Pada suatu masa hiduplah seorang pemuda shaleh yang gagah dan juga
sangat disegani oleh banyak orang karena pemahamannya yang luas tentang
ilmu agama.
Suatu hari, beberapa orang dari kampung
seberang datang menemui pemuda tersebut untuk meminta pertolongannya memberantas kemusyrikan yang sedang berlaku di kampung mereka. Penduduk
kampung tersebut ternyata melakukan kemaksiatan yang sangat besar. Mereka
sedang bermain-main dengan aqidah. Mereka berbondong-bondong memberikan
sesajen kepada sebatang pohon tua dan besar yang dianggap keramat. Setiap
hari makin bertambah saja orang yang datang ke pohon untuk berdoa,
membuat nazar bahkan untuk membuang kesialan dengan berbagai macam ritual
aneh.
Beberap orang yang tidak nyaman dengan
keanehan-keanehan tersebut bersepakat untuk meminta tolong tengku shaleh
nan ganteng dari kampung seberang. Dan dengan berbekal sebilah kapak juga
segenap keikhlasan yang dia punya, berangkatlah ia ke kampung
saudara-saudaranya itu.
Namun, di tengah jalan,
sang tengku bertemu dengan seorang laki-laki tua yang memanggil-manggil
namanya dan meminta tolong. Ketika dia mendekatinya, ternyata laki-laki
itu memohon agar dia jangan menebang pohon keramat yang berada di ujung
kampung itu, karena daun-daun pohon tersebut telah menyembuhkan laki-laki
tua tersebut dari penyakit yang di deritanya selama bertahun-tahun.
Dengan
keteguhan yang sama sang tengku menjawab dengan lantang, ”Masalah buat
Gue.. Apapun alasannya kemaksiatan harus diberantass.”
Si
Pemuda berjalan terus dengan penuh keyakinan menuju targetnya. Tapi
laki-laki tua tadi, lagi-lagi datang, dan kini mengancam, kalau pohon itu
ditebang, seluruh penduduk kampung akan kualat dan pemuda tersebut
juga akan yang akan terkena kutukan yang mengerikan..
Berbekal niat ikhlas yang telah dipersiapkannya dengan baik, pemuda berhati baja itu pun mengabaikan ancaman lelaki tua..
Hingga
kali ke tiga, laki-laki tua kembali menahan jalan pemuda itu menuju
pohon kemusyrikan dengan sekuat tenaganya sampai pak tua itupun
tersungkur, kalah. Dan pada akhirnya, ia mengiming-imingi si tengku muda
nan perkasa dengan sekantong emas yang akan ditemuinya setiap pagi di
bawah bantalnya, sepanjang tahun sampai kontrak usianya di dunia
berakhir.
Dan kali ini, pemuda itu ternyata SETUJU.. :(
Maka diapun pulang membawa kapak di tangannya dengan bayangan ratusan
koin-koin emas yang akan memenuhi tabungannya setiap hari yang nantinya
akan ia manfaatkan untuk bersedekah dan berdakwah di jalan Allah.
But,
guess what he found? Ketika keesokan paginya dia tidak menemukan
sekeping koin logampun di bawah bantalnya, dia buru-buru
mengambil kembali kapaknya dan pergi menuntaskan misinya yang tertunda..
Dengan
murka sang pemuda pun mendatangi pak tua dan menantangnya sekali lagi.
Dan taukah engkau apa hasil dari pertempuran kedua ini??
Si pemuda gagah nan ‘alim kalah dari si tua yang ternyata adalah syaithan penjaga pohon keramat.
“Kau
bisa saja mengalahkanku selama kau masih bersenjata ikhlas dalam
hatimu.. Tapi sekarang engkau telah ria dan thamak akan balasan dari
hasil kerjamu.. Maka engkau telah kalah, wahai Manusia.” Syaithan
berkata sambil tertawa menang..
Dan saat itulah, kita baru menyadari bahwa niat dan keikhlasan adalah senjata terbesar kita....
Mudah-mudahan tak ada kata terlambat untuk menginstal ulang niat kita agar tetap Lillahi Ta’ala..
Last but not least…
Seorang
ustadz pernah berkata bahwa ikhlas itu sebuah rasa yang saaaangat halus.
Saking halusnya sampai-sampai malaikat dan syaithan pun tidak tahu
ketika kita mengikhlaskan sesuatu. Hanya Allah dan hati saja yang berhak
mengetahui anugrah mulia ini.. (Semoga Allah mencintai ustadz yang
memberi nasehat ini dan menempatkannya di Surga-Nya yang tinggi.- Aamiin )
No comments:
Post a Comment