Noor Ahmed// Welcome to my world.. This is mine, you're just allowed to visit and comment, not more..
Thursday, 13 February 2014
Sepotong Tulisan
“Seorang Istri adalah replika suami. Sepotong rusuk yang kemudian menjadi bagian dirinya.”
Bukannya aku ingin meragukan fahaman itu. Hanya saja, susah sekali bagiku menemukan buktinya pada diri dan pasanganku. Kami sungguh sangat jauh berbeda. Seperti sepotong bulan yang bercahaya redup dengan si gagah mentari yang selalu bersinar buas.
Istriku manja, aku berwatak keras typical orang timur. Istriku pemalu, aku? Hmm,belum ada satu halpun yang berhasil membuatku merasa gede rasa. Istriku cepat menyerah, tapi aku adalah orang yang sangat optimis, kata orang-orang. Istriku sangat lamban tapi aku suka yang ekspres. Istriku ceriwis namun kata-kataku mahal, istilah istriku.
Istriku suka menghabiskan waktu di rumah sementara aku suka menghabiskan waktu dengan mereka di luar. Istriku suka membaca, aku suka menonton. Dan masih banyak lagi perbedaan-bedaan yang ada pada kami. Rasanya dua-duanya hal yang sama dari kami adalah mempunyai misi menjadikan anak-anak kami hafizd dan hafidzah Al-Qur’an Karim. Satunya lagi, kami sama-sama penggila lagu-lagu lawas dari penyanyi western.
Namun perbedaan itu tidak lantas membuat kami sering berselisih faham. Aku sudah membiasakan diri menerima ‘keistimewaan-keistimewaan’ istriku yang jauh berbeda dariku, karena aku sudah lama tahu bahwa perbedaan itu adalah rahmat. Hingga suatu saat istriku berkata, “Aku ingin jadi penulis.”
Saat itulah aku mulai merasa sedikit terusik.. “Apa yang ingin Kau tulis? Semuanya sudah ditulis orang.” Ujarku padanya.
“Menuliskan sesuatu yang bermanfaat tentunya.” Jawabnya seolah tak menyadari bahwa aku sedang berusaha melarangnya.
“Bermanfaat seperti apa? Kau ingin menuliskan isi Al-Qur’an dan memindahkan hokum-hukum Allah dalam lembaran-lembaran bukumu? Tidakkah engkau sadar, ketika seseorang berusaha menuliskan kembali isi Al-Qur’an, tanpa disadarinya, ia membuat orang meninggalkan Al-Qur’an. Semua orang hari ini mencari jawaban tentang sebuah hukum dari buku atau dari internet, bukan dari sumbernya hukum yang Allah turunkan dari langit. Apa Al-Qur’an itu kurang sempurna, sampai-sampai orang harus cari kitab lain untuk belajar tentang agama.” Aku berkata panjang lebar dengan mode suara tinggi yang sebenarnnya tak kurencanakan.
Istriku terlihat panik mendengar rentetan panjang kalimat-kalimat yang keluar dari mulutku. Tapi dia tidak menyambung lagi. Paling tidak, untuk saat itu. Namun dari percakapan-percakapan kami lain waktu ,dia selalu berusaha menyisipkan kampanye tersirat tentang keinginannya untuk menulis. Dari itu aku menarik kesimpulan bahwa istriku hanya ingin berbagi pengalaman-pengalamannnya sebagai ibu rumah tangga kepada ibu-ibu rumah tangga lain yang tersebar di seluruh penjuru dunia. “Mungkin ada pengalaman kita yang bisa menjadi inspirasi untuk membantu orang lain.” Begitu kira-kira inti dari kampanyenya.
Tapi aku masih tetap TIDAk setuju. Tidak sedikitpun.
Menurutku menulis itu buang-buang waktu dan buang-buang tenaga. Kerjaannya di rumah sudah cukup banyak, kenapa harus menambah lagi dengan kegiatan menulis yang menghabiskan banyak waktu? Itu lagha. Berbuat sia-sia. Lebih bagus dia mengaji beberapa juz perhari atau menghafal bersama anak-anak ketika ada waktu luang dibanding harus membuang-buang waktu di depan laptop. Tak ada pahalanya, menurutku.
Hingga suatu saat, sesuatu terjadi. Sebuah kesalah-fahaman membawaku jauh darinya. Sebuah khilaf yang terjadi, memaksaku pergi dan tak berani kembali. Aku merasa telah membuatnya terluka dengan luka terdalam dan aku yakin dia takkan pernah memaafkanku. Akupun kemudian berusaha menyepi sejenak. Memutuskan untuk tidak menghubungi dan tidak bisa dihubungi hingga aku berhasil mengembalikan keyakinan diri bahwa dia akan memaafkanku.
Ketika perasaanku telah sedikit pulih dan kepercayaan diriku sedikit kembali, aku membuka kembali memori hapeku dan mencoba menekan nomor kontaknya. Namun hingga kali ke sembilan aku mencoba, jawaban yang terdengar dari seberang sana tetap sama, “Nomor yang anda hubungi tidak terdaftar. Silahkan periksa kembali nomor tujuan Anda.”
Agaknya harapanku yang telah sedikit tersambung tertarik putus kembali. Aku kebingungan bagaimana harus menghubunginya. Haruskah aku pulang atau datang ke rumah orang tuanya untuk menjemput? Aku tak berani memutuskan jawabannya. Rasa optimisku kini dikalahkan oleh perasaan bersalah yang terlalu besar.
Yang terpaksa kulakukan kemudian adalah mencoba mengiriminya surel, walau kutahu semenjak tawaran jejaring sosial bertaburan bagai kacang goring, dia hampir tak pernah lagi membuka emailnya.
Sementara untuk mengiriminya pesan dengan akun-akun baru yang sedang mewabah itu, aku tak bisa karena aku tak punya. Aku tak merasa memerlukan akun-akun di sosial media karena masih bisa menghubungi rekan-rekanku melalui telpon. Mempunyai segala macam akun di segala jaringan membuatku merasa seperti A.B.G saja. Oleh itu, aku memilih untuk tak punya.
Setelah mengiriminya surat elektrik, aku kemudian membuka-buka google dan dengan iseng mengetikkan namaku tempat pencariannya – Darda-. Aku tahu yang akan keluar disana pastinya nama seorang perawi hadits bernama Abu Darda dan beberapa orang dari luar Indonesia mungkin, karena nama itu jarang dipakai di negara ini.
Penelusuran googleku terhenti di sebuah link berjudul. ‘Kupanggil dia Darda-ku’.
Akupun membuka link tersebut dan menemukan sebuah puisi dengan judul itu di blog seseorg. Aku membaca puisi itu sampai habis dengan hati yang berdegup. Puisi yang indah yang seolah ditulis untukku.
Kemudian aku membaca postingan-postingan lain di blog itu dan menemukan beberapa puisi lain yang sangat akrab denganku. Bukan karena aku pernah mendengarnya. Bukan.. Tapi karena aku pernah mengalami semua hal yang tertulis dalam puisi itu.
Ah. Mungkin ini hanya kebetulan saja, kata hatiku.
Kemudian aku mebaca lagi sebuah cerita pendek yang latarnya sangat jelas, yang semua kejadiannya berlaku di sebuah tempat yang tak asing bagiku. Ya itu adalah di rumahku.. Setap detail yang dituliskan di dalam cerita itu, seperti warna gorden dan letak vas bunga kesayangan istriku, persis sama dengan letakk semua barang di rumahku.. Oh Tuhan! Ini blog istriku, aku yakin itu. Walaupun dia tak memakai nama aslinya, tapi aku yakin itu dia. Kata-kata yang pernah dia ucapkan kepadaku dan kata-kata yang pernah kuucapkan kepadanya menjadi kutipan favorit dalam ceritanya.
Dan dari tulisan-tulisan tersebut, aku tau bahwa dia telah memafkanku. Dia sedang sangat merinduiku seperti juga aku yang sedang merinduinya lebih dari rindu seekor pungguk kepada sang purnama.
Aku telah siap pulang sekarang. Tulisannya telah memberikanku sebuah jawaban yang sempurna, bahwa aku sedang ditungguinya. Bahwa dia tak pernah benar-benar tahu bagaimana harus membenciku. Dan setelah saat itu, semua persepsiku tentang menulis berubah sudah.
Hari Kasih Sayang
Velentine dan
Marhamah
Well, remaja
muslim yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik, kali ini saya mau ngajakin kaula
remaja yang masih sering berbunga-bunga, untuk intip tentang valentine yang
sering dijadikan ‘modus’ oleh para mereka yang sedang menjatuhkan cinta atau
kejatuhan cinta (yang belum halal)..
Walaupun
sebenarnya kebanyakan dari kita gak setuju-setuju banget dengan perayaan
valentine karena tidak sesuai dengan syari’ah Islam. Namun, demi sebuah modus
agar bisa terlihat care and special, akhirnya sebagian kita
merelakan ‘ilmu’ yang telah kita dapat tentang hal tersebut dan ikut-ikutan
mengirim ratusan lembar kartu ucapan kasih sayang, sekontainer coklat berbentuk
hati atau se-kebun bunga berwarna warni pada hari bertanggal 14 Februari
tersebut. ‘Demi cinta apa yang gak? Ya kan?’
Tapi kalau
kirimannya cuman sebait puisi, percaya sama saya, si doi itu gak modal banget
dan gak sayang sama kamu. Masak sih dia gak berani korbanin ‘beberapa juta
rupiah’ demi kebahagiaanmu..
Ini adalah sebuah komporisasi sesat menyesatkan yang sengaja saya tulis untuk membakar emosi para remaja remaji yang untuk ngasih hadiah aja masih pake modal dari orang tua. Heheheh..
