Noor Ahmed// Welcome to my world.. This is mine, you're just allowed to visit and comment, not more..
Thursday, 13 February 2014
Sepotong Tulisan
“Seorang Istri adalah replika suami. Sepotong rusuk yang kemudian menjadi bagian dirinya.”
Bukannya aku ingin meragukan fahaman itu. Hanya saja, susah sekali bagiku menemukan buktinya pada diri dan pasanganku. Kami sungguh sangat jauh berbeda. Seperti sepotong bulan yang bercahaya redup dengan si gagah mentari yang selalu bersinar buas.
Istriku manja, aku berwatak keras typical orang timur. Istriku pemalu, aku? Hmm,belum ada satu halpun yang berhasil membuatku merasa gede rasa. Istriku cepat menyerah, tapi aku adalah orang yang sangat optimis, kata orang-orang. Istriku sangat lamban tapi aku suka yang ekspres. Istriku ceriwis namun kata-kataku mahal, istilah istriku.
Istriku suka menghabiskan waktu di rumah sementara aku suka menghabiskan waktu dengan mereka di luar. Istriku suka membaca, aku suka menonton. Dan masih banyak lagi perbedaan-bedaan yang ada pada kami. Rasanya dua-duanya hal yang sama dari kami adalah mempunyai misi menjadikan anak-anak kami hafizd dan hafidzah Al-Qur’an Karim. Satunya lagi, kami sama-sama penggila lagu-lagu lawas dari penyanyi western.
Namun perbedaan itu tidak lantas membuat kami sering berselisih faham. Aku sudah membiasakan diri menerima ‘keistimewaan-keistimewaan’ istriku yang jauh berbeda dariku, karena aku sudah lama tahu bahwa perbedaan itu adalah rahmat. Hingga suatu saat istriku berkata, “Aku ingin jadi penulis.”
Saat itulah aku mulai merasa sedikit terusik.. “Apa yang ingin Kau tulis? Semuanya sudah ditulis orang.” Ujarku padanya.
“Menuliskan sesuatu yang bermanfaat tentunya.” Jawabnya seolah tak menyadari bahwa aku sedang berusaha melarangnya.
“Bermanfaat seperti apa? Kau ingin menuliskan isi Al-Qur’an dan memindahkan hokum-hukum Allah dalam lembaran-lembaran bukumu? Tidakkah engkau sadar, ketika seseorang berusaha menuliskan kembali isi Al-Qur’an, tanpa disadarinya, ia membuat orang meninggalkan Al-Qur’an. Semua orang hari ini mencari jawaban tentang sebuah hukum dari buku atau dari internet, bukan dari sumbernya hukum yang Allah turunkan dari langit. Apa Al-Qur’an itu kurang sempurna, sampai-sampai orang harus cari kitab lain untuk belajar tentang agama.” Aku berkata panjang lebar dengan mode suara tinggi yang sebenarnnya tak kurencanakan.
Istriku terlihat panik mendengar rentetan panjang kalimat-kalimat yang keluar dari mulutku. Tapi dia tidak menyambung lagi. Paling tidak, untuk saat itu. Namun dari percakapan-percakapan kami lain waktu ,dia selalu berusaha menyisipkan kampanye tersirat tentang keinginannya untuk menulis. Dari itu aku menarik kesimpulan bahwa istriku hanya ingin berbagi pengalaman-pengalamannnya sebagai ibu rumah tangga kepada ibu-ibu rumah tangga lain yang tersebar di seluruh penjuru dunia. “Mungkin ada pengalaman kita yang bisa menjadi inspirasi untuk membantu orang lain.” Begitu kira-kira inti dari kampanyenya.
Tapi aku masih tetap TIDAk setuju. Tidak sedikitpun.
Menurutku menulis itu buang-buang waktu dan buang-buang tenaga. Kerjaannya di rumah sudah cukup banyak, kenapa harus menambah lagi dengan kegiatan menulis yang menghabiskan banyak waktu? Itu lagha. Berbuat sia-sia. Lebih bagus dia mengaji beberapa juz perhari atau menghafal bersama anak-anak ketika ada waktu luang dibanding harus membuang-buang waktu di depan laptop. Tak ada pahalanya, menurutku.
