Sunday, 28 December 2014

One Day

Suatu saat aku akan pergi,
Kaupun juga..
Maka aku meninggalkan jejak-jejak ini,
Untuk mengabarimu bahwa aku pernah ada,
Menyimpanmu dalam hatiku bermasa-masa.

Dan disinilah..
Aku meninggalkan hatiku..
Untuk kau jaga

Baarakallahu lana wabaraka 'alaina wajama'a bainana filkhair..
Semoga bisa hingga ke surga :")

(11/9/14)

Beza

Dan segala ramal itu tak jua menyata,
karena hidupmu, hidupku telah ditakdirkan berbeza
Berbenahlah..
Kita akan bersua lagi di surga

Usai yang Tak Kunjung Usai

Usang sudah segala cinta yang kutitip
dan segala ramal yang kutabung berdasawarsa
karena engkau tak jua rasa

a Waiting

Mengeja gerimis pada baris waktu
Setetes tetes mencumbu pilu
Memanggil gundah tuk segera singgah
Datanglah datanglah, sekali lagi
Aku masih menunggu,
Ribuan waktu....

Wednesday, 19 November 2014

Cintaku Kandas di Denver

Senin adalah hari yang paling membosankan dalam sebuah minggu. Selain karena pelajaran-pelajaran penting  yang entah sengaja atau tidak ditumpuk pada hari itu, Senin juga menjadi hari dimana seluruh kegiatan rodi yang akan kulalui di penjara ini,segera dimulai pada hari ini. Itu artinya aku harus mememulai waktu-waktu sulit dan melewatinya satu persatu selama 6 hari ke depan. Selain itu, adalah hal yang memualkan ketika kita baru kembali dari rumah yang penuh dengan kenyamanan dan ketenangan, kemudian harus memulai hari yang super sibuk yang dimulakan dengan kegiatan yang sangat membuat boring : upacara bendera. Sebuah kegiatan yang diulang setiap minggunya dengan melakukan ritual-ritual yang sama tanpa ada bekas yang menyenangkan selain pengumuman para juara lomba-lomba yang selalu dipanggil ke tengah lapangan seusai upacara. Lainnya nonsense. Jujur aku tidak menyukainya. Terlebih lagi adanya hukuman yang diberikan kepada kami, para peserta upacara, jika kami terlambat sedetik saja  ketika moderator upacara sudah mulai membaca susunan tata tertib upacara, membuat kegiatan mingguan ini menjadi momok yang menakutkan sekaligus membosankan bagi siswa-siswi SMAN 21 Harapan Ummah Boarding School.

Aku berlari lari kecil menyusuri aspal hitam depan blok E menuju lapangan upacara bendera di hadapan kantor guru. Aku tak berlari sendirian, beberapa orang temanku penghuni blok E juga terlihat berlarian menyusulku dari belakang. Mereka juga tampak khawatir akan terlambat upacara karena bel peringatan akan dimulainya upacara telah dibunyikan.

Setiba di lapangan kami langsung bergabung di barisan bersama teman-teman yang telah duluan tiba. Walaupun beberapa dari kami masih merasa kecapaian setelah berlari sekitar 200 meter, namun kami tetap harus berdiri tegak dan rapi karena ritual itu akan segera dimulai.

Rasa lelah yang masih membuatku ngos-ngosan membuatku menggurutu pelan, “That’s why I hate Monday.. A lot.”

Seorang teman melirik ke arahku dan tersenyum membenarkan.. “Aku juga, I hate Monday too, but I hate flag ceremony the most.” Dia ikut-ikutan menggerutu geram.

Aku baru mulai berdiri tegak dan tenang ketika suara salah seorang petugas upacara dari kelas XI-1 mulai membaca ayat demi ayat dari surat Al-Qur’an yang dipilihnya untuk mengawali upacara bendera pagi ini.

Bacaan ayat-ayat indah itulah yang akhirnya membuatku bisa merasa benar-benar tenang.

Aku menyapukan pandanganku ke seluruh lapangan upacara. Aku memerhatikan barisan aubade di samping kiri lapangan. Kemudian pandanganku mulai memerhatikan teman-teman petugas upacara hari ini yang berdiri di depan sana dan tepat bersitentangan dengan barisan tempat aku sedang berdiri.

Kemudian aku memindahkan arah pandangku ke barisan para guru yang juga berada di depan lapangan namun mereka menempati posisi di sebelah kanan lapangan. Ada sesuatu yang berbeda yang berhasil tertangkap oleh mataku di barisan para guru hari ini. Ada seorang laki-laki berpostur sangat tinggi tampak berdiri di samping para guru laki-laki SMAN 21 Harapan Ummah. Tinggi badannya yang sangat mencolok ditambah dengan baju non seragam yang dipakainya, membuatnya sangat mudah untuk dijadikan pusat perhatian. Aku menyikut Salwa, sahabat sekamarku yang berdiri tepat di sebelah kananku.

“Ada tamu tu, di depan.” Ujarku sabil memberi isyarat dengan dongakkan kepala ke arah depan.

“Mana?” Tanya Salwa. Dia segera mengangguk-anggukkan kepalanya ketika melihat ke arah barisan para guru.

“Bule ya?” Tambah Salwa.

“Ssst.” Aku member isyarat kepadanya agar dia kembali diam karena kulihat Bu Ina segera menuju ke barisan kami yang kini tampak kasak kusuk karena hampir seluruh anggota barisan sudah menyadari adanya pemandangan baru di depan sana.

Keberadaan seorang tamu yang sangat tinggi dan berwajah indo telah membuat upacara hari ini jadi sedikit lebih menyenangkan dari hari-hari sebelumnya. Dari Pembina upacara kami mengetahui bahwa tamu baru itu adalah seorang volunteer yang akan mengajar Bahasa Inggris di sekolah kami untuk beberapa bulan ke depan. ‘Mudah-mudahan orangnya asik.’ Bisikku dalam hati.

Dan benar saja, ternyata pria berkebangsaan Amerika yang bernama Landy itu sangat ramah. Pembawaannya sangat menyenangkan dan ia juga sangat murah senyum kepada setiap orang.

Senyuman abadi dan wajahnya yang good looking membuat Mr. Landy segera menjadi bahan gosip terhangat di asrama putri Blok E. Tidak hanya di blok E mungkin, aku yakin kawan-kawan dan adek-adek di blok A dan Blok B juga akan memilih Mr.Landy untuk menjadi topik gosip di asrama mereka.

Teman-temanku dan juga aku, baru bisa melihat Mr.Landy secara dekat keesokan harinya ketika Mr. Landy masuk ke kelas kami. Pertemuan pertama itu diawali dengan perkenalan dirinya. Dia menuliskan sebuah gambar berbentuk persegi empat yang di setiap sisinya ia tuliskan dengan beberapa huruf dan angka.

Sebuah angka 25 dia tulis di sudut kanan atas table tersebut. Di samping kiri atas ia menulis dua buah huruf B besar. Di sudut kiri bawah aku melihatnya menggambar sesuatu yg berbentuk sebuah bukit. Dan di sudut kanan bawah aku melihatnya menuliskan sebuah kata USA, yang tafsirku pastilah singkatan dari United State of America, negara asalnya.

Segera setelah ia menjelaskan maksud dari angka-angka beserta huruf dan lambang yang ditulisnya di dalam kotak persegi di papan tulis sana, dia pun meminta kami melakukan hal yang sama.

Kamipun kemudian sibuk menuliskan inisial dan lambang-lambang yang berhubungan dengan kami untuk sesi perkenalan yang unik itu. Dan kesan pertama yang diberikan Mr. Landy sungguh menyenangkan.

Jadwal untuk pelajaran Bahasa Inggris selanjutnya adalah waktu yang kami tunggu-tunggu. Selain menyenangkan Mr. Landy punya beribu cara untuk membuat kelas Bahasa Inggris kami menjadi lebih hidup dan berwarna.

Keramahan Mr. Landy segera membuatnya dekat dengan beberapa orang kawanku, terutama anak-anak English Club yang Bahasa Inggrisnya sangat luar biasa. Sebersit iri sempat terlintas ketika di kelas, Mr. Landy selalu meminta bantuan kepada Salwa, kawan dekatku semenjak dari SMP. Tapi kenapa aku harus iri ya? Aku tersenyum sendiri memikirkan pertanyaan aneh itu singgah di alam fikirku. Siapa sih itu orang itu, hingga aku juga ingin dekat dengannya? Senyum itu kini berubah menjadi sebuah tawa yang membuatku merasa geli sendiri menertawakan kekonyolanku.

Hingga suatu hari ketika aku terburu-buru berlari menuju toilet di dekat ruang guru, aku tak sengaja menabrak seorang, seorang laki-laki, yang berpakaian kemeja, bukan seragam putih abu-abu, juga bukan pakaian seragam dinas yang sering dikenakan guru-guruku. Dan laki-laki itu pasti begitu tinggi,karena aku menabrak lengannya, kurasa. Jantungku berdegup sangat kencang, begitu kencang hingga kurasa organ itu hampir melompat keluar. Aku ingin sekali mendongak ke atas, tapi rasa malu dalam hatiku membuatku hanya mampu berkata, “Sorry, it’s an accident.”

Dan begitu mendengar, “It’s Ok.” keluar dari mulut orang yang sudah kuduga dari tadi, akupun mendongakkan kepalaku sejenak menatap k e wajah indo milik seorang laki-laki setinggi hampir dua meter itu. Ada sebuah senyum yang sangat… Ah, aku tak tahu harus membahasakan dengan istilah apapun untuk senyum itu. Dan matanya yang ternyata berwarna abu-abu telah berhasil membuat irama jantungku berdetak lebih cepat.

That’s him.” Bisik hatiku sesaat setelah aku berhasil melarikan diri dan mengunci diri dari kamar mandi.

“Astaghfirullah. Astaghfirullah., Ya Allaaaah.. Aku berusaha menenangkan diri.

Astaghfirullaaaaaaaaaaaaaaaaaaah.. Ini kamar mandi..” Aku terpekik panik ketika menyadari aku sedang beristighfar ria di kamar mandi.

Aku kembali ke kelasku dengan pikiran kacau dan konsentrasiku yang tidak karuan. Aku harus berbicara dengan seseorang, fikirku. Segera setelah aku kembali ke asrama nanti.

Namun karena kegiatan yang sangat padat di asrama, aku tak sempat bercerita kepada siapa-siapa hingga malam tiba. Hal itu membuat kepalaku hampir meledak. Aku merasakan dadaku semakin sesak dan segera setelah shalat magrib aku tak bisa menahan diri dan seluruh perasaanku pun tumpah dalam bulir-bulir  tangis yang tak mampu kubendung lagi.

“Ya Allah. Mila, ada apa?” Tanya Rere, salah satu kawan sekamarku.

Namun aku tak punya lagi kata yang bisa kutumpahkan untuk mendeskripsikan perasaan hatiku. Hingga setengah jam ke depan aku hanya menangis dan menangis. Hal itu tentu saja mengundang lebih banyak orang yang berkunjung ke kamarku. Siapa saja yang lewat kamar teratai dan tak sengaja melihat ke dalam, pastilah singgah untuk bertanya,  “Mila kenapa?”

Dan jawabanku hanyalah isakan-isakan yang sedang ingin kutahan namun tak jua berhasil.
Hingga setelah semua kawan-kawanku kembali dari shalat Isya di Mushalla, aku baru berhasil mengendalikan luapan emosiku. Dan merekapun kini sudah duduk dengan tidak sabar di sisi tempat tidurku untuk mendengar ceritaku.

“Emm, tadi.. Mila gak sengaja nabrak Mr. Landy waktu lagi buru-buru ke kamar mandi.” Ujarku memulai cerita.

“Terus, emangnya kenapa?” Tanya Rere, bingung.

“Mila lihat matanya. Terus Mila jadi bingung. Jadi galau. Terus pikiran Mila jadi kacau. Terus.. Aaaa..” tiba-tiba aku ingin menagis lagi.