Ini adalah sebuah komporisasi sesat menyesatkan yang sengaja saya tulis untuk membakar emosi para remaja remaji yang untuk ngasih hadiah aja masih pake modal dari orang tua. Heheheh..
Terus selain
buat modus, ada juga yang belum tau sebenarnya valentine day itu apaan sih. Jadi saya berbaik hati ni, ngutip
sejarah valentine dari google dan
hendak bagi tahu remaja muslim semua yang uda siap-siap mau rayain valentine.
*Sejarah
Valentine Days.
Menurut data dari Ensiklopedi
Katolik, nama Valentinus diduga bisa merujuk pada tiga santo (orang suci)
yang berbeda.
Hubungan antara ketiga santo ini dengan
hari raya kasih sayang (valentine) tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada
tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai orang
yang dianggap suci ini. Namun tanggal 14 Februari tetap ditetapkan sebagai
hari raya peringatan untuk Santo Valentinus.
Sisa-sisa kerangka yang digali dari
makam Santo Hyppolytus, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus.
Kemudian ditaruh dalam sebuah peti dari emas dan dikirim ke gereja Whitefriar
Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada
mereka oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1836. Banyak wisatawan sekarang yang
berziarah ke gereja ini pada hari Valentine (14 Februari), di mana peti dari
emas diarak dalam sebuah prosesi dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari
itu dilakukan sebuah misa yang khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para
muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta. (Hayooo!!)
Hari raya ini sekarang terutama diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk "valentines". Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap. Mulai abad ke-19, tradisi penulisan notisi pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu miliar kartu valentine dikirimkan per tahun. Hal ini membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. (Bisnis ternyata, eaa?)
Di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan. (Waah, kita jadi korban modus pengusaha pabrik hadiah rupanya.)
Sebagai tambahan informasi, hari valentine juga Asosiasi pertengahan bulan Februari dengan cinta dan kesuburan sudah ada sejak dahulukala. Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.
Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur mereka akan lari-lari di jejalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah. (Itu ngutip dari wikipedi yaaa).
Naaaaaaaaaaaaaaaah, uda pada taukan dari mana itu asal mula kejadian hari kasih sayang yang ingin kita rayakan agar bisa dengan gampang mengekpresikan cinta anak monyet kita, atau juga yang hanya ikut-ikutan agar tidak dibilang ketinggalan zaman.
Terus, setelah tau ini, kira-kira masih kebelet pengen rayain valentine dengan modal bakal ‘hadiah’ dari uang kiriman orang tua??? ;)
Mungkin sebagian dari kita ada yang menjawab, ‘Kami gak mau lagi, Miss. Gak mau ikutan yang gak-gak. Takut.. karena uda teringat hadis : Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.’
“Tapi,tapi, gimana juga kami melampiaskan perasaan kasih sayang kami kalau tidak ada sebuah hari special?”, kemungkinan akan menjadi sebuah pertanyaan baru.
“Kami perlu sebuah hari yang beda dengan hari-hari biasa yang bisa kami jadiin modus untuk kami ucap-ucap selamat gitu.Heheh”
Okay-lah kalau itu masalahnya, kitakan gak mesti ikut-ikut budaya kafir. Dalam Islam kita juga punya hari special kok. Hari kasih sayang yang bukan hanya milik sepasang remaja remaji yang sedang kasmaran, hari yang bukan cuman milik sepasang kekasih, tapi milik seluruh ummat.
Dan taukah kamu kapan hari itu???
Hari itu adalah hari dimana Rasulullah kembali ke Makkah setelah sekian lama terusir dari tanah kelahirannya, dijauhi dan diperangi oleh kafir Quraisy yang sebahagiannya masih ada hubungan kerabat dengan beliau.
Hari itu adalah hari yang jatuh pada tanggal 20 Ramadhan (ada juga yang berpendapat tanggal 10) tahun ke 8 hijriyah ketika pasukan Rasulullah berhasil menaklukkan kota Makkah.
Hari itu adalah hari yang sering kita dengar dengan sebutan ‘Fathu Makkah’.
Hari itu adalah hari dimana Rasulullah mengumumkan: “Siapa yang masuk masjid maka dia aman, siapa yang masuk rumah Abu Sufyan maka dia aman, siapa yang masuk rumahnya dan menutup pintunya maka dia aman.”
Hari itu adalah hari dimana, seorang Abu Sufyan, pemua kafir Quraiys, yang sudah sangat lama menentang islam dengan terang-terangan diangkat derajatnya karena mengakui keislamannya.
Hari itu adalah hari dimana Rasulullah memaafkan semua orang yang telah menyakitinya dan melukai mental dan fisik seluruh pengikut beliau hingga mereka harus pindah ke Madinah selama 8 tahun.
Hari itu, tak dinamai Yaumul Fath atau hari kemenangan. Karena pointnya bukan tentang kemenangan kekuatan manusia atas manusia lain, melainkan kemenangan atas diri sendiri. Kemenangan atas nafsu sendiri. Kemenangan atas Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Kemenangan atas semesta.
Hari itu dalah hari dimana Rasulullah berpidato kepada ribuan tawanan memberikan amnesti massal. Pidato itu membuat para pengikut beliau patah semangat di awalnya. Berjuang hidup mati, dihinakan, dilecehkan, tapi ketika kemenangan berada di genggaman, musuh malah dibebaskan. Bahkan, Rasulullah memerintahkan agar rampasan perang dibagikan kepada para tawanan, sementara pasukan Islam tidak memperoleh apa-apa.
Hari itu adalah hari ketika seuntai kata indah kembali keluar dari mulut Rasulullah yang mulia, setelah sekian lama terusir dan diperangi:
“Wahai manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari kasih sayang (Yaumul Marhamah), dan kalian semua merdeka kembali ke keluarga kalian masing-masing..”
Peristiwa Fathu Makkah itu diabadikan oleh Allah di surat Al Fath ayat 1 : (“Sesungguhnya kami memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.”), sebuah proklamasi kemenangan yang sempurna. Proklamasi itu dipaparkan dengan pemaafan atas dosa-dosa para pejuang murni, dosa yang lalu maupun yang masa kini, dengan penyempurnaan nikmat, serta dengan pertolongan besar atas masalah mereka.
Dan hari yang luar biasa itu,kini telah dilupakan begitu saja, digantikan oleh sebuah hari yang berasal usul tak jelas. Padahal melalui sejarah hari itu, Rasulullah telah mengajarkan kita, ummatnya, makna cinta yaang sebenarnya.
Cinta yang bukan hanya sekadar kata, yang bukan hanya sekadar mengirimi sebatang coklat dan sekuntum bunga. Ini adalah sebuah cinta yang perfect, Kawan!! Cinta seorang yang telah disakiti dengan sangat lama kemudian dia datang untuk memaafkan dan menyebarkan kasih sayang ke seluruh alam.
Bukankah kehadirannya merupakan rahmatan lil’aalamin? Tentu saja, segala yang ada padanya membuatnya pantas menerima gelar mulia itu, dialah Rasullulah Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam.
Dan karena kemuliaan akhlaknya, Yaumul Marhamah (hari Kasih Sayang) ada dan menjadi hadiah untuk seluruh ummat manusia. (Noor)
Saturday, 2 November 2013
SUDUT PANDANG
Syahdan, di suatu masa,
tersebutlah dua orang pemuda yang berguru kepada seorang Syeikh. Mereka
mendapatkan banyak sekali ilmu tentang segala hal, utamanya tentang
syariah dan hidup bermasyarakat.
Sebuah pesan guru yang selalu mereka ingat bahwa dua hal yang akan menghancurkan seorang pemuda : khamr alias al-kuhl (baca : alcohol ) dan syahwat tak halal terhadap lawan jenis.
Jadilah dua hal tersebut sedapat mungkin selalu mereka jauhi hingga akhir masa belajarpun tiba. Merekapun kembali pulang ke daerah asal masing-masing untuk menyebarkan semua ilmu yang telah mereka dapatkan dari Sang guru.
Di dalam perjalannya, mereka berdua melewati sebuah desa yang baru saja terkena musibah banjir. Tak ada seorang manusiapun disana yang mereka temukan selamat. Semua tubuh yang mereka temui sudah tak bernyawa, hingga mereka mendengar sebuah rintihan dari bawah sebatang pohon, “Tolong, tolong saya.”
Merekapun berlari mendekati asal suara dan menemukan seorang perempuan muda dengan tubuh penuh lumpur dan pakaian yang sudah compang camping.
Melihat pemandangan tersebut, pemuda I berseru, “ Ayo, cepat kita tolong dia. Dia membutuhkan bantuan segera.”
“ Tapi guru tidak membolehkan kita menyentuh seorang perempuan”, hardik Pemuda II.
“Kita bukan akan menyentuh seorang perempuan, hanya membantu menolong korban bencana alam.” Timpal Pemuda I seraya tersenyum.
“Tapi korbannya adalah seorang perempuan, dan kita tau apa hukum menyentuh seorang perempuan.” Ucap Pemuda II kekeh.
“Kita tak punya banyak waktu, dia butuh pertolongan.” Ujar Pemuda I sembari membopong tubuh lunglai perempuan muda tak berdaya di atas pundaknya.
Sepanjang jalan mereka tak lagi bercakap-cakap, sang Pemuda I hanya diam sementara Pemuda II terus-terusan berucap istighfar.
Setibanya mereka di perkampungan terdekat, mereka segera menyerahkan korban tadi ke rumah salah orang penduduk desa dan mereka kembali melanjutkan perjalanannya.
