Saturday, 3 May 2014

Tatapanmu adalah bentangan samudera yang menghanyutkanku dalam dosa-dosa..

inspired by those  eyes

Glaze

Sungguh tatapan itu berhasil menenggelamkanku ke samudra terdalam, tak berbatas, tak bertepi...

Kian aku berusaha merengkuh tepiannya, kian dalam pusaran waktu menarikku ke dalam kilatannya...

Tuhan... Kutahu itu takkan terlalu lama..

tapi melewati buliran2 masa bersamanya adalah seribu tusukan belati dalam palung hati..

Karena dia bukan yang seharusnya...

Bersihkah ya Allah, bersihkan hatiku dari noda tatapan itu...

Jauhkan aku dari pandangannya, untuk ribuan hari bersama dan sepanjang masa

Thursday, 13 February 2014

Sepotong Tulisan


“Seorang Istri adalah replika suami. Sepotong rusuk yang kemudian menjadi bagian dirinya.”

Bukannya aku ingin meragukan fahaman itu. Hanya saja, susah sekali bagiku menemukan buktinya pada diri dan pasanganku. Kami sungguh sangat jauh berbeda. Seperti sepotong bulan yang bercahaya redup dengan si gagah mentari yang selalu bersinar buas.

Istriku manja, aku berwatak keras typical orang timur. Istriku pemalu, aku? Hmm,belum ada satu halpun yang berhasil membuatku merasa gede rasa. Istriku cepat menyerah, tapi aku adalah orang yang sangat optimis, kata orang-orang. Istriku sangat lamban tapi aku suka yang ekspres. Istriku ceriwis namun kata-kataku mahal, istilah istriku.

Istriku suka menghabiskan waktu di rumah sementara aku suka menghabiskan waktu dengan mereka di luar. Istriku suka membaca, aku suka menonton. Dan masih banyak lagi perbedaan-bedaan yang ada pada kami. Rasanya dua-duanya hal yang sama dari kami adalah mempunyai misi menjadikan anak-anak kami hafizd dan hafidzah Al-Qur’an Karim. Satunya lagi, kami sama-sama penggila lagu-lagu lawas dari penyanyi western.

Namun perbedaan itu tidak lantas membuat kami sering berselisih faham. Aku sudah membiasakan diri menerima ‘keistimewaan-keistimewaan’ istriku yang jauh berbeda dariku, karena aku sudah lama tahu bahwa perbedaan itu adalah rahmat. Hingga suatu saat istriku berkata, “Aku ingin jadi penulis.”

Saat itulah aku mulai merasa sedikit terusik.. “Apa yang ingin Kau tulis? Semuanya sudah ditulis orang.” Ujarku padanya.

“Menuliskan sesuatu yang bermanfaat tentunya.” Jawabnya seolah tak menyadari bahwa aku sedang berusaha melarangnya.

“Bermanfaat seperti apa? Kau ingin menuliskan isi Al-Qur’an dan memindahkan hokum-hukum Allah dalam lembaran-lembaran bukumu? Tidakkah engkau sadar, ketika seseorang berusaha menuliskan kembali isi Al-Qur’an, tanpa disadarinya, ia membuat orang meninggalkan Al-Qur’an. Semua orang hari ini mencari jawaban tentang sebuah hukum dari buku atau dari internet, bukan dari sumbernya hukum yang Allah turunkan dari langit. Apa Al-Qur’an itu kurang sempurna, sampai-sampai orang harus cari kitab lain untuk belajar tentang agama.” Aku berkata panjang lebar dengan mode suara tinggi yang sebenarnnya tak kurencanakan.

Istriku terlihat panik mendengar rentetan panjang kalimat-kalimat yang keluar dari mulutku. Tapi dia tidak menyambung lagi. Paling tidak, untuk saat itu. Namun dari percakapan-percakapan kami lain waktu ,dia selalu berusaha menyisipkan kampanye tersirat tentang keinginannya untuk menulis. Dari itu aku menarik kesimpulan bahwa istriku hanya ingin berbagi pengalaman-pengalamannnya sebagai ibu rumah tangga kepada ibu-ibu rumah tangga lain yang tersebar di seluruh penjuru dunia. “Mungkin ada pengalaman kita yang bisa menjadi inspirasi untuk membantu orang lain.” Begitu kira-kira inti dari kampanyenya.

Tapi aku masih tetap TIDAk setuju. Tidak sedikitpun.

Menurutku menulis itu buang-buang waktu dan buang-buang tenaga. Kerjaannya di rumah sudah cukup banyak, kenapa harus menambah lagi dengan kegiatan menulis yang menghabiskan banyak waktu? Itu lagha. Berbuat sia-sia. Lebih bagus dia mengaji beberapa juz perhari atau menghafal bersama anak-anak ketika ada waktu luang dibanding harus membuang-buang waktu di depan laptop. Tak ada pahalanya, menurutku.