Di pintu kamar kulihat beberapa orang kawan lain sedang memasang wajah penasaran mereka dengan tingkah anehku sedari tadi.
Di tengah isak-isak kecilku yang kembali hadir, aku berucap pias, mungkin Mila jatuh cinta sama Mr. Landy.. Hikshiks..”

“Hahahahah.” Gemuruh tawa segera memenuhi ruang kamarku. “Jatuh cinta kok susah, biasa ajalah. Semua orang juga jatuh cinta. Yang penting jangan lebay.” Kudengar seorang kawan yang berdiri di pintu kamar menyelutuk lalu pergi sambil tertawa.

Sejak saat itu, perasaan yang aneh itu terus menerus memenuhi otakku. Jujur, aku terganggu, tapi terus berusaha untuk tenang dan terus berkonsentrasi. Namun ternyata jatuh cinta itu sangatlah menyusahkan. Sosok itu akan selalu hadir dalam khayalmu dan memenuhi rongga hatimu. Begitu menyiksa sekali.

Namun sebaliknya, perasaan itu juga kadang-kadang membuatmu sangat bersemangat, merasa lebih hidup dan lebih bahagia. Begitu menyenangkan.
Saat-saat bertemu Mr. Landy kemudian adalah waktu-waktu yang sangat spesial. Waktu-waktu yang bisa mengubah hujan menjadi pelangi, terik mentari  terasa seindah purnama. Begitulah cinta. Dan malam itu, tak sengaja aku bertemu dengannya lagi. Aku baru saja berjalan pulang dari kantin bersama Sela ketika tiba-tiba kami melihat sesosok jangkung berbaju Basket yg masih kuyup dengan keringat berdiri di pintu kelas XII-1 tempat dimana anak-anak anggota English Club sedang berlatih debat.

Aku merasa jantungku tak lagi berada di rongga dadaku  melihat pemandangan aneh itu. “Ya Allah, apa-apaan tu bule kenapa nyusup ke asrama dengan pakaian tak sopan seperti itu?” Aku terpekik sendiri, sementara Sela masih terlihat shock menyaksikan pemandangan di depan sana, persis sepertiku.

Dan setelah malam itu, aku menjadi tambah gila. Aku benar-benar membenci sebuah kata yang tediri dari lima huruf yang dieja  ‘el e en di way’ yang berhasil mengubah keceriaanku menjadi kegundah-gulanaan sepanjang masa. Aku merasa sedang sangat menderita karenaa cinta. Cinta yang salah kepada orang yng tak boleh kucintai. Orang yang telah memaksa masuk ke dalam fikiranku belakangan adalah seorang non-muslim. ‘How could I fall in love to that kind of guy? Oh God. Please help me’.

Di tengah kekhawatiranku yang luar biasa, ternyata Allah masih sangat menyayangiku. Ternyata batas kontrak Mr. Landy mengajar di sekolah kami akan segera habis. Aku bahagia karena akan segera terbebas dari perasaan yang telah membunuh karakter hebohku hanya karena jatuh cinta pada seseorang yang tak boleh kujatuhi cinta. Tapi aku tak henti-hentinya menangis karena dia akan segera pergi. Ya, pergi dari sini dan tak pernah kembali.

***

Berbulan ke depan setelah dia pergi, ternyata aku belum juga berhasil membuang namanya dari hatiku. Senyuman dan mata abu-abunya masih saja melekat erat dalam khayalku. Padahal aku telah berusa keras mengusirnya. Hush hush.. Allaaah. HELP…

Namun penderitaan itu akhirnya berhasil memaksaku menyusun sebuah rencana besar yang tak pernah terlintas sedikitpun sebelumnya.
Aku ingin kuliah di University of Denver, Colorado. Itu gila, aku tahu itu. Tapi hanya dengan cara itu aku bisa bertemu lagi dengan Mr. Landy. Kabar terakhir yang kudengar, Mr. Landy sudah menjadi salah seorang dosen di University of Denver. Mungkin nanti aku bisa menjadi salah seorang mahasiswinya.

Aku baru saja belajar satu hal. Cinta ternyata selalu berhasil membuat orang memotong urat takut dan ragu terhadap kemampuannya. Cinta bisa membangkitkan sebuah energi besar yang terpendam dalam jiwa dan tak pernah disadari seseorang.

Dan semenjak planning itu muncul dalam benakku, aku mulai mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Selain mencari-mencari informasi tentang University of Denver,  aku juga sibuk membrowsing semua link beasisiwa S1 ke Amerika. Selain juga mengasah kebolehan Bahasa Inggrisku dengan mengikuti kursus-kursus yang akan membantuku menembus beasiswa menuju Mr. Landy.

Usaha dan pengorbananku terbalas dengan kegagalan menjadi mahasiswa pada tahun pertama setelah aku meninggalkan bangku SMA. Aku gagal berangkat ke Amerika plus tidak berhasil berkuliah dimana-mana , sementara hampir semua kawan-kawanku telah menjalani rutinitas mereka sebagai mahasiswa di universitas-universitas yang mereka idamkan.

Namun demi sebuah perjuangan cinta aku tak merasa putus asa. Aku masih terus berjuang untuk menuju Denver. Sebuah pengumuman beasiswa dari daerahku berhasil memompa kembali semangatku yang hampir kempes.

Aku sedang mencoba lagi menujunya dan menghubungi semua teman-temanku untuk memohon doa.
Dan sahabat-sahabat terbaik itu tidaklah tercipta kecuali untuk membahagiakanmu di saat galau. Menemanimu di saat-saat susah. Menyemangatimu di saat down, dan menghapus air matamu di saat kau kehabisan tissue. :)

Begitulah perjuangan itu kemudian menghantarkanku menuju Colorado.

In Colorado 2014.

Aku telah melewati seluruh prosedur pendaftaran online. Sehingga setiba disini aku sudah tidak terlalu repot dengan  administrasi pendaftaran.
Aku hanya perlu menemui seorang professor yang telah kuhubungi selama ini via email. Dan dia ternyata membantuku dengan senang hati. Winny namanya. Dari Prof. Winny aku mendapat informasi tentang kelas-kelas yang akan diisi Mr. Landy.

Aku tak sabaran ingin segera belajar di kampus ini menjadi mahasiswi Mr. Landy yang belum kukabari bahwa aku telah mengejarnya sampai sejauh ini. Aku ingin memberinya sebuah kejutan dengan keberadaanku yang tak hanya berhasil lolos seleksi di University of Denver namun juga sekaligusnya akan menjadi mahasiswinya.

Sambil bersabar menunggu awal musim gugur aku mencari-mencari informasi tentang komunitas Islam dan mencari pusat Islamic Center di seputaran Denver bersama seorang kawan baru –Aisy, yang segera menjadi saudara ketika telah berada dirantau orang.

Dan berbekal identitas muslim dan jilbab yang selalu kukenakan, aku dengan mudah mendapatkan informasi tentang semua hal yng berhubungan gelar keislamanku. Aku kemudian segera menjadi pengunjung setia Islamic Center di Masjid Dawah yang terletak tak seberapa jauh dari University of Denver.

Banyak hal-hal baru yang kupelajari tentang Islam disini, agama yang kubawa sejak lahir dan menjadi agama dengan penganut terbanyak di negeri asalku. Ada perasaan ‘butuh’ yang berlebihan terhadap keyakinan itu ketika aku hidup di lingkungan orang-orang atheis yang bahkan bingung hendak memanjatkan doa ke siapa ketika mereka sangat butuh untuk memohon sesuatu.

Dan kehausanku tentang ilmu agama kemudian mencipta sebuah jadwal tetap untukku berkunjung ke Islamic Center demi menghilangkan dahagaku akan ilmu akhirat itu.

Dan sore ini sekembaliku dari Islamic Center, aku mengajak Aisy utk menghabiskan sore di sebuah taman indah dengan rumput-rumput hijau yang terletak di pinggiran Denver.

Disana, kami memilih untuk melepas lelah dengan duduk lesehan di atas rumput agar kami dengan mudah bisa menjulurkan kaki kami yang telah sangat kecapaian.

Aku sedang memijat-mijat kakiku ketika tak sengaja aku merasakan sesuatu yang aneh. Hatiku tiba-tiba dipenuhi oleh Mr. Landy dan aku dapat merasakan auranya sangat dekat. Aku dapat merasakan dia berada disini, di taman ini, hanya berjarak beberapa ratus meter dariku. Aku sangat yakin dengan hatiku, karena aku percaya dengan sebuah candaan iseng Miss SMA-ku dulu : “Jika kau benar-benar jatuh cinta kepada seseorang, kau akan dengan mudah merasakan auranya dari radius 200 meter.”

Candaan itu juga yang kemudian membuatku bangkit dan mulai berjalan mencari-cari asal aura itu. Dan hatimu takkan pernah bisa menipu, Kawan. Dia adalah referensi paling jujur yang bisa kau jadikan rujukan kapan saja. Dia takkan membohongimu. Takkan pernah, bahkan ketika engkau berusaha keras untuk TIDAK mempercayainya.

Oleh karena itu, aku memilih untuk mempercayai hatiku saat ini. Aku segera berjalan menyusuri rumput-rumput hijau lembut di bawah kaus kakiku. Hatiku menjadi GPS menuju sebuah cinta yang telah jauh-jauh kukejar sampai ke denver. Teriakan-teriakan kecil Aisy tidakk sedikitpun mengalihkan perhatianku. Aku memutar-mutar badan dan kepalaku agar bisa memandang ke seluruh penjuru taman ini.

Dan mataku segera berhenti di sebuah bangku taman bercat hijau yang sedang diisi oleh sepasang bule yang sedang asik mengobrol.
Segera setelah itu, darahku berhenti mengalir, hatiku berhenti berdesir, mataku berkunang-berkunang, aku hampir pingsan karena rasa gembira yang tak berhasil kukendalikan.

Akhirnya aku menemukannya disini. Dia, cinta yang telah kusimpan selama dua tahun, sekarang hanya berjarak beberapa puluh meter di hadapanku.

Aku berusaha menguasai diri. Mengatur irama nafasku, merapikan jilbabku dan mengibasi rumput-rumput yang lengket di pakaianku.
Aku akan menujunya, dan aku ingin terlihat sempurna.

Aku menyeret langkahku perlahan-lahan diikuti Aisy di belakangku yang sepertinya sudah mendapatkan clue tentang sikap anehku. Mataku dan matanya kini berfokus ke satu titik, seorang laki-laki bule berusia sekitar 27 tahun yang sedang duduk di sana bersama seorang teman.

Setiba di hadapannya, kudapati laki-laki bermata abu-abu itu tersenyum kebingungan menebak-nebak kalau-kalau dia pernah melihatku, mungkin dalam mimpi buruknya, tebakku.

“Mister.. It’s me, Mila, one of Harapan Ummah students. Do you remember me?”

“Ow. Hi you.. “ Jawabnya menggantung. Mungkin masih berusaha mempercayai bahwa aku tidak sedang membohonginya.

“What a surprise to see u here, in Denver.” Sambungnya lagi berbasa basi. Dan dia adalah bule yang paling pintar mengambil hati orang timur dengan basa basinya yang tak penah basi.

Ingin rasanya aku berteriak menjawab kaliamatnya tadi, “I’m here to find you, my love. You have succesfully taken my heart to Denver. That’s why I’am here.” Tapi kalimat itu kutelan kembali mentah-mentah.

“Oh yeah, I will be one of students in University of Denver for Education Program , Mister.

“Ow really?? I can’t believe my ears. What a chance.” Tambahnya lagi.

“I will be one of your lecturers, then, together with my wife, Amera. It will be a really great time to us to get you join in our classes.” Dia berucap panjang lebar, namun aku tak lagi jelas mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya. Hanya satu kata yang berhansil kutangkap dengan baik : wife, ya wife.

Dan perempuan berambut pirang dengan kaos berleher lebar itu ternyata adalah istrinya.