Hingga suatu saat, sesuatu terjadi. Sebuah kesalah-fahaman membawaku jauh darinya. Sebuah khilaf yang terjadi, memaksaku pergi dan tak berani kembali. Aku merasa telah membuatnya terluka dengan luka terdalam dan aku yakin dia takkan pernah memaafkanku. Akupun kemudian berusaha menyepi sejenak. Memutuskan untuk tidak menghubungi dan tidak bisa dihubungi hingga aku berhasil mengembalikan keyakinan diri bahwa dia akan memaafkanku.
Ketika perasaanku telah sedikit pulih dan kepercayaan diriku sedikit kembali, aku membuka kembali memori hapeku dan mencoba menekan nomor kontaknya. Namun hingga kali ke sembilan aku mencoba, jawaban yang terdengar dari seberang sana tetap sama, “Nomor yang anda hubungi tidak terdaftar. Silahkan periksa kembali nomor tujuan Anda.”
Agaknya harapanku yang telah sedikit tersambung tertarik putus kembali. Aku kebingungan bagaimana harus menghubunginya. Haruskah aku pulang atau datang ke rumah orang tuanya untuk menjemput? Aku tak berani memutuskan jawabannya. Rasa optimisku kini dikalahkan oleh perasaan bersalah yang terlalu besar.
Yang terpaksa kulakukan kemudian adalah mencoba mengiriminya surel, walau kutahu semenjak tawaran jejaring sosial bertaburan bagai kacang goring, dia hampir tak pernah lagi membuka emailnya.
Sementara untuk mengiriminya pesan dengan akun-akun baru yang sedang mewabah itu, aku tak bisa karena aku tak punya. Aku tak merasa memerlukan akun-akun di sosial media karena masih bisa menghubungi rekan-rekanku melalui telpon. Mempunyai segala macam akun di segala jaringan membuatku merasa seperti A.B.G saja. Oleh itu, aku memilih untuk tak punya.
Setelah mengiriminya surat elektrik, aku kemudian membuka-buka google dan dengan iseng mengetikkan namaku tempat pencariannya – Darda-. Aku tahu yang akan keluar disana pastinya nama seorang perawi hadits bernama Abu Darda dan beberapa orang dari luar Indonesia mungkin, karena nama itu jarang dipakai di negara ini.
Penelusuran googleku terhenti di sebuah link berjudul. ‘Kupanggil dia Darda-ku’.
Akupun membuka link tersebut dan menemukan sebuah puisi dengan judul itu di blog seseorg. Aku membaca puisi itu sampai habis dengan hati yang berdegup. Puisi yang indah yang seolah ditulis untukku.
Kemudian aku membaca postingan-postingan lain di blog itu dan menemukan beberapa puisi lain yang sangat akrab denganku. Bukan karena aku pernah mendengarnya. Bukan.. Tapi karena aku pernah mengalami semua hal yang tertulis dalam puisi itu.
Ah. Mungkin ini hanya kebetulan saja, kata hatiku.
Kemudian aku mebaca lagi sebuah cerita pendek yang latarnya sangat jelas, yang semua kejadiannya berlaku di sebuah tempat yang tak asing bagiku. Ya itu adalah di rumahku.. Setap detail yang dituliskan di dalam cerita itu, seperti warna gorden dan letak vas bunga kesayangan istriku, persis sama dengan letakk semua barang di rumahku.. Oh Tuhan! Ini blog istriku, aku yakin itu. Walaupun dia tak memakai nama aslinya, tapi aku yakin itu dia. Kata-kata yang pernah dia ucapkan kepadaku dan kata-kata yang pernah kuucapkan kepadanya menjadi kutipan favorit dalam ceritanya.
Dan dari tulisan-tulisan tersebut, aku tau bahwa dia telah memafkanku. Dia sedang sangat merinduiku seperti juga aku yang sedang merinduinya lebih dari rindu seekor pungguk kepada sang purnama.
Aku telah siap pulang sekarang. Tulisannya telah memberikanku sebuah jawaban yang sempurna, bahwa aku sedang ditungguinya. Bahwa dia tak pernah benar-benar tahu bagaimana harus membenciku. Dan setelah saat itu, semua persepsiku tentang menulis berubah sudah.
Hari Kasih Sayang
Velentine dan
Marhamah
Well, remaja
muslim yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik, kali ini saya mau ngajakin kaula
remaja yang masih sering berbunga-bunga, untuk intip tentang valentine yang
sering dijadikan ‘modus’ oleh para mereka yang sedang menjatuhkan cinta atau
kejatuhan cinta (yang belum halal)..