“Kau harus bertaubat, Kawan.” Pemuda II berujar dengan sungguh.
“Untuk kesalahan yang mana? “ Tanya Pemuda I.
“Kau telah menyentuh seorang perempuan yang bukan mahrammu.” Suara Pemuda II terdengar agak bergetar karena sedih memikirkan sahabatnya yang seakan telah lupa dengan ajaran yang telah mereka dapatkan selama bertahun ini.
“Bukan hanya aku yang menggendongnya, Saudaraku. Aku membawanya di atas punggungku sejauh 3 kilometer, tapi Kau telah membawa gadis itu dalam pikiranmu hingga saat ini.” Pemuda I berucap panjang lebar.
“Aku mungkin bersalah karena menyentuh seorang perempuan. Tapi kita akan sama-sama memikul beban rasa bersalah seandainya kita masih meninggalkannya di bawah pohon di tengah tumpukan manyat dan lumpur.” Sambung Pemuda I.
Pemuda II hanya diam mendengarkan kata demi kata yang diucapkan oleh saudara seperguruannya.
Kalau boleh saya ingin menarik ibrah dari cerita kedua pemuda di atas.
Kedua pemuda tsb adalah keluaran sebuah perguruan yang sama, belajar pada seorang guru yang sama, dan mewarisi ilmu yang persis sama dari Guru mereka.
Namun, pada pengaplikasiannya, mereka memilih cara yang berbeda. Salahkah murid I melanggar aturan untuk menyentuh lawan jenis karena tujuan ingin menolong? Atau salahkah murid II ketika melihat orang dalam kesusahan namun tak berusaha menolongnya karena takut dosa?
Menurut logika dari si awam (penulis -red) ini, keduanya tak salah. Hanya cara pandang mereka melihat sebuah masalah yang berbeda. Keduanya ingin menjalankan ajaran sang guru dengan sebaik-baiknya tanpa berusaha pelanggaran sedikitpun. Namun pada penerapapan dalam lingkungan, mereka terpaksa memutuskan sendiri apa yang harus mereka lakukan ketika bertemu dengan masalah-masalah yang belum pernah mereka temui di saat belajar dulu.
Mereka akan segera turun ke masyarakat. Mereka akan tinggal di dua lingkungan yang berbeda. Merekalah yang kemudian akan memutuskan bagaimana menyelesaikan semua urusan yang ditemui dalam bermasyarakat. Apabila ternyata nantinya dalam lingkungan kehidupan, mereka harus membuat dua keputusan yang tidak persis sama namun tujuannya tetap ‘menyelesaikan masalah dengan sebaik mungkin’, apakah salah satu dari mereka bisa kita stempelkan dengan dengan logo ‘jahil’ di belakang namanya? Padahal kita tahu bahwa mereka berdua adalah penganut agama yang tha’at. Dua-duanya masih setha’at dulu di saat mereka masih di bawah penjagaan ketat sang guru.
Begitulah juga dengan keadaan di lingkungan kita dewasa ini. Semua orang berteriak bahwa merekalah yang paling benar. Bahwa kaum yang tak ikut dalam kelompok mereka semuanya salah, semunya sesat, padahal mereka tahu bahwa orang yang sedang diteriaki itu adalah saudaranya seagama.
Hanya karena aplikasi dalam mengamalkan agama yang berbeda kita mengembelkan saudara kita dengan sebutan ‘munafik, bahkan ‘kafir’.
Siapa sih kita ini hingga berani memberi cap salah kepada semua orag yang tak berpandangan sama dengan kita? Sudah sempurnakah iman kita sehingga berani mengambil keputusan yang sebenarnya hanya hak Tuhan, bahwa sebuah golongan akan di tempatkan di neraka atau di surga.
Bukalah mata. Semua muslim bersaudara. Semua muslim wajib belajar tentang agama yang sedang diamalkannya. Tapi bedanya lingkungan dan situasi membuat kita berbeda paham tentang cara pengamalan ajaran-ajaran yang telah sama-sama kita pelajari dari kecil.
Kita semua adalah saudara.. Tak perlulah merasa lebih baik dari orang lain hanya karena sebuah pikiran (maaf) ‘picik’ yang menganggap bahwa golongan saya-lah golongan AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH itu.
Bukti lebih penting dari sebuah label. Sepakat??
NB : terinspirasi dari novel Sepatu Dahlan
Sebuah pesan guru yang selalu mereka ingat bahwa dua hal yang akan menghancurkan seorang pemuda : khamr alias al-kuhl (baca : alcohol ) dan syahwat tak halal terhadap lawan jenis.
Jadilah dua hal tersebut sedapat mungkin selalu mereka jauhi hingga akhir masa belajarpun tiba. Merekapun kembali pulang ke daerah asal masing-masing untuk menyebarkan semua ilmu yang telah mereka dapatkan dari Sang guru.
Di dalam perjalannya, mereka berdua melewati sebuah desa yang baru saja terkena musibah banjir. Tak ada seorang manusiapun disana yang mereka temukan selamat. Semua tubuh yang mereka temui sudah tak bernyawa, hingga mereka mendengar sebuah rintihan dari bawah sebatang pohon, “Tolong, tolong saya.”
Merekapun berlari mendekati asal suara dan menemukan seorang perempuan muda dengan tubuh penuh lumpur dan pakaian yang sudah compang camping.
Melihat pemandangan tersebut, pemuda I berseru, “ Ayo, cepat kita tolong dia. Dia membutuhkan bantuan segera.”
“ Tapi guru tidak membolehkan kita menyentuh seorang perempuan”, hardik Pemuda II.
“Kita bukan akan menyentuh seorang perempuan, hanya membantu menolong korban bencana alam.” Timpal Pemuda I seraya tersenyum.
“Tapi korbannya adalah seorang perempuan, dan kita tau apa hukum menyentuh seorang perempuan.” Ucap Pemuda II kekeh.
“Kita tak punya banyak waktu, dia butuh pertolongan.” Ujar Pemuda I sembari membopong tubuh lunglai perempuan muda tak berdaya di atas pundaknya.
Sepanjang jalan mereka tak lagi bercakap-cakap, sang Pemuda I hanya diam sementara Pemuda II terus-terusan berucap istighfar.
Setibanya mereka di perkampungan terdekat, mereka segera menyerahkan korban tadi ke rumah salah orang penduduk desa dan mereka kembali melanjutkan perjalanannya.
“Kau harus bertaubat, Kawan.” Pemuda II berujar dengan sungguh.
“Untuk kesalahan yang mana? “ Tanya Pemuda I.
“Kau telah menyentuh seorang perempuan yang bukan mahrammu.” Suara Pemuda II terdengar agak bergetar karena sedih memikirkan sahabatnya yang seakan telah lupa dengan ajaran yang telah mereka dapatkan selama bertahun ini.
“Bukan hanya aku yang menggendongnya, Saudaraku. Aku membawanya di atas punggungku sejauh 3 kilometer, tapi Kau telah membawa gadis itu dalam pikiranmu hingga saat ini.” Pemuda I berucap panjang lebar.
“Aku mungkin bersalah karena menyentuh seorang perempuan. Tapi kita akan sama-sama memikul beban rasa bersalah seandainya kita masih meninggalkannya di bawah pohon di tengah tumpukan manyat dan lumpur.” Sambung Pemuda I.
Pemuda II hanya diam mendengarkan kata demi kata yang diucapkan oleh saudara seperguruannya.
Kalau boleh saya ingin menarik ibrah dari cerita kedua pemuda di atas.
Kedua pemuda tsb adalah keluaran sebuah perguruan yang sama, belajar pada seorang guru yang sama, dan mewarisi ilmu yang persis sama dari Guru mereka.
Namun, pada pengaplikasiannya, mereka memilih cara yang berbeda. Salahkah murid I melanggar aturan untuk menyentuh lawan jenis karena tujuan ingin menolong? Atau salahkah murid II ketika melihat orang dalam kesusahan namun tak berusaha menolongnya karena takut dosa?
Menurut logika dari si awam (penulis -red) ini, keduanya tak salah. Hanya cara pandang mereka melihat sebuah masalah yang berbeda. Keduanya ingin menjalankan ajaran sang guru dengan sebaik-baiknya tanpa berusaha pelanggaran sedikitpun. Namun pada penerapapan dalam lingkungan, mereka terpaksa memutuskan sendiri apa yang harus mereka lakukan ketika bertemu dengan masalah-masalah yang belum pernah mereka temui di saat belajar dulu.
Mereka akan segera turun ke masyarakat. Mereka akan tinggal di dua lingkungan yang berbeda. Merekalah yang kemudian akan memutuskan bagaimana menyelesaikan semua urusan yang ditemui dalam bermasyarakat. Apabila ternyata nantinya dalam lingkungan kehidupan, mereka harus membuat dua keputusan yang tidak persis sama namun tujuannya tetap ‘menyelesaikan masalah dengan sebaik mungkin’, apakah salah satu dari mereka bisa kita stempelkan dengan dengan logo ‘jahil’ di belakang namanya? Padahal kita tahu bahwa mereka berdua adalah penganut agama yang tha’at. Dua-duanya masih setha’at dulu di saat mereka masih di bawah penjagaan ketat sang guru.
Begitulah juga dengan keadaan di lingkungan kita dewasa ini. Semua orang berteriak bahwa merekalah yang paling benar. Bahwa kaum yang tak ikut dalam kelompok mereka semuanya salah, semunya sesat, padahal mereka tahu bahwa orang yang sedang diteriaki itu adalah saudaranya seagama.
Hanya karena aplikasi dalam mengamalkan agama yang berbeda kita mengembelkan saudara kita dengan sebutan ‘munafik, bahkan ‘kafir’.