Hingga suatu saat, sesuatu terjadi. Sebuah kesalah-fahaman membawaku jauh darinya. Sebuah khilaf yang terjadi, memaksaku pergi dan tak berani kembali. Aku merasa telah membuatnya terluka dengan luka terdalam dan aku yakin dia takkan pernah memaafkanku. Akupun kemudian berusaha menyepi sejenak. Memutuskan untuk tidak menghubungi dan tidak bisa dihubungi hingga aku berhasil mengembalikan keyakinan diri bahwa dia akan memaafkanku.

Ketika perasaanku telah sedikit pulih dan kepercayaan diriku sedikit kembali, aku membuka kembali memori hapeku dan mencoba menekan nomor kontaknya. Namun hingga kali ke sembilan aku mencoba, jawaban yang terdengar dari seberang sana tetap sama, “Nomor yang anda hubungi tidak terdaftar. Silahkan periksa kembali nomor tujuan Anda.”

Agaknya harapanku yang telah sedikit tersambung tertarik putus kembali. Aku kebingungan bagaimana harus menghubunginya. Haruskah aku pulang atau datang ke rumah orang tuanya untuk menjemput? Aku tak berani memutuskan jawabannya. Rasa optimisku kini dikalahkan oleh perasaan bersalah yang terlalu besar.
Yang terpaksa kulakukan kemudian adalah mencoba mengiriminya surel, walau kutahu semenjak tawaran jejaring sosial bertaburan bagai kacang goring, dia hampir tak pernah lagi membuka emailnya.

Sementara untuk mengiriminya pesan dengan akun-akun baru yang sedang mewabah itu, aku tak bisa karena aku tak punya. Aku tak merasa memerlukan akun-akun di sosial media karena masih bisa menghubungi rekan-rekanku melalui telpon. Mempunyai segala macam akun di segala jaringan membuatku merasa seperti A.B.G saja. Oleh itu, aku memilih untuk tak punya.

Setelah mengiriminya surat elektrik, aku kemudian membuka-buka google dan dengan iseng mengetikkan namaku tempat pencariannya – Darda-. Aku tahu yang akan keluar disana pastinya nama seorang perawi hadits bernama Abu Darda dan beberapa orang dari luar Indonesia mungkin, karena nama itu jarang dipakai di negara ini.

Penelusuran googleku terhenti di sebuah link berjudul. ‘Kupanggil dia Darda-ku’.
Akupun membuka link tersebut dan menemukan sebuah puisi dengan judul itu di blog seseorg. Aku membaca puisi itu sampai habis dengan hati yang berdegup. Puisi yang indah yang seolah ditulis untukku.

Kemudian aku membaca postingan-postingan lain di blog itu dan menemukan beberapa puisi lain yang sangat akrab denganku. Bukan karena aku pernah mendengarnya. Bukan.. Tapi karena aku pernah mengalami semua hal yang tertulis dalam puisi itu.

Ah. Mungkin ini hanya kebetulan saja, kata hatiku.

Kemudian aku mebaca lagi sebuah cerita pendek yang latarnya sangat jelas, yang semua kejadiannya berlaku di sebuah tempat yang tak asing bagiku. Ya itu adalah di rumahku.. Setap detail yang dituliskan di dalam cerita itu, seperti warna gorden dan letak vas bunga kesayangan istriku, persis sama dengan letakk semua barang di rumahku.. Oh Tuhan! Ini blog istriku, aku yakin itu. Walaupun dia tak memakai nama aslinya, tapi aku yakin itu dia. Kata-kata yang pernah dia ucapkan kepadaku dan kata-kata yang pernah kuucapkan kepadanya menjadi kutipan favorit dalam ceritanya.
Dan dari tulisan-tulisan tersebut, aku tau bahwa dia telah memafkanku. Dia sedang sangat merinduiku seperti juga aku yang sedang merinduinya lebih dari rindu seekor pungguk kepada sang purnama.

Aku telah siap pulang sekarang. Tulisannya telah memberikanku sebuah jawaban yang sempurna, bahwa aku sedang ditungguinya. Bahwa dia tak pernah benar-benar tahu bagaimana harus membenciku. Dan setelah saat itu, semua persepsiku tentang menulis berubah sudah.

Hari Kasih Sayang


Velentine dan Marhamah

Well, remaja muslim yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik, kali ini saya mau ngajakin kaula remaja yang masih sering berbunga-bunga, untuk intip tentang valentine yang sering dijadikan ‘modus’ oleh para mereka yang sedang menjatuhkan cinta atau kejatuhan cinta (yang belum halal)..

