Sunday, 12 September 2021

UANG UNTUK BAHAGIA

            Haruskah kebahagiaan selalu diukur dengan uang? Tentu saja tidak. Ada banyak perkara yang bisa menjadi asbab untuk menggapai bahagia.

Tetapi sayang, hidup ini tidak gratis. Kau harus bergegas bahkan berlari mengejar uang untuk melengkapi kebahagiaan hidup. Karena keluargamu perlu makan, istrimu perlu sandang dan sedikit perhiasan untuk membuatmu betah, dan anak-anakmu perlu sekolah. Apa kau pikir semua itu gratis?

“Seandainya kau mau sedikit berusaha,” bujuk Perempuannya.

“Lihatlah, Sayang, kita punya rumah, punya kendaraan. Bukankah itu semua usahaku dari jalan yang halal?”

Tanpa jeda perempuan kembali mengingatkan, “Kau terlalu tenggelam dalam masa lalu. Kita punya rumah, tapi ingatlah, anakmu sudah besar-besar,dan mereka harus terus bersekolah.”

“Aku sudah mencoba, tapi kau tau, bisnisku sedang tidak mungkin dijalankan.” Lelakinya berusaha menjelaskan hal yang sama berulang-ulang. Hampir di setiap diskusi yang mereka lakukan.

“Tapi kau bisa berusaha mencari kerja lain, asal halal.” Tambah Sang perempuan.

Inongku sayang, aku tak mungkin menarik becak atau menguli bangunan. Kau tau alasannya kenapa? Karena aku terlanjur mempersunting seorang putri, dan aku tak ingin dia mempunyai seorang suami yang menguli.”

Dia sejenak terdiam. Tapi seorang perempuan tak akan merasa puas sebelum seluruh uneg-unegnya dikeluarkan. “Baiklah, aku memang tak suka kau memburuh, tapi kau lulusan kuliahan, kenapa tidak mencoba melamar di perusahaaan-perusahaan.”

“Aku sedang menyusun rencana, Sayang. Bersabarlah.” Dan jawaban itu tidak tampak sebagai sebuah solusi bagi perempuan.

“Aku telah bersabar, bukan dalam hitungan bulan. Ini sudah menahun, dan anak-anakmu semakin banyak keperluan.”

“Diamlah wahai Perempuan, aku tidak ingin bertengkar. Aku mencintaimu. Tidakkah itu cukup untuk membuatmu menunggu.”

Hanya itu keahliannya, menutup sebuah diskusi dengan rayuan,” Tapi cinta tidak bisa memberi anak-anakmu makan.” Dengusnya dan melangkah ke dalam dengan kesal.

Ini sudah berulang berkali-kali. Hampir menjadi rutinitas sebulan sekali mereka pasti berdiskusi tentang keperluan-keperluan. Diskusi itu, sayangnya, selalu berakhir dengan kekesalan si Perempuan.

Dia telah berusaha bersabar, namun sesekali goyah juga ketika anak-anaknya minta dibelikan ini itu untuk keperluan sekolah.

“Seragam sekolah harus empat, Mak. Putih dan coklat pramuka, baju olah raga dan batik.” Ujar si Bungsu.

“Buku paketnya harus dibeli, Mak.” Tambahnya.

“Abang dapat tugas membuat lukisan, Mak. Harus dibingkai.” Kata si Sulung.

“Kakak, harus beli recorder, Mak.” Yang tengah menambahkan.

“Ibu guru juga sedang mengusulkan pembelajaran yang berbasis IT. Dan nanti siswa-siswi harus membawa laptop masing-masing.” Si sulung menutup daftar panjang keperluan sekolah untuk malam itu.

Endingnya seperti biasa, selalu saja, perempuan itu mengangguk. Iya, nanti Mak bicarakan dengan ayahmu.

Jika saja dia yang lelaki dan diberikan tanggung jawab itu, mungkin dia akan berusaha apapun untuk keluarganya, untuk anak-anaknya. Tapi dia hanya seorang perempuan, yang bahkan usahanya untuk membantu suaminya dulu, sudah dihentikan dengan alasan agar anak-anaknya tumbuh dibawah pengasuhan yang baik dari seorang baby sitter bernama ‘Ibu’.

Seandainya aku tak mendengarkannya dan terus bekerja, pasti tidak akan sesulit ini.

Seandainya dia mengizinkan untuk ikut program pemerintah untuk beranak dua, pasti aku tidak sepenuntut ini. Desah perempuan dalam hati.

Seandainya, dia tidak terlalu idealis. Mungkin usahanya takkan sesulit ini. Tapi aku juga tak ingin anak-anakku mengkonsumsi rezeki yang tidak jelas dari mana sumbernya. Itu sudah merupakan perjanjian awal.

Mungkin benar dia sedang berusaha, tapi usaha apa. Seorang kerabat bertanya, apa yang dilakukan suaminya hanya dengan duduk di warung kopi.

“Mungkin dia sedang menganalisa bisnis tentang warung kopi,” jawabnya agar tidak kelihatan tertekan.