Siapa sih kita ini hingga berani memberi cap salah kepada semua orag yang tak berpandangan sama dengan kita? Sudah sempurnakah iman kita sehingga berani mengambil keputusan yang sebenarnya hanya hak Tuhan, bahwa sebuah golongan akan di tempatkan di neraka atau di surga.
Bukalah mata. Semua muslim bersaudara. Semua muslim wajib belajar tentang agama yang sedang diamalkannya. Tapi bedanya lingkungan dan situasi membuat kita berbeda paham tentang cara pengamalan ajaran-ajaran yang telah sama-sama kita pelajari dari kecil.
Kita semua adalah saudara.. Tak perlulah merasa lebih baik dari orang lain hanya karena sebuah pikiran (maaf) ‘picik’ yang menganggap bahwa golongan saya-lah golongan AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH itu.
Bukti lebih penting dari sebuah label. Sepakat??
NB : terinspirasi dari novel Sepatu Dahlan
OBESITAS dan MUSLIMAH
October 30, 2013 at 10:19am
Siapa yang belum kenal dengan obesitas mari ikut saya.
Obesitas yang dlm kamus besar bahasa Indonesia dimaknai dengan kelebihan berat badan, dewasa ini menjadi momok bagi kebanyakan perempuan Negara maju dan Negara berkembang.
Kelebihan yang selalu saja dianggap sebagai sebuah kekurangan ini selain membahayakan kesehatan juga membahayakan kehidupan social dan ekonomi seorang manusia terutama yang berjenis kromosom XX.
Dalam kehidupan socialnya, seorang perempuan suka menghargai diri dan meuntut penghargaan dari lingkungan dengan tampil cantik yang notabenenya berwajah indah dan mempunyai berat badan ideal (baca : langsing ).
Dalam kehidupan perekonomian lagi-lagi syarat untuk mendapatkan sebuah pekerjaan di banyak instansi, seorang perempuan diwajibkan untuk berpenampilan menarik dengan garis bawah idem yang di atas : wajah cantik dan tubuh langsing.
Mendapatkan wajah cantik berseri, bebas kusam, putih merona, tanpa noda tersisa, adalah hal yang sangat mudah didapatkan dewasa ini, karena berbagai macam krem ajaib telah tersedia di warung-warung kecil tempat anda biasa membeli sabun colek. Dengan bandrolan harga sekitar 200an anda bisa tampil pucat dalam tujuh hari.
Tapi tidak begitu halnya dengan obesitas. Walaupun berbagai macam produk ditawarkan untuk mengurangi berat badan, namun produk-produk tersebut lebih sering membawa hasil kegagalan daripada sebuah kesuksesan. Tak banyak perempuan yang berhasil mengubah kembali labu tanah menjadi labu air hanya dengan meneguk jamu-jamu pahit yang rasanya tak bisa hilang hingga seminggu walau berjirgen-jirgen air telah kandas.
Oleh itu, mereka kemudian mencoba cara lain untuk membuang kembali lemak-lemak yang telah kadung betah di dalam tubuh mereka. Dimulai dari diet ketat, berolah raga tanpa biaya, mengkonsumsi pil-pil diet dari yang berharga 10 ribuan sampai ratusan ribu, hingga sedot lemak yang meghabiskn biaya ratusan juta rupiah.
Gilanya seorang perempuan rela melakukan apa saja demi sebuah kata ‘cantik’.
Namun hal tersebut tidak berlaku terhadap seorang muslimah. Bukan kata cantik yang menghantuinya sehingga seorang muslimah juga terkesan memusuhi obesitas. Bukan, sekali-kali bukan karena itu. Ini lebih karena tuntunan menutup aurat dengan benar seperti yang telah digariskan dalam syariah : berpakaian longgar dan tidak membentuk badan.
Coba anda renungkan bagaimana nasib seorang muslimah berberat badan 45 kg dengan baju-baju gembrongnya, tiba-tiba harus berpakaian sempit hanya karena berat badannya bertambah 15kg. Bukan style berpakaian yang mereka ubah, namun pertambahan berat badan itu telah tanpa sengaja mencetak beberapa lekuk di kanan kiri, di bagian depan dan belakangnya juga mengangkat beberapa centi lambaian kerudung lebarnya.
Salahkah mereka jika kemudian harus tetap beraktifitas dengan pakaian-pakaian sempit karena tak mampu terus menerus membelanjai diri dengan pakaian-pakaian baru yang sesuai dengan tuntutan badannya kini? Salahkah?
Saya yakin anda setuju dengan saya, bahwa itu bukanlah salah mereka. Namun aurat tetaplah aurat, harus ditutup dengan sempurna bagaimanapun caranya. Bahkan jika perlu seluruh muslimah di dunia harus bisa menjahitkan bajunya sendiri untuk mengatasi masalah ini. Namun lagi-lagi itu bukanlah hal yang mudah. Karena itulah para muslimah juga ikut terkena sindrom galau ketika dihadapkan dengan masalah obesitas ini.
B. Asbab dan Pencegahan
Ketidakberhasilan mencegah obesitas pada sebagian besar perempuan sering terjadi karena ketidakpedulian mereka tentang penyebab kelainan tersebut. Padahal mengubah kebiasaan-kebiasaan kecil seperti merutinkan sarapan pagi dapat sangat membantu misi mulia ini.
Kebiasaan melewatkan sarapan pagi dan menumpuk snack pada saat brunch (antara breakfast and lunch) kemudian membalas dendam pada saat makan siang adalah salah factor penyebab utama obesitas. Selain itu terlalu banyak mengkonsumsi gula dan makanan yang mengandung karbohidrat secara bersamaan - seperti : makan nasi dengan minuman manis (teh/sirup) atau kebiasaan makan buah segera setelah makan nasi- juga dapat menyebabkan masalah ‘kebesaran’ yang tak diharapkan.
Dan lagi, makan malam ( dan makan lain) terlalu larut dapat menyebabkan kekacauan dalam system pencernaan yang seharusnya juga beristirahat di malam hari namun tetap dipaksa bekerja di break time-nya membuat penyaringan dan penyaluran makanan tidak berjalan lancar.
Kurangnya cairan tubuh juga dapat memperlambat proses pencernaan yang menyebabkan susahnya pengolahan makanan di dalam usus besar. Ditambah lagi dengan pembuangan yang tidak teratur menyebabkan adanya penumpukan sisa-sisa makanan yang tak layak pakai namun terpaksa dipakai kembali oleh tubuh karena masih berada di dalam usus.
Setelah mengetahui sebab-sebab kehadiran momok obesitas, agaknya lebih mudah bagi kita untuk mulai melirik kembali cara-cara mengurangi dan mencegah obesitas, diantaranya dengan :
- Mengatur pola makan seperti yang dianjurkan Rasulullah : makan apabila lapar, berhenti sebelum kenyang.
- Jangan makan tiga/lebih makanan yang mengandung zat yang berbeda dalam satu waktu. - misal : makan nasi dengan lauk saja atau nasi dengan sayur saja atau lauk dengan sayur saja (untuk makan malam) -
- Tidak dianjurkan mengkonsumsi buah atau juice setelah makan
- Atur waktu makan minimal berselang dua jam
- Minum air putih minimal 2 liter sehari untuk melancarkan metabolisme
- Makan dan minum dengan santai (tidak terburu-buru) dan dalam posisi duduk.
- Berdoa mohon bantuan Allah untuk menurunkan berat badan kita.
Jangan tertawakan point terakhir. Semua usaha manusia takkan berlaku tanpa bantuan Allah bahkan dalam usaha diet sekalipun.
Selamat mencoba semoga bermanfaat ( kalimat ini dibaca terakhir).
Kesaksian penulis :
Sebenarnya, kawans. Saya sendiri belum berhasil menaklukan musuh obesitas yang telah membuat saya dikata-katai seksi oleh rekan-rekan kerja saya hanya karena berat badan yang tak lagi sama dengan waktu ketika mereka baru mengenal saya dulu. Tapi saya selalu berfikir tiada salahnya membagi ilmu meskipun orang yang mendakwahinya belum sanggup mengamalkannya secara sempurna. Mungkin tak berhasil di saya, tapi berhasil di anda. Siapa tahu.
Thursday, 31 October 2013
MENIKAHLAH
Mencintai itu fithrah. Menikah itu sunnah.. Keduanya penting. Namun sepenting apapun kedua hal tsb dalam kehidupan manusia, saya masih saja menemukan orang-orang dewasa yang lebih suka melajang di usia yang tak lagi terbilang muda (baca : 30 tahun). Entah apa alasan yang mereka simpan dalam pikiran sehingga rela membuang-buang nikmat yang telah dijanjikan melalui sebuah pernikahan yaitu menyempurnakan setengah dari Agama.
Padahal mereka juga tau, kalau mereka bertanggung jawab atas kelangsungan hidup species manusia di muka bumi, dan salah satu cara yang paling legal melestarikan species itu adalah dengan MENIKAH.
Terkadang ketika saya mencoba bertanya, bermacam ragam jawaban saya dapatkan dari para bujang dan dara tersebut : ‘Belum berjodoh’, ‘belum ada yang cocok’, ‘belum siap secara materi, masih ingin melanjutkan pendidikan sampai bergelar doktor’, ‘takut buat anak gadis orang lapar’, ‘belum PNS’, ‘belum ketemu tipe yang sesuai’, ‘belum ketemu yang sempurna’, ‘wanita/pria idaman belum jadi janda/duda’, dan sebagainya, dan sebagainya.