Demi Allah, ini adalah hal tersakit yang pernah kurasa selama 19 tahun aku hidup. Setelah menelan pahit pil-pil rindu selama dua tahun dan berhasil menyusulnya kemari, aku kemudian menemukannya telah beristri. Ya Allah, kenapa buruk nian suratan yang tetulis di atas garis takdirku. Kenapa aku harus jauh-jauh ke Denver hanya untuk merasakan pedihnya patah hati.

Dalam rasa sakit yang tak berhasil kubuang, aku menggenggam tangan Aisy dan bersiap untuk segera lari menjauh darinya, yang telah mengajariku arti rasa sakit akan cinta pertama yang harus kandas di sebuah tempat yang berjarak ribuan mil jauh dari rumahku, dari orangtuaku. Dan pilihan untuk mati menyusup-menyusup dengan sayup ke dalam alam gamangku.

“Astaghfirullah.. Astaghfirullah.” Aku membuang pikiran-pikiran setan itu dan segera berlalu dari hadapan cinta pertamaku yang tak pernah berhasil kugapai, takkan pernah bisa kucapai, selamanya.

Dia terlalu jauh, bahkan dalam mimpi burukpun aku takkkan pernah dapat menggapainya.

Dan aku dengan airmata, kemudian berusaha mengumpulkan kembali kepingan-kepingan hatiku yang bertabur luka dan berhasil dialirkan ke seluruh pembuluh darahku dengan kepedihan yang tak berhasil kulukiskan lewat kata-kata. Dan engkau takkan pernah bisa merasakan apa yang kurasa, Kawan. Karena aku telah membayar telalu mahal hanya untuk sebuah kata “Heart-breaking.”

Namun, bertahun setelah itu, aku baru menyadari bahwa rasa sakit itulah yang kemudian mengantarku menjadi seorang muslimah tangguh yang tidak mudah ditaklukkan oleh sembarang hati.

Saturday, 6 September 2014

Elzi

Ingin kudengar darimu ttg kabar hari ini.
Tapi aku tlah berjanji akan berusaha lebih lagi,
Untuk mengeluarkanmu dgn paksa dari hati,
Walau ku tau aku takkan berhasil sekarang ataupun nanti..

Apa kabarmu, Elzi?? :(

Thursday, 26 June 2014

Jelang Ramadhan III

Trik2 penghilang boring selama Ramadhan.

1. Pasang Target

   Selama Ramadhan, kita sering malas-malasan karena kita tidak punya target yang jelas selain puasa di siang hari dan tarawih di malam hari.
   Oleh itu, ayo dari sekaarang kita pasang target yang sesuai dengan kemampuan kita selama menunaikan ibadah puasa agar tidak hanya 'tidur yang 
   menjadi ibadah' favorit kita di bulan suci nanti.

   Nah, masalahnya target seperi apa yang harus kita pasang?

  a. Membaca Qur'an minimal 1 juz sehari, kalau masih suntok, ta,bah setengah atau satu juz lagi. tergantung kebutuhan.

  b. Targetkan hafalan baru atau muraja'ah yang sudah kita hafal. minimal juz 30.

  c. Baca buku yang bermanfaat ; cari/ pinjam buku banyak2. kalau gak bisa pinjam, kunjungi puswil untuk daerah lampineung dan sekitarnya. Atau perpustakaan Ali Hasyimi untuk daerah seputaran Lamteumen dan Perpustakaan Masjid Raya untuk yang berada di posisi central. Ajak kawan2 yaa.

  d. Shalat sunnah (tarawih uda pasti). Shalat dhuha (12 rakaat), shalat rawatib, qiyam lail, shalat taubat n shalat witir kalau kurang 3 boleh 11 kok.
      Biar betah shalat sunnahnya, cari mesjid yang adem, jangan ke DOLOG selalu..

  e. Baca Ma'tsurat (kumpulan doa) pagi n sore

  f. Baca n hafal hadits2 arba'in (mis juga blm ni TT )

  g. Silaturrahmi, kunjungi kawan, yang cewek ke rumah cewek, yang cowok ke rumah cowok, biar puasanya afdhal. Atau ke rumah saudara2 orang tua kita.

  h. Olah raga. jalan kaki atau lari2 kecil pagi hari. bukan asrama subuh eh asmara subuh yang mutar2 naek motor trs nongkrong.. itu bukan olah raga yaa.

  i. Buat efreshing boleh coba mancing, selain main ludo dan twitteran, tapi cari tempat yang adem yaa.

2. Buat Hukuman

  Apabila target yang kita buat tidak tercapai, agar kita tidak lengah, kita juga harus menyiapkan hukuman untuk diri sendiri. Dari kita untuk kita.

 Jenis hukumannya yang ringan-ringan saja.Contoh :

-Kalau hari ni gak nyampe 1 juz ngajinya, saya gak boleh bbm-an n twitteran.
-Kalau tidak hafal beberapa ayat yang ditargetkan karena lalai, besok hafalannya harus double.
-Kalau tidak sempat dhuha karena ketiduran, harus rela sisihin uang jajan untuk disedekahin. misal : 5000 per 2 raka'at.

Gitu-gitu aja. yang ringan n tidakmemberatkan.

Mau coba semua?? Insya Allah liburan Ramadhannya gak akan membosankan. Kita punya target yang harus dikejar kan?

Wednesday, 18 June 2014

Dicintai Dengan Lebih

Allah mengabulkan doa dengan berbagai cara.

Salah satu cara yang paling Allah suka dg berlama2 memakbulkannya.
Namun cara itu paling tidak disuka manusia.

Pernah dgr cerita ini kan??

Di suatu masa ada seorang kaya yang hidup bergelimang kemewahan, byk harta juga keluarga yang bahagia.

Sayangnya si fulan itu tidak faham agama, jadi berbuat baik yg standar2 saja.

Hingga suatu masa Allah memberinya hidayah.

Dan mulai dari saat itu hidupnya berangsur-angsur mulai tidak lagi stabil.
Hartanya yang banyak mulai berkurang. Anak istrinya mulai sakit2an. Usahanya bangkrut dan kawan2 yang dulu selalu ada di sampingnya mulai menjauh. Dia miskin sekarang. Tapi hatinya kaya karena ia telah lebih mengenal Allah.

Semakin dekat ianya kepada Allah, semakin byk cabaran yang ia hadapi. Namun ia tetap bersabar dan selalu bersabar. Hingga puncak kefuturannya datang ketika itsrinya memutuskan untuk keluar dari kehidupan tersebut. Berlalu meninggalkan si 'kaya' yg kini berganti gelar menjadi si "papa".

Akhirnya si fulan mulai berfikir untuk protes kpd Tuhannya. Kenapa dulu ketika ia tak jadi org baik, Allah memberinya segala? Sekarang ketika ia mencintai Allah, Allah malah terus menerus menguji kesabaran hatinya.

Suatu malam dalam tahajjudnya yang panjang, ia protes...

"Ya Allah, yang Maha Kuasa. Maha menentukan. Maha Berbuat Sesuka. Kenapa Engkau mencobaku dg hal2 yang aku tak mampu??" T_T
"Engkau begitu tegaaa." ratapnya.

Kemudian iapun terlelap sejenak di atas sajadah.

Dalam tidurnya ia bermimpi bertemu seseorang dan curhat.

"Lihatlah wahai Akhi, Allah begitu tega kepadaku.. Dulu waktu aku jahat, Allah melimpahiku kebahagiaan." Ucapnya

Si kawanpun menjawab, " AllahUr Rahman"

SSekarang ketika aku mendekatiNya, Allah mencobaku terlalu berat, seperti tak sayang saja kpdku." Sambung si fulaan lagi.

"AllahUr Rahiim." tambah kawannya.

"Allah dgn sifat RahmanNya, boleh Mengasihi siapa saja. Seluruh manuasia dan juga seluruh makhluk di alam termasuk binatang dan tumbuhan. Dengan sifat ini Allah mengasihi GENERALLY kepada semua tanpa kecuali."

"Tapi... Dengan sifat RahimNya, Allah mencintai dgn khusus, SPECIALLY,hanya kepada hamba-hamba yang Allah ingin sahaja."

"Sekarang engkau mau pilih dikasihi Generally atau Specially wahai saudaraku? " imbuh kawannya panjang lebar.

"Ya Rahiiiiiiiim. Aku lebih memilih Engkau mencintaiku dgn cara ini..." ;'(  Si fulan menangis mendengar ulasan sahabatnya.

Tak berhenti disitu, sang sahabat masih ingin bercerita lagi.

"Allah itu sangat suka mendengar hambaNya memohon, memelas2, merengek2 kpd Nya. Allah menyukai didatangi hamba yg dicintaNya dgn tangisan mengharap kasih sayang Nya terus menerus. Oleh itu, ketika seorang hamba lebih dicintai dari yang lain, Allah akan mengujinya lebih. Karena Allah suka si hamba terus datang kepada Nya." (yg nulis uda berlinang).

"Jika sekarang cobaanmu belum putus, itu ertinya, Allah masih mengharap kedatanganmu setiap malam menjumpai-Nya, Akhi." Si kawan mengakhiri.

Sementara Si fulan sudah terhanyut dalam butir2 cinta air mata, merasa sangat berbahagia karena Allah ternyata saaaaangat mencintainya.
"He loves me more." bisik hatinya.. :")

Semangat Perang Badar

Ana sedang sangat bersemangat alias feeling excited hari ini. Karena lagi semangat-semangat gini, ana jadi teringat kata-kata yg sering dipakai orang kalau lagi meledak-meledak ingin melakukan sesuatu.

Yaaah, SEMANGAT '45

Seringkan kita pakai ungkapan seperti itu untuk menunjukkan level semangat kita yang paling tinggi..??

Secara kita orang indonesia pastilah ungkapan itu adalah ungkapan yang kereeeen banget.

Tapi......, hmm, ada tapinya ni (uda pada tahu kan, bila dlm sebuah kalimat ada kata "tapi", maka perhatikan kalimat yang berada di depan kata tapi, bkn di belakangnya..!!)

Nah, ungkapan yang uda ana sebut tadi itu emang cool abis, tapi..... (pantengan yang ini) selaku ummat islam yg gak cuman merk di KTP doang, ada ungkapan yang lebih Te O pe Be Ge Te untuk melukiskan semangat yang sudah mau loncat keluar dari rongga hati kita.

Semangat apakah itu?

Itu adalah semangat Perang Badar. Perang yang pada saat itu Rasulullah hanya mempunyai 300 orang pasukan (dengan hanya dua ekor kuda dan 70 ekor unta) yg dikhawatirkannya akan ciut nyalinya menghadapi tentara Quraisy dan para sekutu yang berjumlah sekitar 1,300 orang (dilengkapi dengan 100 ekor kuda, 600 baju besi, dan unta yang sangat banyak).

Saking khawatirnya Rasulullah Saw dengan jumlah mereka yang sedikit, sepenuh malam sebelum perang tiba, beliau bersujud terus menerus memohon mohon pada Allah agar Allah tidak pernah meninggalkan mereka.

Jika difikir dengan logika yang waras, 300 tentara melawan 1,300 tentara itu pastilah akan sangat tidak imbang, konon lagi tentara berkuda yang hanya dua orang berbanding seratus pasukan. Imagine it, man. Imagine!! Mungkinkah kemenangan akan ada dipihak 1 dilawan 4? Tentu tidak. Hal itu tidak akan pernah bisa diterima oleh logika manusia biasa seperti kita.

Tapi, bagi manusia super seperti Rasulullah Saw, (alaihi shalli wasallim) semua adalah mungkin di bawah pengawasan Allah. Dan ini adalah tingkat iman yang paling tinggi, mamen.


Inilah dia cuplikannya :

Jibril telah datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam dan berkata kepada beliau,
”Dengan apa kalian menyebut orang-orang yang berjuang di perang Badar ini?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam menjawab, “Mereka adalah orang muslim terbaik.”

Maka, Jibril berkata,
“Begitu pula dengan malaikat yang ikut serta dalam perang Badar ini. Mereka termasuk muslim terbaik.”