“Aku heran melihat suamimu termangu di teras masjid pasar dari pagi sampai sore, tidakkah dia melakukan sesuatu?”

“Mungkin dia sedang memperhatikan peluang yang ada di pasar.” Kilah perempuan membela.

Dia kelihatan tegar bukan? Tapi wajibkah dia terus bersabar. Ini bukan hitungan bulan seperti yang tertulis di buku nikah. Ini hitungan tahun, dan tak tentu berapa bulan sekali dia membawa pulang sesuatu. Semua perhiasaan perempuan sudah digadaikan. Ia berjanji akan menebusnya suatu waktu. Namun janji tinggal janji, sebagian besar terpaksa ditukar dengan sejumlah uang.

“Mak, besok adek harus bawa cat krayon yang banyak warnanya.” Kata si Bungsu

“Tapi krayonmu kan masih ada, Sayang. Baru sebulan lalu Mak belikan.”

“Bukan yang seperti itu Mak. Macam anak TK. Adek sudah SD. Harus beli yang merk ini.”

“Iya, nanti Mak carikan.”

“Abang harus kumpul uang perpisahan dan wisuda, Mak, juga membeli hadiah untuk beberapa orang guru, sebentar lagi Abang ujian akhir.” Ujar si Sulung

“Iya, Mak, Kakak juga panitia perpisahan di sekolah. Kakak harus jahit baju panitia dan mengumpulkan uang untuk acara itu.” Tambah si Tengah.

Dan kesabarannya tiba-tiba menguap.

“Mak lelah sayang. Kenapa harus melapor semua kepada Mak, tidakkah kalian punya ayah? Lapor ayahmu. Agar dia tahu anak-anaknya membutuhkan uang. Agar dia mau berusaha lebih keras. Agar dia tidak hanya duduk-duduk di warung mengutang segelas kopi dan sebungkus rokok disana sini. Bilang sama ayahmu.”

Anak-anaknya terdiam.

“Lihatlah, sampai malam begini dia belum pulang. Sampai di rumah dia bisa makan dan beristirahat dengan tenang. Pernahkah kalian mengadu kepadanya bahwa ada seratus satu keperluan di sekolah-sekolah itu.” Perempuan itu naik pitam.

“Mak letih, tanyakan ayahmu, dimana fungsinya sebagai kepala keluarga?” 

Kemudian senyap, perempuan bergegas menuju kamarnya dan menutup pintu. Anak-anaknya hanya bisa saling menatap dan kecewa.

Sementara di luar, di tengah rintik-rintik hujan, suara pintu pagar diseret.

 

Dengan sedikit pias, perempuan mengintip lewat gorden kamarnya, untung saja dia baru pulang.

Namun, sesosok bayang itu, bukan sedang melangkah ke dalam pekarangan. Lelaki itu sedang menapaki lorong di depan rumah di tengah gerimis dan menjauh.

Lalu perempuan itu tergopoh memeluk anak-anaknya yang tak tahu apa-apa. “Dia telah pergi, dia telah pergi. Maafkan Mak yang terlalu emosi.”

Ini purnama yang ke empat, perempuan itu duduk sendiri di atas bangku panjang di teras rumahnya melihat ke arah rembulan yang biasa mereka tatap bersama. Jika saja aku sedikit bersabar, bisik hatinya.

Sunday, 7 April 2019

Ketika Aku Jatuh Cinta

KETIKA AKU JATUH CINTA

Masalah-masalah yang menimpaku gara-gara org lain jatuh cinta, membuatku sedikit ketakutan dan berharap agar Allah menjauhkanku dari ‘bencana’ itu sebelum waktunya tiba..
 
Pasalnya, dari beberapa cerita yang kulihat sewaktu SMA, tidak ada satupun kisah yang luput dari cerita sakit hati disebabkan oleh perasaan konyol tersebut.. Walaupun akhirnya ada beberapa pasang siswa/i yang mengakhir icerita mereka ke jenjang pernikahan. Tapi perjalanan hubungan yang mereka bangun sebelum saatnya itu, telah menjebak  mereka dalam derita yang dalam karena merasa bersalah, telah melanggar aturan2 skolah, diasingkan oleh lingkungan, bahkan dipandang sinis karena dianggap terlalu cepat (maaf) mengumbar napsu, di usia yang pada saat itu masih dianggap ingusan peralihan usia anak2 ke masa remaja.. (Tapi tak perlulah dibandingkan dengan zaman edan ini, yang anak2 di usia sekolah dasar saja sudah mempunya teman special  -sungguh sebuah keterpurukan moral yang seharusnya kita menyibukkan diri utk memperbaikinya, bukan malah kita sendiri yang menambah list pelaku degaradasi moral tersebut- :(
 
Namun manusia hanya bisa berencana, semua ketentuan adalah milikNYa. Memasuki pertengahan kelas II MA, aku mulai terusik oleh sesosok kawan yang sebenarnya adalah manusia biasa.Tak banyak yang special darinya.. Banyak kawan2 yang lain yang lebih berprestasi dan lebih hebat utk disukai.. tapi perasaan itu tak bisa ditebak akan menjatuhkan pilihan kpd siapa.. Mungkin krn kebersamaan yang sudah puluhan bulan dikarantina di penjara yang sama, rasa itu pun mulai  berani utk bersuara..
 
