorang kawan yang cocok dan dapat dipercaya, ia pun kemudian berangkat ke kota demi menemui seorang thabib termahsyur di daerahnya untuk mendapatkan obat terbaik bagi orang yang paling dikasihinya dimuka bumi, her dad.  She did the same as I do ( #curhat :”) ).

Namun ketika dalam perjalanannya kembali ke rumah, sesuatu terjadi..

Keberadaan seorang pemuda asing mengganggu kenyamanannya. Pemuda tersebut terus menerus menatap ke arahnya. Tak berpindah sedikitpun pandangan itu dari wajahnya. Si gadis menjadi risih. Apa yang salah dengan dirinya?? Bukankah ia berpakaian taqwa dan menutup seluruh wajahnya dengan cadar. Hanya matanya yang sedikit ia biarkan terbuka karena dia sedang ingin membaca. Namun menyadari keadaan itu, ia langsung menutup buku dan menarik purdahnya untuk menutupi mata indah miliknya.

Selang beberapa saat dari kejadian itu, si gadis telahpun memaksa dirinya melupakan kejadian tersebut karena ia merasa malu kepada Allah. Ia malu telah membiarkan seorang laki-laki asing melihat ke arahnya. Namun, sebuah surat bersampul biru kemudian menyeretnya untuk kembali mengingat kejadian buruk dalam kendaraan yang di sewanya kembali ke desanya saat itu.

Dan surat itu ternyata berasal dari laki-laki asing yang sempat menggaggu alam fikirnya beberapa waktu. Dan laki-laki aneh itu menyampaikan maksud hatinya untuk meminang sang gadis karena sungguh MATA sang gadis itu telah menawannya dan menyiksa hatinya selama ini.

“I love your eyes.” Tulisnya dalam surat itu. “Would you like to marry me?”

Namun laki-laki itu sedang dalam keadaan menuntut ilmu sehingga mengharuskannya untuk tidak menikah dulu.

Keberadaan surat itu ternyata memperburuk suasana hati sang gadis dan membuatnya merasa semakin berdosa. Ia beristighfar terus menerus dan kemudian sebuah jalan keluar hadir di hadapannya. Sang ahsani taqwiim itu kemudian memutuskan untuk merelakan mata indahnya dihadiahkan kepada ‘secret admirer’ karena mata itulah yang telah menyeretnya dalam dosa-dosa. Ia merasakan tak berhasil menjaganya dengan baik.

Maka keputusan terakhir yang dibuatnya adalah mengirimkan sebuah surat kepada lelaki itu dan menghadiahinya sepasang mata, ya sepasang mata indah yang direlakan sang gadis tak lagi menyempurnakan keindahan wajahnya. Hanya karena ia TAKUT kepada DOSA. Ia TAKUT kepada ALLAH. T_T. (Takutkah kita???)

Dan saya hanya mengarang-ngarang saja apa yang ditulis oleh gadis itu dalam suratnya.

“ Jika sepasang mata ini telah menyebabkan kau dan aku berdosa, maka ambillah. Aku telah merelakannya untukmu, karena aku takut kepada Sang Pemilik mata itu. Aku takut Allah memurkaiku hanya karena sepasang mata..”

Begitulah akhir kisah ini saudaraku. Betapa sang gadis bermata indah itu telah mengajarkan kita sesuatu.
Berhati-hatilah dengan pandanganmu. Karena pandangan itu adalah salah satu dari panah-panah syaithan.
You have already known that !!

Wednesday, 21 May 2014

Cinta, tak membiarkannya terjembab dalam nista
Setia adalah membiarkan rinai pergi di penghujung Desember dan bersabar menunggunya kembali di awal Juni

Haunted Face


Aku berdiri di depan cermin sekali lagi pagi ini, tak ada yang berubah. Wajah itu masih selalu sama, meskipun usiaku sekarang sudah mencapai angka 29. Mungkin ada sesuatu yang telah berganti, namun aku tidak begitu menyadarinya karena aku tidak pernah benar-benar peduli tentang penampilanku. Ternyata ketidakpedulian itu cukup untuk mengejutkanku bahwa sekarang tatapan itu mulai redup dan senyum itu sudah mulai samar.

