October 30, 2013 at 10:19am
Siapa yang belum kenal dengan obesitas mari ikut saya.
Obesitas yang dlm kamus besar bahasa Indonesia dimaknai dengan kelebihan berat badan, dewasa ini menjadi momok bagi kebanyakan perempuan Negara maju dan Negara berkembang.
Kelebihan yang selalu saja dianggap sebagai sebuah kekurangan ini selain membahayakan kesehatan juga membahayakan kehidupan social dan ekonomi seorang manusia terutama yang berjenis kromosom XX.
Dalam kehidupan socialnya, seorang perempuan suka menghargai diri dan meuntut penghargaan dari lingkungan dengan tampil cantik yang notabenenya berwajah indah dan mempunyai berat badan ideal (baca : langsing ).
Dalam kehidupan perekonomian lagi-lagi syarat untuk mendapatkan sebuah pekerjaan di banyak instansi, seorang perempuan diwajibkan untuk berpenampilan menarik dengan garis bawah idem yang di atas : wajah cantik dan tubuh langsing.
Mendapatkan wajah cantik berseri, bebas kusam, putih merona, tanpa noda tersisa, adalah hal yang sangat mudah didapatkan dewasa ini, karena berbagai macam krem ajaib telah tersedia di warung-warung kecil tempat anda biasa membeli sabun colek. Dengan bandrolan harga sekitar 200an anda bisa tampil pucat dalam tujuh hari.
Tapi tidak begitu halnya dengan obesitas. Walaupun berbagai macam produk ditawarkan untuk mengurangi berat badan, namun produk-produk tersebut lebih sering membawa hasil kegagalan daripada sebuah kesuksesan. Tak banyak perempuan yang berhasil mengubah kembali labu tanah menjadi labu air hanya dengan meneguk jamu-jamu pahit yang rasanya tak bisa hilang hingga seminggu walau berjirgen-jirgen air telah kandas.
Oleh itu, mereka kemudian mencoba cara lain untuk membuang kembali lemak-lemak yang telah kadung betah di dalam tubuh mereka. Dimulai dari diet ketat, berolah raga tanpa biaya, mengkonsumsi pil-pil diet dari yang berharga 10 ribuan sampai ratusan ribu, hingga sedot lemak yang meghabiskn biaya ratusan juta rupiah.
Gilanya seorang perempuan rela melakukan apa saja demi sebuah kata ‘cantik’.
Namun hal tersebut tidak berlaku terhadap seorang muslimah. Bukan kata cantik yang menghantuinya sehingga seorang muslimah juga terkesan memusuhi obesitas. Bukan, sekali-kali bukan karena itu. Ini lebih karena tuntunan menutup aurat dengan benar seperti yang telah digariskan dalam syariah : berpakaian longgar dan tidak membentuk badan.
Coba anda renungkan bagaimana nasib seorang muslimah berberat badan 45 kg dengan baju-baju gembrongnya, tiba-tiba harus berpakaian sempit hanya karena berat badannya bertambah 15kg. Bukan style berpakaian yang mereka ubah, namun pertambahan berat badan itu telah tanpa sengaja mencetak beberapa lekuk di kanan kiri, di bagian depan dan belakangnya juga mengangkat beberapa centi lambaian kerudung lebarnya.
Salahkah mereka jika kemudian harus tetap beraktifitas dengan pakaian-pakaian sempit karena tak mampu terus menerus membelanjai diri dengan pakaian-pakaian baru yang sesuai dengan tuntutan badannya kini? Salahkah?
Saya yakin anda setuju dengan saya, bahwa itu bukanlah salah mereka. Namun aurat tetaplah aurat, harus ditutup dengan sempurna bagaimanapun caranya. Bahkan jika perlu seluruh muslimah di dunia harus bisa menjahitkan bajunya sendiri untuk mengatasi masalah ini. Namun lagi-lagi itu bukanlah hal yang mudah. Karena itulah para muslimah juga ikut terkena sindrom galau ketika dihadapkan dengan masalah obesitas ini.
B. Asbab dan Pencegahan
Ketidakberhasilan mencegah obesitas pada sebagian besar perempuan sering terjadi karena ketidakpedulian mereka tentang penyebab kelainan tersebut. Padahal mengubah kebiasaan-kebiasaan kecil seperti merutinkan sarapan pagi dapat sangat membantu misi mulia ini.
Kebiasaan melewatkan sarapan pagi dan menumpuk snack pada saat brunch (antara breakfast and lunch) kemudian membalas dendam pada saat makan siang adalah salah factor penyebab utama obesitas. Selain itu terlalu banyak mengkonsumsi gula dan makanan yang mengandung karbohidrat secara bersamaan - seperti : makan nasi dengan minuman manis (teh/sirup) atau kebiasaan makan buah segera setelah makan nasi- juga dapat menyebabkan masalah ‘kebesaran’ yang tak diharapkan.
Dan lagi, makan malam ( dan makan lain) terlalu larut dapat menyebabkan kekacauan dalam system pencernaan yang seharusnya juga beristirahat di malam hari namun tetap dipaksa bekerja di break time-nya membuat penyaringan dan penyaluran makanan tidak berjalan lancar.
Kurangnya cairan tubuh juga dapat memperlambat proses pencernaan yang menyebabkan susahnya pengolahan makanan di dalam usus besar. Ditambah lagi dengan pembuangan yang tidak teratur menyebabkan adanya penumpukan sisa-sisa makanan yang tak layak pakai namun terpaksa dipakai kembali oleh tubuh karena masih berada di dalam usus.
Setelah mengetahui sebab-sebab kehadiran momok obesitas, agaknya lebih mudah bagi kita untuk mulai melirik kembali cara-cara mengurangi dan mencegah obesitas, diantaranya dengan :
- Mengatur pola makan seperti yang dianjurkan Rasulullah : makan apabila lapar, berhenti sebelum kenyang.
- Jangan makan tiga/lebih makanan yang mengandung zat yang berbeda dalam satu waktu. - misal : makan nasi dengan lauk saja atau nasi dengan sayur saja atau lauk dengan sayur saja (untuk makan malam) -
- Tidak dianjurkan mengkonsumsi buah atau juice setelah makan
- Atur waktu makan minimal berselang dua jam
- Minum air putih minimal 2 liter sehari untuk melancarkan metabolisme
- Makan dan minum dengan santai (tidak terburu-buru) dan dalam posisi duduk.
- Berdoa mohon bantuan Allah untuk menurunkan berat badan kita.
Jangan tertawakan point terakhir. Semua usaha manusia takkan berlaku tanpa bantuan Allah bahkan dalam usaha diet sekalipun.
Selamat mencoba semoga bermanfaat ( kalimat ini dibaca terakhir).
Kesaksian penulis :
Sebenarnya, kawans. Saya sendiri belum berhasil menaklukan musuh obesitas yang telah membuat saya dikata-katai seksi oleh rekan-rekan kerja saya hanya karena berat badan yang tak lagi sama dengan waktu ketika mereka baru mengenal saya dulu. Tapi saya selalu berfikir tiada salahnya membagi ilmu meskipun orang yang mendakwahinya belum sanggup mengamalkannya secara sempurna. Mungkin tak berhasil di saya, tapi berhasil di anda. Siapa tahu.
No comments:
Post a Comment