Walaupun sebenarnya kebanyakan dari kita gak setuju-setuju banget dengan perayaan valentine karena tidak sesuai dengan syari’ah Islam. Namun, demi sebuah modus agar bisa terlihat care and special, akhirnya sebagian kita merelakan ‘ilmu’ yang telah kita dapat tentang hal tersebut dan ikut-ikutan mengirim ratusan lembar kartu ucapan kasih sayang, sekontainer coklat berbentuk hati atau se-kebun bunga berwarna warni pada hari bertanggal 14 Februari tersebut. ‘Demi cinta apa yang gak? Ya kan?’ 

Tapi kalau kirimannya cuman sebait puisi, percaya sama saya, si doi itu gak modal banget dan gak sayang sama kamu. Masak sih dia gak berani korbanin ‘beberapa juta rupiah’ demi kebahagiaanmu..
Ini adalah sebuah komporisasi sesat menyesatkan yang sengaja saya tulis untuk membakar emosi para remaja remaji yang untuk ngasih hadiah aja masih pake modal dari orang tua. Heheheh..

Terus selain buat modus, ada juga yang belum tau sebenarnya valentine day itu apaan sih. Jadi saya berbaik hati ni, ngutip sejarah valentine dari google dan hendak bagi tahu remaja muslim semua yang uda siap-siap mau rayain valentine.

*Sejarah Valentine Days.

Menurut data dari Ensiklopedi Katolik, nama Valentinus diduga bisa merujuk pada tiga santo (orang suci) yang berbeda.

Hubungan antara ketiga santo ini dengan hari raya kasih sayang (valentine) tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai orang yang dianggap suci ini. Namun tanggal 14 Februari tetap ditetapkan sebagai hari raya peringatan untuk Santo Valentinus. 

Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti dari emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine (14 Februari), di mana peti dari emas diarak dalam sebuah prosesi dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu dilakukan sebuah misa yang khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta. (Hayooo!!)

Selain itu, menurut sumber dari Wikipedia Valentine’s day atau disebut juga Hari Kasih Sayang, adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta,  di dunia barat, menyatakan cintanya. Asal-usulnya yang gelap sebagai sebuah hari raya Katolik Roma didiskusikan di artikel Santo Valentinus. (Penasaran? Search di google yaahh)

Hari raya ini sekarang terutama diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk "valentines". Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap. Mulai abad ke-19, tradisi penulisan notisi pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu miliar kartu valentine dikirimkan per tahun. Hal ini membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. (Bisnis ternyata, eaa?)

Di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan. (Waah, kita jadi korban modus pengusaha pabrik hadiah rupanya.)

Sebagai tambahan informasi, hari valentine juga Asosiasi pertengahan bulan Februari dengan cinta dan kesuburan sudah ada sejak dahulukala. Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur mereka akan lari-lari di jejalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah. (Itu ngutip dari wikipedi yaaa).

Naaaaaaaaaaaaaaaah, uda pada taukan dari mana itu asal mula kejadian hari kasih sayang yang ingin kita rayakan agar bisa dengan gampang mengekpresikan cinta anak monyet kita, atau juga yang hanya ikut-ikutan agar tidak dibilang ketinggalan zaman.

Terus, setelah tau ini, kira-kira masih kebelet pengen rayain valentine dengan modal bakal ‘hadiah’ dari uang kiriman orang tua??? ;)

Mungkin sebagian dari kita ada yang menjawab, ‘Kami gak mau lagi, Miss. Gak mau ikutan yang gak-gak. Takut.. karena uda teringat hadis : Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.’


“Tapi,tapi, gimana juga kami melampiaskan perasaan kasih sayang kami kalau tidak ada sebuah hari special?”, kemungkinan akan menjadi sebuah pertanyaan baru.

“Kami perlu sebuah hari yang beda dengan hari-hari biasa yang bisa kami jadiin modus untuk kami ucap-ucap selamat gitu.Heheh”

Okay-lah kalau itu masalahnya, kitakan gak mesti ikut-ikut budaya kafir. Dalam Islam kita juga punya hari special kok. Hari kasih sayang yang bukan hanya milik sepasang remaja remaji yang sedang kasmaran, hari yang bukan cuman milik sepasang kekasih, tapi milik seluruh ummat. 

Dan taukah kamu kapan hari itu???

Hari itu adalah hari dimana Rasulullah kembali ke Makkah setelah sekian lama terusir dari tanah kelahirannya, dijauhi dan diperangi oleh kafir Quraisy yang sebahagiannya masih ada hubungan kerabat dengan  beliau.