Setelah menyelesaikan sarapan pagiku dengan sepotong roti, aku kembali berangkat bekerja dalam kesendirian. Hal ini telah terjadi selama beberapa tahun. Meskipun aku telah menjadi istri seseorang, tapi aku masih saja sendirian di sini, melawan rasa sepi .

Terkadang  aku merasa sangat lelah menjalani kehidupan ini tanpa suami yang selalu siap mendampingi. Tapi kesendirian itu bukan sepenuhnya salahnya. Toh dia telah memintaku mengikutinya ke Jerman untuk menemaninya menyelesaikan program paska sarjana. Aku menolaknya karena ketakutanku akan kehilangan momen-momen indah bersama murid-muridku.

Berhenti di traffic light aku melirik sejenak ke arah jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Waktu masuk kelas hampir tiba, ketika tanda lampu berubah hijau, buru-buru aku larikan motorku ke arah sebuah bangunan boarding school tingkat menengah atas di Kota Banda Aceh tempat dimana aku telah mengabdi selama lima tahun.

"Di sini
Kau rupanya, Junia. Beberapa siswa mencarimu tadi." Kata salah seorang teman segera setelah aku masuk ke ruang guru.

"E
mm, kayaknya aku gak ada janji hari ini. Aku menjawab malas.

"
Kau tak harus membuat janji dengan siapapun, tetapi siswa-siswa kita akan selalu mencarimu. Kamu kan guru favorit. Hahaha." Lita berkata sambil tertawa.

"Jangan godain aku, Ta. Jadi guru baik aja belum mampu, apalagi jadi guru favorit. Mereka hanya perlu mendiskusikan sesuatu karena ujian akhir sudah dekat." Aku menjawab kata-kata Lita sambil berjalan keluar melalui pintu kantor yang bercat abu-abu.

 "
Aku duluan." Izinku kepada sahabat karibku dan segera melangkah menuju kantor keduaku di laboratorium Biologi tempat dimana beberapa siswa sedang menungguku.

"Miss.. kami
udah nungguin sekitar lima belas menit." Sambut mereka melihat aku mendekat.

Entah kenapa semua orang memanggilku dengan sebutan 'Miss' ketika aku baru mengajar di sini lima tahun yang lalu. Mungkin alasannya hanya karena aku suka menyapa semua orang dengan sapaan Inggris seperti, "Hallo, Good morning dan Good afternoon."  

"Maa
f, Nak, Miss ada kegiatan pagi ini. Jadi datang sedikit terlambat." Itu bisa menjadi alasan yang sempurnakan?

"
Kalian bisa SMS Miss kalau memang butuh bantuan. Miss bisa datang lebih awal lain kali." Aku menambahkan.

Lalu sekitar lima
orang siswi berdiri mengelilingi mejaku dan mulai menanyakan masalah ini dan itu. Kami hanya melakukan diskusi - sepuluh menit karena bel segera mengingatkan kami bahwa waktu istirahat sudah berakhir.

"Oke,
Miss mau masuk kelas sekarang. Lanjutkan diskusinya dengan teman-teman nanti."

"Terima kasi
h, Miss, kami juga harus masuk kelas. Sampai jumpa." Mereka mengambil tas mereka, menciumi tanganku dan buru-buru berlari ke kelas masing-masing.

Aku menutup pintu kantor
ku -sebuah ruang berukuran 4 x 5 meter yang terhubung dengan Lab. Biologi  yang juga sebuah tempat yang sempurna untuk menyembunyikan kesepianku - dan berjalan menuju ke tangga. Seseorang telah menunggu disana. Aku tidak benar-benar yakin apakah ia sedang menungguku atau kami hanya secara kebetulan tiba pada saat yang sama. Tapi hal itu telah terjadi berkali-kali. Dia berdiri di sana hampir setiap pagi atau setelah jam istirahat, tepat setiap kalinya aku mempunyai jadwal mengajar di lantai dua.