Bukankah pepatah2 yang berserakan selalu setuju bahwa kemgkinan besar seseorg akan jatuh hati dengan org yg dekat dengannya..
 
Untuk membenarkan pepatah2 itu, akupun mulai membuka2 kembali koleksi memoriku akan asbab yg membuatku menyenangi kawanku yang bahkan dianggap tidak baik oleh kwn2ku yang lain. Stempel sombong telah terlanjur ditempelkan di sosoknya yang dingin dan jarang berinteraksi dengan kawan2nya terutama yang perempuan..
 
Kilasan2 memori itupun hadir. Ketika aku masih duduk di kls I, seorang kawan sekamarku bernama Oli, selalu bercerita tentang  si dingin yang pada saat itu menjabat sebagai ketua Bidang Keamanan, yang kami lebih sering menyebutnya dgn Qismul Amni. Kebetulan Oli juga anggota di qismul yang sama dgn kawan yang dari tadi blm jua kusebut2 namanya. Entah krn tak enak perasaan, atau krn perasan ingin menyembunyikan saja nama tersangka utama, agar tidak menjadai fintah dikemudian hari,, Entahlah..
 
Ingin juga rasanya menyebut namanya dgn JUNA saja, agar sama dgn Ketua Bidang Keamanan kita yang sekarang J.. Tapi perasaanku malah tambah tidak enak saja.. Mungkin enaknya kita kasihkan saja nama Al-Walad untuknya, agar mudah kita ingat. Karena Walad mempunyai arti ‘anak laki2 itu’.. Setujukan???
 
Ingatan2ku tentang cerita Oli yang selalu berhasil mengobrol dgn ketua bidangnya yang dingin, selalu berhasil membuatku terkesan, karena tak banyak santriwati di Nyawong School yang berani menyapa anak laki2 yang tak banyak omong itu.. Ketika ada satu dua orang yang seperti Oli, aku menganggapnya sukses karena selalu bisa membawa plg conversation2 bersama Walad,
 
Lintasan ingatan yang lain, ketika aku terpaksa masuk Mahkamah Qismul Amni pada pertengahan semester I mengukir sebuah sejarah tersendiri dalam kehidupan masa sekolahku..
 
Kenapa aku menyebut kata ‘terpaksa’ utk memasuki mahkamah yang diketuai oleh Walad?? Tidak lain adalah karena, sebenarnya aku tidak terlalu banyak bersalah ketika suatu subuh tidak seorangpun dari penghuni blok putri yang hadir di mushalla untuk shalat berjama’ah, kecuali 5 orang santriwati termasuk aku dan seorang Ustadzah kami yang sering kami panggil Al-Mahbubah (yang tercinta).
 
Ketidakhadiran sebagian besar teman-temanku, kemudian harus kutanggung dengan hukuman dikirim ke Mahkamah Qismul Amni, kerena aku adalah salah seorang dari dua orang anggota Qismul ‘Ubudiyyah yang bertugas di blok putri yang sedang giliran berpiket hari itu.. Sebuah hukuman yang pantas kuterima karena tidak berhasil membangunkan teman2ku untuk shalat berjamaah subuh itu..
 
Namun di balik semua musibah selalu ada hikmah. Tiba2 saja aku menjadi sangat setuju dengan jargon itu.. Karena Mahkamah itu tidak seburuk yang kubayangkan.. Ketika aku ketakutan membayangkan akan dibentak2 ketua qismul amni,si cuek Walad, yang terjaadi malah sebaliknya.. Baru hari itu aku tau bahwa Al-Walad tidak seburuk dugaanku selama ini.. Dia ternyata adalah orang yang sangat ramah di dalam mahkamahnya walaupun di luar sana dia tak pernah bertegur sapa dgn siswi2 di MA Nyawong school.
 
“It’s okay. I don’t eat people. I am not a Canibal.” Selorohnya ketika melihatku tampak gugup menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikannya.
 
Mulai hari itu penilaianku tehadap Waladpun berubah.
 
*
 
Ketika aku duduk di bangku kelas II, tugasku sebagai anggota Qismul ‘Ubudiyyah berganti menjadi Sekretaris Umum di OPDA (Organisasi Pelajar Dayah). Sebuah karir yang lumayan baguslah untukku saat itu. Dan kabar baiknya lagi, salah satu anggota formatur kami yang berjumlah 7 org tsb, adalah Al-Walad. Dia menduduki posisi sebagai Ketua I dlm formatur kami.
 
Pada awal-awal masa tugas kami, aku masih mendapati Walad kurang berkata-kata dgn kami anggota formatur yang perempuan yang berjumlah 4 org. namau semakin lama tugas itu kami jalankan bersama, keakraban antara ke 7 anggota formatur semakin terlihat..
 
