Sunday, 1 January 2017

RINDU



             Rasanya sudah sewindu perasaan rindu pupus dari hati perempuan itu, setelah orang pertama dan terakhir yang berhasil menghidupkan berbagai macam rasa dalam hatinya pergi, menikahi sahabat karibnya dan memilih memboyong istrinya untuk meninggalkan desa. Alasan menyambung hidup di kota nampaknya kurang tepat, karena di kampung, Ampon Man, termasuk salah satu orang sukses yang mempunyai sebuah kebun rambutan dan beberapa petak sawah yang selalu menghasilkan panen yang melimpah.
            Ampon Man sejatinya adalah sepupu jauhnya. Ketika menginjak usia 40 tahun dan mereka sama-sama belum menemukan jodoh yang tepat, keluarga besar kemudian berusaha untuk menjodohkan mereka. Dan ternyata gayungpun bersambut. Hanya perlu menunggu tiga bulan saja, selepas panen,  mereka akan segera bersanding di pelaminan.
            Sebulan menjelang perayaan, padi-padi hasil panen sebelumnya sudah berupa berkarung-karung beras untuk pesta. Ayam-ayam  dan beberapa bebek tetangga sudah dibooking untuk acara. Rumah kedua calon mempelai sudah dibersihkan dan dicat ulang dengan warna kuning pudar. Saudara - saudara sudah dihubungi semua. Kelapa – kelapa sudah ditumpuk di bawah rumah tinggi model lama, demikian juga dengan kayu bakar yang akan digunakan untuk memasak nantinya.
            Mak Minah tampak selalu tersenyum di setiap waktu mengingat anak pertamanya akan segera menikah. Perempuan tua itu kini tidak perlu pusing lagi mendengar komentar - komentar miring tetangga perihal anak perempuannya yang telah ditinggal kawin oleh adik-adiknya. Kini Ainiah akan segera menemukan imamnya di usia yang ke 40.
            Seandainya Mak Minah tinggal di kota-kota besar, pastinya Mak Minah tidak akan terlalu dipusingkan dengan masalah ini. Putri sulungnya mungkin sudah menjadi seorang wanita karir yang selalu akan membela diri dengan sebuah slogan, “Life begins at forty, Mak.“  Tapi sayang mereka hanyalah orang kampung yang sehari-hari hanya bekerja di sawah milik mereka.
            “Niah, Ainiah, coba cari ayahmu sebentar. Pak Cekmu ada keperluan mendadak dengan ayah.” Terdengar suara Mak Minah memanggil Ainiah yang sedang duduk di kursi rotan di belakang rumah bersama Zainab, sahabat karibnya. Mereka sedang membicarakan model inai yang akan digunakan Ainiah di pesta perkawinannya nanti.
            Niahpun bergegas mencari ayahnya di kebun yang terletak hanya 100 meter dari rumah panggung milik keluarganya.
            Sungguh malang berita yang di dengar Niah sore itu, ternyata Ampon Man telah memutuskan hubungan sepihak, bahwa Niah akan digantikannya dengan perempuan lain dari kampung seberang. Yang paling sakitnya lagi, si Meulu, calon istri Ampon Man adalah sahabat sebangkunya kala SMA.
            Selepas itu Niah tak ingin tahu bagaimana cara ayahnya mengabari kembali kepada sanak saudara bahwa pesta Niah harus dibatalkan. Niah juga tak mau tahu bagaimana mak membatalkan pesanan pelaminan beserta kue-kue pengantin yang bahkan sudah hampir dibayar sepenuhnya.
            Niah melarikan diri dari kenyataan, dia ingin menganggap bahwa semua ini tak pernah terjadi. Tak banyak yang dilakukan Niah setelah itu. Niah menghabiskan kebanyakan waktunya di sungai bahkan di saat Niah tak perlu mencucikan pakaian orangtua dan adik-adiknya.
            Sempat tebersit dalam hati Niah untuk melompat ke dalam sungai dan membiarkan sungai menyeretnya kemanapun agar dia bisa melupakan semua ini dan menghapus rasa malunya. Tapi tentu saja tak akan dia lakukan. Niah masih punya iman, punya rasa sayang akan mak dan ayah, juga adik-adiknya
            Tahun-tahun berselang, Jamilah, adik nomor tujuh sekaligus yang paling bungsu di keluarga Niahpun menikah, sementara Niah masih tetap sendiri melakoni hidup sebagai seorang anak yang baik, seorang kakak yang baik, bahkan sebagai seorang ibu yang baik untuk anak adik-adiknya.
            Hampir semua adik-adiknya tinggal di kampung atau di kecamatan yang sama, sehingga mudah saja bagi Niah untuk mengunjungi mereka satu persatu sabagai ganti mak setelah beliau pergi menghadap-Nya.
            Namun berbeda dengan Jamilah, setelah menikah dia akan segera tinggal di kota bersama suaminya yang orang kantoran. Niah merasa sangat kehilangan. Rumah kayu yang telah diperluas ke belakang kini kosong, hanya tinggal Niah dan ayahnya yang semakin tua.
            Ketika tiba waktu Jamilah melahirkan, Niah diantar ke kota untuk membantu Jamilah mengurusi bayi yang akan segera lahir itu.
            Niah hanya bisa tinggal bersama Jamilah selama dua minggu. Keadaan ayahnya membuat Niah tidak bisa berlama-lama di kota untuk membantu adik bungsunya mengurus bayi mungil tersebut.
            Niah pulang dengan hati cemas bersama selembar foto bayi mungil yang dinamai Khansa. Niah tak ingin meninggalkan Jamilah tapi juga tidak bisa berlama-lama meninggalkan ayahnya sendirian di kampung.
            Selanjutnya Niah hanya mendengar kabar tentang Khansa dari adik-adik yang datang menjenguk ayah. Disaat itulah Niah dapat kembali mendengar suara Jamilah dan suara bayi mungil Khansa yang telah berhasil menghidupkan kembali rasa rindu di hati Niah yang telah lama mati.

No comments:

Post a Comment