" Assalamualaikum, Miss
." Dia menyapaku seperti biasa.

"Wa'alaikumsalam.
Yuk, masuk." Ajakku sembari menjawab salamnya.

Dan seperti
biasa, dia berjalan di sampingku tanpa berkata apa-apa. Ia masuk kelas dan aku melewati kelasnya ke ruang lain.

"Anak baik."
Ujarku dalam hati .

Aku
baru saja mulai menjelaskan tentang teori Botani kepada siswa-siswi kelas XI- IA2 ketika tanpa sengaja aku melihat seseorang berdiri di luar jendela menatap ke arahku.

"Hmm, itu dia ." Bisik hati
ku .

Aku berusaha untuk tidak melihat ke arah jendela tempat seorang anak laki-laki tanggung berwajah tampan sedang berdiri disana, dengan melanjutkan penjelasanku tentang materi Botani. Aku menebak dia telah berdiri disana sekitar 3 menit dan sekarang ia berdiri di depan pintu ruang kelas XI-IA3 untuk meminjam tinta kepadaku.

"Maaf
Miss, boleh saya minta tinta? Ujarnya dengan ramah.

"
Boleh dong, ini dia." Aku menyerahkan tinta, dan ia pergi setelah mengucap terima kasih.

Sebenarnya aku sedikit terganggu dengan sikapnya, tapi sepertinya aku suka.

" Oke, waktu sudah habis. K
ita lanjutkan minggu depan. Sampai jumpa. Assalamu'alaikum."

Aku menutup kelas
ku dengan salam dan segera keluar sehingga siswa-siswiku tidak harus mengantri untuk menyalamiku. Mereka menyalamiku setiap saat. Aku tidak benar-benar tahu untuk apa mereka melakukan itu. Aku sering mencoba menghindari hal ini dengan berjalan keluar secepatnya setelah kelas usai.

Guru yang aneh.” Aku tersenyum sendiri.

Aku melangkah sendiri menuju tangga sebelum seorangpun dari siswaku meninggalkan kelas. Tapi alangkah terkejutnya aku mendapati si remaja tanggung telah berada di sana, menungguku.

" Pulang, Miss?"

"Oo ya,
ayo turun." Aku sedikit terkejut ketika menjawab pertanyaannya.

Kami berjalan berdampingan tanpa berkata apa-apa.

"
Miss duluan ya." Kataku setelah mencapai tangga terakhir.

"
Iya, Miss. Jawabnya sambil berlari ke asrama dengan cepat.
 .
Sebenarnya  dia bukan
lah siswa baru. Dia telah menjadi siswaku selama sekitar satu setengah tahun. Tidak ada yang istimewa dari sikapnya selama ini, tapi sekarang aku merasa dia benar-benar aneh.

Suara azan dhuhur bergema mengiringi langkahku melalui loudspeaker dari musalla yang bertempat di tengah area kampus.  Musalla ini adalah jantungnya sekolah boarding SMAN 21 Harapan Ummah.

Di sisi kanan musalla
berjejer bangunan kelas dan beberapa bangunan laboratorium. Di bagian kiri berdiri sebuah bangunan lantai tiga berwara biru yang berfungsi sebagai asrama untuk para siswa. Sementara lapangan basket mengapit mushalla melalui kedua sisi depan dan belakang.

Ini adalah
sebuah lingkungan yang sempurna. Dengan pohon-pohon rindang beserta bangunan-bangunan besar dengan fasilitas lengkap di dalamnya. Hal ini benar-benar sesuai dengan gelar sekolah unggul yang disandang oleh instansi ini. Bukanlah sebuah keanehan jika kemudian banyak orang tua memilih sekolah ini untuk menyiapkan masa depan anak mereka.