Walaupun demikian perasaanku belum lagi sempat jatuh kpdnya. Ada seorang kawan lagi, sebut saja Ayu, yang menjabat sebagai Bendahara Umum di formatur kami, yang kemudian dijodoh2kan dgn Walad oleh kawan2ku.. Kata kawan2ku mereka cocok karena sama2 cuek.. Orang cuek memang tampak lebih dewasa krn ke-cool-an mereka. Sementara aku ini apalah, hanya seorang gadis biasa yang cerewet dan tidak berprestasi.. berbahasa Inggris saja tidak bisa, apalagi keahlian2 unggulan lainnya seperti berpidato dalam 3 bahasa, menghafal beberapa juz dr Al-Quran,dll.
 
Namun keistimewaan Walad yang kutemui selama waktu2 dlm organisasi itu, menghadirkan sebersit rasa kagum kpd pribadi yang tak banyak omong itu. Mungkin perasaan seperti itu bolehlah kita beri nama cinlog (CInta daLam OrGanisasi). *maksa ^^.
 
Ketika perasaan itu datang dengan sangat lambaaat dan merayap-rayap di alam bawah sadarku.. Aku jadi mulai memerhatikan kelebihan saudara seformaturku tersebut.. Aku sangat senang ketika mendengar Walad terpilihsebagai salah satu utusan dari sekolah kami yang akan megikuti dakwah Safari Ramadhan keliling Aceh bersama beberapa kawan2ku yang hebat lainnya, seperti Trisna yang bertugas sebagai Hafidh 10 juz; Didi sebagai Qari karena suaranya yang sangat indah ; Yumna sebagai penceramah berbahasa Arab-Indonesia, Tria sebagai penceramah berbahasa Inggris-Indonesia utk kalangan utri, dan Ocha sebagai penceramah berbahasa arab-Indonesia utk kalangan putri. Dan tugas Walad sangat sesuai dgn keahliannya yaitu penceramah berbahasa Inggris-Indonesia. Padahal hal tersebut tak ada hubungan apa-apa denganku.
 
Akibat dari ‘kejahatan’ sebuah rasa yang datang di saat yang tak tepat ini, aku mulai merasakan ketidaknyamanan dlm hatiku.. Kenapa aku juga hrs merasakan ‘kutukan manis’ ini sebelum waktunya cocok. Apakah semua orang harus merasakan perasaan yang tak pantas ini ketika usia mereka memasuki bilangan angka 15 ke atas.. Apakah semua orang seperti itu?? Tapi kulihat Tria tidak, Amel juga tidak pernah terlihat menyukai siapapun. Tapi kenapa aku harus.. Aku kebingungan dgn apa yang harus kulakukan saat itu.. Karena persaan yang kurasakan adalah sebuah perasaan terlarang seperti yang selalu dinasehatkan oleh ustadz2ku, agar kami tidak menjalin hubungan special dgn kawan letting sendiri. Karena kepolosanku mencerna maksud yg terkandung dlm nasehat trsbt, kekonyolan demi kekonyolanpun mulai terjadi..
 
Aku mulai berpikir, mungkin aku harus menyukai seseorang yang lain, utk membuatku tidak perlu lagi mengagumi Walad. Kemudian sebuah ide muncul dlm hatiku yang sedang risau, mungkin lebih aman jika aku menyukai ustadz saja, kan kalau suka sama ustadz tidak berbahaya. Paling ustadz tak akan menaruh peduli mau disukai atau tidak oleh siswi2nya yang berumur setengah dari umurnya.
 
Setelah beberapa bulan misi mengalihkan kekagumanku dari Walad yang mempunyai kelebihan 30 kepada ustadzku yang mempunyai kelebihan 100, tentu saja hal itu tidak masuk akal sedikitpun. Karena ustadz2ku memang sudah kukagumi dari pertama kali kami mendengar mereka berbicara di hari pertama kami di ospek dengan nasehat2 mereka yang di tinggi jauh di luar jangkauan  akalku sebelumnya.
 
Setelah misi pertamaku gagal, pilihan kedua adalah adek letting kls I. geli rasanya ketika aku mengingat kejadian itu. Kenapa harus memilih santri kls I yang biasa2 padahal di kls II masih banyak santri2 yang luar biasa. Namanya juga galau, apapun caranya akan kutempuh demi misi melupakan kawan seletingku yang makin lama makin menampakkan ke-exist-annya di MA Nyawong School.
 
Namun misi nekat ini ternyata membawa ujung yang jelek untukku pada saat itu. Ternyata adik lettingku tersebut tenang dan senang saja diejek2 dengan kakak letting. Mungkin malah menjadi sebuah pencapaian tersendiri ketika dia disukai kakka lettignya, mungkin.
 
Kemudian2 adek2ku yang lain mulai protes dengan situasi tersebut.. Akupun merasa tidak nyaman dan memutuskan untuk mengobrol dgn seorg kawan yang sangat kupercaya pada saat itu. Amel namanya.
 