Karena ihsannya kepada Allah kemudian Allah menambah semangat Rasulullah dengan kehadiran Jibril dan bala tentara gaibnya.

Ketika Rasulullah berhasil mendapat transferan semangat dari Jibril as, Rasulullah kemudian mengecek kesiapan semangat bala tentaranya melalui salah seorang pembawa bendera dari kalangan Anshar bernama Muadz.

Dan tahukah engkau, apa jawaban muadz ketika Rasulullah bertanya tentang semangat mereka??

Sa’ad ibn Muadz-pembawa bendera Anshar-pun saat itu angkat suara dan berkata, “Demi Allah, Kami telah beriman kepadamu, sehingga kami akan selalu membenarkanmu. Dan kami bersaksi bahwa ajaran yang engkau bawa adalah benar. Karena itu, kami berjanji untuk selalu mentaati dan mendengarkan perintahmu. Berangkatlah wahai Rasululah Shalallahu ‘alaihi wasallam, jika itu yang engkau kehendaki. Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan nilai-nilai kebenaran, seandainya engkau membawa kami ke laut itu, kemudian engkau benar-benar mengarunginya, niscaya kami pun akan mengikutimu.

“Sungguh, tidak akan ada satu pun tentara kami yang akan tertinggal dan kami tidak takut sedikit pun kalau memang engkau memper­temukan kami dengan musuh-musuh kami esok hari. Sesungguhnya, kami adalah orang-orang yang terbiasa hidup dalam peperangan dan melakukan pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu berbagai hal dari kami yang dapat memberikan kebahagiaan bagimu. Maka, marilah kita berjalan menuju berkah Allah.”

You see? You seeee? My God, it was the best action had ever played in the world..Lihatlah betapa jumlah mereka yang sangaat sedikit tidak berhasil mengaburkan semangat mereka karena mereka percaya ada Yang Maha Kuat dan Maha Memutuskan Nasib sedang senantiasa mengawasi segala gerak mereka.Dan semangat ini kemudian mengoda Zack Snyder (tah iya pun) untuk mengangkat cerita ini dalam versi TERBALIK tentang kisah 300 tentara Yunani yang berjuang melawan ribuan tentara Persia yang juga dibantu oleh pasukan Iblis. Astaghfirullah.Itu konspirasi kawan.

Tapi wahai para penggemar "Three Hundred Spartans",  kita tidak termakan konspirasi tersebut kan?? (Ups, kenapa sudah omongin film favorite ini??)

Well, as the closing, ana hanya ingin mengajak saudara/i pemuda/i remaja/i islam yang dirahmati Allah, alangkah lebih baik jika kita mau menggunakan ungkapan-ungkapan yang lebih dekat relasinya dengan pertumbuhan keimanan kita seperti SEMANGAT PERANG BADAR. ALLAHU AKBAR..!! daripada ungkapan-ungkapan biasa yang hanay kutip dari orang kebanyakan.

Disamping ungkapan-ungkapan lain yang antum uda pada tau, seperti : Muka surga, Ya ilaaah, Gaul (Gaya Ulama), Cowok keren itu yang gak punya pacar (Maksa.hehhe).

Semoga bermanfaat!!

Tuesday, 17 June 2014

Mungkin Nanti

Suatu saat..
Ketika semua telah berlalu
Mungkin aku akan kembali membuka-buka
laci kenangan kita
Mengutip satu persatu
memory yang telah kau titip,
Dalaaaam,
Sangat dalam di sesudut terbaik di ruang hatiku.
Dan jika nantinya kupun perlu,
Aku hanya perlu melukis bayangmu,
Tentunya setelah itu
Kunci prosa-prosa kenangan kita akan segera terbuka..

Monday, 16 June 2014

Akhir Ramadhan II

 Sie Reuboh
.

Sebelum Ramadhan dan lebaran menjelang, kita memiliki tradisi berpesta daging bagi masayarakat Indonesia umumnya dan di daerah Aceh khususnya.
Tradisi berdaging ria ini sering kami sebut 'Bak Meugang' di Aceh.

Nah, untuk melengkapi kemeriahan penyambutan puasa Ramadhan tersebut, tanpa bermaksud berfoya-foya,  di setiap rumah orang Aceh telah dihidangi dengan berbagai macam jenis olahan daging.
Salah satunya yang paling special dan tahan lama dan hanya bisa anda temukan di daerah Aceh besar adalah 'sie reuboh' alias daging rebus kalau dibahasa Indonesiakan.

Olahan sie reuboh berbeda-beda menurut tempat dan wilayah. Namun disini saya tidak hendak membagikan semua resep tersebut, saya hanya ingin membagikan resep klasik sie reuboh yang dulu sekali sering diracik oleh nektu-nektu kami.

Berikut olahanya..

RESEP SIE REUBOH (wilayah Montasik dan sekitarnya)

Bahan :
2 kg daging sapi segar.
1 ons cabe merah
15 butir cabe rawit
5 siung bawang putih
kunyit sekucupnya
garam dan cuka secukupnya.
Lengkuas bila suka(boleh tidak dipakai)

Cara :
- Potong daging besar-besar dan bersihkan, kemudian baluri dengan garam dan cuka. (Cuka bisa diganti dengan jeruk purut)
- Giling cabe merah + cabe rawit + bawang putih, lalu siram langsung ke atas daging.
- Tambahkan kunyit, ratakan
- Parut halus lengkuas dan campurkan ke dalam daging dan bumbu halus.
- Masukkan dalam belanga tanah, tambahkan air secukupnya dan masak yang lama sampai daging empuk.

Selama proses memasak berlangsung anda harus beberapa kali menambahkan air jika dagingnya belum benar-benar empuk.

Setelah daging masak, anda hanya tinggal membiarkannya dingin. Kemudian anda bisa langsung mengkonsumsi danging tersebut dengan kuahnya yang sudah dipenuhi minyak dari gajih atau mengolahnya untuk berbagai macam resep lain di kemudian hari (seperti : digoreng atau di sambal lado atau disambal goreng atau di kuah santankan,dll).

Kelebihan dari sie reuboh ini adalah sangat tahan disimpan lama dalam kondisi suhu papun. Anda tidak perlu khawatir danging ini akan basi atau busuk jika anda tak sempat memanaskannya. Anda juga tidak perlu menyimpannya dalam lemari pendingin. Biarkan sie reuboh tetap berada dalam belanga yang tertutup dan anda hanya perlu memanaskan daging ketika anda ingin mengkonsumsinya.

Catatan tambahan : beberapa orang tua seperti nenek saya, tidak menambahkan bawang putih dalam resep ini karena beliau suka dagingnya tetap utuh tidak lembek (cepat hancur) karena pengaruh bawang putih. Beliau hanya menggunakan cabe, garam, dan cuka untuk memasak menu favorit keluarga kami ini. Untuk memastikan dagingnya empuk sesuai dengan yang diharapkan, nenek saya menambah air beberapa kali dalam masakan beliau.

Oke, demikian saja ulasan dan resep mengolah "Sie Reuboh" dari saya. Selamat Mencoba,,,




Sunday, 15 June 2014

Jelang Ramadhan I

 Tips Simpel
 
Gerbang Ramadhan akan segera terbuka.. Mudah-mudahan kita bisa memasukinya dlm keadaan suci lahir dan batin..Mudah-mudahan kesehatan juga terjaga sepanjang Ramadhan, agar amalan-amalan yang seharusnya kita lakukan, tidak ada yang tertinggal karena kondisi fisik kita yang tidak fit.

Diantara semua amalan yang pernah kita buat sebelum ramadhan, mudah-mudahan bisa lanjut di bulan ini dan frekuensinya bisa bertambah..

Amalan-amalan unggulan kita selama ramadhan selain puasa tentunya adalah tadarus sampai khatam n shalat sunnat, ya kan? Ada banyak shalat sunnat yang bisa kita lakukan selama bulan suci ini selain tarawih, misal :  shalat dhuha, rawatib n qiyam lail.

Nah, saya pengen berbagi sedikit nih ttg masalah shalat sunnat ini.. Khususnya untuk para Remaja Putri yang saya sayang..

Jadi.. Agar shalat kita yang banyak itu bisa afdhal n diterima oleh Allah, pastinya selain hrs ikut aturan syarat wajib shalat, kita juga harus ikut aturan SYARAT SAH  shalat, seperti bebas dari najis dan menutup aurat..

Untuk para jamaah putra, pastikan pakaian n celana panjang yg dikenakan waktu shalat bebas dari najis..

Untuk jamaah putri, pastikan auratnya tertutup dgn sempurna...

Memang sih kain big veil alias mukena yang kita pake sudah mengulur ke seluruh badan kita. Seluruh anggota kecuali muka sudah tertutup..Namun... jangan lupa pastikan kembali kain mukena kita itu tidak tipis dan tidak transparan..

Caranya gampang.. minta tlg sama kakak or adek untuk liatin, apa kain yg kita pakai masih menampakkan aurat.. Atau berdirilah di depan cermin di waktu siang, yaa.. kamu bisa liat sendiri bayangan lenganmu bila kain itu tipis.

Bila kita ragu dgn kondisi kain yg kita pakai,maka pakailah jelbab kaos besaaar yang menutupi seluruh lengan, atau pakai baju panjang dan jelbab kecil utk nutupin rambut.

Kalo repot nyari-nyari baju waktu mau shalat, alangkah bgsnya bila kita siapin satu baju khusus utk shalat,jd gak repot lg..

Mungkin kalau untuk shalat tarawih, kita uda siap dgn baju muslim n muslimah, krn kita shalat di masjid.. Tapi untuk shalat dhuha dan shalat-shalat yang kita lakukan di rumah, kita biasanya jarang peduli dengan hal sekecil ini.. Takutnya, hanya krn hal kecil ini malah shalat wajib kita juga gak dihitung... sediiihnyaaa :"(

Karena sekarang kita sudah tau, yok kita mulai tutup aurat dgn benar waktu shalat agar amalan kita di bulan pernuh berkah ini tidak rugi...

Mudah-mudshan dgn memerhatikan hal-hal kecil spt baca ma'tsurat, sedekah n menutup aurat dgn benar, kita bisa mendapat ampunan dan anugrah yang besar dalam ramadhan ini.

Allahu a'lam..

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA RAMADHAN..

Wednesday, 11 June 2014

Sebab itu, maka wanita yang shalehah, ialah yang thaat kepada Allah lagi MEMELIHARA DIRI ketika suaminya PERGI, karena Allah telah memelihara mereka. (Annisa :34)

Tuesday, 10 June 2014

Lagi,
Ketika tak kuasa menahan diri
Aku memilih untuk pergi

Monday, 9 June 2014

English's Love Story

INJILIZIYYAH

May 5, 2013 at 3:58pm


Ada sebuah mata pelajaran yang sangat saya benci pada saat di MA dulu.. Salah satu pelajaran bahasa yang kemudian dijadikan bahasa resmi pondok…  Bahasa yang sangat menyebalkan dan membuat saya selalu mual bila harus mengucapkan beberapa kalimat menggunakan bahasa tersebut… Bahasa yang menurut saya adalah bahasa kutukan, lain ditulis lain diucap. Munafik sekali. .

Tapi, walaupun saya tak suka, bahasa tersebut tetap harus selalu kami gunakan sebagai alat komunikasi pada season English week.. Season English weeks itu akhirnya benar-benar menjadi waktu-waktu yang amat berat yang harus saya lewati selama 2 minggu  setiap bulannya.. Dan saya pernah beberapa kali ditegur oleh Abu Lughah yang menjabat waktu itu, gara-gara saya masih saja menggunakan bahasa Arab saya yang kacau di edisi English weeks.. Suatu kali saya ditanyai olehnya..

“Why don’t you speak English instead of Arabic in this week?”

 “Ana laaastathi’ lughah dzalek.”(Gak bisa bahasa tuuu). Saya menjawab dengan kesal…

Setelah itu saya memutuskan untuk mengubah English weeks saya menjadi Silent weeks saja. Pastinya hal ini sangat mebuat saya tertekan, secara saya adalah seorang gadis ceria dan ceriwis nan baik hati dan rajin menabung.. (juga suka gak nyambung.)