Jika benih-benih alasan ini terus saja dipupuk dan sirami setiap waktu mungkin kita tak akan pernah mau belajar mengalah sedikit saja dengan perasaan dan pikiran tsb. Kita hanya berpikir bahwa segala yang ada dalam pikiran kita itulah yang benar, bahwa menikah itu perlu kesempurnaan, bukan belajar melengkapi diri yang masih setengah sempurna dengan sesosok setengah sempurna lainnya.
Ayoklah kawan, jangan terus menunggu mendapatkan manusia ‘setengah dewa’. Berusahalah menerima orang yang bisa kita ajak menjadi ‘dewa’ sama-sama.
Kurangkah asbab ‘menyempurnakan agama’ itu bagi saudara-saudaraku yang belum juga mau menjawab ‘iya’ ketika tiga, empat orang yang mengajak ta’arufan datang ? Kalau masih kurang, saya bersedia menuliskan alasan-alasan lainnya..
Ketika menikah kita punya asisten setia yang bisa merangkap jadi apa saja, seperti : wakil ketua I, wakil ketua II, sekretaris, bendahara, bid. konsumsi, bid. transportasi, bid. humas, bid. dokumentasi, bid. belanegara, bid. hiburan, bahkan anggota sekaligus.. Semua jabatan tersebut bisa anda dapatkan secara LIBUR alias pree tanpa bayar.
Kehidupan anda lebih terurus dan tertib. Anda akan selalu punya alarm plus reminder yang selalu siap mengingatkan anda kapan harus pulang, kapan harus pergi, kapan harus makan, juga kapan harus shalat subuh :D
Anda akan mempunyai konsultan pribadi bebas bea konseling.
Hiburan gratis 24 jam
Allah halalkan yang haram melaluinya
Selalu ada yang mendoakan.
Membuat bidadari surga cemburu.
dll.dll.
Selain itu menikah juga berperan penting dalam masalah kesehatan.
Bagi kaum adam, ada sejenis hormone (maaf) yang harus dibuang secara rutin agar tidak mengganggu kesehatan. Anda tentu lebih tau apa yang saya maksud. Dan menikah membantu kaum itu untuk tetap sehat.
Dan bagi bani hawa, ada banyak proses pencegahan dan penyembuhan yang bisa didapat melalui pernikahan.
Sebagai contoh, kebanyakan perempuan sering mengeluhkan sakit bulanan yang kadang terasa terlalu berlebihan. Tamu special yang hanya datang kepada perempuan itu sering kali mengganggu aktivitas harian dengan segala macam kenyerian yang ditawarkannya. Dan ternyata tubuh manusia telah dicipta dengan sangat sempurna bahkan dalam menyediakan imun (baca : anti nyeri) untuk penyakit istimewa tersebut. Namun untuk pembentukan imun anti nyeri itu membutuhkan waktu sekitar tiga atau empat bulan.
Bagi perempuan yang belum menikah, waktu empat bulan tidak kedatangan tamu adalah sebuah bencana. Namun bagi yang sudah menikah, ketidak-hadiran tamu itu selama 4 bahkan 9 bulan adalah anugrah yang paling besar. Itu adalah pertanda bahwa sepasang manusia telah sukses menjalankan tugasnya dalam menyelamatkan species manusia dengan mempunyai keturunan.
Anugrah imun anti nyeri yang telah terbentuk sempurna merupakan bonus dari proses kehamilan yang terjadi sebelum keturunan manusia lahir ke dunia.
Contoh lain bahwa menikah dapat mencegah terjangkitnya kanker serviks dan kanker mamae pada perempuan dewasa. Kanker serviks yang sering disebut dengan kanker mulut rahim ternyata juga dapat dicegah melalui kehamilan. Sedangkan kanker mamae dapat dicegah dengan proses menyusui yang lagi-lagi proses itu hanya bisa dicapai melalui jalan ‘menikah’.
Mungkin anda tidak percaya dengan perkataan saya, karena itu saya sengaja mengutip kata-kata seorang Dokter specialis kanker dari KORAN KOMPAS bahwa :
“Satu dari sepuluh perempuan dewasa yang tidak menyusui akan lebih mudah terkena kanker mamae’.
Begitulah saja pendapat manusia awam ini mengenai asbab-asbab kenapa seorang muslim harus menikah dan berjuang pantang menyerah untuk itu.
Saturday, 5 October 2013
A-Z masalah dan Solusi Jatuh Cinta
A : jatuh cinta itu boleh gak buk?
Ibu : boleh aja, jatuh cinta itu kan fithrah. Diciptakan manusia berpasang-pasangan li ta'arafu. Untuk saling mengenal.
A : kenapa juga ibu bilang gak boleh.
Ibu : mana ada, ibu ga blg ga boleh jatuh cinta, yang ga boleh tu, pacaran.
B : kan sama aja.
Ibu : mana ada sama. Jatuh cinta sunnatullah, pacaran itu kesesatan dari syaitahn
C : kalo suka sukaan aja tp boleh kan bu?
Ibu : suka-sukaan gmn? Lon galak gata, gata galak keu lon? Itu sama aja, uda ketauan kita suka.
C : bkn bu, HTS-an. Tp sama2 tau
Ibu : HTS itu buat apa?
C : buat ada kwn curhat aja buk
Ibu : ga cukup kwn cewek satu sekolah ni untuk tempat curhat kalian, ampe payah tambah satu dari golongan cowok? :D
C : beda bu rasanya curhat ma cowok dgn ma cewek. Cowok lebih ngerti
Ibu : gmn mgkn cowok lebi ngerti. Dia kan gak punya hati kayak hati cewek. Beda feelnya, nak. Gak akan puas kita curhat ma cowok, mereka gak bakal ngerti.
C : tapi cowok itu lebih logis.
Ibu : kalo cuman perlu yang logis gak perlu dijadiin teman special kale, cowok laen juga byk, mgkn cowok lain lebih logis lg dari HTS-an kamu itu. Contohnya : m**am*i* ;)
C : iya sih. Tapi suka masih boleh kan, bu?
Ibu : silakan…
D : tapi pengennya dia tau ya bu kalo kita suka, biar dia gak suka sama yg lain.
Ibu : ada-ada aja kamu ni. Itulah yg disebut egois, emgnya kalo kita suka, org lain gak ada hak lagi untuk suka ma dia?
D : iya lah bu, masak sukanya rame-rame sih, gak seru.
Ibu : serulah, biar gak ada yg pengen memiliki sendiri aja, bagi-bagi tu gantengnya, biar adil
D : iya deh bu, tapi kenapa kalo kita suka dia gak bole tau.
Ibu : agar kita terhindar dari fitnah, jg dari bara yg dihembus-hembuskan syaithan. Dalam hati kita uda ada bara, kalo dia tau, syaithan meniup-niup bara itu hingga jadi api. Itu berrrr bahaya.
D : oo gitu ya bu.
Ibu : iya
E : ada gak bu pacaran yang islami.
Ibu : gak ada. Paling kalo orang pacaran siap nikah, baru bisa disebut islami karena uda halal.
E : kalo pacaran dengan cowok baik-baik n shaleh
Ibu : gubraks.. cowok bai-baik gak kan ngajak cewek pacaran
E : alah ibu ni, masak gak ada, misalnya buat nambah semangat belajar.
Ibu : kenapa dia bisa nambah kita semangat bljr.
E : soalnya kita senang, trs rajin ke skolah, trs biar gak malu ma dia kita bljr mati2an.
Ibu : oo biar dianggap smart gitu???
E : gak lah buk, mana ada gitu. Cuman semangat aja
Ibu : knp kita smangat gara2 org lain yg baru kita kenal kmrn. Padal yg banting tulang ampe nangis-nangis cari dana buat sekolain kita itu ORANG TUA kita, apa mereka tdk lebih berhak menjadi penyemangat kita ketimbang si agam ingusan yg baru kita kenal kmrn sore??
E : ibu ni.
Ibu : *smile
F : tapi bu, misalkan orang tua kita kasih kita pacaran gmn tu.
Ibu : izin org tua/wali itu untuk menikah bkn utk pacaran. Pacaran itu gak boleh walaupun orgtua kita kasih. Misal orang tua kita blg, bsk pagi kita bole gak shalat subuh, apa iya kita bole gak bangun utk shalat. Mgkn orgtua kita blm tau juga ruginya pacaran.
G : emang rugiya apa-apa aja bu?
Ibu :. Dosa krn zina hati, trs candu, kita pengen ada yg merhatiin trs, kalo sempat putus, tar pacaran dgn yg lain lagi, pacaran itu buat kecanduan, macam ganja. Trs kita terlalu byk buang-buang waktu buat mikirin yg gak perlu kita pikir. Kalo kita gak pacaran sebagian otak kita yg kita pake buat ngisi masalah dia tu, uda bisa kita pake utk nyimpan rumus-rumus fisika, ya gaak???
G : iya sih, tp kalo gak sampe teringat-ingat.
Ibu : gak mgkn. Jd syaithan itu apa juga kerja, uda berhasil buat org pacaran, apa dia rela liat orang pacaran itu nganggur dari dosa. Gak mgkn.
G : tah lah bu
…...........
H : gmn jd biar kita gak suka sama org, miss
Miss : gmn gak suka ma org? hmm susah. Jadi kucing aja biar sukanya sama kucing, kalo jadi org pasti suka ma orang.hehe
H : miss ni. Maksudnya biar gak teringat-ingat.
Miss : sibukin diri dgn hal-hal yg bermanfaat: belajar, ngaji. Ingat Allah yang byk. Ngumpul dg orang-orang shaleh
H : halah miss, orang-orang shaleh juga pacaran
Miss : itu bkn org shaleh namanya. Nampaknya aja depan shaleh blakang salah
I : kalo uda jd, gmn miss putusinnya
Miss : baca bismillah
I : serius miss, miss ni..