Aku bercerita kpdnya ttg seseorg di kls II yang berhasil membuatku senang. Dan rasa penasarannya membuatnya berhasil mendapatkan kunci jawaban tentang nama misterius yg kusembunyikan darinya sejak awal pembicaraan kami. Sebuah trik yang sangat cerdik yang dipakainya telai berhasil membongkar rahasia akan sebuah nama yang sedang membuatku galau.
 
Rasa khawatir sempat hinggap dalam perasaanku ketika menyadari adalah salah ketika kita menyebut nama seorang laki-laki yang kita sukai di hadapan seorang saja. Hal itu bisa sangat berbahaya, karena angin mendengarnya juga. Rumput-rumput di taman juga ikut mendengar. Daun2 pohon roda yang berjeratuhan juga pasti telah mengupingi pembicaraan kami. bahkan dinding2 Mahkamah Qismul Lughah yang berada tepat di belakang kami juga bisa menjadi penyebab tersebarnya rahasia hatiku kpd seluruh penduduk asrama.
 
Tapi Allah masih menyayangiku.. Aku berbicara kpd org yang tepat.. Allah telah mengirimiku seorang yang berhati jujur dan bersifat sangat amanah sekali akan janjinya.. Aku berani menjamin bahwa kawan seperti itu sangat terbatas sekali di zamanku, apalagi di zamanmu (kau tak perlu marah, karena aku berbicara fakta).
 
Kata-kata yang keluar dari mulutnya kemudian mengingatkanku lg akan sebuah nasehat Al-Mukarram, ustadz kami yang mulia..
 
Semenjak hari pertama kita datang, kita di sini semuanya saudara…
 
Yang namanya saudara itu, selalu berusaha untuk tidak menyakiti hati sdrnya yang lain.
Saudara itu akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untk saudaranya. Saudara itu akan rela berkorban demi mepertahankan silaturrahmi yang sedang dibangunnya.
 
“Laa yu’minu ahadakumhatta yubibbu liakhihi  mayuhibbu linafsih”
Tidak sempurna iman seorang hamba hingga ia mencintai untuk saudaranya seperti ia mencintai untuk dirinya sendiri.
 
Orang beriman itu tidak akan redha melihat saudaranya sakit hati karena ulahnya.
Seorang saudara itu tidak akan pernah mengkhianati perasaan saudaranya dengan cara apapun.
 
Saudara kalian disini 50 orang. Tidak ada saudara yang lebih baik dari saudara yang lain. Semuanya sama.
 
Karena jumlah yang tidak imbang antara santriwan dan santrwati, kami (ustadz) melarang kalian untuk tidak berpacaran sesama kawan sendiri.
 
Jangan lukai hati saudara kalian dengan sakit hati karena orang yang disukainya ternyata telah dijadikan hak milik utk satu orang saja dengan hanya sebuah status ‘jadian’.
 
Janganlah rasa egois kalian memmbuat kalian melupakan bahwa persaudaraan itu di bangun atas pondasi pengorbanan. Dan pengorbanan yang harus kalian lakukan hanyalah dengan MENJAGA PERASAAN SAUDARAMU.
 
Kita bukanlah malaikat yang bersih dari napsu. Tapi kita disini sama2 menjaga diri demi sebuah hubungan mulia bernama SILATURRAHIM.
 
Jangan kecewakan kawanmu dengan merebut orang yang disukainya.. Ikhlaskanlah perasaanmu agar keadilan bisa kita tegakkan. Ketika seorangpun tidak pacaran, kita sama2 belajar bersabar, belajar menahan diri, agar tidak ada hati yang kecewa..
 
Seluruh ingatanku kembali dipenuhi oleh nasehat2 mulia rsebut.. dan ketika Amel beranjak kembali ke kamarnya sebuah bayangan yang lain hadir…
 
Ingatanku melayang ke pada sebuah kejadian yang terjadi di suatu malam di asrama depan blok putri.. ketika aku tak sengaja melewati kamar II sepulangku dari belajar di markaz al- Mukarram, aku mendengar suara Amel sedang sangat emosi ketika ia mengucapkan kalimat-kalimat yang terdengar bergetar2 keluar dari mulutnya..
 
“Siapa sih cowok itu? Hebat kali dia ya, hingga ia berhasil merusak hubungan silaturrahmi kedua saudaraku ini hanya gara2 menyukai dia… Sehebat apa dia hingga membuat kalian berdiam diri tidak saling bertegur sapa selama sebulan ini,,, Tidak ada seorang laki2pun di dunia ini yang berhak menghancurkan hubungan persaudaraan kita.. Tidak seorangpun,,,”
 
Lalu aku mendengar suara Amel terisak2 tak lagi mampu menyambung nasehat2nya kpd kedua org kwnnya sesama anggota kamar II, yang aku juga tau siapa mereka dan kpd siapa mrk telah jatuh cinta…
 
Semua kilasan bayang2an itu kini menjawab kegalau2n yang telah kusimpan selama bbrp bulan terakhir..
 