Kebencian saya akan bahasa kafir itu bertambah. Saya sangat panik ketika suatu malam saya kena giliran speech ba’da magrib di mushalla.  Saya belum jua bisa menghapal speechnya..Seorang kawan saya yang baik hati yang akrab kami panggil ‘jalek’(Red : itu :Arab),kemudian memberikan solusi yang sangat membantu saya pada waktu itu..

“Ihmili faqadh qirtash jalek. Undhurii hunaaka, lau tansa .”  (Bawa saja kertasnya. Nanti lihat saja kalu lupa). Begitu kira-kira nasehat bijaknya waktu itu.

Saya pun mengikat kembali harapan saya yang sempat putus, dengan sediki semangat yang tersisa beranjak menuju mushalla.

‘Alhamdulillahilladzi khalaqal mauta walhayata liyab luakumayyukum ahsanu ‘amala…”

Begitulah pembukaan speech yang akan saya sampaikan malam itu. Namun apa dinyana, sebelum sampai pada kata-kata penghormatan,tiba-tiba  lampupun tewas meninggalkan saya yang bengong dalam kesunyian..

Innalillahi wainna ilaihi raaji’un..  Koor  berkabung dari barisan depan terdengar mengiringi kepergian cahaya lampu..

Selanjutnya… hanyalah ke sunyian belaka…

Detik demi detik…
Menit demi menit..
Mereka menunggu saya melanjutkan pidato saya…

Namun penantian mereka harus pupus karena saya akhirnya berucap:
“Before I start my speech, I will close it with … Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakaatuh..”

Saya hampir pingsan ketika menyadari apa yang barusaja keluar dari mulut saya..

Ternyata suudzan saya dengan bahasa ini benaradanya.. And from that day on… Bahasa itu telah saya resmikan menjadi musuh bebuyutan.. Saya tidak akan  pernah memaafkanmu, Bahasa jelek….

Hngga suatu hari pada saat pelajaran muthala’ah, Al-mukarram Ustadz kami yang mulia menugaskan kami untuk membuat sebuah karangan singkat,satu halaman saja, tentang sebuah tema yang tidak begitu saya ingat lagi.Itupun saya tak bisa…Padahal saya sudah mencoba membuka-buka kamus  bahasa 1 milyar huruf, tapi hasilnya tetap nol.

Akhirnya, di detik detik terakhir tugas akan dikumpul… Saya berdo’a agar Allah mengirimkan seorang kesatria berhati mulia untukmembantu saya menyelesaikan tugas yang sangat berat tersebut.
Alhamdulillah,do’a saya segera terjawab, walaupun bukankesatria, tapi dia berhak menyandang gelar srikandi  karena telah menyelamatkan saya dari perasaan bersalah jika tidak berhasil menyelesaikan tugas dari ustadz yang sangat saya hormati. Srikandi itu bernama : Rossa..

Terima kasih yaa Rabbi.. Engkau telah mengirimkannya kepadaku di saat-saat sulit seperti ini..

Dan sore di saat kami harus mengumpulkan tugas muthala’ah itu, tibalah…
Saya masih ingat, hari itu kami belajar di depan ruang makan, di bawah pohon roda yang rindang sambil mengumpulkan tugas masing-masing dengan wajah penuh senyuman…

Ketika itu saya saya mendengar nama saya dipanggil oleh ustadz..
“Ini sudah bagus writingnya..Pertahankan..”

Deg…Protes hati saya waktu mendengar pujian ustadz…Saya harus bagaimana ini..???
‘Em, em,jujur gak yaaaaa???’ Suara hati berbisik galau.

“Itu.. em.. Itu Rossa yang buat, Ustadz….”
Gubraksssssssssssssssss!!!!

Kebenaran itu berjuang untuk meloloskan diri dari cengkraman kebohongan yang sedang mengelilinginya .. Lega sekali rasanya ketika kejujuran itu berhasil mempertahankan diri.

Hanya saja perasaan lega itu tak bertahan lama. Pemandangan selanjutnya adalah hal yang sukar untuk saya lukiskan dengan kata-kata… Saya melihat gurat kekecewaan di wajah oval itu.. Senyumannya berubah pias mendengar pengakuan saya tadi..

Yang terjadi selanjutnya adalah ceramah panjang yangtelah menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam pelajaran.. Gara-gara saya,semua mendapatkan bonus siraman rohani  dari ustadz, sore itu..

Ada banyak sekali pelajaran berharga yang beliau berikan saat itu.. Buaaanyak sekali… Diantaranya:
Kalau, guru itu merasa dihargai jika tugasnya diselesaikankan tepat waktu.
Kalau, hasil yang kurang bagus dara usaha sendirijauh lebih mulia dari hasil bagus tapi dibuat orang.
Kalau, Allah itu lebih melihat ke proses dari pada ke hasil.
Kalau, usaha kita, walaupun untuk membuat sebuah catatan kecil, tidak akan sia-sia, dll. dll.

Namun diantara semuanya itu, ada satu hal yang paling cocok dengan saya, very me alias gue banget, yaitu.. Kalau kamu tidak menyukai sebuah pelajaran, maka belajarlah untuk menyukai pengajarnya dulu,  dengan demikian kita akan berusaha untuk membuatnya tidak kecewa … Sweet banget kan??? Kata-kata ini ternyata menjadi kata-kata favorit ketika saya kelak juga menjadi pengajar..

Dari situlah saya belajar menyukai bahasa kompeni yang telah menjadi musuh bebuyutan saya selama belasan bulan terakhir… Bukan karena saya sudah memaafkannya. Bukan. Sekali-kali bukan.. Tapi hanya karena saya tidak ingin membuat ustadz saya kecewa lagi.

Di balik itu semua,ternyata ada kenyataan pahit yan gharus saya terima. Bukan saya saja ternyata yang tidak memaafkan sang bahasa nyebelin itu, dia pun ternyata juga telah mendendam sekian lama kepada saya,karena saya membecinya. Membencinya dengan lebay.

Tanpa sepengetahuan saya, bahasa itu telah mengutuk saya agar terus bersamanya kemudian, selama empat tahun lebih. Bukan saja untuk mengenalnya lebih dekat,tapi juga untukmempelajari setiap detailnya dan memaksa saya terbiasa dengan keberadaannya.

Sering kali saya tersenyum sendiri ketika mengingat sebuah hadits:

أحببحبيبك هونا ما عسىأن يكون بغيضك يوماما وأبغضك هونا ماعسى أن يكون حبيبكيوما ما

“Cintailah orang  yang kamu cintai sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkaubenci. Dan, bencilah orang yang kau benci sewajarnya, boleh jadi pada suatuhari kelak ia akan menjadi orang yang engkau cintai.”

Walaupun kebencian ini bukan di alamatkan kepada seseorang melainkan hanya kepada sesuatu, tapi kualat itu tetap berlaku…

Kutukan manis itu ternyata tidak berhenti sampai empat tahun saja.. Setelah tamat kuliah saya mencoba menguli diri di sebuah institusi yang menerima saya sebagai seorang staff pengajar..  Tentunya saya harus mengajar sesuai dengan jurusan waktu kuliah dulu kan??? Dan jurusan itu telah mewajibkan saya mengkompanyekan seluruh skill dan pengetahuan saya tentang bahasa yang dulunya sangat saya benci...

Sayapun sempat melihatnya tersenyum, MENANG..

Saturday, 7 June 2014

Kehilangan

Aku mencari-carimu di setiap sudut maya
di segala ruang, seluruh waktu
membongkar-bongkar bilik hatiku
menjamahi segala memori di ruang otakku
tapi aku tak lagi menemukan kau disana..

tidakkah kau tahu..
aku sedang menyiksa diri
ketika membiarkan kau pergi..

Friday, 6 June 2014

Self reminder

Friday, June sixth..
A step closer to Him..
Ready or not
It has been already 32 T_T
without a cake or a wish,
the age's still running faster.
Prepare before it too late !!

Dan segala keselamatan serta kesejahteraan dilimpahkan kepadaku pada hari aku dilahirkan, dan pada hari aku mati, serta pada hari aku dibangkitkan hidup semula (pada hari kiamat)".
   
   

"So peace is on me the day I was born, the day that I die, and the day that I shall be raised up to life (again)"!

Wednesday, 4 June 2014

Kejora

Pernahkah kau menatap kejora di ufuk sana?
Ia terbit sendiri...
Menghabiskan waktu bersama bintang,
dan ditinggalkan..
Ketika fajar menjelang,
ia setia menanti, sendiri.
Kemudian ia dipaksa pergi bersama sinaran sang surya yang tak membutuhkannya lagi..

Temani kejora itu dengan sejenak menatapnya..
setiap pagi

Thursday, 29 May 2014

GANTENG????

May 23, 2013 at 12:00pm

Masa-masa indah di asrama...

“ADA COWOK GANTEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEENG… MATI ANA.”

Seorang kawan tergopoh-gopoh lari sambil berteriak-teriak seperti sedang dikejar maling. Tapi isi teriakannya sungguh syahdu mendayu sehingga membuat semua penghuni asrama putri bagian belakang berhamburan keluar mendekati sang pembawa kabar gembira.

“Tarek meja… Angkat kursi… Cepaaaaaaaaaaat..” Dengan napas yang masih ngos-ngosan, pembawa kabar memberi aba-aba kepada anggota kamar  9 untuk mengeluarkan satu-satunya meja multifungsi yang berada dalam kamar tersebut.

Meja dan kursipun didorong mendekati tembok setinggi  dua setengah meter yang menjadi pembatas blok putra dan putri.

“Pegang.Pegang.. Ana duluan. Tar gantian.” Ucap pembawa kabar dengan terburu-buru sembari menaiki meja beralas kertas kado bergambar teddy bear yang sudah berada tepat di seberang tembok pembatas.

“Ya Allah… Jamil jiddan. Mati ana..” Dia terus berceracau mengulang kata-kata yang sama sehingga membuat kami yang menunggu giliran untuk melihat santri baru yang sedang diantar Ustadz menuju Blok putra, menjadi sangat penasaran.

“Khalash. Inzily… Baddil. Baddil,,” Bahasa Arab broken terdengar dari mulut seorang kawan yang lain yang juga kelihatan sangat tidak sabaran.

“Ain? Ainalladzi jamiil?? Ada tiga orang tu.”Seorang santriwati lain bertanya dari atas kursi yang sedang dinaikinya.

“Athwal..Athwal .” kata-kata dari si gadis pembawa kabar tadi menerangkan bahwa si ganteng adalah yang paling tinggi diantara ke tiga murid baru.

“Udah.. Turun.Turun. kak Sumi juga mau liat.” Antrian panjang kami yang sedang penasaran tiba-tiba dipotong oleh Kak Sumi, kakak dapur kami yang paling baik budi, yang suka menambah jatah ikan jika rayuan kami mempan, tanpa sepengetahuan ibu dapur, tentunya..

“Kalau gak turun, kak Sumi laporin ustadz.” Ancam Kak Sumi sambil menarik-narik rok biru berbunga-bunga kecil yang dipakai kawanku yang sedang mengintip dari balik tembok panjang.

“Ihhh, kak Sumi ni…” Ia yang buru-buru turun menggerutu mendengar ancaman kak Sumi.

“Aduuuhhh. Uda mau masuk asrama, gak nampak lagi.” Intonasi suara kak Sumi terdengar kecewa.

Namun kekecewaan yang terbesar adalah milik kami, yang telah rela mengangkat meja dan kursi, rela mengantri lama,tapi tidaak mendapatkan apa-apa.. Gara-gara kak Sumi datang memotong kompas, harapan kami melihat cowok-cowok ganteng tersebut pupus sudah.