Miss : iya baca bismillah, trs berniat utk membersihkan hati dan bertaubat n gak ngulang lagi kesalahan kita
I : tapi kan susah miss
Miss : di neraka lebih susah
I : saket miss
Miss : di neraka lebih saket
I : iya deh. Kalo kita ingat neraka emang gitu. Apa gak ada cara mulusnya miss yg gak bikin sakit?
Miss : ada, anggap aja dia gak ada apa-apanya dibandingin dgn usaha orgtua kalian nyekolahin kalian. Berat usahanya, rupanya kita pake untuk pacaran. Mau putus : ingat mamak.
I : hmm, susah miss. Gak ada yg lebih halus lagi?
Miss : ada, anggap aja kita sayaaang kali ma dia, kita rela berkorban apa aja utk dia bahkan utk melukai hati kita sendiri kita siap. Dan krn pacaran itu membawa kejelekan utk kehidupan akhirat dia, kita rela tinggalin dia, biar dia bisa bersih, gak buat dosa lagi gara2 kita
I : sooo sweet
Miss : mesti
J : kalo ada org yg kita sukaaak bgt trs nembak kita, kita gak mau pacaran sih, tp kan suka ma dia, itu jwbnya gmn?
Miss : saya nunggu dilamar aja, bang.
J : hahahahah. Kalo dia blg cinta krn Allah, miss?
Miss : jwb gini. ahabbakallah kama ahbabtani liajlih
J : apa itu miss?
Miss : semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku krn- Nya
J : luarrrrrrrrrr biasa.
Miss : ;)
K : miss gak asik gak pernah jatuh cinta
Miss : sapa bilang. Yg gak jatuh cinta itu malaikat
K : knp juga larang2 org jatuh cinta
Miss : eh, miss larangin pacaran, bukan larang jatuh cinta
K : trs cinta itu kmn disalurin
Miss : buat org miskin, janda2, dan anak2 terlantar
K : miss ni. Beda...lah....
Miss : makanya sabar.. org lain juga semua jatuh cinta, tp sabar.
K : kalo uda kebelet macam mana sabar?? Hahaha
Miss : puasa yg byk, bisa nahan napsu
K : mana da napsu tu, iseng2 ja
Miss : iseng2 berbahaya.
K : hehheeh
Miss : hehe
L : hmm, pacaran gak boleh, adek abg angkat boleh miss ?
Miss : sami mawon, sama manteng
L : kan gak pacaran ma adek miss
Miss : jd ngapain?
L : kita jagain biar gak dipacarin org
Miss : dia gak punya saudara yg jagain?
L : kan saudaranya jauh miss.
Miss : biarlah yang cewek jaga yg cewek, yg cowok jaga yg cowok
L : yg cowok gak perlu dijaga miss
Miss : yg cewek juga gak, biarlah Allah saja yg jaga mereka
L : gak ada jalan sikitpun
Miss : heeheheh. gak ada jalan ke neraka..
M : hmm, pa lagi yaa. Gmn kalo saya tandain aja dia buat calon saya
Miss : enak aja tanda-tandain org, mgkn dia gak mau sama kamu
M : mau dia miss.hahah
Miss : darimana tau, mgkn nanti dia bisa dapat yg lebih baik dari kamu.
M : miss ni
Miss : kamu jg dpt yg lebih baik dari dia
M : amiin
Miss : amiin
Nfs : emangnya miss dulu wkt SMA gak pernah pacaran
Miss : gak
Nfs : waktu kuliah??
Miss : hmm, ada dikit. Wkwkwk
Nfs : dikit???enak aja, miss ada, kami gak boleh
Miss : karena miss uda tau itu byk kali mudharat jgn sampai anak miss masuk ke lobang yg sama
Nfs : gak mau.
Miss : jd gmn gak mau, itu salah. Utk sebagian org ketika proses nikah berbelit2 jadilah masa tenggang itu spt pacaran
Nfs : oo
Miss : bukan disengaja.
Nfs : oooo. ada dosa tu miss?
Miss : dosalah. setiap kejelekan yg kita buat besar atau kecil tetap dosa
Nfs : terus gmn tu miss.
Miss : miss minta ampun sama Allah byk2, taubat nashuha miss,takut kali ingat azab Allah.ngeri miss, hiii.
Nfs : mudah-mudahan Allah maafin miss. amiin.
Miss : Amiin.
O : jadi saya sebelumnya gak tau kalo pacaran tu gak boleh. skrg uda terlanjur. kalo saya putusin sayang anak orang miss. nanti dia patah hati.
Miss : lebih bagus dia patah hati skrg dari pada tar dia nyesal selama2nya krn buat dosa.
O : tapi syang kan miss, nanti dia terganggu konsentrasi belajarnya.
Miss : itu resiko org pacaran, putus ga putus pasti terganggu belajarnya.
O : Mana ada miss.
Miss : apa mana ada, lg belajar ingat kamu, lagi boker ingat kamu.
O : miss ni tah apa-apa.
Miss : kan emang gitu kenyataannya.
O : tapi kalo dia benar2 down setelah putus ma kita.
Miss : cuman sebentar, dia akan terbiasa.
O : cieee, miss. tapi dia ganteng kali miss. gak rela putusnya.hihi
Miss : hahahhah. kamu tu yg gak mau putus, kambing itamin orang.
O : dia gak mau juga miss, jd gmn tu miss?
Miss : mutusin org jelek itu biasa, mutusin orang ganteng?? itu baruuu luar biasa. kerenlah kamu bisa mutusin orang ganteng.
O : iya miss, tp saya juga kwatir trs entar dia diambil orang lain.
Miss : biarin aja. itu artinya dia gak sayang sama kamu, gak sukak, dia cuman perlu cewek, sapa aja boleh. mgkn krn kmrn kamu yg mau, lumaayaan, kamu kan cantek.
O : ihhh miss ni buaat orang patah semangat aja.
Miss : jadi gmn? jd putus?
O : jadi miss, tp saya siapin diri dulu lahir batin, nunggu waktu yg tepat.
Miss : jgn kelamaan, tar tambah byk dosanya.
O : iya deh miss, segera. tar saya beliin dia buku ustadz felix siauw, biar gak pacaran lagi ma yg lain.heheh
Miss : hmm, masih ngarep rupanya,
O : hehehe. mdh2n kalo jodoh ketemu lagi ya miss. amiin
Miss : amiin
P : Saya pernah pacaran miss, tp sekarang uda gak lagi, saya masih dosa gak miss?
Miss : Allah Maha Pengampun, neuk. Yang penting kita mohon ampun sama Allah banyak2, n janji gak ulang lagi.
P : Alhamdulillah... Mudah-mudahan Allah maafin saya ya miss. amiin.
Miss : Amiiin
Q : Kalau saya kan miss gak pernah pacaran, tp saya pusing liat kawan2 saya pacaran. saya harus gmn miss?
Miss : Diingatin lah kawan2nya nak. biar kita gak ikut dosa.
Q : Iiiih, gak maulah ikot dosa. tapi gmn ya cara ingatinnya.
Miss : Dengan tangan n dengan lisan
Q : Nanti marah dia sama saya miss. Takut putus silaturrahim.
Miss : Hmm, kalo kamu gak ingatin, berarti kamu gak sayang sama dia.
Q : Sayang miss. saya sayang x ma dia. n uda coba ingatin, tp ujung2nya dia marah sama saya.
Miss : Gmn juga yaa. sabar aja kalo gitu sambil tetap berusaha ingatin dg cara2 yg baik.
Q : Kayaknya kalo saya ingatin gak mempan lagi miss. :"(
Miss : Kalo gitu, didoain aja kawannya, biar Allah buka mata hatinya, trs bisa sadar kalo pacaran itu gak bgs.
Q : Ooo gitu ya miss, doanya gmn miss??
Miss : Gmn aja boleh, kirim rabithaah atau fatihah juga boleh, niatkan buat dia.
Q : Oh, ok tu miss. makasi yaa miss
Miss : It's ok. labaksa
R : Saya lg galau miss. saya ada sukak sama org, tapi tau gak miss, org yg saya sukak tu, pacaran dpn mata saya miss. saket miss, saket.
Miss : Tah apa. orang kek gitu aja bisa buat kamu saket.
R : Karena saya sukak ma dia, miss
Miss : Orang kek gitu gak pantes kamu sukain apalagi ampe buat kamu susah. udah lupain aja.
R : Gak segampang itu miss. itu cinta pertama saya miss.
Miss : Kenapa jadi bisa suka dgn org kek gitu?
R : Cinta miss, cinta, gak bisa ditebak kpn dtgnya n sama siapa.
Miss : Haalaaah, byk kali teori anak kecil.
R : Hahahhhaaha. tp benar ni miss, galau kali ni. hikshiks
Miss : Uda... lupain aja. masih byk cowok baik2 yg bakal nungguin ampe kamu siap. gak ngumbar cinta sebelum waktunya.
R : Tapiiiii hatiku hancur miss.
Miss : Manusia macam tu GAK pantes buat hati R**** hancur. ingat yaa.. pacaran itu sebagian dari zina. zina itu keji, org yg mendekati zina adalah orang2 yg keji, n org keji gak pantes buat hati anak miss hancur..
R : Aaaaaaaaa, miiiiiiiiiiiiiissssssss.
Miss : Udah, lupain… lupain
R : Iya miss. Harus usaha. Mudah2an bisa. Amiin
Miss : Aamiin
S : Miss, saya uda putus sama cowok saya, saya mau taubat miss.
Miss : Alhamdulillah.