1000 orang Walad tak akan pernah mampu merusak hubungan yang telah kubangun dgn susah payah dgn saudari2ku.. Apalagi hanya seorang Walad saja.. Dia tak ada artinya dibandingkan anugrah silaturrahmi yang harus kujaga ini. Aku berjanji tidak akan pernah berkhianat terhadap perasaan2 sdr2iku yang mungkin juga telah menyimpan rasa kpd seorg yang sama dgnku walaupun mereka tdk pernah menampakkannya.. dalamnya lautan bisa terdeteksi, tapi dalamnya hati siapa yang tau…….

Sunday, 1 January 2017

MINA



Aku telah jatuh hati kepada seorang gadis berusia 15 tahun sejak pertama kali melihatnya di ruangan Ospek.
Setelah masa orientasi sekolah usai, aku dengan terang-terangan menyapanya beberapa kali, sehingga membuatnya, sebagai anak baru, berani bertegur sapa denganku. Walhasih dia kemudian kunobatkan menjadi adik kesayangan di hadapan teman-temanku.

“Ini Mina, kawan-kawan. Jika kalian masih ingat ceritaku tentangnya.” Ujarku suatu siang  saat sedang duduk bersama Mina di kantin sekolah.

“Oh, ini ya orangnya yang membuat Qe* lebih suka nongkrong di kantin tanpa kami?” Ujar Leoni mencibir.

Jealous.” Aku mencoba membuat suasana lebih adem dengan candaan ringan.

Dan hubunganku dengan Mina semakin hari semakin dekat, seperti sepasang kekasih. Sayangnya aku adalah seorang perempuan, begitupun Mina. Dan kami juga sama-sama perempuan tulen, sehingga tidak mungkin bisa ditaklukkan oleh perempuan lainnya, hehe.

Tapi yang namanya “haters” akan selalu ada di muka bumi. Seperti saat itu, kebanyakan temanku mengejek bahwa aku telah membooking Mina untuk menjadi adik iparku. Kebetulan si ganteng Ahmad adik nomor duaku juga bersekolah di SMAN 19 Kota Banda  ini.

Aku tak begitu ingin menimpali ejekan-ejekan kawanku, tapi tetap berhati-hati tentang Mina dan Ahmad. Jangan sampai mereka benar-benar saling kenal dan jatuh hati. Tapi jumlah siswa kelas satu yang banyak dan jawaban Ahmad ketika kuinterogasi tentang Mina membuat rasa khawatirku lenyap. 

“Siapa Mina? Aku gak kenal.” Ujar Ahmad, si jagoan mamaku.

Beberapa bulan berlalu, seorang sahabat datang menghampiri dan bertanya macam-macam tentang Mina. Aku, mau tak mau, harus menaruh curiga akan sikapnya.

“Kenapa Qe, tanya-tanya Mina? Ucapku ketus, seperti seorang kekasih yang sedang cemburu.

Tanpa menjawab apapun, dia menyerahkan sepucuk surat beramplop biru ke tanganku.
Ragu-ragu aku membukanya, aku faham akan maksudnya, bahwa ini adalah sebuah surat penting dan dia ingin aku memeriksanya.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi pias di wajahku ketika menelusuri baris demi baris isi surat itu. Terlebih ketika menyadari bahwa Andre, sahabat karibku dari sejak kelas satu SMP, telah jatuh cinta kepada Mina.

“Tidak, jangan kepada Mina. Jatuh cintalah kepada gadis-gadis lain. Mina begitu polos, begitu anggun, begitu baik. Aku tidak akan rela seorangpun merusak hatinya. Biarkan dia tetap menjadi Mina yang lugu, paling tidak selama setahun ke depan, karena aku masih ada di sini, menjadi body-guardnya.” Jawabku panjang lebar tentang surat Andre yang berisi proposal untuk menjadikan Mina sebagai pacarnya.

Dan aku sangat mengenal Andre, dia tidak akan pernah ingin berdebat denganku. Maka surat beramplop biru itu kemudian menjadi serpihan-serpihan kecil ulah tangannya.

“Tolong buang bentar ya.” Ujar Andre meninggalkanku dalam keadaan gelisah. Khawatir telah membuat hati sahabat baikku itu kecewa. Tapi demi Mina, akan banyak lagi hati-hati lain yang terpaksa  aku kecewakan, kurasa.

Lain lagi dengan Antoni dengan sikap frontalnya langsung berteriak di depan semua pengungjung kantin suatu pagi saat jam istirhat pertama, “Eh, Mela, Mina buat aku ya. Kecuali Qe juga minat sama Mina. ” 

Sontak seisi kantin terbahak mendengar ucapan Antoni, dan aku buru-buru menarik tangan Mina menjauhi adegan nekat itu. Mina harus diselamatkan dari lelaki manapun. Dia sangat baik, aku tak ingin seorangpun merusak hatinya. Tidak selama aku masih ada disini.

Sore Rabu itu, seperti biasa aku mendapati Mina sedang menungguku menyelesaikan les persiapan UN di sekolah, sementara dia baru saja menyelesaikan latihan Pramuka yang telah lama menghilang dari daftar kegiatan anak-anak SMA dan kini hadir kembali semenjak kurikulum 2013 diberlakukan.

