Aku telah jatuh hati kepada seorang gadis berusia 15 tahun
sejak pertama kali melihatnya di ruangan Ospek.
Setelah masa orientasi sekolah usai, aku dengan terang-terangan
menyapanya beberapa kali, sehingga membuatnya, sebagai anak baru, berani bertegur
sapa denganku. Walhasih dia kemudian kunobatkan menjadi adik kesayangan di
hadapan teman-temanku.
“Ini Mina, kawan-kawan. Jika kalian masih ingat ceritaku
tentangnya.” Ujarku suatu siang saat
sedang duduk bersama Mina di kantin sekolah.
“Oh, ini ya orangnya yang membuat Qe* lebih suka
nongkrong di kantin tanpa kami?” Ujar Leoni mencibir.
“Jealous.” Aku mencoba membuat suasana lebih adem
dengan candaan ringan.
Dan hubunganku dengan Mina semakin hari semakin dekat,
seperti sepasang kekasih. Sayangnya aku adalah seorang perempuan, begitupun
Mina. Dan kami juga sama-sama perempuan tulen, sehingga tidak mungkin bisa ditaklukkan
oleh perempuan lainnya, hehe.
Tapi yang namanya “haters” akan selalu ada di muka
bumi. Seperti saat itu, kebanyakan temanku mengejek bahwa aku telah membooking
Mina untuk menjadi adik iparku. Kebetulan si ganteng Ahmad adik nomor duaku juga
bersekolah di SMAN 19 Kota Banda ini.
Aku tak begitu ingin menimpali ejekan-ejekan kawanku, tapi
tetap berhati-hati tentang Mina dan Ahmad. Jangan sampai mereka benar-benar
saling kenal dan jatuh hati. Tapi jumlah siswa kelas satu yang banyak dan
jawaban Ahmad ketika kuinterogasi tentang Mina membuat rasa khawatirku lenyap.
“Siapa Mina? Aku gak kenal.” Ujar Ahmad, si jagoan mamaku.
Beberapa bulan berlalu, seorang sahabat datang menghampiri
dan bertanya macam-macam tentang Mina. Aku, mau tak mau, harus menaruh curiga
akan sikapnya.
“Kenapa Qe, tanya-tanya Mina? Ucapku ketus, seperti
seorang kekasih yang sedang cemburu.
Tanpa menjawab apapun, dia menyerahkan sepucuk surat
beramplop biru ke tanganku.
Ragu-ragu aku membukanya, aku faham akan maksudnya, bahwa
ini adalah sebuah surat penting dan dia ingin aku memeriksanya.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi pias di
wajahku ketika menelusuri baris demi baris isi surat itu. Terlebih ketika
menyadari bahwa Andre, sahabat karibku dari sejak kelas satu SMP, telah jatuh
cinta kepada Mina.
“Tidak, jangan kepada Mina. Jatuh cintalah kepada
gadis-gadis lain. Mina begitu polos, begitu anggun, begitu baik. Aku tidak akan
rela seorangpun merusak hatinya. Biarkan dia tetap menjadi Mina yang lugu,
paling tidak selama setahun ke depan, karena aku masih ada di sini, menjadi body-guardnya.”
Jawabku panjang lebar tentang surat Andre yang berisi proposal untuk menjadikan
Mina sebagai pacarnya.
Dan aku sangat mengenal Andre, dia tidak akan pernah ingin
berdebat denganku. Maka surat beramplop biru itu kemudian menjadi
serpihan-serpihan kecil ulah tangannya.
“Tolong buang bentar ya.” Ujar Andre meninggalkanku dalam
keadaan gelisah. Khawatir telah membuat hati sahabat baikku itu kecewa. Tapi
demi Mina, akan banyak lagi hati-hati lain yang terpaksa aku kecewakan, kurasa.
Lain lagi dengan Antoni dengan sikap frontalnya langsung
berteriak di depan semua pengungjung kantin suatu pagi saat jam istirhat
pertama, “Eh, Mela, Mina buat aku ya. Kecuali Qe juga minat sama Mina. ”
Sontak seisi kantin terbahak mendengar ucapan Antoni, dan
aku buru-buru menarik tangan Mina menjauhi adegan nekat itu. Mina harus
diselamatkan dari lelaki manapun. Dia sangat baik, aku tak ingin seorangpun
merusak hatinya. Tidak selama aku masih ada disini.