Hari itu adalah hari yang jatuh pada tanggal 20 Ramadhan (ada juga yang berpendapat tanggal 10) tahun ke 8 hijriyah ketika pasukan Rasulullah berhasil menaklukkan kota Makkah. 

Hari itu adalah hari yang sering kita dengar dengan sebutan ‘Fathu Makkah’.

Hari itu adalah hari dimana Rasulullah mengumumkan:  “Siapa yang masuk masjid maka dia aman, siapa yang masuk rumah Abu Sufyan maka dia aman, siapa yang masuk rumahnya dan menutup pintunya maka dia aman.”

Hari itu adalah hari dimana, seorang Abu Sufyan, pemua kafir Quraiys, yang sudah sangat lama menentang islam dengan terang-terangan diangkat derajatnya karena mengakui keislamannya.

Hari itu adalah hari dimana Rasulullah memaafkan semua orang yang telah menyakitinya dan melukai mental dan fisik seluruh pengikut beliau hingga mereka harus pindah ke Madinah selama 8 tahun.

Hari itu, tak dinamai Yaumul Fath atau hari kemenangan. Karena pointnya bukan tentang kemenangan kekuatan manusia atas manusia lain, melainkan kemenangan atas diri sendiri. Kemenangan atas nafsu sendiri. Kemenangan atas Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Kemenangan atas semesta.

Hari itu dalah hari dimana Rasulullah berpidato kepada ribuan tawanan memberikan amnesti massal. Pidato itu membuat para pengikut beliau patah semangat di awalnya. Berjuang hidup mati, dihinakan, dilecehkan, tapi ketika kemenangan berada di genggaman, musuh malah dibebaskan. Bahkan, Rasulullah memerintahkan agar rampasan perang dibagikan kepada para tawanan, sementara pasukan Islam tidak memperoleh apa-apa.

Hari itu adalah hari ketika seuntai kata indah kembali keluar dari mulut Rasulullah yang mulia, setelah sekian lama terusir dan diperangi:
“Wahai manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari kasih sayang (Yaumul Marhamah), dan kalian semua merdeka kembali ke keluarga kalian masing-masing..”

Peristiwa Fathu Makkah itu diabadikan oleh Allah di surat Al Fath ayat 1 : (“Sesungguhnya kami memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.”), sebuah proklamasi kemenangan yang sempurna. Proklamasi itu dipaparkan dengan pemaafan atas dosa-dosa para pejuang murni, dosa yang lalu maupun yang masa kini, dengan penyempurnaan nikmat, serta dengan pertolongan besar atas masalah mereka.

Dan hari yang luar biasa itu,kini telah dilupakan begitu saja, digantikan oleh sebuah hari yang berasal usul tak jelas. Padahal melalui sejarah hari itu, Rasulullah telah mengajarkan kita, ummatnya, makna cinta yaang sebenarnya. 

Cinta yang bukan hanya sekadar kata, yang bukan hanya sekadar mengirimi sebatang coklat dan sekuntum bunga. Ini adalah sebuah cinta yang perfect, Kawan!! Cinta seorang yang telah disakiti dengan sangat lama kemudian dia datang untuk memaafkan dan menyebarkan kasih sayang ke seluruh alam. 

Bukankah kehadirannya merupakan rahmatan lil’aalamin? Tentu saja, segala yang ada padanya membuatnya pantas menerima gelar mulia itu, dialah Rasullulah Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam.
Dan karena kemuliaan akhlaknya, Yaumul Marhamah (hari Kasih Sayang) ada dan menjadi hadiah untuk seluruh ummat manusia. (Noor)





Saturday, 2 November 2013

SUDUT PANDANG

Syahdan, di suatu masa, tersebutlah dua orang pemuda yang berguru kepada seorang Syeikh. Mereka mendapatkan banyak sekali ilmu tentang segala hal, utamanya tentang syariah dan hidup bermasyarakat.

Sebuah pesan guru yang selalu mereka ingat bahwa dua hal yang akan menghancurkan seorang pemuda : khamr alias al-kuhl (baca : alcohol ) dan syahwat tak halal terhadap lawan jenis.

Jadilah dua hal tersebut sedapat mungkin selalu mereka jauhi hingga akhir masa belajarpun tiba. Merekapun kembali pulang ke daerah asal masing-masing untuk menyebarkan semua ilmu yang telah mereka dapatkan dari Sang guru.

Di dalam perjalannya, mereka berdua melewati sebuah desa yang baru saja terkena musibah banjir. Tak ada seorang manusiapun disana yang mereka temukan selamat. Semua tubuh yang mereka temui sudah tak bernyawa, hingga mereka mendengar sebuah rintihan dari bawah sebatang pohon, “Tolong, tolong saya.”
Merekapun berlari mendekati asal suara dan menemukan seorang perempuan muda dengan tubuh penuh lumpur dan pakaian yang sudah compang camping.

