Thursday, 13 February 2014

Sepotong Tulisan


“Seorang Istri adalah replika suami. Sepotong rusuk yang kemudian menjadi bagian dirinya.”

Bukannya aku ingin meragukan fahaman itu. Hanya saja, susah sekali bagiku menemukan buktinya pada diri dan pasanganku. Kami sungguh sangat jauh berbeda. Seperti sepotong bulan yang bercahaya redup dengan si gagah mentari yang selalu bersinar buas.

Istriku manja, aku berwatak keras typical orang timur. Istriku pemalu, aku? Hmm,belum ada satu halpun yang berhasil membuatku merasa gede rasa. Istriku cepat menyerah, tapi aku adalah orang yang sangat optimis, kata orang-orang. Istriku sangat lamban tapi aku suka yang ekspres. Istriku ceriwis namun kata-kataku mahal, istilah istriku.

Istriku suka menghabiskan waktu di rumah sementara aku suka menghabiskan waktu dengan mereka di luar. Istriku suka membaca, aku suka menonton. Dan masih banyak lagi perbedaan-bedaan yang ada pada kami. Rasanya dua-duanya hal yang sama dari kami adalah mempunyai misi menjadikan anak-anak kami hafizd dan hafidzah Al-Qur’an Karim. Satunya lagi, kami sama-sama penggila lagu-lagu lawas dari penyanyi western.

Namun perbedaan itu tidak lantas membuat kami sering berselisih faham. Aku sudah membiasakan diri menerima ‘keistimewaan-keistimewaan’ istriku yang jauh berbeda dariku, karena aku sudah lama tahu bahwa perbedaan itu adalah rahmat. Hingga suatu saat istriku berkata, “Aku ingin jadi penulis.”

Saat itulah aku mulai merasa sedikit terusik.. “Apa yang ingin Kau tulis? Semuanya sudah ditulis orang.” Ujarku padanya.

“Menuliskan sesuatu yang bermanfaat tentunya.” Jawabnya seolah tak menyadari bahwa aku sedang berusaha melarangnya.

“Bermanfaat seperti apa? Kau ingin menuliskan isi Al-Qur’an dan memindahkan hokum-hukum Allah dalam lembaran-lembaran bukumu? Tidakkah engkau sadar, ketika seseorang berusaha menuliskan kembali isi Al-Qur’an, tanpa disadarinya, ia membuat orang meninggalkan Al-Qur’an. Semua orang hari ini mencari jawaban tentang sebuah hukum dari buku atau dari internet, bukan dari sumbernya hukum yang Allah turunkan dari langit. Apa Al-Qur’an itu kurang sempurna, sampai-sampai orang harus cari kitab lain untuk belajar tentang agama.” Aku berkata panjang lebar dengan mode suara tinggi yang sebenarnnya tak kurencanakan.

Istriku terlihat panik mendengar rentetan panjang kalimat-kalimat yang keluar dari mulutku. Tapi dia tidak menyambung lagi. Paling tidak, untuk saat itu. Namun dari percakapan-percakapan kami lain waktu ,dia selalu berusaha menyisipkan kampanye tersirat tentang keinginannya untuk menulis. Dari itu aku menarik kesimpulan bahwa istriku hanya ingin berbagi pengalaman-pengalamannnya sebagai ibu rumah tangga kepada ibu-ibu rumah tangga lain yang tersebar di seluruh penjuru dunia. “Mungkin ada pengalaman kita yang bisa menjadi inspirasi untuk membantu orang lain.” Begitu kira-kira inti dari kampanyenya.

Tapi aku masih tetap TIDAk setuju. Tidak sedikitpun.

Menurutku menulis itu buang-buang waktu dan buang-buang tenaga. Kerjaannya di rumah sudah cukup banyak, kenapa harus menambah lagi dengan kegiatan menulis yang menghabiskan banyak waktu? Itu lagha. Berbuat sia-sia. Lebih bagus dia mengaji beberapa juz perhari atau menghafal bersama anak-anak ketika ada waktu luang dibanding harus membuang-buang waktu di depan laptop. Tak ada pahalanya, menurutku.