Tiba di ruang kantor, aku mendengar Laura Pausini bernyanyi dari ponselku.

"Dimana
, Buk ?" Suara khas Alia terdengar dari seberang sana.

"Sekolah."

"
Kami mau keluar untuk makan siang ni, sama Muthy. Mau ikutan?" Tambah Alia.

"
Boleh." Aku masih memberikannya sebuah jawaban singkat .

" Oke, k
ami tunggu di kantor Muthy ya. Lima belas menit." Alia menantangku .

Dan aku selalu menyukai
tantangan itu."Oke, aku akan berada di sana sebelum lima belas menitmu. Bye."

Aku memakai jaket dan menutupi kepala dengan hel
em hitam tebal. Sekali lagi, mulai mengendarai kesepian ini. Aku menjalankan sepeda motor secepat aku bisa. Ini adalah kebiasaan buruk menurutku. Sejujurnya, aku tidak pernah bermimpi untuk menjadi pembalap, tapi waktu seperti pisau, tebas dia atau dia akan menebasmu. Dan tanpa sengaja aku harus melawan waktu untuk memotong sekitar 12 mil setiap hari, sekitar lima tahun  pada saat aku sedang belajar di universitas dahulu. Dan kebutuhan itu kemudian menjadi kebiasaan. Ini benar-benar kebiasaan, bukan hobi. Percayalah!


***

" Lantai dua, Miss?" Salah seorang siswa lewat di depan
ku, menjabati tanganku dan berlari ke  arah tangga. Giliran kelasnya sekarang. Dan dia ada di sana di puncak tangga tersenyum dan menyapa.

"Assalamu'alaikum
, Miss."

"Wa'alaikumsalam warahmatullah."

Kami
berjalan menuju ruang kelas bersama-sama.

"
Oke, Nak, silahkan buka buku kalian di  Bab Sistem Jaringan. Namun sebelumnya, lebih baik kalian duduk dalam kelompok dulu karena kita akan mengadakan sedikit diskusi hari ini."

Aku mulai men
erangkan apa yang mereka harus pahami dari bab ini. Kemudian aku berjalan berkeliling kelas memeriksa kerja mereka satu per satu.

Setelah mengontrol semua kelompok,
aku mengambil tempat di salah satu kelompok siswi. Beberapa orang siswi memintaku mengulang penjelasanku tadi  Sementara aku menjawab pertanyaan siswi-siswiku, tanpa kusadari sepasang mata sedang menatap ke arahku atau mungkin ke arah seorang siswi di sampingku, entahlah.

Aku
penasaran dengan sepasang mata itu dan memalingkan muka untuk melihat ke arah kepala yang sedang ditelungkupkan ke atas meja dengan kedua lengan menutupinya. Ternyata itu adalah dia, si remaja penunggu tangga. Dia pasti sangat malu karena dia tidak menyangka aku berbalik menatap ke arahnya .

Usai kelas, aku memutuskan untuk berbicara dengannya. Tapi aku tidak tahu harus melakukannya atas alasan apa.

Semua
siswa lari menuruni tangga secepat yang mereka bisa. Tapi dia masih berdiri di luar sana, menungguku.

"E
mm, bisa kita bicara sedikit?" Aku bertanya dengan hati-hati.

"
Tentu saja, Miss. Di sini?" Dia balik menanyaiku.

"
Di dalam aja." Dia mengikuti duduk di seberang meja guru.

"Apa
Miss pernah buat salah waktu mengajar?" Aku mencoba mencari sebuah pembukaan yang baik, tapi aku gagal.

"
Gak, Miss. Saya sangat menyukai kelas Miss. Menurut saya kawan-kawan lain juga seperti itu." Dia menjawab dengan jujur​.

"Tapi
Miss merasa tidak nyaman karena ada seseorang yang selalu melihat ke arah Miss waktu Miss ngajar." Padahal faktanya bukan seperti itu. Dia bukan melulu melihat ke arahku ketika aku mengajar, tetapi lebih sering di kesempatan lain.