“Kita pulang bareng yok. Nanti kita singgah di warung Adun, Kakak sudah lama gak makan mie caluk*.” Ajakku ke Mina.

“Ahmad gak ikut pulang bareng kakak?” Tanya Mina.

“Dia tak akan pernah mau pulang denganku. Malu katanya, anak laki-laki harus berboncengan di belakang motor kakak perempuannya. Dia pasti sudah pulang dengan Bram.” Aku menjawab pertanyaan Mina panjang lebar dan sedikit merasa aneh karena ternyata Mina telah mengenal Ahmad. Mungkin karena mereka satu tim saat latihan pramuka, bisikku menentramkan suasana hati yang tak terima bahwa pada akhirnya Mina dan Ahmad sudah saling kenal.

Di warung Mie Caluk Adun, aku dan Mina mengobrol kesana kemari, tentang cita-citanya, tentang siswa-siswa yang mengganggunya, juga tentang ibunya yang akan segera menikah lagi karena ayahnya tak kunjung pulang. Ibunya sedang mengajukan fasakh* ke pengadilan agama, kata Mina, karena sudah 4 tahun keluarga Mina tidak mendengar kabar tentang ayahnya yang telah memilih untuk menikah lagi.

“Sebenarnya banyak kawan-kawan kak Mela yang suka sama Mina.” Aku mencoba mengalihkan percakapan. “Tapi kak Mela gak mau mereka mengganggu Mina. Kak Mela ingin hati Mina tetap bersih. Minakan berhijab, sudah seharusnya kita menjaga hijab kita dengan memberi contoh yang baik bagi lingkungan kita, seperti tidak pacaran misalnya, atau tidak menyontek saat ujian. Kita jaga hijab, hijab jaga kita. “ Tuturku panjang lebar.

Dan hingga 30 menit ke depan hanya suaraku saja yang terdengar. Mina tampak sedang tak ingin menimpali. Dia khusyu* mendengar ceramahku.

“Ayo kita pulang.” Akupun mengantarkannya sampai di depan gang rumahnya. Aku belum pernah bertemu ibunya. Belum saatnya bisik hatiku.

Malamnya aku mendapat sebaris SMS dari Mina, dia ingin bertemu denganku pagi-pagi sekali sebelum kelas dimulai.

“Kakak, Mina minta maaf.” Ujar gadis berjilbab putih di hadapanku.

“Kenapa Mina minta maaf. Mina mau pindah? Atau Mina belum bayar uang sekolah, perlu bantuan kakak ya?” Aku tak sabar dan langsung menebak-nebak apa kiranya yang membuat muka oval milik adik angkatku menjadi sangat cemas.

“Tidak, Kak. Mina salah sama kakak. Mina tidak amanah.” Ujarnya menambah rasa penasaranku.

“Memangnya kakak ada suruh apa sama Mina, Dek? Kenapa tiba-tiba ngomong gini.” Buruku lagi.
“Mina…” Lalu jeda.

“Kalau setelah ini kakak marah sama Mina, gak apa-apa. Mina terima. Tapi maafin Mina, Kak.” Dia tertunduk semakin dalam dan suaranya semakin samar.

“Mina udah mengkhianati kepercayaan kakak. Mina… pacaran, Kak.” Bisikannya kini terdengar seperti suara halilintar.

“Ya Allah, Mina. Tidak cukupkah ayahmu menjadi contoh bahwa banyak lelaki di dunia yang tidak dapat dipercaya. Mereka semua buaya. Jangan gampang percaya pada mereka. Mereka hanya ingin memanfaatkan Mina.” Teriakanku terdengar menggema di lorong sekolah di tempat kami sedang duduk sedari tadi.

“Siapa anak itu, kakak mau buat perhitungan.” Amukku lagi.

Dan jawaban Mina setelah itu telah berhasil membuatku terduduk lunglai. Aku kesulitan bernafas dan loteng-loteng putih di atas kepalaku seolah-olah berjatuhan menimpaku pagi itu.
Lelaki yang memacari Mina ternyata adalah Ahmadku