Walaupun
sebenarnya kebanyakan dari kita gak setuju-setuju banget dengan perayaan
valentine karena tidak sesuai dengan syari’ah Islam. Namun, demi sebuah modus
agar bisa terlihat care and special, akhirnya sebagian kita
merelakan ‘ilmu’ yang telah kita dapat tentang hal tersebut dan ikut-ikutan
mengirim ratusan lembar kartu ucapan kasih sayang, sekontainer coklat berbentuk
hati atau se-kebun bunga berwarna warni pada hari bertanggal 14 Februari
tersebut. ‘Demi cinta apa yang gak? Ya kan?’
Tapi kalau
kirimannya cuman sebait puisi, percaya sama saya, si doi itu gak modal banget
dan gak sayang sama kamu. Masak sih dia gak berani korbanin ‘beberapa juta
rupiah’ demi kebahagiaanmu..
Ini adalah sebuah komporisasi sesat menyesatkan yang sengaja saya tulis untuk membakar emosi para remaja remaji yang untuk ngasih hadiah aja masih pake modal dari orang tua. Heheheh..
Ini adalah sebuah komporisasi sesat menyesatkan yang sengaja saya tulis untuk membakar emosi para remaja remaji yang untuk ngasih hadiah aja masih pake modal dari orang tua. Heheheh..
Terus selain
buat modus, ada juga yang belum tau sebenarnya valentine day itu apaan sih. Jadi saya berbaik hati ni, ngutip
sejarah valentine dari google dan
hendak bagi tahu remaja muslim semua yang uda siap-siap mau rayain valentine.
*Sejarah
Valentine Days.
Menurut data dari Ensiklopedi
Katolik, nama Valentinus diduga bisa merujuk pada tiga santo (orang suci)
yang berbeda.
Hubungan antara ketiga santo ini dengan
hari raya kasih sayang (valentine) tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada
tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai orang
yang dianggap suci ini. Namun tanggal 14 Februari tetap ditetapkan sebagai
hari raya peringatan untuk Santo Valentinus.
Sisa-sisa kerangka yang digali dari
makam Santo Hyppolytus, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus.
Kemudian ditaruh dalam sebuah peti dari emas dan dikirim ke gereja Whitefriar
Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada
mereka oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1836. Banyak wisatawan sekarang yang
berziarah ke gereja ini pada hari Valentine (14 Februari), di mana peti dari
emas diarak dalam sebuah prosesi dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari
itu dilakukan sebuah misa yang khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para
muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta. (Hayooo!!)
Hari raya ini sekarang terutama diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk "valentines". Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap. Mulai abad ke-19, tradisi penulisan notisi pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu miliar kartu valentine dikirimkan per tahun. Hal ini membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. (Bisnis ternyata, eaa?)
Di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan. (Waah, kita jadi korban modus pengusaha pabrik hadiah rupanya.)
Sebagai tambahan informasi, hari valentine juga Asosiasi pertengahan bulan Februari dengan cinta dan kesuburan sudah ada sejak dahulukala. Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.
Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur mereka akan lari-lari di jejalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah. (Itu ngutip dari wikipedi yaaa).
Naaaaaaaaaaaaaaaah, uda pada taukan dari mana itu asal mula kejadian hari kasih sayang yang ingin kita rayakan agar bisa dengan gampang mengekpresikan cinta anak monyet kita, atau juga yang hanya ikut-ikutan agar tidak dibilang ketinggalan zaman.
Terus, setelah tau ini, kira-kira masih kebelet pengen rayain valentine dengan modal bakal ‘hadiah’ dari uang kiriman orang tua??? ;)
Mungkin sebagian dari kita ada yang menjawab, ‘Kami gak mau lagi, Miss. Gak mau ikutan yang gak-gak. Takut.. karena uda teringat hadis : Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.’
“Tapi,tapi, gimana juga kami melampiaskan perasaan kasih sayang kami kalau tidak ada sebuah hari special?”, kemungkinan akan menjadi sebuah pertanyaan baru.