S : Tapi miss, masalahnya mantan saya tu skrg pacarin temen dekat saya..
Miss : Astaghfirullah. Kok bisa?
S : Gak tau juga miss. sedih saya miss, merasa dikhianati.
Miss : Udalah sayang, ikhlasin aja. Emang orang yg lagi kasmaran tu matanya buta. Kupingnya pekak, gak bisa liat n dengar apa2.
S : Kok bisa miss?
Miss : Uda ditutup sama setan, ampe bela2in khianatin kawan cuman gara2 seorg cowok yg gak penting bgt.
S : Tapi kwn saya itu baik bgt miss. Gak nyangka sikitpun dia bakal mau sama cowok tu. Padahal dulu saya sering curhat ma dia miss.
Miss : Makanya miss bilang, org kasmaran itu lg mabok, gak bisa mikir apa2. Setan yg buat dia gitu.
S : Jadi saya hrs gmn miss?
Miss : Hmm, kamu semestinya bersyukur.
S : Kok bersyukur sih miss.
Miss : Iya, soalnya bukan kamu yang terpilih buat jadi pengkhianat utk kawanmu tu. Allah masih sayang sama kamu.
S : Ooo gitu ya miss? Alhamdulillah.
Miss : Itu namanya Allah masih jaga kamu.
S : Alhamdulillah ya Allah. Mksh byk miss.
Miss : Anytime.
T : Miss, miss, kata miss pacaran tu dosa kan?
Miss : Iya. Why?
T : Tapi kawan2 saya yg pacaran baik2 aja. Belajarnya ok, dapat rangking lg.
Miss : Setiap kejelekan yg kita buat selalu dpt ganjaran, cepat atau lambat, sekarang atau nanti.
T : Ooo gitu ya miss.
Miss : iya, kalo blm ditegor sekarang, berarti Allah gak sayang sama dia. Allah masih biarain dia buat dosa terus. Kamu mau gak disayang Allah?
T : Astaghfirullahal ‘adhim. Gak mau miss. Takut miss.
Miss : Makanya, jangan pikir Allah hukum kita krn Allah gak sayang. Allah hukum kita sebagai peringatan dan agar dosa2 kita gugur. Malah yang gak dihukum itu yang gak disayang Allah. Tar balasannya ditumpuk di neraka.
T : Hiiiiiii, ngeri ya miss. Na’udzubillahimin dzaalik.
Miss : Makanya. Jangan susah kalo Allah kasih kita cobaan. Sabar. Jatuh cinta sebelum waktunya itu juga cobaan.
T : iya miss. :)
Miss : ^_^
U : Miss, hiks hiks, si ganteng putusin saya.
Miss : Heheheh. Kenapa diputusin
U : Katanya dia mau jagain biar hati saya bersih
Miss : Alhamdulillah. Bagus tu.
U : tapi saya patah hati miss. Sedih banget. Dia baik banget anaknya.
Miss : Udaaaa, dia putusin kamu krn dia sayang sama kamu. Biar kamu gak dosa lg
U : iya miss, dia juga blg gitu. Tapiiih, susah kali ni miss.
Miss : hmm, istighfar nak byk2 biar tenang. Alaa bidzikrillahi tadhmainnal quluub. Cuma dgn mengingat Allah hati jadi tenang.
U : iya miss, saya coba. Doain saya miss yaa.
Miss : iya nak, insya Allah..
V : miss.. saya mau tanya, miss kok sibuk kali lu urusin kami pacaran.
Miss : whaaaattt?
V : miss sengaja kan cari2 info ttg kami, biar tau siapa2 aja yg pacaran
Miss : Astaghfirullah.
V : miss gak usah sibok kali gitulah. Saya gak suka miss mata2in kami. kami ini uda gede miss. Uda SMA.
Miss : : 0 *melongo
V : saya gak pacaran lagi miss, uda lama gak jln. Gak pernah tlp2an lg, smspun jarang.tp miss masih sibok cari2 info ttg kami. untuk apa miss?
Miss : menurut kamu untuk apa? untuk apa miss sibok urusin kalian, anak bukan saudara juga gak. Apa untungnya buat miss? Miss itu cuman prihatin lihat remaja2 islam itu terlalu lalai dg hal2 kecil, dg hal2 yg salah. Masih byk yg harus kalian piker, kalian itu calon pemimpin2 masa dpn. Seharusnya kalian menyibukkan diri dgn hal2 yang bermanfaat bkn malah pacaran. Gak penteng banget sih. ( urut-urut dada)
W : jangan marah2 miss, nanti cepat tua
Miss : Astaghfirullah
W : uda lah miss, gak usah dipeduli kali, orang lagi jatuh cinta emang gitu. Gak mau dgr apa2.
Miss : iya I know. Miss cuman kasian aja diingatin malah marah, kok bisa yaa.
W : biasa lah miss anak muda.
Miss : sebenarnya miss gpp kalo anak cowok gak mau dgr, tp sayang ceweknya, dia seharusnya bisa jaga diri dgn bagus, sayang kali lah miss nasib kaum miss ni.
W : udalah miss masih banyak kok yang bisa miss kasih ingat. Itukan cuman sebagian yang gitu. Yang lain masih byk yang dengerin kok
Miss : iya nak.
W : contohnya saya. Gak jadi pacaran akhirnya. Kawan2pun suka kali ngejek2, kalo kami cerita2 cowok ditanya: gak halaqah ya? Hehhehe. Jadi malu sendiri.
Miss : iya deh. Makasih byk uda ingatin miss. Kita emang harus saling mengingatkan, gak mesti yang tua ke muda trs. Skali2 gantian. Ya gak..?
W : iya miss, benar tu
Miss : ( kembali tersenyum)
X : miss, saya ditembak sama abang kelas, gak enak kali nolaknya, sayapun suka sebenarnya ma dia. Gmn saya blgnya miss.
Miss : bilang aja gak mau pacaran. Takut dosa
X : tar dipikir sok paten kali lah miss
Miss : kalo gak, blg gak dikasi org tua
X : tar dijawab, gak usah bilang2 sama org tua
Miss : hmm, bilang aja gini: Bang, pesan miss kalo mau pacaran sama saya, suruh ktm miss dulu
X : gak brani saya miss, nanti dipikir saya ngelapor2 lagi. Takut saya miss.
Miss : biar miss aja yang bilang
X : Jgn miss. Nooooooo, don’t do that. pliiiiiiiiiiiiiiiiiiis
Miss : jadi gmn juga?
X : saya juga bingung miss.
Miss : hmm gini aja. Bilang aja, kayaknya ada orang lain yang suka sama abang, saya gak mau jadi pengkhianat buat kawan2 saya yg juga suka sama abang. Saya gak mau dianggap egois. Maaf ya bang. Mungkin oranglain tu lebih cocok sama abang daripada saya.
X : gak bohong tu miss?
Miss : mgkn emg ada
X : mgkn? Hmm, kalo ditanya siapa orgnya miss?
Miss : jawab aja, saya gak boleh bocorin rahasia saudara saya. Nanti saya dianggap tidak amanah.
X : ya deh. Saya coba miss. Tapi kalo gak berhasil tar saya hubungin miss lagi yaa.
Miss : beressss
Y : mis, saya gak pacaran n gak pengen pacaran.. tapi kan ada kawan cowok minta tlg ingatin dia tahajjud n kadang2 juga bangunin sahur. Gimana tu miss?
Miss : parah tu orang, gak bisa dengan jalan kasar pake jalan halus.
Y : maksudnya miss?
Miss : dia suka sama kamu, tp karena kamu gak mau pacaran jadi dia coba dgn jalan itu. Gak usah mau deh. Jangan mengkambing-hitamkan ibadah untuk melegalisasi napsu kita
Y : aih miss, kejam banget
Miss : emang gitu nak. Setan punya seribu cara untuk membuat kita tergelincir.
Y : ooh gitu ya miss? Jadi gmn saya bilang sama cowok tu?
Miss : minta maaf aja. Bilang kamu gak bisa. Gampang tu.
Y : oh iya iya miss, nanti saya bilang gitu. Saya bilang aja jangan ngeharap sama saya, saya takut gak terbangun juga. Pasang alarm aja.
Miss : pinterrrrr (Y)
Z : miss, boleh gak saya berdoa untuk mantan saya. Soalnya kata kawan2 sejak putus sama saya dia jadi bandel n ugal2an lagi.
Miss : sayang kali yaa dia, berubahnya cuman gara2 kamu.
Z : tapi bgs kan miss, kita bisa buat org lebih baik
Miss : bgs sih bgs, tp sayang dia gak dpt apa2. Kan Rasulullah bilang: sapa yg hijrahnya krn dunia dan wanita, dia hanya akan mendapatkan itu, tp kalo hijrah karena Allah dan Rasulnya, dia bisa dapat semuanya.
Z : iya sih, kasian juga. Jadi gmn masalh doanya? Bole miss?
Miss : tergantung niat sih
Z : niat gmn maksudnya miss?
Miss : kalo kamu niat tulus doain dia krn kasian lihat dia sebagai salah seorang dr kawan kamu, tanpa berharap apa2, silakan saja doain. Tp ada satu hal yang miss khawatirin
Z : Apa miss ?
Miss : apa kita yakin niat kita doain dia benar2 tulus. Kalo gak malah bisa berbahaya.
Z : Bahaya kenapa miss?
Miss : I just wondering when seorang perempuan memikirkan seorang laki2 apa itu tidak termasuk KHAYALAN, walau dalam sebuah doa sekalipun..
Z : hmm. Msk gak ya ? gak pernah terfikir kesitu sih miss
Miss : coba fikir2 lg, kalo emg gak berbahaya silaakn berdoa, kalo bahaya, stop it. Don’t ever try to play in fire.