"Itu membuat
Miss merasa bersalah. Aku menambahkan.

"
Anak kelas mana, Miss ?" Ia tampak  benar-benar ingin membantu .

"Hufff,
dia tak bersalah! Ini hanya perasaanku saja." Aku membisiki hatiku.

"
Miss tidak tau harus ngomong gimana, tapi Miss benar-benar tidak nyaman dilihatin oleh  laki-laki, walaupun dia hanya seorang anak kecil…… sepertimu." Akhirnya aku mengaku.

"APA
AA? Ssssaya?" Dia benar-benar terkejut.

"
Miss salah paham. Saya benar-benar tidak pernah bermaksud melakukannya." Wajahnya berubah merah saat ia menjawab pertanyaanku.

Aku melakukan kesalahan yang sangat besar hari itu. Ya, kesalahan yang amat sangat besar. Keadaan kelaspun berubah menjadi sangat tidak ramah. Apakah dia marah atau malu, aku benar-benar tidak tahu.

"Maafkan
Miss, Nak. Miss cuma ingin kamu jadi anak baik yang selalu dapat menjaga pandangan dari segala hal yang buruk." Pikiranku kosong sama sekali. Aku tidak tahu bagaimana harus menutup pembicaraan tak terduga ini. Kalau saja aku bisa memutar waktu, aku bersumpah aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh tersebut.

Dia
diam tak berkata apa-apa lagi.

"Maaf
in Miss karena harus ngomong yang sebenarnya. Miss sangat berharap kita masih bisa berteman seperti biasa." Aku berdiri dan berjalan keuar kelas perlahan-lahan. Dia menyusul di belakangku dengan gontai. Aku menunggunya di tangga, tapi ia kembali ke kelas. Mungkin ia ketinggalan sesuatu. Aku kemudian melangkah menuruni tangga, sendirian.

Ini akan memb
awa perubahan besar dan menciptakan sebuah tembok tinggi antara aku dan siswaku yang tanpa kusadari telah menjadi salah satu siswa yang sangat kusayang.

Aku berjalan menuju ruang guru dan mengiriminya sebuah pesan singkat untuk meminta maaf . Tapi aku tidak akan pernah mendapatkan balasannya sampai neraka membeku.

Dan semuanya
memang berubah seperti dugaanku. Kami masih bertemu setiap hari tetapi ia tidak pernah mengatakan ‘Hallo atau tersenyum kepadaku lagi. Dia tampak seperti berusaha menghindariku sebisanya.

Aku menyalahkan diri
untuk keadaan yang tidak menyenangkan ini. Pasti akan makan waktu lama untuk mencairkan suasana yang sudah sebeku gunung es.

Dan sebaliknya
, kini aku yang menatapnya. Atau hanya mencoba untuk menyapa dan memberinya senyum. Tapi siswaku itu tampak tak peduli. Ia masih terluka, mungkin. Hingga akhirnya, aku menyerah dan memutuskan untuk berhenti mencoba. Tapi aku tetap harus mengajar di kelasnya seminggu sekali.

Frustasi dengan situasi ini, aku tiba-tiba ingat Amel -seorang sahabat karib yang sedang belajar di Khourtoum University, Sudan- yang pernah kucurhati tentang masalah ini dan aku segera membuka email.

Ternyata dia telah lama membalas emailku.

Dear, Ukhti..

Hal yang
anti hadapi saat ini adalah hal yang lumrah terjadi di tempat kerja. Kadang-kadang kita berhasil melakukan pekerjaan dengan baik, tapi kadang kala juga melakukan beberapa kesalahan.

A
ne tahu, anti terganggu oleh situasi ini tapi belum ketemu cara jitu untuk menyelesaikan masalah anti.
.
Menurut ane lebih baik anti cari tahu tentang latar belakang siswa tersebut biar bisa faham kenapa dia seperti itu. Mungkin ia membutuhkan perhatian, atau ia hanya mengagumi anti sebagai seorang guru yang baik yang peduli terhadap semua siswa. Terus berpikir positif yaa.