“Labaksa, ghadan faqadh,  fil fashl..” Ucapku menghibur wajah-wajah kami yang kecewa…

Dan ketika keesokan paginya aku bertemu cowok ganteng yang telah menjadi gossip paling hangat di asrama putri  Nyawong School malam itu, aku terpana. Terpana bukan karena kegantengan si cowok yang sepanjang malam dielu-elukan oleh kawan-kawan yang sempat mengintip, namun terlebih karena cowok itu, adalah salah seorang kawanku saat di Mts dulu.

Dan ternyata yang satunya lagi juga kawanku saat aku masih belajar di bangku Mts.

Sudah hampir dua tahun aku tidak bertemu mereka... karena di penghujung kls II, aku pindah sekolah, tak kuasa menjalankan program di Tsanawiyah favorit itu, karena otakku yang kurang encer, mungkin.

Aku heran, kenapa kawan-kawanku menganggap mereka itu ganteng dan keren. Padahal aku telah lama mengenal mereka. Kenapa aku tak pernah tahu kalau mereka mempuyai aura yang mampu menghipnotis mata dara-dara yang sedang duduk di kelas I MA Nyawong School. Mungkin aku sudah mulai harus berkaca mata. Mungkin.

Namun.... Dari saat itulah, aku baru dapat memahami sebuah ungkapan keseringan yang selalu keluar dari mulut kawan-kawanku, “Ganteng itu relatif.”

Wednesday, 28 May 2014

Ketika seorang perempuan menatap laki-laki yang bukan muhrimnya,
si perempuan berdosa, namun laki-laki yang ditatapnya tidak.
tapiii
Ketika seorang laki-laki menatap perempuan yang bukan muhrimnya
Laki-laki itu berdosa. dan perempuan yang ditatapnya juga berdosa.
Dosa perempuan double, baik ketika menatap pun ketika menjadi target tatapan. Hmmm

Tuesday, 27 May 2014

Wahai Yang Maha Memberi rasa, arahkanlah perasaan ini ke tempat yang Kau redha

Monday, 26 May 2014

Semua magnet di dunia menarik kutub yang berlawanan.
Kecuali magnet HATI..
Ia akan menarik kutub yang sama

Rindu Bisu

Di semilir pucuk-pucuk pohon angsana
segenggam jiwa sedang terpaku
dibuai lara sapa sang bayu
tersentuh rindu tanpa suara
berteriak lantang di dalam sukma.
Ya.. hanya di dalam raga.

Rindu yang bisu...
diam tak berdentang

Untold Longing

Ketika merinduimu...
aku memilih rasa sakit untuk kunikmati.
karna aku ternyata
hanya punya dua pilihan..
membuangmu dari hatiku
atau
hidup bersama bayangmu
meski terselubung lara

When I was missing you..
I choose this hurt to feel
As I have only two choices
Leaving you..
or
Living with your shadow
even I have to be in pain

Saturday, 24 May 2014

Biarlah Rindu menjadi buliran rasa yang bebas menguap di udara, 
tak terpasung oleh sebuah pertemuan. 
Biarkan ia menari menembus athmosphere 
dgn terus melafazkan namaku dan namamu 
dan menghantarkannya ke surga

Friday, 23 May 2014

Loving is when you leave someone because of Allah, even you really want to be closed with.

Thursday, 22 May 2014

I LOVE YOUR EYES. So Whaat??

March 21, 2014 at 11:42pm

Aku Suka Matamu…

Syahdan, di sebuah zaman, hiduplah seorang gadis shalehah bermata indah di sebuah pemukiman yang sangat nyaman. Ia masih tinggal dengan kedua orang tua yang sangat luar biasa yang berhasil mendidik dan menjaganya sehingga ia tumbuh menjadi seorang gadis yang benar-benar bisa menjaga diri.

Si gadis yang sedang tumbuh dewasa itu bukan hanya memiliki akhlak yang indah namun juga wajah yang sama sempurna dengan akhlaknya. Saya ingin sekali menyebutnya dengan istilah ‘Ahsani Taqwiim’. Karena khawatir keindahan itu menjadi fitnah, si gadis meutuskan untuk memakai purdah (cadar) ketika ia memasuki usia remaja.

Dan dari mana lahir seorang anak dara seluarbiasa itu jika bukan dari sepasang orangtua yang telah Allah fahamkan agama yang sempurna ke dalam hatinya. Sang Ayah adalah seorang laki-laki hebat yang tak pernah membiarkan istri dan anak gadisnya pergi ke luar rumah tanpa dikawal olehnya. Sesibuk apapun beliau, selalu saja memberikan waktu khusus untuk keluarganya dan membereskan semua urusan ekstern dalam rumah tangga mereka.

Namun takdir waktu kemudian mengubah sesuatu. Formasi kepala keluarga yang sangat berhasil dipangku oleh Ayah yang luar biasa itu, kini mulai sedikit melemah karena beliau mendadak sakit. Dan beliau hanya memiliki seorang istri  dan seorang anak saja yang bisa menolongnya merawatnya di rumah. Dan ketika suatu saat keadaan si ayah bertambah lemah, ibunda yang bijaksana memutuskan untuk mengutus anak gadisnya mencarikan obat untuk ayahnya di kota.

Si gadis yang hampir tak pernah keluar rumah awalnya merasa sedikit takut, namun demi kesembuhan ayah tercinta semuanya rela ia lakukan.

Setelah mendapatkan seorang kawan yang cocok dan dapat dipercaya, ia pun kemudian berangkat ke kota demi menemui seorang thabib termahsyur di daerahnya untuk mendapatkan obat terbaik bagi orang yang paling dikasihinya dimuka bumi, her dad.  She did the same as I do ( #curhat :”) ).

Namun ketika dalam perjalanannya kembali ke rumah, sesuatu terjadi..

Keberadaan seorang pemuda asing mengganggu kenyamanannya. Pemuda tersebut terus menerus menatap ke arahnya. Tak berpindah sedikitpun pandangan itu dari wajahnya. Si gadis menjadi risih. Apa yang salah dengan dirinya?? Bukankah ia berpakaian taqwa dan menutup seluruh wajahnya dengan cadar. Hanya matanya yang sedikit ia biarkan terbuka karena dia sedang ingin membaca. Namun menyadari keadaan itu, ia langsung menutup buku dan menarik purdahnya untuk menutupi mata indah miliknya.

Selang beberapa saat dari kejadian itu, si gadis telahpun memaksa dirinya melupakan kejadian tersebut karena ia merasa malu kepada Allah. Ia malu telah membiarkan seorang laki-laki asing melihat ke arahnya. Namun, sebuah surat bersampul biru kemudian menyeretnya untuk kembali mengingat kejadian buruk dalam kendaraan yang di sewanya kembali ke desanya saat itu.

Dan surat itu ternyata berasal dari laki-laki asing yang sempat menggaggu alam fikirnya beberapa waktu. Dan laki-laki aneh itu menyampaikan maksud hatinya untuk meminang sang gadis karena sungguh MATA sang gadis itu telah menawannya dan menyiksa hatinya selama ini.

“I love your eyes.” Tulisnya dalam surat itu. “Would you like to marry me?”

Namun laki-laki itu sedang dalam keadaan menuntut ilmu sehingga mengharuskannya untuk tidak menikah dulu.

Keberadaan surat itu ternyata memperburuk suasana hati sang gadis dan membuatnya merasa semakin berdosa. Ia beristighfar terus menerus dan kemudian sebuah jalan keluar hadir di hadapannya. Sang ahsani taqwiim itu kemudian memutuskan untuk merelakan mata indahnya dihadiahkan kepada ‘secret admirer’ karena mata itulah yang telah menyeretnya dalam dosa-dosa. Ia merasakan tak berhasil menjaganya dengan baik.

Maka keputusan terakhir yang dibuatnya adalah mengirimkan sebuah surat kepada lelaki itu dan menghadiahinya sepasang mata, ya sepasang mata indah yang direlakan sang gadis tak lagi menyempurnakan keindahan wajahnya. Hanya karena ia TAKUT kepada DOSA. Ia TAKUT kepada ALLAH. T_T. (Takutkah kita???)

Dan saya hanya mengarang-ngarang saja apa yang ditulis oleh gadis itu dalam suratnya.

“ Jika sepasang mata ini telah menyebabkan kau dan aku berdosa, maka ambillah. Aku telah merelakannya untukmu, karena aku takut kepada Sang Pemilik mata itu. Aku takut Allah memurkaiku hanya karena sepasang mata..”

Begitulah akhir kisah ini saudaraku. Betapa sang gadis bermata indah itu telah mengajarkan kita sesuatu.
Berhati-hatilah dengan pandanganmu. Karena pandangan itu adalah salah satu dari panah-panah syaithan.
You have already known that !!

Wednesday, 21 May 2014

Cinta, tak membiarkannya terjembab dalam nista
Setia adalah membiarkan rinai pergi di penghujung Desember dan bersabar menunggunya kembali di awal Juni

Haunted Face


Aku berdiri di depan cermin sekali lagi pagi ini, tak ada yang berubah. Wajah itu masih selalu sama, meskipun usiaku sekarang sudah mencapai angka 29. Mungkin ada sesuatu yang telah berganti, namun aku tidak begitu menyadarinya karena aku tidak pernah benar-benar peduli tentang penampilanku. Ternyata ketidakpedulian itu cukup untuk mengejutkanku bahwa sekarang tatapan itu mulai redup dan senyum itu sudah mulai samar.

Setelah menyelesaikan sarapan pagiku dengan sepotong roti, aku kembali berangkat bekerja dalam kesendirian. Hal ini telah terjadi selama beberapa tahun. Meskipun aku telah menjadi istri seseorang, tapi aku masih saja sendirian di sini, melawan rasa sepi .

Terkadang  aku merasa sangat lelah menjalani kehidupan ini tanpa suami yang selalu siap mendampingi. Tapi kesendirian itu bukan sepenuhnya salahnya. Toh dia telah memintaku mengikutinya ke Jerman untuk menemaninya menyelesaikan program paska sarjana. Aku menolaknya karena ketakutanku akan kehilangan momen-momen indah bersama murid-muridku.

Berhenti di traffic light aku melirik sejenak ke arah jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Waktu masuk kelas hampir tiba, ketika tanda lampu berubah hijau, buru-buru aku larikan motorku ke arah sebuah bangunan boarding school tingkat menengah atas di Kota Banda Aceh tempat dimana aku telah mengabdi selama lima tahun.

"Di sini
Kau rupanya, Junia. Beberapa siswa mencarimu tadi." Kata salah seorang teman segera setelah aku masuk ke ruang guru.

"E
mm, kayaknya aku gak ada janji hari ini. Aku menjawab malas.

"
Kau tak harus membuat janji dengan siapapun, tetapi siswa-siswa kita akan selalu mencarimu. Kamu kan guru favorit. Hahaha." Lita berkata sambil tertawa.

"Jangan godain aku, Ta. Jadi guru baik aja belum mampu, apalagi jadi guru favorit. Mereka hanya perlu mendiskusikan sesuatu karena ujian akhir sudah dekat." Aku menjawab kata-kata Lita sambil berjalan keluar melalui pintu kantor yang bercat abu-abu.

 "
Aku duluan." Izinku kepada sahabat karibku dan segera melangkah menuju kantor keduaku di laboratorium Biologi tempat dimana beberapa siswa sedang menungguku.

"Miss.. kami
udah nungguin sekitar lima belas menit." Sambut mereka melihat aku mendekat.

Entah kenapa semua orang memanggilku dengan sebutan 'Miss' ketika aku baru mengajar di sini lima tahun yang lalu. Mungkin alasannya hanya karena aku suka menyapa semua orang dengan sapaan Inggris seperti, "Hallo, Good morning dan Good afternoon."  

"Maa
f, Nak, Miss ada kegiatan pagi ini. Jadi datang sedikit terlambat." Itu bisa menjadi alasan yang sempurnakan?

"
Kalian bisa SMS Miss kalau memang butuh bantuan. Miss bisa datang lebih awal lain kali." Aku menambahkan.

