Thursday, 15 August 2013

Pertukaran Guru Monbukagusho

Beasiswa Pelatihan Guru ke Jepang dari Monbukagukosho

Sejak tamat kuliah di jenjang Sarjana Ilmu pendidikan tahun 2005, saya selalu mengikuti tes beasiswa Master Degree ke luar negeri. Cita-cita saya untuk bisa belajar di salah satu English Native Country adalah karena saya ingin sekali hidup di tengah-tengah komunitas yang berbahasa Inggris murni dan juga belajar tentang culture di negara-negara tersebut. Harapan saya hanyalah untuk bisa merasakan sense dari penutur bahasa Inggris asli yang telah menjadi pilihan prodi saya di saat belajar di salah satu Institusi Negeri di Banda Aceh. 

Namun hingga tahun 2010 belum ada satupun beasiswa yang berhasil saya dapat. Akhirnya saya berhenti mengejar beasiswa pada akhir tahun 2010 karena faktor umur dan saya sudah mempunyai dua orang anak yang masih balita.
Kemudian pada Januari 2013 lalu, saya mendengar tentang sebuah program beasiswa untuk Penataran Guru (Teacher Training Program) yang merupakan salah satu program beasiswa dari Pemerintah Jepang (Monbukagakusho). Semangat saya yang sempat patah di ujung 2010, tiba-tiba tumbuh lagi ketika melihat syarat-syarat beasiswa Monbukagakusho yang sangat mudah, tanpa syarat Toefl bahkan rekom dari Profesor, seperti syarat-syarat kebanyakan beasiswa lainnya.

Setelah saya dinyatakan lulus seleksi berkas, pada pertengahan Februari 2013, saya bertolak ke Medan untuk mengikuti seleksi ujian tulis Program Penataran Guru tersebut, karena untuk seluruh wilayah Pulau Sumatera, tes tulis hanya diadakan di Medan seperti kebanyakan beasiswa-beasiwa lain yang pernah saya ikuti.

Dua belas jam perjalanan menuju Kota Medan saya lewati dengan sengsara, karena sepanjang jalan saya muntah-muntah terus di bus, begitu juga dengan suami saya. Walaupun demikian, begitu tiba di Medan kami tidak sempat singgah kemana-mana, karena beberapa jam berselang ujian tulis untuk beasiswa Program Penataran Guru ke Jepang akan segera dimulai. Setelah setengah jam berputar-putar mencari lokasi Konsulat Jenderal Jepang dan wisma BII yang beralamat di jalan Diponegoro 18, dan nomor 18 itu tidak terpampang dimana-mana, akhirnya kami menanyai seorang petugas yang berada di depan Bank BII Medan. Dan ternyata lokasi Wisma BII dan Kantor BII Medan adalah di sebuah gedung yang sama.

Setelah berada di dalam gedung BII Medan, saya segera bersiap-siap di toilet lantai dasar gedung tersebut. Saya mencuci muka, menggosok gigi, dan berganti pakaian. Selang satu jam, usai shalat dhuhur, sayapun terburu-buru ke lantai  5 gedung BII Medan tempat dimana Konsulat jenderal Jepang berada.

Sesampai saya di lantai 5, saya melihat barisan teman-teman calon peserta tes tulis sedang mengantri untuk mendapatkan nomor ujian dengan memperlihatkan KTP masing-masing.

Beberapa menit berselang, para peserta ujian tulis telah semuanya duduk dengan rapi di kursi yang sekaligus dipakai untuk meja tempat meletakkan paper dan alat-alat tulis para peserta ujian. Sambil menunggu jam 13.30 dimana ujian akan segera dimulai, seorang peserta ujian bertanya tentang quota peserta yang akan diberangkatkan ke Jepang dalam beasiswa ini. Jawaban yang kami terima bahwa Badan Komisi Beasiswa tidak membatasi jumlah yang akan diberangkatkan ke Jepang. Siapa saja yang dinyatakan lulus akan berangkat. Di satu sisi, jawaban itu sedikit melegakan, karena peluang yang mereka tawarkan ternyata besar. Namun di sisi lain, jika jumlah peserta yang lewat tidak ditentukan jumlahnya dan jumlah nilai yang akan dinyatakan lewat juga tidak diumumkan secara resmi, maka peluang yang ada bisa jadi sangatlah kecil. 

Tidak ada seorangpun yang tahu berapa jumlah nilai mereka ketika dinyatakan lewat tes tulis dan tes interview, dan berapa jumlah nilai yang dinyatakan gugur. Satu-satunya hasil yang bisa kita lihat adalah di lembar pengumuman tes tulis yang diumumkan melalui website kedutaan Jepang.

Sebelum mengikuti tes ini, saya sempat men-download soal-soal tes tulis yang tersedia di website resmi kedutaan Jepang. Hampir 75% soal yang diberikan berisi soal-soal idiom bahasa Inggris dan selebihnya adalah soal reading comprehension. Begitu juga ketika saya membuka lembaran tes tulis tahun 2013, soal-soalnya terdiri dari 60% soal-soal idiom dan 40% soal-soal reading comprehension.

Setelah mengikuti tes tulis yang berakhir tepat pada jam 14.30 Wib, kami segera ke terminal untuk membeli tiket pulang ke Banda Aceh. Sungguh sebuah perjalanan yang sangat melelahkan yang kemudian berbayar hasil pengumuman tes tulis yang TIDAK MENCANTUMKAN  NAMA SAYA dimana-mana. :D

Namun walaupun tidak berhasil lolos kali ini, saya telah mendapatkan sebuah pengalaman tersendiri ketika mengikuti tes untuk program beasiswa ini. Apabila pada saat yang akan datang saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti tes ini lagi, saya tahu bahwa saya harus benar-benar mempersiapkan diri dengan lebih baik lagi dengan perbekalan vocabularies dan idioms yang lebih banyak lagi.

Mudah-mudahan bagi teman-teman yang akan mengikuti tes tulis untuk Teacher Training Program ke Jepang, juga sudah membekali diri dengan idioms dan vocabularies yang cukup. Selamat Mencoba !! Mudah-mudahan anda lebih beruntung dari saya. :)


No comments:

Post a Comment