Melihat pemandangan tersebut, pemuda I berseru, “ Ayo, cepat kita tolong dia. Dia membutuhkan bantuan segera.”

“ Tapi guru tidak membolehkan kita menyentuh seorang perempuan”, hardik Pemuda II.

“Kita bukan akan menyentuh seorang perempuan, hanya membantu menolong korban bencana alam.” Timpal Pemuda I seraya tersenyum.

“Tapi korbannya adalah seorang perempuan, dan kita tau apa hukum menyentuh seorang perempuan.” Ucap Pemuda II kekeh.

“Kita tak punya banyak waktu, dia butuh pertolongan.” Ujar Pemuda I sembari membopong tubuh lunglai perempuan muda tak berdaya di atas pundaknya.

Sepanjang jalan mereka tak lagi bercakap-cakap, sang Pemuda I hanya diam sementara Pemuda II terus-terusan berucap istighfar.

Setibanya mereka di perkampungan terdekat, mereka segera menyerahkan korban tadi ke rumah salah orang penduduk desa dan mereka kembali melanjutkan perjalanannya.

“Kau harus bertaubat, Kawan.” Pemuda II berujar dengan sungguh.

“Untuk kesalahan yang mana? “ Tanya Pemuda I.

“Kau telah menyentuh seorang perempuan yang bukan mahrammu.” Suara Pemuda II terdengar agak bergetar karena sedih memikirkan sahabatnya yang seakan telah lupa dengan ajaran yang telah mereka dapatkan selama bertahun ini.

“Bukan hanya aku yang menggendongnya, Saudaraku. Aku membawanya di atas punggungku sejauh 3 kilometer, tapi Kau telah membawa gadis itu dalam pikiranmu hingga saat ini.” Pemuda I berucap panjang lebar.

“Aku mungkin bersalah karena menyentuh seorang perempuan. Tapi kita akan sama-sama memikul beban rasa bersalah seandainya kita masih meninggalkannya di bawah pohon di tengah tumpukan manyat dan lumpur.” Sambung Pemuda I.

Pemuda II hanya diam mendengarkan kata demi kata yang diucapkan oleh saudara seperguruannya.

Kalau boleh saya ingin menarik ibrah dari cerita kedua pemuda di atas.

Kedua pemuda tsb adalah keluaran sebuah perguruan yang sama, belajar pada seorang guru yang sama, dan mewarisi ilmu yang persis sama dari Guru mereka.

Namun, pada pengaplikasiannya, mereka memilih cara yang berbeda. Salahkah murid I melanggar aturan untuk menyentuh lawan jenis karena tujuan ingin menolong? Atau salahkah murid II ketika melihat orang dalam kesusahan namun tak berusaha menolongnya karena takut dosa?

Menurut logika dari si awam (penulis -red) ini, keduanya tak salah. Hanya cara pandang mereka melihat sebuah masalah yang berbeda. Keduanya ingin menjalankan ajaran sang guru dengan sebaik-baiknya tanpa berusaha pelanggaran sedikitpun. Namun pada penerapapan dalam lingkungan, mereka terpaksa memutuskan sendiri apa yang harus mereka lakukan ketika bertemu dengan masalah-masalah yang belum pernah mereka temui di saat belajar dulu.

Mereka akan segera turun ke masyarakat. Mereka akan tinggal di dua lingkungan yang berbeda. Merekalah yang kemudian akan memutuskan bagaimana menyelesaikan semua urusan yang ditemui dalam bermasyarakat. Apabila ternyata  nantinya dalam lingkungan kehidupan, mereka harus membuat dua keputusan yang tidak persis sama namun tujuannya tetap ‘menyelesaikan masalah dengan sebaik mungkin’, apakah salah satu dari mereka bisa kita stempelkan dengan dengan logo ‘jahil’ di belakang namanya? Padahal kita tahu bahwa mereka berdua adalah penganut agama yang tha’at. Dua-duanya masih setha’at dulu di saat mereka masih di bawah penjagaan ketat sang guru.

Begitulah juga dengan keadaan di lingkungan kita dewasa ini. Semua orang berteriak bahwa merekalah yang paling benar. Bahwa kaum yang tak ikut dalam kelompok mereka semuanya salah, semunya sesat, padahal mereka tahu bahwa orang yang sedang diteriaki itu adalah saudaranya seagama.
Hanya karena aplikasi dalam mengamalkan agama yang berbeda kita mengembelkan saudara kita dengan sebutan ‘munafik, bahkan ‘kafir’.

