Sunday, 1 January 2017

MINA



Aku telah jatuh hati kepada seorang gadis berusia 15 tahun sejak pertama kali melihatnya di ruangan Ospek.
Setelah masa orientasi sekolah usai, aku dengan terang-terangan menyapanya beberapa kali, sehingga membuatnya, sebagai anak baru, berani bertegur sapa denganku. Walhasih dia kemudian kunobatkan menjadi adik kesayangan di hadapan teman-temanku.

“Ini Mina, kawan-kawan. Jika kalian masih ingat ceritaku tentangnya.” Ujarku suatu siang  saat sedang duduk bersama Mina di kantin sekolah.

“Oh, ini ya orangnya yang membuat Qe* lebih suka nongkrong di kantin tanpa kami?” Ujar Leoni mencibir.

Jealous.” Aku mencoba membuat suasana lebih adem dengan candaan ringan.

Dan hubunganku dengan Mina semakin hari semakin dekat, seperti sepasang kekasih. Sayangnya aku adalah seorang perempuan, begitupun Mina. Dan kami juga sama-sama perempuan tulen, sehingga tidak mungkin bisa ditaklukkan oleh perempuan lainnya, hehe.

Tapi yang namanya “haters” akan selalu ada di muka bumi. Seperti saat itu, kebanyakan temanku mengejek bahwa aku telah membooking Mina untuk menjadi adik iparku. Kebetulan si ganteng Ahmad adik nomor duaku juga bersekolah di SMAN 19 Kota Banda  ini.

Aku tak begitu ingin menimpali ejekan-ejekan kawanku, tapi tetap berhati-hati tentang Mina dan Ahmad. Jangan sampai mereka benar-benar saling kenal dan jatuh hati. Tapi jumlah siswa kelas satu yang banyak dan jawaban Ahmad ketika kuinterogasi tentang Mina membuat rasa khawatirku lenyap. 

“Siapa Mina? Aku gak kenal.” Ujar Ahmad, si jagoan mamaku.

Beberapa bulan berlalu, seorang sahabat datang menghampiri dan bertanya macam-macam tentang Mina. Aku, mau tak mau, harus menaruh curiga akan sikapnya.

“Kenapa Qe, tanya-tanya Mina? Ucapku ketus, seperti seorang kekasih yang sedang cemburu.

Tanpa menjawab apapun, dia menyerahkan sepucuk surat beramplop biru ke tanganku.
Ragu-ragu aku membukanya, aku faham akan maksudnya, bahwa ini adalah sebuah surat penting dan dia ingin aku memeriksanya.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi pias di wajahku ketika menelusuri baris demi baris isi surat itu. Terlebih ketika menyadari bahwa Andre, sahabat karibku dari sejak kelas satu SMP, telah jatuh cinta kepada Mina.

“Tidak, jangan kepada Mina. Jatuh cintalah kepada gadis-gadis lain. Mina begitu polos, begitu anggun, begitu baik. Aku tidak akan rela seorangpun merusak hatinya. Biarkan dia tetap menjadi Mina yang lugu, paling tidak selama setahun ke depan, karena aku masih ada di sini, menjadi body-guardnya.” Jawabku panjang lebar tentang surat Andre yang berisi proposal untuk menjadikan Mina sebagai pacarnya.

Dan aku sangat mengenal Andre, dia tidak akan pernah ingin berdebat denganku. Maka surat beramplop biru itu kemudian menjadi serpihan-serpihan kecil ulah tangannya.

“Tolong buang bentar ya.” Ujar Andre meninggalkanku dalam keadaan gelisah. Khawatir telah membuat hati sahabat baikku itu kecewa. Tapi demi Mina, akan banyak lagi hati-hati lain yang terpaksa  aku kecewakan, kurasa.

Lain lagi dengan Antoni dengan sikap frontalnya langsung berteriak di depan semua pengungjung kantin suatu pagi saat jam istirhat pertama, “Eh, Mela, Mina buat aku ya. Kecuali Qe juga minat sama Mina. ” 

Sontak seisi kantin terbahak mendengar ucapan Antoni, dan aku buru-buru menarik tangan Mina menjauhi adegan nekat itu. Mina harus diselamatkan dari lelaki manapun. Dia sangat baik, aku tak ingin seorangpun merusak hatinya. Tidak selama aku masih ada disini.

Sore Rabu itu, seperti biasa aku mendapati Mina sedang menungguku menyelesaikan les persiapan UN di sekolah, sementara dia baru saja menyelesaikan latihan Pramuka yang telah lama menghilang dari daftar kegiatan anak-anak SMA dan kini hadir kembali semenjak kurikulum 2013 diberlakukan.

“Kita pulang bareng yok. Nanti kita singgah di warung Adun, Kakak sudah lama gak makan mie caluk*.” Ajakku ke Mina.

“Ahmad gak ikut pulang bareng kakak?” Tanya Mina.