“Kami perlu sebuah hari yang beda dengan hari-hari biasa yang bisa kami jadiin modus untuk kami ucap-ucap selamat gitu.Heheh”
Okay-lah kalau itu masalahnya, kitakan gak mesti ikut-ikut budaya kafir. Dalam Islam kita juga punya hari special kok. Hari kasih sayang yang bukan hanya milik sepasang remaja remaji yang sedang kasmaran, hari yang bukan cuman milik sepasang kekasih, tapi milik seluruh ummat.
Dan taukah kamu kapan hari itu???
Hari itu adalah hari dimana Rasulullah kembali ke Makkah setelah sekian lama terusir dari tanah kelahirannya, dijauhi dan diperangi oleh kafir Quraisy yang sebahagiannya masih ada hubungan kerabat dengan beliau.
Hari itu adalah hari yang jatuh pada tanggal 20 Ramadhan (ada juga yang berpendapat tanggal 10) tahun ke 8 hijriyah ketika pasukan Rasulullah berhasil menaklukkan kota Makkah.
Hari itu adalah hari yang sering kita dengar dengan sebutan ‘Fathu Makkah’.
Hari itu adalah hari dimana Rasulullah mengumumkan: “Siapa yang masuk masjid maka dia aman, siapa yang masuk rumah Abu Sufyan maka dia aman, siapa yang masuk rumahnya dan menutup pintunya maka dia aman.”
Hari itu adalah hari dimana, seorang Abu Sufyan, pemua kafir Quraiys, yang sudah sangat lama menentang islam dengan terang-terangan diangkat derajatnya karena mengakui keislamannya.
Hari itu adalah hari dimana Rasulullah memaafkan semua orang yang telah menyakitinya dan melukai mental dan fisik seluruh pengikut beliau hingga mereka harus pindah ke Madinah selama 8 tahun.
Hari itu, tak dinamai Yaumul Fath atau hari kemenangan. Karena pointnya bukan tentang kemenangan kekuatan manusia atas manusia lain, melainkan kemenangan atas diri sendiri. Kemenangan atas nafsu sendiri. Kemenangan atas Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Kemenangan atas semesta.
Hari itu dalah hari dimana Rasulullah berpidato kepada ribuan tawanan memberikan amnesti massal. Pidato itu membuat para pengikut beliau patah semangat di awalnya. Berjuang hidup mati, dihinakan, dilecehkan, tapi ketika kemenangan berada di genggaman, musuh malah dibebaskan. Bahkan, Rasulullah memerintahkan agar rampasan perang dibagikan kepada para tawanan, sementara pasukan Islam tidak memperoleh apa-apa.
Hari itu adalah hari ketika seuntai kata indah kembali keluar dari mulut Rasulullah yang mulia, setelah sekian lama terusir dan diperangi:
“Wahai manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari kasih sayang (Yaumul Marhamah), dan kalian semua merdeka kembali ke keluarga kalian masing-masing..”
Peristiwa Fathu Makkah itu diabadikan oleh Allah di surat Al Fath ayat 1 : (“Sesungguhnya kami memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.”), sebuah proklamasi kemenangan yang sempurna. Proklamasi itu dipaparkan dengan pemaafan atas dosa-dosa para pejuang murni, dosa yang lalu maupun yang masa kini, dengan penyempurnaan nikmat, serta dengan pertolongan besar atas masalah mereka.
Dan hari yang luar biasa itu,kini telah dilupakan begitu saja, digantikan oleh sebuah hari yang berasal usul tak jelas. Padahal melalui sejarah hari itu, Rasulullah telah mengajarkan kita, ummatnya, makna cinta yaang sebenarnya.
Cinta yang bukan hanya sekadar kata, yang bukan hanya sekadar mengirimi sebatang coklat dan sekuntum bunga. Ini adalah sebuah cinta yang perfect, Kawan!! Cinta seorang yang telah disakiti dengan sangat lama kemudian dia datang untuk memaafkan dan menyebarkan kasih sayang ke seluruh alam.
Bukankah kehadirannya merupakan rahmatan lil’aalamin? Tentu saja, segala yang ada padanya membuatnya pantas menerima gelar mulia itu, dialah Rasullulah Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam.
Dan karena kemuliaan akhlaknya, Yaumul Marhamah (hari Kasih Sayang) ada dan menjadi hadiah untuk seluruh ummat manusia. (Noor)
Subscribe to:
Comments (Atom)