Keadaan anti sekarang sepertinya juga sedang futur. Anti uda lama gak halaqahkan? Anti seharusnya tidak boleh sendirian dalam jangka waktu yang lama, karena banyak hal yang bisa terjadi pada kita dan kadang-kadang kita tidak bisa menghadapinya sendiri. Kita perlu orang lain untuk berbagi.

Ane tau anti sedang begitu kesepian sekarang karena anti hidup sendirian jauh dari keluarga dan suami. Anti juga tidak berinteraksi dengan baik dengan partner di lingkungan kerja kan? Itu jelas membuat anti kesepian, Ukhti.

A
ne tau perasaan anti, ane bisa merasakannya, meskipun ane berada ribuan mil jauh darimu.

Ane benar-benar percaya bahwa anti dapat menghadapi masalah ini dan mengatasinya dengan baik. Dan pengalaman akan menuntunmu menjadi seorang guru besar suatu hari nanti. Percayalah!"

Dia menutup sur
elnya dengan pelukan hangat.

Suratnya telah menjawab semua pertanyaan yang kusimpan dalam pikiranku. Dia tahu segala apa yang kurasakan.

"Jutaan terima kasih, Ukhti ... dekat atau jauh
kau selalu dapat diandalkan."

Seusai membalas pesannya, akupun merebahkan diri sejenak. Pikiranku terasa sangat ringan seolah-olah tubuhku bisa terbang karena beban berat telah meninggalkan alam pikiranku.

Bunyi
beep dari ponselku memberitahu bahwa ada sebuah pesan yang kuterima.

"Lo baik-baikkan
?" Uda beres masalahnya? Itu Alia.

"Ya ..
Nampaknya udah." Balasku cepat.

"
Nampaknya? Apa maksudnya tuh?! Bantai,Buk!

Kata-katanya selalu bisa membuat
ku merasa lebih baik.

"Ha .. ha .. ha ..
Pastinya." Aku mengirim pesan terakhir.

Rabbi ..
Betapa bersyukurnya aku kepada-Mu untuk anugrah teman-teman luar biasa seperti mereka yang selalu ada setiap kali kubutuhkan.

***

SAATNYA BERAKSI ....

Aku berjalan dengan penuh semangat
seperti sedang mendengar salah satu soundtrack dari Film Alvin and the Chipmunks yang berjudul " Follow Me Now . "

Aku tersenyum pada semua orang, menyapa setiap siswa yang kulewati dan sampai ke kelas aku masih merasa sangat bersemangat .

" Assalamu'alaikum
." Aku membuka kelas dengan kisah orang-orang yang saling mencintai karena Allah. Yang harus mereka lakukan hanyalah saling memberi salam.

Lalu,
akupun melanjutkan penjelasan tentang Sistem Sirkulasi .

Setelah menyelesaikan penjelasan, aku menulis beberapa tugas di papan tulis.

Dan di
a berada disana, salah satu anggota kelas ini .

Aku mendekatinya dan berkata
, "Hallo , Gimana kabarnya?"

"
Saya baik, Miss." Dia tersenyum.

Dan gunung es
pun mulai mencair.

Tapi
ternyata itu bukan akhir dari cerita .....

“Tok, tok.”  Pak Syah salah satu staf di administrasi mengetuk pintu kelas.

"
Anda  ditunggu oleh kepala sekolah di kantornya sekarang, Bu. " Katanya
sambil tersenyum.

"
Saya segera kesana, Pak . " Aku menjawab dan memohon izin sebentar kepada siswa-siswiku .

Kabar baik apalagi yang saya akan kuterima di sana di ruang kepala sekolah? Aku mencoba menebak.

" Assalamu'alaikum, Pak
." Aku masuk ke ruang kepala sekolah.