RINDU



             Rasanya sudah sewindu perasaan rindu pupus dari hati perempuan itu, setelah orang pertama dan terakhir yang berhasil menghidupkan berbagai macam rasa dalam hatinya pergi, menikahi sahabat karibnya dan memilih memboyong istrinya untuk meninggalkan desa. Alasan menyambung hidup di kota nampaknya kurang tepat, karena di kampung, Ampon Man, termasuk salah satu orang sukses yang mempunyai sebuah kebun rambutan dan beberapa petak sawah yang selalu menghasilkan panen yang melimpah.
            Ampon Man sejatinya adalah sepupu jauhnya. Ketika menginjak usia 40 tahun dan mereka sama-sama belum menemukan jodoh yang tepat, keluarga besar kemudian berusaha untuk menjodohkan mereka. Dan ternyata gayungpun bersambut. Hanya perlu menunggu tiga bulan saja, selepas panen,  mereka akan segera bersanding di pelaminan.
            Sebulan menjelang perayaan, padi-padi hasil panen sebelumnya sudah berupa berkarung-karung beras untuk pesta. Ayam-ayam  dan beberapa bebek tetangga sudah dibooking untuk acara. Rumah kedua calon mempelai sudah dibersihkan dan dicat ulang dengan warna kuning pudar. Saudara - saudara sudah dihubungi semua. Kelapa – kelapa sudah ditumpuk di bawah rumah tinggi model lama, demikian juga dengan kayu bakar yang akan digunakan untuk memasak nantinya.
            Mak Minah tampak selalu tersenyum di setiap waktu mengingat anak pertamanya akan segera menikah. Perempuan tua itu kini tidak perlu pusing lagi mendengar komentar - komentar miring tetangga perihal anak perempuannya yang telah ditinggal kawin oleh adik-adiknya. Kini Ainiah akan segera menemukan imamnya di usia yang ke 40.
            Seandainya Mak Minah tinggal di kota-kota besar, pastinya Mak Minah tidak akan terlalu dipusingkan dengan masalah ini. Putri sulungnya mungkin sudah menjadi seorang wanita karir yang selalu akan membela diri dengan sebuah slogan, “Life begins at forty, Mak.“  Tapi sayang mereka hanyalah orang kampung yang sehari-hari hanya bekerja di sawah milik mereka.
            “Niah, Ainiah, coba cari ayahmu sebentar. Pak Cekmu ada keperluan mendadak dengan ayah.” Terdengar suara Mak Minah memanggil Ainiah yang sedang duduk di kursi rotan di belakang rumah bersama Zainab, sahabat karibnya. Mereka sedang membicarakan model inai yang akan digunakan Ainiah di pesta perkawinannya nanti.
            Niahpun bergegas mencari ayahnya di kebun yang terletak hanya 100 meter dari rumah panggung milik keluarganya.
            Sungguh malang berita yang di dengar Niah sore itu, ternyata Ampon Man telah memutuskan hubungan sepihak, bahwa Niah akan digantikannya dengan perempuan lain dari kampung seberang. Yang paling sakitnya lagi, si Meulu, calon istri Ampon Man adalah sahabat sebangkunya kala SMA.
            Selepas itu Niah tak ingin tahu bagaimana cara ayahnya mengabari kembali kepada sanak saudara bahwa pesta Niah harus dibatalkan. Niah juga tak mau tahu bagaimana mak membatalkan pesanan pelaminan beserta kue-kue pengantin yang bahkan sudah hampir dibayar sepenuhnya.
            Niah melarikan diri dari kenyataan, dia ingin menganggap bahwa semua ini tak pernah terjadi. Tak banyak yang dilakukan Niah setelah itu. Niah menghabiskan kebanyakan waktunya di sungai bahkan di saat Niah tak perlu mencucikan pakaian orangtua dan adik-adiknya.
            Sempat tebersit dalam hati Niah untuk melompat ke dalam sungai dan membiarkan sungai menyeretnya kemanapun agar dia bisa melupakan semua ini dan menghapus rasa malunya. Tapi tentu saja tak akan dia lakukan. Niah masih punya iman, punya rasa sayang akan mak dan ayah, juga adik-adiknya
            Tahun-tahun berselang, Jamilah, adik nomor tujuh sekaligus yang paling bungsu di keluarga Niahpun menikah, sementara Niah masih tetap sendiri melakoni hidup sebagai seorang anak yang baik, seorang kakak yang baik, bahkan sebagai seorang ibu yang baik untuk anak adik-adiknya.
            Hampir semua adik-adiknya tinggal di kampung atau di kecamatan yang sama, sehingga mudah saja bagi Niah untuk mengunjungi mereka satu persatu sabagai ganti mak setelah beliau pergi menghadap-Nya.
            Namun berbeda dengan Jamilah, setelah menikah dia akan segera tinggal di kota bersama suaminya yang orang kantoran. Niah merasa sangat kehilangan. Rumah kayu yang telah diperluas ke belakang kini kosong, hanya tinggal Niah dan ayahnya yang semakin tua.
            Ketika tiba waktu Jamilah melahirkan, Niah diantar ke kota untuk membantu Jamilah mengurusi bayi yang akan segera lahir itu.
            Niah hanya bisa tinggal bersama Jamilah selama dua minggu. Keadaan ayahnya membuat Niah tidak bisa berlama-lama di kota untuk membantu adik bungsunya mengurus bayi mungil tersebut.
            Niah pulang dengan hati cemas bersama selembar foto bayi mungil yang dinamai Khansa. Niah tak ingin meninggalkan Jamilah tapi juga tidak bisa berlama-lama meninggalkan ayahnya sendirian di kampung.
            Selanjutnya Niah hanya mendengar kabar tentang Khansa dari adik-adik yang datang menjenguk ayah. Disaat itulah Niah dapat kembali mendengar suara Jamilah dan suara bayi mungil Khansa yang telah berhasil menghidupkan kembali rasa rindu di hati Niah yang telah lama mati.