Sore Rabu itu, seperti biasa aku mendapati Mina sedang
menungguku menyelesaikan les persiapan UN di sekolah, sementara dia baru saja
menyelesaikan latihan Pramuka yang telah lama menghilang dari daftar kegiatan
anak-anak SMA dan kini hadir kembali semenjak kurikulum 2013 diberlakukan.
“Kita pulang bareng yok. Nanti kita singgah di warung Adun,
Kakak sudah lama gak makan mie caluk*.” Ajakku ke Mina.
“Ahmad gak ikut pulang bareng kakak?” Tanya Mina.
“Dia tak akan pernah mau pulang denganku. Malu katanya, anak
laki-laki harus berboncengan di belakang motor kakak perempuannya. Dia pasti
sudah pulang dengan Bram.” Aku menjawab pertanyaan Mina panjang lebar dan
sedikit merasa aneh karena ternyata Mina telah mengenal Ahmad. Mungkin karena
mereka satu tim saat latihan pramuka, bisikku menentramkan suasana hati yang
tak terima bahwa pada akhirnya Mina dan Ahmad sudah saling kenal.
Di warung Mie Caluk Adun, aku dan Mina mengobrol kesana
kemari, tentang cita-citanya, tentang siswa-siswa yang mengganggunya, juga
tentang ibunya yang akan segera menikah lagi karena ayahnya tak kunjung pulang.
Ibunya sedang mengajukan fasakh* ke pengadilan agama, kata Mina, karena
sudah 4 tahun keluarga Mina tidak mendengar kabar tentang ayahnya yang telah
memilih untuk menikah lagi.
“Sebenarnya banyak kawan-kawan kak Mela yang suka sama
Mina.” Aku mencoba mengalihkan percakapan. “Tapi kak Mela gak mau mereka
mengganggu Mina. Kak Mela ingin hati Mina tetap bersih. Minakan berhijab, sudah
seharusnya kita menjaga hijab kita dengan memberi contoh yang baik bagi
lingkungan kita, seperti tidak pacaran misalnya, atau tidak menyontek saat
ujian. Kita jaga hijab, hijab jaga kita. “ Tuturku panjang lebar.
Dan hingga 30 menit ke depan hanya suaraku saja yang
terdengar. Mina tampak sedang tak ingin menimpali. Dia khusyu* mendengar
ceramahku.
“Ayo kita pulang.” Akupun mengantarkannya sampai di depan
gang rumahnya. Aku belum pernah bertemu ibunya. Belum saatnya bisik hatiku.
Malamnya aku mendapat sebaris
SMS dari Mina, dia ingin bertemu denganku pagi-pagi sekali sebelum kelas
dimulai.
“Kakak, Mina minta maaf.” Ujar gadis berjilbab putih di
hadapanku.
“Kenapa Mina minta maaf. Mina mau pindah? Atau Mina belum
bayar uang sekolah, perlu bantuan kakak ya?” Aku tak sabar dan langsung
menebak-nebak apa kiranya yang membuat muka oval milik adik angkatku
menjadi sangat cemas.
“Tidak, Kak. Mina salah sama kakak. Mina tidak amanah.” Ujarnya
menambah rasa penasaranku.
“Memangnya kakak ada suruh apa sama Mina, Dek? Kenapa
tiba-tiba ngomong gini.” Buruku lagi.
“Mina…” Lalu jeda.
“Kalau setelah ini kakak marah
sama Mina, gak apa-apa. Mina terima. Tapi maafin Mina, Kak.” Dia tertunduk
semakin dalam dan suaranya semakin samar.
“Mina udah mengkhianati kepercayaan kakak. Mina… pacaran,
Kak.” Bisikannya kini terdengar seperti suara halilintar.
“Ya Allah, Mina. Tidak cukupkah ayahmu menjadi contoh bahwa
banyak lelaki di dunia yang tidak dapat dipercaya. Mereka semua buaya. Jangan
gampang percaya pada mereka. Mereka hanya ingin memanfaatkan Mina.” Teriakanku
terdengar menggema di lorong sekolah di tempat kami sedang duduk sedari tadi.
“Siapa anak itu, kakak mau buat perhitungan.” Amukku lagi.
Dan jawaban Mina setelah itu telah berhasil membuatku
terduduk lunglai. Aku kesulitan bernafas dan loteng-loteng putih di atas
kepalaku seolah-olah berjatuhan menimpaku pagi itu.
Lelaki yang memacari Mina ternyata adalah
Ahmadku