Lalu sekitar lima
orang siswi berdiri mengelilingi mejaku dan mulai menanyakan masalah ini dan itu. Kami hanya melakukan diskusi - sepuluh menit karena bel segera mengingatkan kami bahwa waktu istirahat sudah berakhir.

"Oke,
Miss mau masuk kelas sekarang. Lanjutkan diskusinya dengan teman-teman nanti."

"Terima kasi
h, Miss, kami juga harus masuk kelas. Sampai jumpa." Mereka mengambil tas mereka, menciumi tanganku dan buru-buru berlari ke kelas masing-masing.

Aku menutup pintu kantor
ku -sebuah ruang berukuran 4 x 5 meter yang terhubung dengan Lab. Biologi  yang juga sebuah tempat yang sempurna untuk menyembunyikan kesepianku - dan berjalan menuju ke tangga. Seseorang telah menunggu disana. Aku tidak benar-benar yakin apakah ia sedang menungguku atau kami hanya secara kebetulan tiba pada saat yang sama. Tapi hal itu telah terjadi berkali-kali. Dia berdiri di sana hampir setiap pagi atau setelah jam istirahat, tepat setiap kalinya aku mempunyai jadwal mengajar di lantai dua.

" Assalamualaikum, Miss
." Dia menyapaku seperti biasa.

"Wa'alaikumsalam.
Yuk, masuk." Ajakku sembari menjawab salamnya.

Dan seperti
biasa, dia berjalan di sampingku tanpa berkata apa-apa. Ia masuk kelas dan aku melewati kelasnya ke ruang lain.

"Anak baik."
Ujarku dalam hati .

Aku
baru saja mulai menjelaskan tentang teori Botani kepada siswa-siswi kelas XI- IA2 ketika tanpa sengaja aku melihat seseorang berdiri di luar jendela menatap ke arahku.

"Hmm, itu dia ." Bisik hati
ku .

Aku berusaha untuk tidak melihat ke arah jendela tempat seorang anak laki-laki tanggung berwajah tampan sedang berdiri disana, dengan melanjutkan penjelasanku tentang materi Botani. Aku menebak dia telah berdiri disana sekitar 3 menit dan sekarang ia berdiri di depan pintu ruang kelas XI-IA3 untuk meminjam tinta kepadaku.

"Maaf
Miss, boleh saya minta tinta? Ujarnya dengan ramah.

"
Boleh dong, ini dia." Aku menyerahkan tinta, dan ia pergi setelah mengucap terima kasih.

Sebenarnya aku sedikit terganggu dengan sikapnya, tapi sepertinya aku suka.

" Oke, waktu sudah habis. K
ita lanjutkan minggu depan. Sampai jumpa. Assalamu'alaikum."

Aku menutup kelas
ku dengan salam dan segera keluar sehingga siswa-siswiku tidak harus mengantri untuk menyalamiku. Mereka menyalamiku setiap saat. Aku tidak benar-benar tahu untuk apa mereka melakukan itu. Aku sering mencoba menghindari hal ini dengan berjalan keluar secepatnya setelah kelas usai.

Guru yang aneh.” Aku tersenyum sendiri.

Aku melangkah sendiri menuju tangga sebelum seorangpun dari siswaku meninggalkan kelas. Tapi alangkah terkejutnya aku mendapati si remaja tanggung telah berada di sana, menungguku.

" Pulang, Miss?"

"Oo ya,
ayo turun." Aku sedikit terkejut ketika menjawab pertanyaannya.

Kami berjalan berdampingan tanpa berkata apa-apa.

"
Miss duluan ya." Kataku setelah mencapai tangga terakhir.

"
Iya, Miss. Jawabnya sambil berlari ke asrama dengan cepat.
 .
Sebenarnya  dia bukan
lah siswa baru. Dia telah menjadi siswaku selama sekitar satu setengah tahun. Tidak ada yang istimewa dari sikapnya selama ini, tapi sekarang aku merasa dia benar-benar aneh.

Suara azan dhuhur bergema mengiringi langkahku melalui loudspeaker dari musalla yang bertempat di tengah area kampus.  Musalla ini adalah jantungnya sekolah boarding SMAN 21 Harapan Ummah.

Di sisi kanan musalla
berjejer bangunan kelas dan beberapa bangunan laboratorium. Di bagian kiri berdiri sebuah bangunan lantai tiga berwara biru yang berfungsi sebagai asrama untuk para siswa. Sementara lapangan basket mengapit mushalla melalui kedua sisi depan dan belakang.

Ini adalah
sebuah lingkungan yang sempurna. Dengan pohon-pohon rindang beserta bangunan-bangunan besar dengan fasilitas lengkap di dalamnya. Hal ini benar-benar sesuai dengan gelar sekolah unggul yang disandang oleh instansi ini. Bukanlah sebuah keanehan jika kemudian banyak orang tua memilih sekolah ini untuk menyiapkan masa depan anak mereka.

Tiba di ruang kantor, aku mendengar Laura Pausini bernyanyi dari ponselku.

"Dimana
, Buk ?" Suara khas Alia terdengar dari seberang sana.

"Sekolah."

"
Kami mau keluar untuk makan siang ni, sama Muthy. Mau ikutan?" Tambah Alia.

"
Boleh." Aku masih memberikannya sebuah jawaban singkat .

" Oke, k
ami tunggu di kantor Muthy ya. Lima belas menit." Alia menantangku .

Dan aku selalu menyukai
tantangan itu."Oke, aku akan berada di sana sebelum lima belas menitmu. Bye."

Aku memakai jaket dan menutupi kepala dengan hel
em hitam tebal. Sekali lagi, mulai mengendarai kesepian ini. Aku menjalankan sepeda motor secepat aku bisa. Ini adalah kebiasaan buruk menurutku. Sejujurnya, aku tidak pernah bermimpi untuk menjadi pembalap, tapi waktu seperti pisau, tebas dia atau dia akan menebasmu. Dan tanpa sengaja aku harus melawan waktu untuk memotong sekitar 12 mil setiap hari, sekitar lima tahun  pada saat aku sedang belajar di universitas dahulu. Dan kebutuhan itu kemudian menjadi kebiasaan. Ini benar-benar kebiasaan, bukan hobi. Percayalah!


***

" Lantai dua, Miss?" Salah seorang siswa lewat di depan
ku, menjabati tanganku dan berlari ke  arah tangga. Giliran kelasnya sekarang. Dan dia ada di sana di puncak tangga tersenyum dan menyapa.

"Assalamu'alaikum
, Miss."

"Wa'alaikumsalam warahmatullah."

Kami
berjalan menuju ruang kelas bersama-sama.

"
Oke, Nak, silahkan buka buku kalian di  Bab Sistem Jaringan. Namun sebelumnya, lebih baik kalian duduk dalam kelompok dulu karena kita akan mengadakan sedikit diskusi hari ini."

Aku mulai men
erangkan apa yang mereka harus pahami dari bab ini. Kemudian aku berjalan berkeliling kelas memeriksa kerja mereka satu per satu.

Setelah mengontrol semua kelompok,
aku mengambil tempat di salah satu kelompok siswi. Beberapa orang siswi memintaku mengulang penjelasanku tadi  Sementara aku menjawab pertanyaan siswi-siswiku, tanpa kusadari sepasang mata sedang menatap ke arahku atau mungkin ke arah seorang siswi di sampingku, entahlah.

Aku
penasaran dengan sepasang mata itu dan memalingkan muka untuk melihat ke arah kepala yang sedang ditelungkupkan ke atas meja dengan kedua lengan menutupinya. Ternyata itu adalah dia, si remaja penunggu tangga. Dia pasti sangat malu karena dia tidak menyangka aku berbalik menatap ke arahnya .

Usai kelas, aku memutuskan untuk berbicara dengannya. Tapi aku tidak tahu harus melakukannya atas alasan apa.

Semua
siswa lari menuruni tangga secepat yang mereka bisa. Tapi dia masih berdiri di luar sana, menungguku.

"E
mm, bisa kita bicara sedikit?" Aku bertanya dengan hati-hati.

"
Tentu saja, Miss. Di sini?" Dia balik menanyaiku.

"
Di dalam aja." Dia mengikuti duduk di seberang meja guru.

"Apa
Miss pernah buat salah waktu mengajar?" Aku mencoba mencari sebuah pembukaan yang baik, tapi aku gagal.

"
Gak, Miss. Saya sangat menyukai kelas Miss. Menurut saya kawan-kawan lain juga seperti itu." Dia menjawab dengan jujur​.

"Tapi
Miss merasa tidak nyaman karena ada seseorang yang selalu melihat ke arah Miss waktu Miss ngajar." Padahal faktanya bukan seperti itu. Dia bukan melulu melihat ke arahku ketika aku mengajar, tetapi lebih sering di kesempatan lain.

"Itu membuat
Miss merasa bersalah. Aku menambahkan.

"
Anak kelas mana, Miss ?" Ia tampak  benar-benar ingin membantu .

"Hufff,
dia tak bersalah! Ini hanya perasaanku saja." Aku membisiki hatiku.

"
Miss tidak tau harus ngomong gimana, tapi Miss benar-benar tidak nyaman dilihatin oleh  laki-laki, walaupun dia hanya seorang anak kecil…… sepertimu." Akhirnya aku mengaku.

"APA
AA? Ssssaya?" Dia benar-benar terkejut.

"
Miss salah paham. Saya benar-benar tidak pernah bermaksud melakukannya." Wajahnya berubah merah saat ia menjawab pertanyaanku.

Aku melakukan kesalahan yang sangat besar hari itu. Ya, kesalahan yang amat sangat besar. Keadaan kelaspun berubah menjadi sangat tidak ramah. Apakah dia marah atau malu, aku benar-benar tidak tahu.

"Maafkan
Miss, Nak. Miss cuma ingin kamu jadi anak baik yang selalu dapat menjaga pandangan dari segala hal yang buruk." Pikiranku kosong sama sekali. Aku tidak tahu bagaimana harus menutup pembicaraan tak terduga ini. Kalau saja aku bisa memutar waktu, aku bersumpah aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh tersebut.

Dia
diam tak berkata apa-apa lagi.

"Maaf
in Miss karena harus ngomong yang sebenarnya. Miss sangat berharap kita masih bisa berteman seperti biasa." Aku berdiri dan berjalan keuar kelas perlahan-lahan. Dia menyusul di belakangku dengan gontai. Aku menunggunya di tangga, tapi ia kembali ke kelas. Mungkin ia ketinggalan sesuatu. Aku kemudian melangkah menuruni tangga, sendirian.

Ini akan memb
awa perubahan besar dan menciptakan sebuah tembok tinggi antara aku dan siswaku yang tanpa kusadari telah menjadi salah satu siswa yang sangat kusayang.

Aku berjalan menuju ruang guru dan mengiriminya sebuah pesan singkat untuk meminta maaf . Tapi aku tidak akan pernah mendapatkan balasannya sampai neraka membeku.

Dan semuanya
memang berubah seperti dugaanku. Kami masih bertemu setiap hari tetapi ia tidak pernah mengatakan ‘Hallo atau tersenyum kepadaku lagi. Dia tampak seperti berusaha menghindariku sebisanya.

Aku menyalahkan diri
untuk keadaan yang tidak menyenangkan ini. Pasti akan makan waktu lama untuk mencairkan suasana yang sudah sebeku gunung es.

Dan sebaliknya
, kini aku yang menatapnya. Atau hanya mencoba untuk menyapa dan memberinya senyum. Tapi siswaku itu tampak tak peduli. Ia masih terluka, mungkin. Hingga akhirnya, aku menyerah dan memutuskan untuk berhenti mencoba. Tapi aku tetap harus mengajar di kelasnya seminggu sekali.

Frustasi dengan situasi ini, aku tiba-tiba ingat Amel -seorang sahabat karib yang sedang belajar di Khourtoum University, Sudan- yang pernah kucurhati tentang masalah ini dan aku segera membuka email.

Ternyata dia telah lama membalas emailku.

Dear, Ukhti..