Siapa sih kita ini hingga berani memberi cap salah kepada semua orag yang tak berpandangan sama dengan kita? Sudah sempurnakah iman kita sehingga berani mengambil keputusan yang sebenarnya hanya hak Tuhan, bahwa sebuah golongan akan di tempatkan di neraka atau di surga.

Bukalah mata. Semua muslim bersaudara. Semua muslim wajib belajar tentang agama yang sedang diamalkannya. Tapi bedanya lingkungan dan situasi membuat kita berbeda paham tentang cara pengamalan ajaran-ajaran yang telah sama-sama kita pelajari dari kecil.

Kita semua adalah saudara.. Tak perlulah merasa lebih baik dari orang lain hanya karena sebuah pikiran (maaf) ‘picik’ yang menganggap bahwa golongan saya-lah golongan AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH itu.

Bukti lebih penting dari sebuah label. Sepakat??

NB : terinspirasi dari novel Sepatu Dahlan

OBESITAS dan MUSLIMAH

October 30, 2013 at 10:19am

A. Apa dan Bagaimana

Siapa yang belum kenal dengan obesitas mari ikut saya.

Obesitas yang dlm kamus besar bahasa Indonesia dimaknai dengan kelebihan berat badan, dewasa ini menjadi momok bagi kebanyakan perempuan Negara maju dan Negara berkembang.

Kelebihan yang selalu saja dianggap sebagai sebuah kekurangan ini selain membahayakan kesehatan juga membahayakan kehidupan social dan ekonomi seorang manusia terutama yang berjenis kromosom XX.

Dalam kehidupan socialnya, seorang perempuan suka menghargai diri dan meuntut penghargaan dari lingkungan dengan tampil cantik yang notabenenya berwajah indah dan mempunyai berat badan ideal (baca : langsing ).

Dalam kehidupan perekonomian lagi-lagi syarat untuk mendapatkan sebuah pekerjaan di banyak instansi, seorang perempuan diwajibkan untuk berpenampilan menarik dengan garis bawah idem yang di atas : wajah cantik dan tubuh langsing.

Mendapatkan wajah cantik berseri, bebas kusam, putih merona, tanpa noda tersisa, adalah hal yang sangat mudah didapatkan dewasa ini, karena berbagai macam krem ajaib telah tersedia di warung-warung kecil tempat anda biasa membeli sabun colek. Dengan bandrolan harga sekitar 200an anda bisa tampil pucat dalam tujuh hari.

Tapi tidak begitu halnya dengan obesitas. Walaupun berbagai macam produk ditawarkan untuk mengurangi berat badan, namun produk-produk tersebut lebih sering membawa hasil kegagalan daripada sebuah kesuksesan. Tak banyak perempuan yang berhasil mengubah kembali labu tanah menjadi labu air hanya dengan meneguk jamu-jamu pahit yang rasanya tak bisa hilang hingga seminggu  walau berjirgen-jirgen air telah kandas.

Oleh itu, mereka kemudian mencoba cara lain untuk membuang kembali lemak-lemak yang telah kadung betah di dalam tubuh mereka. Dimulai dari diet ketat, berolah raga tanpa biaya, mengkonsumsi pil-pil diet dari yang berharga 10 ribuan sampai ratusan ribu, hingga sedot lemak yang meghabiskn biaya ratusan juta rupiah.

Gilanya seorang perempuan rela melakukan apa saja demi sebuah kata ‘cantik’.

Namun  hal tersebut tidak berlaku terhadap seorang muslimah. Bukan kata cantik yang menghantuinya sehingga seorang muslimah juga terkesan memusuhi obesitas. Bukan, sekali-kali bukan karena itu. Ini lebih karena tuntunan menutup aurat dengan benar seperti yang telah digariskan dalam syariah : berpakaian longgar dan tidak membentuk badan.

Coba anda renungkan bagaimana nasib seorang muslimah berberat badan 45 kg dengan baju-baju gembrongnya, tiba-tiba harus berpakaian sempit hanya karena berat badannya bertambah 15kg. Bukan style berpakaian yang mereka ubah, namun pertambahan berat badan itu telah tanpa sengaja mencetak beberapa lekuk di kanan kiri, di bagian depan dan belakangnya juga mengangkat beberapa centi lambaian kerudung lebarnya.

Salahkah mereka jika kemudian harus tetap beraktifitas dengan pakaian-pakaian sempit karena tak mampu terus menerus membelanjai diri dengan pakaian-pakaian baru yang sesuai dengan tuntutan badannya kini? Salahkah?