" Masuklah, silaka
n." Katanya buru-buru.

Aku duduk di salah
satu sofa di hadapan bosku. Aku merasa sedikit gugup demi memerhatikan wajah bosku tampak tidak ramah.

"
Saya baru saja mendapat surat pemindahan Ibu ke sekolah lain." Dia terdengar kecewa.

"APA
?" Aku seakan mendengar suara guntur.

"Saya sangat menyesal memberitahu
Ibu bahwa Anda tidak dapat lagi mengajar disini. Anda telah membuat kesalahan besar kepada salah satu siswa kita." Intonasinya semakin keras.

"
Tidakkah Anda menyadari bahwa seseorang yang Anda cari masalah itu adalah keponakan Pak Muhibuddin, kepala departemen pendidikan dan kebudayaan? Saya sangat kecewa dengan Anda.”

Aku benar-benar
terkejut. Aku pernah cari masalah dengan siapa? Apa jenis masalah besar yang sekarang akan menendangku keluar dari sekolah ini.” Aku bertanya-tanya bingung.

Aku bukan jenis orang yang mem
beri banyak perhatian terhadap latar belakang murid-muridku. Sulit untuk menemukan nama yang berkaitan dengan Pak Muhibuddin dan akhirnya aku gagal.

"Anda tidak hanya mempermalukan diri Anda sebagai guru, tetapi juga sekolah kita. Mengapa Anda tidak berpikir secara mendalam sebelum melakukan suatu hal bodoh yang akan memberikan kesan buruk terhadap sekolah ini?"

Aku benar-benar
tidak faham tapi tak berani menyanggah.

" Ini
adalah hal yang memalukan ketika Anda memiliki hubungan pribadi dengan siswa Anda." Dia benar-benar marah sekarang.

“Hubungan apa maksud Bapak dan dengan siapa saya menjalin hubungan itu? Saya benar-benar tidak mengerti, Pak." Aku mencoba membela diri.

"Jangan pura-pura lupa
dengan apa yang telah Anda lakukan pada Faizul Mubarak. Bukankah Anda mengganggunya dengan……" Bosku tampak gemetar ketika mengucapkan kalimat yang tak sempat diselesaikannya.

Dan aku benar-benar sangat terkejut mendengar nama itu.

"
Anda seorang guru ... " Dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Aku bersumpah belum pernah melihatnya semarah ini sepanjang lima tahun aku mengenalnya.

Dia rupanya orang yang sedang kami bicarakan. Aku tidak tahu apa yang telah ia katakannya kepada orang tuanya, tapi ia tampak telah memenangkan kasus ini dan akan segera mengusirku dari sekolah ini.

" Oke, Pak.
saya akan segera pergi. Saya akan mengambil semua barang-barang saya Sabtu sore ketika tidak ada orang di sekolah."

Aku merasa lelah dengan semua ini
. Aku benar-benar ingin pulang. Aku merangkul jiwaku yang kosong. Ia sangat rapuh sekarang.

Semua ini seperti mimpi. Baru saja aku mendapatkan sebuah senyuman yang akan mengakhiri semua masalah. Begitu aku sempat berpikir. Tetapi semuanya hancur dalam sekejap.

Aku berjalan ke kantor administrasi, mengambil semua lisensi yang akan
kuperlukan. Dan lirik-lirik Bee Gees yang terdengar dari komputer Pak Syah membangunkanku dari mimpi yang menyakitkan.

I started a joke which started the whole world crying. But I didn’t see that the joke was on me.
I started to cry which started the whole world laughing. Oh if I’d only seen that the joke was on me.

Setelah mendapatkan semua surat yang kuperlukan dari Pak Syah, aku meninggalkan ruangan dengan terisak.