“Dia tak akan pernah mau pulang denganku. Malu katanya, anak laki-laki harus berboncengan di belakang motor kakak perempuannya. Dia pasti sudah pulang dengan Bram.” Aku menjawab pertanyaan Mina panjang lebar dan sedikit merasa aneh karena ternyata Mina telah mengenal Ahmad. Mungkin karena mereka satu tim saat latihan pramuka, bisikku menentramkan suasana hati yang tak terima bahwa pada akhirnya Mina dan Ahmad sudah saling kenal.

Di warung Mie Caluk Adun, aku dan Mina mengobrol kesana kemari, tentang cita-citanya, tentang siswa-siswa yang mengganggunya, juga tentang ibunya yang akan segera menikah lagi karena ayahnya tak kunjung pulang. Ibunya sedang mengajukan fasakh* ke pengadilan agama, kata Mina, karena sudah 4 tahun keluarga Mina tidak mendengar kabar tentang ayahnya yang telah memilih untuk menikah lagi.

“Sebenarnya banyak kawan-kawan kak Mela yang suka sama Mina.” Aku mencoba mengalihkan percakapan. “Tapi kak Mela gak mau mereka mengganggu Mina. Kak Mela ingin hati Mina tetap bersih. Minakan berhijab, sudah seharusnya kita menjaga hijab kita dengan memberi contoh yang baik bagi lingkungan kita, seperti tidak pacaran misalnya, atau tidak menyontek saat ujian. Kita jaga hijab, hijab jaga kita. “ Tuturku panjang lebar.

Dan hingga 30 menit ke depan hanya suaraku saja yang terdengar. Mina tampak sedang tak ingin menimpali. Dia khusyu* mendengar ceramahku.

“Ayo kita pulang.” Akupun mengantarkannya sampai di depan gang rumahnya. Aku belum pernah bertemu ibunya. Belum saatnya bisik hatiku.

Malamnya aku mendapat sebaris SMS dari Mina, dia ingin bertemu denganku pagi-pagi sekali sebelum kelas dimulai.

“Kakak, Mina minta maaf.” Ujar gadis berjilbab putih di hadapanku.

“Kenapa Mina minta maaf. Mina mau pindah? Atau Mina belum bayar uang sekolah, perlu bantuan kakak ya?” Aku tak sabar dan langsung menebak-nebak apa kiranya yang membuat muka oval milik adik angkatku menjadi sangat cemas.

“Tidak, Kak. Mina salah sama kakak. Mina tidak amanah.” Ujarnya menambah rasa penasaranku.

“Memangnya kakak ada suruh apa sama Mina, Dek? Kenapa tiba-tiba ngomong gini.” Buruku lagi.
“Mina…” Lalu jeda.

“Kalau setelah ini kakak marah sama Mina, gak apa-apa. Mina terima. Tapi maafin Mina, Kak.” Dia tertunduk semakin dalam dan suaranya semakin samar.

“Mina udah mengkhianati kepercayaan kakak. Mina… pacaran, Kak.” Bisikannya kini terdengar seperti suara halilintar.

“Ya Allah, Mina. Tidak cukupkah ayahmu menjadi contoh bahwa banyak lelaki di dunia yang tidak dapat dipercaya. Mereka semua buaya. Jangan gampang percaya pada mereka. Mereka hanya ingin memanfaatkan Mina.” Teriakanku terdengar menggema di lorong sekolah di tempat kami sedang duduk sedari tadi.

“Siapa anak itu, kakak mau buat perhitungan.” Amukku lagi.

Dan jawaban Mina setelah itu telah berhasil membuatku terduduk lunglai. Aku kesulitan bernafas dan loteng-loteng putih di atas kepalaku seolah-olah berjatuhan menimpaku pagi itu.
Lelaki yang memacari Mina ternyata adalah Ahmadku

