Sejak tamat kuliah di jenjang Sarjana Ilmu pendidikan tahun
2005, saya selalu mengikuti tes beasiswa Master Degree ke luar negeri. Cita-cita
saya untuk bisa belajar di salah satu English
Native Country adalah karena saya ingin sekali hidup di tengah-tengah
komunitas yang berbahasa Inggris murni dan juga belajar tentang culture di negara-negara tersebut.
Harapan saya hanyalah untuk bisa merasakan sense
dari penutur bahasa Inggris asli yang telah menjadi pilihan prodi saya di saat
belajar di salah satu Institusi Negeri di Banda Aceh.
Namun hingga tahun 2010 belum ada satupun beasiswa yang
berhasil saya dapat. Akhirnya saya berhenti mengejar beasiswa pada akhir tahun
2010 karena faktor umur dan saya sudah mempunyai dua orang anak yang masih balita.
Kemudian pada Januari 2013 lalu, saya mendengar tentang sebuah
program beasiswa untuk
Penataran Guru (Teacher Training Program) yang merupakan salah satu program
beasiswa dari Pemerintah Jepang (Monbukagakusho). Semangat saya yang sempat
patah di ujung 2010, tiba-tiba tumbuh lagi ketika melihat syarat-syarat
beasiswa Monbukagakusho yang sangat mudah, tanpa syarat Toefl bahkan rekom dari
Profesor, seperti syarat-syarat kebanyakan beasiswa lainnya.
Setelah
saya dinyatakan lulus seleksi berkas, pada pertengahan Februari 2013, saya
bertolak ke Medan untuk mengikuti seleksi ujian tulis Program Penataran Guru
tersebut, karena untuk seluruh wilayah Pulau Sumatera, tes tulis hanya diadakan
di Medan seperti kebanyakan beasiswa-beasiwa lain yang pernah saya ikuti.
Dua
belas jam perjalanan menuju Kota Medan saya lewati dengan sengsara, karena
sepanjang jalan saya muntah-muntah terus di bus, begitu juga dengan suami saya.
Walaupun demikian, begitu tiba di Medan kami tidak sempat singgah kemana-mana,
karena beberapa jam berselang ujian tulis untuk beasiswa Program Penataran Guru
ke Jepang akan segera dimulai. Setelah setengah jam berputar-putar mencari
lokasi Konsulat Jenderal Jepang dan wisma BII yang beralamat di jalan
Diponegoro 18, dan nomor 18 itu tidak terpampang dimana-mana, akhirnya kami
menanyai seorang petugas yang berada di depan Bank BII Medan. Dan ternyata
lokasi Wisma BII dan Kantor BII Medan adalah di sebuah gedung yang sama.
Setelah
berada di dalam gedung BII Medan, saya segera bersiap-siap di toilet lantai
dasar gedung tersebut. Saya mencuci muka, menggosok gigi, dan berganti pakaian.
Selang satu jam, usai shalat dhuhur, sayapun terburu-buru ke lantai 5 gedung BII Medan tempat dimana Konsulat
jenderal Jepang berada.
Sesampai
saya di lantai 5, saya melihat barisan teman-teman calon peserta tes tulis
sedang mengantri untuk mendapatkan nomor ujian dengan memperlihatkan KTP
masing-masing.
Beberapa
menit berselang, para peserta ujian tulis telah semuanya duduk dengan rapi di
kursi yang sekaligus dipakai untuk meja tempat meletakkan paper dan alat-alat
tulis para peserta ujian. Sambil menunggu jam 13.30 dimana ujian akan segera
dimulai, seorang peserta ujian bertanya tentang quota peserta yang akan
diberangkatkan ke Jepang dalam beasiswa ini. Jawaban yang kami terima bahwa Badan
Komisi Beasiswa tidak membatasi jumlah yang akan diberangkatkan ke Jepang.
Siapa saja yang dinyatakan lulus akan berangkat. Di satu sisi, jawaban itu
sedikit melegakan, karena peluang yang mereka tawarkan ternyata besar. Namun di
sisi lain, jika jumlah peserta yang lewat tidak ditentukan jumlahnya dan jumlah
nilai yang akan dinyatakan lewat juga tidak diumumkan secara resmi, maka
peluang yang ada bisa jadi sangatlah kecil.
Tidak ada seorangpun yang tahu
berapa jumlah nilai mereka ketika dinyatakan lewat tes tulis dan tes interview,
dan berapa jumlah nilai yang dinyatakan gugur. Satu-satunya hasil yang bisa
kita lihat adalah di lembar pengumuman tes tulis yang diumumkan melalui website
kedutaan Jepang.
Sebelum
mengikuti tes ini, saya sempat men-download soal-soal tes tulis yang tersedia
di website resmi kedutaan Jepang. Hampir 75% soal yang diberikan berisi
soal-soal idiom bahasa Inggris dan selebihnya adalah soal reading
comprehension. Begitu juga ketika saya membuka lembaran tes tulis tahun 2013,
soal-soalnya terdiri dari 60% soal-soal idiom dan 40% soal-soal reading
comprehension.
Setelah
mengikuti tes tulis yang berakhir tepat pada jam 14.30 Wib, kami segera ke
terminal untuk membeli tiket pulang ke Banda Aceh. Sungguh sebuah perjalanan
yang sangat melelahkan yang kemudian berbayar hasil pengumuman tes tulis yang
TIDAK MENCANTUMKAN NAMA SAYA
dimana-mana. :D
Namun
walaupun tidak berhasil lolos kali ini, saya telah mendapatkan sebuah
pengalaman tersendiri ketika mengikuti tes untuk program beasiswa ini. Apabila
pada saat yang akan datang saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti tes ini
lagi, saya tahu bahwa saya harus benar-benar mempersiapkan diri dengan lebih
baik lagi dengan perbekalan vocabularies dan idioms yang lebih banyak lagi.
Mudah-mudahan
bagi teman-teman yang akan mengikuti tes tulis untuk Teacher Training Program
ke Jepang, juga sudah membekali diri dengan idioms dan vocabularies yang cukup.
Selamat Mencoba !! Mudah-mudahan anda lebih beruntung dari saya. :)
No comments:
Post a Comment