Till I finally died which started the whole world living. Oh if I’d only seen that the joke was on me

Bee Gees telah menyadari
semenjak dulu bahwa pecundang perlu tahu bahwa mereka tidak benar-benar penting di dunia ini. Mereka hanya orang-orang menyedihkan yang telah membuat dunia tersenyum atas tangisan mereka. Membuat dunia hidup di atas kematian mereka. Dan para pecundang itu harus suka rela menyenangkan semua orang dengan keabsenan mereka. Dan hari itu, aku benar-benar yakin bahwa mereka menulis lagu itu untukku.

Aku menyapa semua orang yang kulewati dengan senyum yang kupaksakan, aku pergi menjemput takdirku melewati dunia yang sedang tertawa.

Keputusan
sudah kubuat. Aku akan berhenti dari pekerjaanku. Aku tidak  berpikir bahwa tempat kerja baru akan lebih baik daripada di sini. Semua hal yang melintas kembali dalam ingatanku cukup yang untuk mengingatkan bahwa lebih baik untukku meninggalkan kota tercinta ini sesaat. Aku akan terbang ke Jerman minggu depan. Itu sudah keputusan final.

***

"Aku pula
aaaaaaaang. Kita sudah kembali. Kita sudah sampai, Sayang.” Aku berteriak senang luar biasa pada saat tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda.

Empat tahun sudah sejak aku meninggalkan kampung halaman tercinta, Banda Aceh. Dan sekarang aku akan berada di sini selamanya untuk waktu yang tak terbatas. Aku bersumpah !

Dan hal yang paling menyenangkan adalah
aku tidak akan sendirian lagi. Suamiku juga sudah di sini menemaniku, bersama dengan seorang gadis kecil berusia dua tahun. Ini adalah sebuah dunia yang sempurna untuk dijalani.

K
ita tidak pernah tahu apa yang telah Allah siapkan untuk hidup kita. Hal-hal buruk yang sepenuhnya telah terlupa, tergantikan oleh banyak hal-hal luar biasa. Aku tidak pernah merencanakan bahwa keberangkatanku ke Jerman yang tadinya untuk mendampingi suami, ternyata telah mengantarkanku untuk menyelesaikan program pasca sarjana.

Setelah be
berapa bulan kepulangan kami, aku memutuskan untuk bekerja lagi. Aku akan menjadi asisten dosen di salah satu universitas favorit di Banda Aceh. Tidak menjadi masalah bagiku melakukan pekerjaan yang sederhana ini. Aku sangat menyadari bahwa aku tidak bisa lagi menahan diri tanpa melakukan apapun. Aku akan merasa sangat bosan.

Dan ..
disinilah aku hari ini, melangkah dengan penuh semangat dan wajah penuh senyuman demi menghadiri pertemuan pertamaku di kampus ini.

Aku baru saja melangkahkan kaki di tangga pertama ketika tiba-tiba aku mendengar seseorang berucap di belakangku.

"Assalamu'alaikum, Miss
."

Aku me
mutar leher dan dengan senang hati menjawab salam pertama untukku di hari pertama kumengajar. Di sana aku melihat seorang pemuda tampan berpostur tinggi. Dan sekonyong-konyong, itukah dia, si Faiz kecilku sedang berdiri di depanku dan tersenyum?

Aku benar-benar terkejut
demi menyadari itu benar-benar dia, seseorang yang telah benar-benar kuusahakan untuk kulupa selama empat tahun ini karena telah menyeretku ke dalam kasus-kasus yang tak terlupakan.

"
Lantai atas, Miss?" Dia memberi pertanyaan lain karena melihatku terbengong  tidak menjawab salamnya.

" O
o.. ya. Ayo sama-sama." Akhirnya, hanya kata itu yang keluar dari mulutku .

Kami berjalan berdampingan tanpa
suara. Terlalu banyak pertanyaan yang harus diutarakan sehingga pilihan untuk diam adalah pilihan terbaik.  
Ia tak bersalah. Bisik hatiku. “Tak sedikitpun”. Aku benar-benar yakin.


For : Muhammad-Muhammad 

Thanks for inspiring. The story will never release without your being.