RINDU



             Rasanya sudah sewindu perasaan rindu pupus dari hati perempuan itu, setelah orang pertama dan terakhir yang berhasil menghidupkan berbagai macam rasa dalam hatinya pergi, menikahi sahabat karibnya dan memilih memboyong istrinya untuk meninggalkan desa. Alasan menyambung hidup di kota nampaknya kurang tepat, karena di kampung, Ampon Man, termasuk salah satu orang sukses yang mempunyai sebuah kebun rambutan dan beberapa petak sawah yang selalu menghasilkan panen yang melimpah.
            Ampon Man sejatinya adalah sepupu jauhnya. Ketika menginjak usia 40 tahun dan mereka sama-sama belum menemukan jodoh yang tepat, keluarga besar kemudian berusaha untuk menjodohkan mereka. Dan ternyata gayungpun bersambut. Hanya perlu menunggu tiga bulan saja, selepas panen,  mereka akan segera bersanding di pelaminan.
            Sebulan menjelang perayaan, padi-padi hasil panen sebelumnya sudah berupa berkarung-karung beras untuk pesta. Ayam-ayam  dan beberapa bebek tetangga sudah dibooking untuk acara. Rumah kedua calon mempelai sudah dibersihkan dan dicat ulang dengan warna kuning pudar. Saudara - saudara sudah dihubungi semua. Kelapa – kelapa sudah ditumpuk di bawah rumah tinggi model lama, demikian juga dengan kayu bakar yang akan digunakan untuk memasak nantinya.
            Mak Minah tampak selalu tersenyum di setiap waktu mengingat anak pertamanya akan segera menikah. Perempuan tua itu kini tidak perlu pusing lagi mendengar komentar - komentar miring tetangga perihal anak perempuannya yang telah ditinggal kawin oleh adik-adiknya. Kini Ainiah akan segera menemukan imamnya di usia yang ke 40.
            Seandainya Mak Minah tinggal di kota-kota besar, pastinya Mak Minah tidak akan terlalu dipusingkan dengan masalah ini. Putri sulungnya mungkin sudah menjadi seorang wanita karir yang selalu akan membela diri dengan sebuah slogan, “Life begins at forty, Mak.“  Tapi sayang mereka hanyalah orang kampung yang sehari-hari hanya bekerja di sawah milik mereka.
            “Niah, Ainiah, coba cari ayahmu sebentar. Pak Cekmu ada keperluan mendadak dengan ayah.” Terdengar suara Mak Minah memanggil Ainiah yang sedang duduk di kursi rotan di belakang rumah bersama Zainab, sahabat karibnya. Mereka sedang membicarakan model inai yang akan digunakan Ainiah di pesta perkawinannya nanti.
            Niahpun bergegas mencari ayahnya di kebun yang terletak hanya 100 meter dari rumah panggung milik keluarganya.
            Sungguh malang berita yang di dengar Niah sore itu, ternyata Ampon Man telah memutuskan hubungan sepihak, bahwa Niah akan digantikannya dengan perempuan lain dari kampung seberang. Yang paling sakitnya lagi, si Meulu, calon istri Ampon Man adalah sahabat sebangkunya kala SMA.
            Selepas itu Niah tak ingin tahu bagaimana cara ayahnya mengabari kembali kepada sanak saudara bahwa pesta Niah harus dibatalkan. Niah juga tak mau tahu bagaimana mak membatalkan pesanan pelaminan beserta kue-kue pengantin yang bahkan sudah hampir dibayar sepenuhnya.
            Niah melarikan diri dari kenyataan, dia ingin menganggap bahwa semua ini tak pernah terjadi. Tak banyak yang dilakukan Niah setelah itu. Niah menghabiskan kebanyakan waktunya di sungai bahkan di saat Niah tak perlu mencucikan pakaian orangtua dan adik-adiknya.
            Sempat tebersit dalam hati Niah untuk melompat ke dalam sungai dan membiarkan sungai menyeretnya kemanapun agar dia bisa melupakan semua ini dan menghapus rasa malunya. Tapi tentu saja tak akan dia lakukan. Niah masih punya iman, punya rasa sayang akan mak dan ayah, juga adik-adiknya
            Tahun-tahun berselang, Jamilah, adik nomor tujuh sekaligus yang paling bungsu di keluarga Niahpun menikah, sementara Niah masih tetap sendiri melakoni hidup sebagai seorang anak yang baik, seorang kakak yang baik, bahkan sebagai seorang ibu yang baik untuk anak adik-adiknya.
            Hampir semua adik-adiknya tinggal di kampung atau di kecamatan yang sama, sehingga mudah saja bagi Niah untuk mengunjungi mereka satu persatu sabagai ganti mak setelah beliau pergi menghadap-Nya.
            Namun berbeda dengan Jamilah, setelah menikah dia akan segera tinggal di kota bersama suaminya yang orang kantoran. Niah merasa sangat kehilangan. Rumah kayu yang telah diperluas ke belakang kini kosong, hanya tinggal Niah dan ayahnya yang semakin tua.
            Ketika tiba waktu Jamilah melahirkan, Niah diantar ke kota untuk membantu Jamilah mengurusi bayi yang akan segera lahir itu.
            Niah hanya bisa tinggal bersama Jamilah selama dua minggu. Keadaan ayahnya membuat Niah tidak bisa berlama-lama di kota untuk membantu adik bungsunya mengurus bayi mungil tersebut.
            Niah pulang dengan hati cemas bersama selembar foto bayi mungil yang dinamai Khansa. Niah tak ingin meninggalkan Jamilah tapi juga tidak bisa berlama-lama meninggalkan ayahnya sendirian di kampung.
            Selanjutnya Niah hanya mendengar kabar tentang Khansa dari adik-adik yang datang menjenguk ayah. Disaat itulah Niah dapat kembali mendengar suara Jamilah dan suara bayi mungil Khansa yang telah berhasil menghidupkan kembali rasa rindu di hati Niah yang telah lama mati.