Z : oka deh miss. Tenkyu miss.
Miss : don’t mention it
………………………
Epilog :
Dan setelah mereka keluar ke dunia nyata, tiba2 sebuah suara terdengar di ujung line sana.....
Some one : Miiiiiiiiiiiiiiiiiissssssssssssss, kgn kali lah sama miss. Miss makasih yaa uda ingatin kami selama ini. Kami gak pernah bayangin kalo hidup diluar itu kejam. Terlalu banyak godaan, terlalu byk buaya yang siap menerkam. Untunglah kami udah tau n uda sering miss ingatin, jadi kami bisa sedikit membentengi diri dari kejamnya dunia luar. Ternyata di laur sini miss, MENGERIKAN !!
Miss : (weeping her tears)
Note : thanks to be my inspiration, dears..
Sunday, 1 September 2013
JENDELA LAIN
Saya telah tinggal di sebuah ruko yang berbentuk aneh, bukan persegi panjang melainkan berbentuk trapesium, semenjak anak pertama kami berumur 6 bulan. Kini si
gadis kecil itu sudah duduk di kelas satu Madrasah Ibtidaiyah. Kalau
saya hitung-hitung secara kasar, sudah lebih enam tahun kami menghuni
ruko yang lebih sering kami sebut dengan nama ‘apartment mini ‘ yang
teletak di tengah sebuah pasar tradisional ini.
Pernah sekali saya mencoba memindahkan sampah-sampah dari halaman depan kami dan memotong bunga-bunga jelloberi, nama yang diberikan anak saya untuk bunga-bunga kecil berwarna kuning yang tumbuh liar di halaman, namun yang terjadi setelah halaman saya bersih adalah sebuah keanehan yang tidak bisa dicerna akal. Selang beberapa hari setelah gotong royong massal saya bersama anak-anak saya (6,5 dan 4,5 tahun), sebuah container sampah milik pemerintah tiba-tiba diletakkan disana. Okelah, posisi halaman itu memang strategis karena terletak dekat dengan jalan, tapi bila tempat ini memang dialokasikan untuk tempat pembuangan sampah resmi, sangatlah tidak cocok karena tempat itu termasuk dalam bagian halaman sebuah bangunan, perlu usaha ekstra untuk meletakkan sampah dalam kontainer tersebut. Dan benar saja, saya melihat masyarakat tidak tertarik untuk singgah, turun dari kenderaan dan melompat ke bagian halaman yang dibuat setengah meter lebih tinggi dari jalan, hanya untuk membuang sampah. Wahasil tempat sampah tersebut hanya digunakan oleh pedagang buah untuk membuang buah-buahan busuk dan segala macam sampah sampih yang berhubungan dengan perihal pendistribusian buah.
Perihal kontainer sampah yang diletakkan tanpa izin tersebut kemudian menambah list untuk men-judge bahwa lokasi rumah kami adalah lokasi yng sangat buruk untuk dipilih dan ditinggali oleh dua makhluk mungil milik Allah yang masih belum tahu apa-apa tentang kebrutalan dunia. Dan demi sedikit kenyamanan yang kami harap masih bersisa, kami sama-sama berdoa di suatu Jum’at siang, saat mobil sampah mengangkat benda besar berwarna kuning dan bau itu yang hampir sebulan berada di halaman rumah kami. Masih kuingat sebuah kalimat yang mewakili sejuta harapan dalam hati kami saat itu : “Allah, jangan kembalikan benda itu ke rumah kami.” Dan anak-anak saya menjawab ‘aaamiin’ dengan sangat yakin bahwa Allah selalu mendengarkan mereka. Tak pernah tidak.
Dan benar saja, sampai sore menjelang dan magribpun datang, kontainer itu tidak lagi kembali. Tidak besok atau besoknya lagi. Mudah-mudahan ia benar-benar pergi untuk selamanya.
Namun sampah-sampah itu, masih juga tak pernah mau pergi. Saya sangat sadar bahwa saya tak perlu merutuki sampah-samapah itu. Ini bukan salah mereka. Ini hanya ulah tangan-tangan yang tak pernah belajar bahwa kebersihan sebagian dari iman.
Selain perihal sampah, letaknya yang di tengah pasar membuat kami tak mempunyai tetangga. Tidak seperti di kampung yang dikelilingi oleh sanak saudara, disini kami hanya bisa mempunyai rakan seorang nenek penjual nasi padang dan seorang ibu penjual air mineral yang berasal dari Jawa.
Rasa penat sering kali singgah dalam hati saya. Rasa itu kemudian mulai berubah menjadi gumpalan-gumpalan kegondokan, ketika capek mendera, namun masih harus naik turun tangga. O Pota Allah.. Alasan apalagi yang saya butuhkan agar bisa segera hengkang dari tempat yang weird ini.
Beberapa kali saya pernah mengusulkan kepada abunya anak-anak untuk pindah rumah. Namun jawabannya selalu sama, “Kita punya rumah, kenapa harus sewa tempat lain?”
“Kita memang tinggal di lokasi yang salah,tapi tidak ada yang salah dengan rumah kita.” Imbuhnya lagi.
“Gak salah apa?” Dumelku dalam hati. Satu-satunya tempat yng paling nyaman di rumah ini hanyalah kamar berukuran 4x5 berisi sebuah bed yang comfort, sebuah toalet besar juga sebuah icon yang sudah renta, sebuah lemari kecil dan sebuah kamar mandi kering yang terisi dengan sebuah kloset duduk berserta sebuah bath up yang lebih sering dipakai sebagai tempat menampung air daripada tempat berendam.. :D
“Look, we have our own suit room.” Ujar abunya anak-anak kemudian. Ia selalu punya beribu cara untuk bersyukur (mungkin juga untuk mengelak).
Dan jawaban-jawabannya itu hanya membuat jadwal ‘balik dari kampung’ kami menjadi lebih molor.. Saya dan anak-anak lebih suka menghabiskan waktu libur (bahkan waktu tidak libur) untuk tinggal di rumah orang tua saya di kampung yang sangat nyaman dan aman bagi anak-anak.
Namun saya tersadar bahwa waktu-waktu yang datang setelah itu mewajibkan saya untuk lebih sering berada di rumah kami, karena anak saya sudah akan mulai masuk sekolah formal yang jadwalnya tidak boleh kami atur seperti saat dia belajar di play grup dan TK dulu.
Saya kemudian kembali galau akan rumah yang sudah menjaga dua orang anak saya dari panas terik kota banda aceh dan hujan deras yang mengguyurinya tanpa minta izin terlebih dahulu.
Hingga suatu sore menjelang ashar, selepas hujan turun, saya di tegah kegalauan yang sekali lagi singgah, berdiri sejenak di balik jendela kaca kamar kami, setelah bertahun-tahun tak mendapatkan apa-apa dari balik jendela depan bangunan ini. Saya berdiri mengintip-intip beberapa orang anak laki-laki yang sedang bermain bola di tengah lapangan yang tergenang lumpur dan masih disirami rinai gerimis yang kian menipis.
Sesaat kemudian pandangan saya terpaut kepada sebatang pohon (bak tapang) besar dengan batang yang agak menjorok ke sebelah kanan. Di atasnya beberapa orang anak laki-laki lain sedang melompat-lompat dengan girang untuk mengayuni diri mereka. Dan tepat di seberang semak-semak setinggi 1,5 meter yang berada di sekeliling pohon itu, tampaklah sebuah danau kecil yang sebenarnya saya tak yakin tempat yang dipenuhi genangan air itu layak disebut danau. Di dalam danau tersebut beberapa ekor itik tampak sedang bersenda gurau dengan teman-temannya.
Dan tepat di saat pemandangan indah itu mulai menyadarkan saya dari kegalauan panjang ini, sebentuk lukisan berwarna warni tampak terlukis dengan indah di atas deretan bukit barisan yang selama 6 tahun ini telah saya abaikan keberadaannya karena keindahannya telah berganti dengan deretan-deretan rumah dan ruko yang tersusun acak dan menutupi julangan tinggi bukit barisan tersebut.
Lengkungan lembanyung bak sulaman pita bidadari itu telah meninggalkan kesan yang teramat dalam tentang sebuah view yang dilukiskan-Nya di atas bukit yang sejenak kemudian mulai berganti warna yang tadinya hijau sepenuhnya dengan warna kuning keemasan, tertimpa cahaya matahari sore.
Ah, begitu indahnya lukisan dari Sang Pelukis Agung itu. Sayang, saya tak pernah sempat memerhatikan kelebihan ini ketika saya terlalu sibuk dengan kekurangan-kekurangan yang telah saya buat daftarnya jauh-jauh hari dan saya tanamkan dalam-dalam di lubuk jiwa saya.
Namun semenjak saat itu, berdiri sejenak di jendela kaca berwarna hijau tua itu telah menjadi obat yang paling mujarab untuk saya menepis rasa gundah yang kini sudah jarang singgah.
Bukanlah kondisi dan keberadaan lingkungan kita yang membuat kita tidak nyaman, namun sudut pandang kita yang harus kita ubah. Bila kita tak berhasil melihat dunia dari satu jendela, berpindahlah ke jendela yang lain.
Begitu pula dengan hidup. Ketika kita yakin bahwa hidup telah membuat kita terpuruk, maka kita akan selamanya menderita. Namun ketika kita yakin sepenuhnya bahwa semua yang kita lalui adalah hal-hal yang luar biasa yang orang lain belum tentu sempat melaluinya, maka mulai saat itu kita akan selalu merasa bahagia.. Percayalah.
Subscribe to:
Posts (Atom)