Sunday, 18 August 2013

IKHLASH

Pada suatu masa hiduplah seorang pemuda shaleh yang gagah dan juga sangat disegani oleh banyak orang karena pemahamannya yang luas tentang ilmu agama.

Suatu hari, beberapa orang dari kampung seberang datang menemui pemuda tersebut untuk meminta pertolongannya memberantas kemusyrikan yang sedang berlaku di kampung mereka. Penduduk kampung tersebut ternyata melakukan kemaksiatan yang sangat besar. Mereka sedang bermain-main dengan aqidah. Mereka berbondong-bondong memberikan sesajen kepada sebatang pohon tua dan besar yang dianggap keramat. Setiap hari makin bertambah saja orang yang datang ke pohon untuk berdoa, membuat nazar bahkan untuk membuang kesialan dengan berbagai macam ritual aneh.

Beberap orang yang tidak nyaman dengan keanehan-keanehan tersebut bersepakat untuk meminta tolong tengku shaleh nan ganteng dari kampung seberang. Dan dengan berbekal sebilah kapak juga segenap keikhlasan yang dia punya, berangkatlah ia ke kampung saudara-saudaranya itu.

Namun, di tengah jalan, sang tengku bertemu dengan seorang laki-laki tua yang memanggil-manggil namanya dan meminta tolong. Ketika dia mendekatinya, ternyata laki-laki itu memohon agar dia jangan menebang pohon keramat yang berada di ujung kampung itu, karena daun-daun pohon tersebut telah menyembuhkan laki-laki tua tersebut dari penyakit yang di deritanya selama bertahun-tahun.

Dengan keteguhan yang sama sang tengku menjawab dengan lantang, ”Masalah buat Gue.. Apapun alasannya kemaksiatan harus diberantass.”

Si Pemuda berjalan terus dengan penuh keyakinan menuju targetnya. Tapi laki-laki tua tadi, lagi-lagi datang, dan kini mengancam, kalau pohon itu ditebang, seluruh penduduk kampung akan kualat dan pemuda tersebut juga akan yang akan terkena kutukan yang mengerikan..

Berbekal niat ikhlas yang telah dipersiapkannya dengan baik, pemuda berhati baja itu pun mengabaikan ancaman lelaki tua..

Hingga kali ke tiga, laki-laki tua kembali menahan jalan pemuda itu menuju pohon kemusyrikan dengan sekuat tenaganya sampai  pak tua itupun tersungkur, kalah. Dan pada akhirnya, ia mengiming-imingi si tengku muda nan perkasa dengan sekantong emas yang akan ditemuinya setiap pagi di bawah bantalnya, sepanjang tahun sampai kontrak usianya di dunia berakhir.

Dan kali ini, pemuda itu ternyata SETUJU.. :( Maka diapun pulang membawa kapak di tangannya dengan bayangan ratusan koin-koin emas yang akan memenuhi tabungannya setiap hari yang nantinya akan ia manfaatkan untuk bersedekah dan berdakwah di jalan Allah.

But, guess what he found? Ketika keesokan paginya dia tidak menemukan sekeping koin logampun di bawah bantalnya, dia buru-buru mengambil kembali kapaknya dan pergi menuntaskan misinya yang tertunda..

Dengan murka sang pemuda pun mendatangi pak tua dan menantangnya sekali lagi. Dan taukah engkau apa hasil dari pertempuran kedua ini??

Si pemuda gagah nan ‘alim kalah dari si tua yang ternyata adalah syaithan penjaga pohon keramat.

“Kau bisa saja mengalahkanku selama kau masih bersenjata ikhlas dalam hatimu.. Tapi sekarang engkau telah ria dan thamak akan balasan dari hasil kerjamu.. Maka engkau telah kalah, wahai Manusia.” Syaithan berkata sambil tertawa menang..

Dan saat itulah, kita baru menyadari bahwa niat dan keikhlasan adalah senjata terbesar kita....

Mudah-mudahan tak ada kata terlambat untuk menginstal ulang niat kita agar tetap Lillahi Ta’ala..

Last but not least…
Seorang ustadz pernah berkata bahwa ikhlas itu sebuah rasa yang saaaangat halus. Saking halusnya sampai-sampai malaikat dan syaithan pun tidak tahu ketika kita mengikhlaskan sesuatu. Hanya Allah dan hati saja yang berhak mengetahui anugrah mulia ini.. (Semoga Allah mencintai ustadz yang memberi nasehat ini dan menempatkannya di Surga-Nya yang tinggi.- Aamiin )

No comments:

Post a Comment