Hal yang
anti hadapi saat ini adalah hal yang lumrah terjadi di tempat kerja. Kadang-kadang kita berhasil melakukan pekerjaan dengan baik, tapi kadang kala juga melakukan beberapa kesalahan.

A
ne tahu, anti terganggu oleh situasi ini tapi belum ketemu cara jitu untuk menyelesaikan masalah anti.
.
Menurut ane lebih baik anti cari tahu tentang latar belakang siswa tersebut biar bisa faham kenapa dia seperti itu. Mungkin ia membutuhkan perhatian, atau ia hanya mengagumi anti sebagai seorang guru yang baik yang peduli terhadap semua siswa. Terus berpikir positif yaa.

Keadaan anti sekarang sepertinya juga sedang futur. Anti uda lama gak halaqahkan? Anti seharusnya tidak boleh sendirian dalam jangka waktu yang lama, karena banyak hal yang bisa terjadi pada kita dan kadang-kadang kita tidak bisa menghadapinya sendiri. Kita perlu orang lain untuk berbagi.

Ane tau anti sedang begitu kesepian sekarang karena anti hidup sendirian jauh dari keluarga dan suami. Anti juga tidak berinteraksi dengan baik dengan partner di lingkungan kerja kan? Itu jelas membuat anti kesepian, Ukhti.

A
ne tau perasaan anti, ane bisa merasakannya, meskipun ane berada ribuan mil jauh darimu.

Ane benar-benar percaya bahwa anti dapat menghadapi masalah ini dan mengatasinya dengan baik. Dan pengalaman akan menuntunmu menjadi seorang guru besar suatu hari nanti. Percayalah!"

Dia menutup sur
elnya dengan pelukan hangat.

Suratnya telah menjawab semua pertanyaan yang kusimpan dalam pikiranku. Dia tahu segala apa yang kurasakan.

"Jutaan terima kasih, Ukhti ... dekat atau jauh
kau selalu dapat diandalkan."

Seusai membalas pesannya, akupun merebahkan diri sejenak. Pikiranku terasa sangat ringan seolah-olah tubuhku bisa terbang karena beban berat telah meninggalkan alam pikiranku.

Bunyi
beep dari ponselku memberitahu bahwa ada sebuah pesan yang kuterima.

"Lo baik-baikkan
?" Uda beres masalahnya? Itu Alia.

"Ya ..
Nampaknya udah." Balasku cepat.

"
Nampaknya? Apa maksudnya tuh?! Bantai,Buk!

Kata-katanya selalu bisa membuat
ku merasa lebih baik.

"Ha .. ha .. ha ..
Pastinya." Aku mengirim pesan terakhir.

Rabbi ..
Betapa bersyukurnya aku kepada-Mu untuk anugrah teman-teman luar biasa seperti mereka yang selalu ada setiap kali kubutuhkan.

***

SAATNYA BERAKSI ....

Aku berjalan dengan penuh semangat
seperti sedang mendengar salah satu soundtrack dari Film Alvin and the Chipmunks yang berjudul " Follow Me Now . "

Aku tersenyum pada semua orang, menyapa setiap siswa yang kulewati dan sampai ke kelas aku masih merasa sangat bersemangat .

" Assalamu'alaikum
." Aku membuka kelas dengan kisah orang-orang yang saling mencintai karena Allah. Yang harus mereka lakukan hanyalah saling memberi salam.

Lalu,
akupun melanjutkan penjelasan tentang Sistem Sirkulasi .

Setelah menyelesaikan penjelasan, aku menulis beberapa tugas di papan tulis.

Dan di
a berada disana, salah satu anggota kelas ini .

Aku mendekatinya dan berkata
, "Hallo , Gimana kabarnya?"

"
Saya baik, Miss." Dia tersenyum.

Dan gunung es
pun mulai mencair.

Tapi
ternyata itu bukan akhir dari cerita .....

“Tok, tok.”  Pak Syah salah satu staf di administrasi mengetuk pintu kelas.

"
Anda  ditunggu oleh kepala sekolah di kantornya sekarang, Bu. " Katanya
sambil tersenyum.

"
Saya segera kesana, Pak . " Aku menjawab dan memohon izin sebentar kepada siswa-siswiku .

Kabar baik apalagi yang saya akan kuterima di sana di ruang kepala sekolah? Aku mencoba menebak.

" Assalamu'alaikum, Pak
." Aku masuk ke ruang kepala sekolah.

" Masuklah, silaka
n." Katanya buru-buru.

Aku duduk di salah
satu sofa di hadapan bosku. Aku merasa sedikit gugup demi memerhatikan wajah bosku tampak tidak ramah.

"
Saya baru saja mendapat surat pemindahan Ibu ke sekolah lain." Dia terdengar kecewa.

"APA
?" Aku seakan mendengar suara guntur.

"Saya sangat menyesal memberitahu
Ibu bahwa Anda tidak dapat lagi mengajar disini. Anda telah membuat kesalahan besar kepada salah satu siswa kita." Intonasinya semakin keras.

"
Tidakkah Anda menyadari bahwa seseorang yang Anda cari masalah itu adalah keponakan Pak Muhibuddin, kepala departemen pendidikan dan kebudayaan? Saya sangat kecewa dengan Anda.”

Aku benar-benar
terkejut. Aku pernah cari masalah dengan siapa? Apa jenis masalah besar yang sekarang akan menendangku keluar dari sekolah ini.” Aku bertanya-tanya bingung.

Aku bukan jenis orang yang mem
beri banyak perhatian terhadap latar belakang murid-muridku. Sulit untuk menemukan nama yang berkaitan dengan Pak Muhibuddin dan akhirnya aku gagal.

"Anda tidak hanya mempermalukan diri Anda sebagai guru, tetapi juga sekolah kita. Mengapa Anda tidak berpikir secara mendalam sebelum melakukan suatu hal bodoh yang akan memberikan kesan buruk terhadap sekolah ini?"

Aku benar-benar
tidak faham tapi tak berani menyanggah.

" Ini
adalah hal yang memalukan ketika Anda memiliki hubungan pribadi dengan siswa Anda." Dia benar-benar marah sekarang.

“Hubungan apa maksud Bapak dan dengan siapa saya menjalin hubungan itu? Saya benar-benar tidak mengerti, Pak." Aku mencoba membela diri.

"Jangan pura-pura lupa
dengan apa yang telah Anda lakukan pada Faizul Mubarak. Bukankah Anda mengganggunya dengan……" Bosku tampak gemetar ketika mengucapkan kalimat yang tak sempat diselesaikannya.

Dan aku benar-benar sangat terkejut mendengar nama itu.

"
Anda seorang guru ... " Dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Aku bersumpah belum pernah melihatnya semarah ini sepanjang lima tahun aku mengenalnya.

Dia rupanya orang yang sedang kami bicarakan. Aku tidak tahu apa yang telah ia katakannya kepada orang tuanya, tapi ia tampak telah memenangkan kasus ini dan akan segera mengusirku dari sekolah ini.

" Oke, Pak.
saya akan segera pergi. Saya akan mengambil semua barang-barang saya Sabtu sore ketika tidak ada orang di sekolah."

Aku merasa lelah dengan semua ini
. Aku benar-benar ingin pulang. Aku merangkul jiwaku yang kosong. Ia sangat rapuh sekarang.

Semua ini seperti mimpi. Baru saja aku mendapatkan sebuah senyuman yang akan mengakhiri semua masalah. Begitu aku sempat berpikir. Tetapi semuanya hancur dalam sekejap.

Aku berjalan ke kantor administrasi, mengambil semua lisensi yang akan
kuperlukan. Dan lirik-lirik Bee Gees yang terdengar dari komputer Pak Syah membangunkanku dari mimpi yang menyakitkan.

I started a joke which started the whole world crying. But I didn’t see that the joke was on me.
I started to cry which started the whole world laughing. Oh if I’d only seen that the joke was on me.

Setelah mendapatkan semua surat yang kuperlukan dari Pak Syah, aku meninggalkan ruangan dengan terisak.

Till I finally died which started the whole world living. Oh if I’d only seen that the joke was on me

Bee Gees telah menyadari
semenjak dulu bahwa pecundang perlu tahu bahwa mereka tidak benar-benar penting di dunia ini. Mereka hanya orang-orang menyedihkan yang telah membuat dunia tersenyum atas tangisan mereka. Membuat dunia hidup di atas kematian mereka. Dan para pecundang itu harus suka rela menyenangkan semua orang dengan keabsenan mereka. Dan hari itu, aku benar-benar yakin bahwa mereka menulis lagu itu untukku.

Aku menyapa semua orang yang kulewati dengan senyum yang kupaksakan, aku pergi menjemput takdirku melewati dunia yang sedang tertawa.

Keputusan
sudah kubuat. Aku akan berhenti dari pekerjaanku. Aku tidak  berpikir bahwa tempat kerja baru akan lebih baik daripada di sini. Semua hal yang melintas kembali dalam ingatanku cukup yang untuk mengingatkan bahwa lebih baik untukku meninggalkan kota tercinta ini sesaat. Aku akan terbang ke Jerman minggu depan. Itu sudah keputusan final.

***

"Aku pula
aaaaaaaang. Kita sudah kembali. Kita sudah sampai, Sayang.” Aku berteriak senang luar biasa pada saat tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda.

Empat tahun sudah sejak aku meninggalkan kampung halaman tercinta, Banda Aceh. Dan sekarang aku akan berada di sini selamanya untuk waktu yang tak terbatas. Aku bersumpah !

Dan hal yang paling menyenangkan adalah
aku tidak akan sendirian lagi. Suamiku juga sudah di sini menemaniku, bersama dengan seorang gadis kecil berusia dua tahun. Ini adalah sebuah dunia yang sempurna untuk dijalani.

K
ita tidak pernah tahu apa yang telah Allah siapkan untuk hidup kita. Hal-hal buruk yang sepenuhnya telah terlupa, tergantikan oleh banyak hal-hal luar biasa. Aku tidak pernah merencanakan bahwa keberangkatanku ke Jerman yang tadinya untuk mendampingi suami, ternyata telah mengantarkanku untuk menyelesaikan program pasca sarjana.

Setelah be
berapa bulan kepulangan kami, aku memutuskan untuk bekerja lagi. Aku akan menjadi asisten dosen di salah satu universitas favorit di Banda Aceh. Tidak menjadi masalah bagiku melakukan pekerjaan yang sederhana ini. Aku sangat menyadari bahwa aku tidak bisa lagi menahan diri tanpa melakukan apapun. Aku akan merasa sangat bosan.

Dan ..
disinilah aku hari ini, melangkah dengan penuh semangat dan wajah penuh senyuman demi menghadiri pertemuan pertamaku di kampus ini.

Aku baru saja melangkahkan kaki di tangga pertama ketika tiba-tiba aku mendengar seseorang berucap di belakangku.

"Assalamu'alaikum, Miss
."

Aku me
mutar leher dan dengan senang hati menjawab salam pertama untukku di hari pertama kumengajar. Di sana aku melihat seorang pemuda tampan berpostur tinggi. Dan sekonyong-konyong, itukah dia, si Faiz kecilku sedang berdiri di depanku dan tersenyum?

Aku benar-benar terkejut
demi menyadari itu benar-benar dia, seseorang yang telah benar-benar kuusahakan untuk kulupa selama empat tahun ini karena telah menyeretku ke dalam kasus-kasus yang tak terlupakan.

"
Lantai atas, Miss?" Dia memberi pertanyaan lain karena melihatku terbengong  tidak menjawab salamnya.

" O
o.. ya. Ayo sama-sama." Akhirnya, hanya kata itu yang keluar dari mulutku .

Kami berjalan berdampingan tanpa
suara. Terlalu banyak pertanyaan yang harus diutarakan sehingga pilihan untuk diam adalah pilihan terbaik.  
Ia tak bersalah. Bisik hatiku. “Tak sedikitpun”. Aku benar-benar yakin.


For : Muhammad-Muhammad 

Thanks for inspiring. The story will never release without your being.