Rasanya sudah sewindu perasaan rindu pupus dari hati perempuan itu,
setelah orang pertama dan terakhir yang berhasil menghidupkan berbagai macam
rasa dalam hatinya pergi, menikahi sahabat karibnya dan memilih memboyong
istrinya untuk meninggalkan desa. Alasan menyambung hidup di kota nampaknya
kurang tepat, karena di kampung, Ampon Man, termasuk salah satu orang sukses
yang mempunyai sebuah kebun rambutan dan beberapa petak sawah yang selalu
menghasilkan panen yang melimpah.
Ampon Man
sejatinya adalah sepupu jauhnya. Ketika menginjak usia 40 tahun dan mereka
sama-sama belum menemukan jodoh yang tepat, keluarga besar kemudian berusaha
untuk menjodohkan mereka. Dan ternyata gayungpun bersambut. Hanya perlu
menunggu tiga bulan saja, selepas panen,
mereka akan segera bersanding di pelaminan.
Sebulan menjelang
perayaan, padi-padi hasil panen sebelumnya sudah berupa berkarung-karung beras
untuk pesta. Ayam-ayam dan beberapa
bebek tetangga sudah dibooking untuk acara. Rumah kedua calon mempelai
sudah dibersihkan dan dicat ulang dengan warna kuning pudar. Saudara - saudara
sudah dihubungi semua. Kelapa – kelapa sudah ditumpuk di bawah rumah tinggi
model lama, demikian juga dengan kayu bakar yang akan digunakan untuk memasak
nantinya.
Mak Minah tampak
selalu tersenyum di setiap waktu mengingat anak pertamanya akan segera menikah.
Perempuan tua itu kini tidak perlu pusing lagi mendengar komentar - komentar
miring tetangga perihal anak perempuannya yang telah ditinggal kawin oleh
adik-adiknya. Kini Ainiah akan segera menemukan imamnya di usia yang ke 40.
Seandainya Mak
Minah tinggal di kota-kota besar, pastinya Mak Minah tidak akan terlalu
dipusingkan dengan masalah ini. Putri sulungnya mungkin sudah menjadi seorang
wanita karir yang selalu akan membela diri dengan sebuah slogan, “Life
begins at forty, Mak.“ Tapi sayang
mereka hanyalah orang kampung yang sehari-hari hanya bekerja di sawah milik
mereka.
“Niah, Ainiah,
coba cari ayahmu sebentar. Pak Cekmu ada keperluan mendadak dengan ayah.”
Terdengar suara Mak Minah memanggil Ainiah yang sedang duduk di kursi rotan di
belakang rumah bersama Zainab, sahabat karibnya. Mereka sedang membicarakan
model inai yang akan digunakan Ainiah di pesta perkawinannya nanti.
Niahpun bergegas
mencari ayahnya di kebun yang terletak hanya 100 meter dari rumah panggung
milik keluarganya.
Sungguh malang
berita yang di dengar Niah sore itu, ternyata Ampon Man telah memutuskan
hubungan sepihak, bahwa Niah akan digantikannya dengan perempuan lain dari kampung
seberang. Yang paling sakitnya lagi, si Meulu, calon istri Ampon Man adalah
sahabat sebangkunya kala SMA.
Selepas itu Niah
tak ingin tahu bagaimana cara ayahnya mengabari kembali kepada sanak saudara
bahwa pesta Niah harus dibatalkan. Niah juga tak mau tahu bagaimana mak
membatalkan pesanan pelaminan beserta kue-kue pengantin yang bahkan sudah
hampir dibayar sepenuhnya.
Niah melarikan
diri dari kenyataan, dia ingin menganggap bahwa semua ini tak pernah terjadi.
Tak banyak yang dilakukan Niah setelah itu. Niah menghabiskan kebanyakan waktunya
di sungai bahkan di saat Niah tak perlu mencucikan pakaian orangtua dan
adik-adiknya.
Sempat tebersit
dalam hati Niah untuk melompat ke dalam sungai dan membiarkan sungai
menyeretnya kemanapun agar dia bisa melupakan semua ini dan menghapus rasa
malunya. Tapi tentu saja tak akan dia lakukan. Niah masih punya iman, punya
rasa sayang akan mak dan ayah, juga adik-adiknya
Tahun-tahun
berselang, Jamilah, adik nomor tujuh sekaligus yang paling bungsu di keluarga
Niahpun menikah, sementara Niah masih tetap sendiri melakoni hidup sebagai
seorang anak yang baik, seorang kakak yang baik, bahkan sebagai seorang ibu
yang baik untuk anak adik-adiknya.
Hampir semua
adik-adiknya tinggal di kampung atau di kecamatan yang sama, sehingga mudah
saja bagi Niah untuk mengunjungi mereka satu persatu sabagai ganti mak setelah
beliau pergi menghadap-Nya.
Namun berbeda
dengan Jamilah, setelah menikah dia akan segera tinggal di kota bersama
suaminya yang orang kantoran. Niah merasa sangat kehilangan. Rumah kayu yang
telah diperluas ke belakang kini kosong, hanya tinggal Niah dan ayahnya yang
semakin tua.
Ketika tiba waktu
Jamilah melahirkan, Niah diantar ke kota untuk membantu Jamilah mengurusi bayi
yang akan segera lahir itu.
Niah hanya bisa
tinggal bersama Jamilah selama dua minggu. Keadaan ayahnya membuat Niah tidak
bisa berlama-lama di kota untuk membantu adik bungsunya mengurus bayi mungil
tersebut.
Niah pulang dengan
hati cemas bersama selembar foto bayi mungil yang dinamai Khansa. Niah tak
ingin meninggalkan Jamilah tapi juga tidak bisa berlama-lama meninggalkan ayahnya
sendirian di kampung.
Selanjutnya Niah
hanya mendengar kabar tentang Khansa dari adik-adik yang datang menjenguk ayah.
Disaat itulah Niah dapat kembali mendengar suara Jamilah dan suara bayi mungil
Khansa yang telah berhasil menghidupkan kembali rasa rindu di hati Niah yang
telah lama mati.
No comments:
Post a Comment