Saya yakin anda setuju dengan saya, bahwa itu bukanlah salah mereka. Namun aurat tetaplah aurat, harus ditutup dengan sempurna bagaimanapun caranya. Bahkan jika perlu seluruh muslimah di dunia harus bisa menjahitkan bajunya sendiri untuk mengatasi masalah ini. Namun lagi-lagi itu bukanlah hal yang mudah. Karena itulah para muslimah juga ikut terkena sindrom galau ketika dihadapkan dengan masalah obesitas ini.

B. Asbab dan Pencegahan

Ketidakberhasilan mencegah obesitas pada sebagian besar perempuan sering terjadi karena ketidakpedulian mereka tentang penyebab kelainan tersebut. Padahal mengubah kebiasaan-kebiasaan kecil seperti merutinkan sarapan pagi dapat sangat membantu misi mulia ini.

Kebiasaan melewatkan sarapan pagi dan menumpuk snack pada saat brunch (antara breakfast and lunch) kemudian membalas dendam pada saat makan siang adalah salah factor penyebab utama obesitas. Selain itu terlalu banyak mengkonsumsi gula dan makanan yang mengandung karbohidrat secara bersamaan - seperti : makan nasi dengan minuman manis (teh/sirup) atau kebiasaan makan buah segera setelah makan nasi- juga dapat menyebabkan masalah ‘kebesaran’ yang tak diharapkan.

Dan lagi, makan malam ( dan makan lain) terlalu larut dapat menyebabkan kekacauan dalam system pencernaan yang seharusnya juga beristirahat di malam hari  namun tetap dipaksa bekerja di break time-nya membuat penyaringan dan penyaluran makanan tidak berjalan lancar.

Kurangnya cairan tubuh juga dapat memperlambat proses pencernaan yang menyebabkan susahnya pengolahan makanan di dalam usus besar. Ditambah lagi dengan pembuangan yang tidak teratur menyebabkan adanya penumpukan sisa-sisa makanan yang tak layak pakai namun terpaksa dipakai kembali oleh tubuh karena masih berada di dalam usus.

Setelah mengetahui sebab-sebab kehadiran momok obesitas, agaknya lebih mudah bagi kita untuk mulai melirik kembali cara-cara mengurangi dan mencegah obesitas, diantaranya dengan :

  1. Mengatur pola makan seperti yang dianjurkan Rasulullah : makan apabila lapar, berhenti sebelum kenyang.
  2. Jangan makan tiga/lebih makanan yang mengandung zat yang berbeda dalam satu waktu. - misal : makan nasi dengan lauk saja atau nasi dengan sayur saja atau lauk dengan sayur saja (untuk makan malam) -
  3. Tidak dianjurkan mengkonsumsi buah atau juice setelah makan
  4. Atur waktu makan minimal berselang dua jam
  5. Minum air putih minimal 2 liter sehari untuk melancarkan metabolisme
  6. Makan dan minum dengan santai (tidak terburu-buru) dan dalam posisi duduk.
  7. Berdoa mohon bantuan Allah untuk menurunkan berat badan kita.

Jangan tertawakan point terakhir. Semua usaha manusia takkan berlaku tanpa bantuan Allah bahkan dalam usaha diet sekalipun.

Selamat mencoba semoga bermanfaat ( kalimat ini dibaca terakhir).

Kesaksian penulis :

Sebenarnya, kawans. Saya sendiri belum berhasil menaklukan musuh obesitas yang telah membuat saya dikata-katai seksi oleh rekan-rekan kerja saya hanya karena berat badan yang tak lagi sama dengan waktu ketika mereka baru mengenal saya dulu. Tapi saya selalu berfikir tiada salahnya membagi ilmu meskipun orang yang mendakwahinya belum sanggup mengamalkannya secara sempurna. Mungkin tak berhasil di saya, tapi berhasil di anda. Siapa tahu.

Thursday, 31 October 2013

MENIKAHLAH


Mencintai itu fithrah. Menikah itu sunnah.. Keduanya penting. Namun sepenting apapun kedua hal tsb dalam kehidupan manusia, saya masih saja menemukan orang-orang dewasa yang lebih suka melajang di usia yang tak lagi terbilang muda (baca : 30 tahun). Entah apa alasan yang mereka simpan dalam pikiran sehingga rela membuang-buang nikmat yang telah dijanjikan melalui sebuah pernikahan yaitu menyempurnakan setengah dari Agama.

Padahal mereka juga tau, kalau mereka bertanggung jawab atas kelangsungan hidup species manusia di muka bumi, dan salah satu cara yang paling legal melestarikan species itu adalah dengan MENIKAH.