Hingga suatu saat, sesuatu terjadi. Sebuah kesalah-fahaman membawaku jauh darinya. Sebuah khilaf yang terjadi, memaksaku pergi dan tak berani kembali. Aku merasa telah membuatnya terluka dengan luka terdalam dan aku yakin dia takkan pernah memaafkanku. Akupun kemudian berusaha menyepi sejenak. Memutuskan untuk tidak menghubungi dan tidak bisa dihubungi hingga aku berhasil mengembalikan keyakinan diri bahwa dia akan memaafkanku.

Ketika perasaanku telah sedikit pulih dan kepercayaan diriku sedikit kembali, aku membuka kembali memori hapeku dan mencoba menekan nomor kontaknya. Namun hingga kali ke sembilan aku mencoba, jawaban yang terdengar dari seberang sana tetap sama, “Nomor yang anda hubungi tidak terdaftar. Silahkan periksa kembali nomor tujuan Anda.”

Agaknya harapanku yang telah sedikit tersambung tertarik putus kembali. Aku kebingungan bagaimana harus menghubunginya. Haruskah aku pulang atau datang ke rumah orang tuanya untuk menjemput? Aku tak berani memutuskan jawabannya. Rasa optimisku kini dikalahkan oleh perasaan bersalah yang terlalu besar.
Yang terpaksa kulakukan kemudian adalah mencoba mengiriminya surel, walau kutahu semenjak tawaran jejaring sosial bertaburan bagai kacang goring, dia hampir tak pernah lagi membuka emailnya.

Sementara untuk mengiriminya pesan dengan akun-akun baru yang sedang mewabah itu, aku tak bisa karena aku tak punya. Aku tak merasa memerlukan akun-akun di sosial media karena masih bisa menghubungi rekan-rekanku melalui telpon. Mempunyai segala macam akun di segala jaringan membuatku merasa seperti A.B.G saja. Oleh itu, aku memilih untuk tak punya.

Setelah mengiriminya surat elektrik, aku kemudian membuka-buka google dan dengan iseng mengetikkan namaku tempat pencariannya – Darda-. Aku tahu yang akan keluar disana pastinya nama seorang perawi hadits bernama Abu Darda dan beberapa orang dari luar Indonesia mungkin, karena nama itu jarang dipakai di negara ini.

Penelusuran googleku terhenti di sebuah link berjudul. ‘Kupanggil dia Darda-ku’.
Akupun membuka link tersebut dan menemukan sebuah puisi dengan judul itu di blog seseorg. Aku membaca puisi itu sampai habis dengan hati yang berdegup. Puisi yang indah yang seolah ditulis untukku.

Kemudian aku membaca postingan-postingan lain di blog itu dan menemukan beberapa puisi lain yang sangat akrab denganku. Bukan karena aku pernah mendengarnya. Bukan.. Tapi karena aku pernah mengalami semua hal yang tertulis dalam puisi itu.

Ah. Mungkin ini hanya kebetulan saja, kata hatiku.

Kemudian aku mebaca lagi sebuah cerita pendek yang latarnya sangat jelas, yang semua kejadiannya berlaku di sebuah tempat yang tak asing bagiku. Ya itu adalah di rumahku.. Setap detail yang dituliskan di dalam cerita itu, seperti warna gorden dan letak vas bunga kesayangan istriku, persis sama dengan letakk semua barang di rumahku.. Oh Tuhan! Ini blog istriku, aku yakin itu. Walaupun dia tak memakai nama aslinya, tapi aku yakin itu dia. Kata-kata yang pernah dia ucapkan kepadaku dan kata-kata yang pernah kuucapkan kepadanya menjadi kutipan favorit dalam ceritanya.
Dan dari tulisan-tulisan tersebut, aku tau bahwa dia telah memafkanku. Dia sedang sangat merinduiku seperti juga aku yang sedang merinduinya lebih dari rindu seekor pungguk kepada sang purnama.

Aku telah siap pulang sekarang. Tulisannya telah memberikanku sebuah jawaban yang sempurna, bahwa aku sedang ditungguinya. Bahwa dia tak pernah benar-benar tahu bagaimana harus membenciku. Dan setelah saat itu, semua persepsiku tentang menulis berubah sudah.

No comments:

Post a Comment