Terkadang ketika saya mencoba bertanya, bermacam ragam jawaban saya dapatkan dari para bujang dan dara tersebut : ‘Belum berjodoh’, ‘belum ada yang cocok’, ‘belum siap secara materi, masih ingin melanjutkan pendidikan sampai bergelar doktor’, ‘takut buat anak gadis orang lapar’, ‘belum PNS’, ‘belum ketemu tipe yang sesuai’, ‘belum ketemu yang sempurna’, ‘wanita/pria idaman belum jadi janda/duda’, dan sebagainya, dan sebagainya.

Jika benih-benih alasan ini terus saja dipupuk dan sirami setiap waktu mungkin kita tak akan pernah mau belajar mengalah sedikit saja dengan perasaan dan pikiran tsb. Kita hanya berpikir bahwa segala yang ada dalam pikiran kita itulah yang benar, bahwa menikah itu perlu kesempurnaan, bukan belajar melengkapi diri yang masih setengah sempurna dengan sesosok setengah sempurna lainnya.

Ayoklah kawan, jangan terus menunggu mendapatkan manusia ‘setengah dewa’. Berusahalah menerima orang yang bisa kita ajak menjadi ‘dewa’ sama-sama.

Kurangkah asbab ‘menyempurnakan agama’ itu bagi saudara-saudaraku yang belum juga mau menjawab ‘iya’ ketika tiga, empat orang yang mengajak ta’arufan datang ? Kalau masih kurang, saya bersedia menuliskan alasan-alasan lainnya..

Ketika menikah kita punya asisten setia yang bisa merangkap jadi apa saja, seperti : wakil ketua I, wakil ketua II, sekretaris, bendahara, bid. konsumsi, bid. transportasi, bid. humas, bid. dokumentasi, bid. belanegara, bid. hiburan, bahkan anggota sekaligus.. Semua jabatan tersebut bisa anda dapatkan secara LIBUR alias pree tanpa bayar.

Kehidupan anda lebih terurus dan tertib. Anda akan selalu punya alarm plus reminder yang selalu siap mengingatkan anda kapan harus pulang, kapan harus pergi, kapan harus makan, juga kapan harus shalat subuh :D

Anda akan mempunyai konsultan pribadi bebas bea konseling.

Hiburan gratis 24 jam

Allah halalkan yang haram melaluinya

Selalu ada yang mendoakan.

Membuat bidadari surga cemburu.
dll.dll.

Selain itu menikah juga berperan penting dalam masalah kesehatan.

Bagi kaum adam, ada sejenis hormone (maaf) yang harus dibuang secara rutin agar tidak mengganggu kesehatan. Anda tentu lebih tau apa yang saya maksud. Dan menikah membantu kaum itu untuk tetap sehat.

Dan bagi bani hawa, ada banyak proses pencegahan dan penyembuhan yang bisa didapat melalui pernikahan.
Sebagai contoh, kebanyakan perempuan sering mengeluhkan sakit bulanan yang kadang terasa terlalu berlebihan. Tamu special yang hanya datang kepada perempuan itu sering kali mengganggu aktivitas harian dengan segala macam kenyerian yang ditawarkannya. Dan ternyata tubuh manusia telah dicipta dengan sangat sempurna bahkan dalam menyediakan imun (baca : anti nyeri) untuk penyakit istimewa tersebut. Namun untuk pembentukan imun anti nyeri itu membutuhkan waktu sekitar tiga atau empat bulan.

Bagi perempuan yang belum menikah, waktu empat bulan tidak kedatangan tamu adalah sebuah bencana. Namun bagi yang sudah menikah, ketidak-hadiran tamu itu selama 4 bahkan 9 bulan adalah anugrah yang paling besar. Itu adalah pertanda bahwa sepasang manusia telah sukses menjalankan tugasnya dalam menyelamatkan species manusia dengan mempunyai keturunan.

Anugrah imun anti nyeri yang telah terbentuk sempurna merupakan bonus dari proses kehamilan yang terjadi sebelum keturunan manusia lahir ke dunia.

Contoh lain bahwa menikah dapat mencegah terjangkitnya kanker serviks dan kanker mamae pada perempuan dewasa. Kanker serviks yang sering disebut dengan kanker mulut rahim ternyata juga dapat dicegah melalui kehamilan. Sedangkan kanker mamae dapat dicegah dengan proses menyusui yang lagi-lagi proses itu hanya bisa dicapai melalui jalan ‘menikah’.

Mungkin anda tidak percaya dengan perkataan saya, karena itu saya sengaja mengutip kata-kata seorang Dokter specialis kanker dari KORAN KOMPAS bahwa :

“Satu dari sepuluh perempuan dewasa yang tidak menyusui akan lebih mudah terkena kanker mamae’.

Begitulah saja pendapat manusia awam ini mengenai asbab-asbab kenapa seorang muslim harus menikah dan berjuang pantang menyerah untuk itu.