Sunday, 12 September 2021

UANG UNTUK BAHAGIA

            Haruskah kebahagiaan selalu diukur dengan uang? Tentu saja tidak. Ada banyak perkara yang bisa menjadi asbab untuk menggapai bahagia.

Tetapi sayang, hidup ini tidak gratis. Kau harus bergegas bahkan berlari mengejar uang untuk melengkapi kebahagiaan hidup. Karena keluargamu perlu makan, istrimu perlu sandang dan sedikit perhiasan untuk membuatmu betah, dan anak-anakmu perlu sekolah. Apa kau pikir semua itu gratis?

“Seandainya kau mau sedikit berusaha,” bujuk Perempuannya.

“Lihatlah, Sayang, kita punya rumah, punya kendaraan. Bukankah itu semua usahaku dari jalan yang halal?”

Tanpa jeda perempuan kembali mengingatkan, “Kau terlalu tenggelam dalam masa lalu. Kita punya rumah, tapi ingatlah, anakmu sudah besar-besar,dan mereka harus terus bersekolah.”

“Aku sudah mencoba, tapi kau tau, bisnisku sedang tidak mungkin dijalankan.” Lelakinya berusaha menjelaskan hal yang sama berulang-ulang. Hampir di setiap diskusi yang mereka lakukan.

“Tapi kau bisa berusaha mencari kerja lain, asal halal.” Tambah Sang perempuan.

Inongku sayang, aku tak mungkin menarik becak atau menguli bangunan. Kau tau alasannya kenapa? Karena aku terlanjur mempersunting seorang putri, dan aku tak ingin dia mempunyai seorang suami yang menguli.”

Dia sejenak terdiam. Tapi seorang perempuan tak akan merasa puas sebelum seluruh uneg-unegnya dikeluarkan. “Baiklah, aku memang tak suka kau memburuh, tapi kau lulusan kuliahan, kenapa tidak mencoba melamar di perusahaaan-perusahaan.”

“Aku sedang menyusun rencana, Sayang. Bersabarlah.” Dan jawaban itu tidak tampak sebagai sebuah solusi bagi perempuan.

“Aku telah bersabar, bukan dalam hitungan bulan. Ini sudah menahun, dan anak-anakmu semakin banyak keperluan.”

“Diamlah wahai Perempuan, aku tidak ingin bertengkar. Aku mencintaimu. Tidakkah itu cukup untuk membuatmu menunggu.”

Hanya itu keahliannya, menutup sebuah diskusi dengan rayuan,” Tapi cinta tidak bisa memberi anak-anakmu makan.” Dengusnya dan melangkah ke dalam dengan kesal.

Ini sudah berulang berkali-kali. Hampir menjadi rutinitas sebulan sekali mereka pasti berdiskusi tentang keperluan-keperluan. Diskusi itu, sayangnya, selalu berakhir dengan kekesalan si Perempuan.

Dia telah berusaha bersabar, namun sesekali goyah juga ketika anak-anaknya minta dibelikan ini itu untuk keperluan sekolah.

“Seragam sekolah harus empat, Mak. Putih dan coklat pramuka, baju olah raga dan batik.” Ujar si Bungsu.

“Buku paketnya harus dibeli, Mak.” Tambahnya.

“Abang dapat tugas membuat lukisan, Mak. Harus dibingkai.” Kata si Sulung.

“Kakak, harus beli recorder, Mak.” Yang tengah menambahkan.

“Ibu guru juga sedang mengusulkan pembelajaran yang berbasis IT. Dan nanti siswa-siswi harus membawa laptop masing-masing.” Si sulung menutup daftar panjang keperluan sekolah untuk malam itu.

Endingnya seperti biasa, selalu saja, perempuan itu mengangguk. Iya, nanti Mak bicarakan dengan ayahmu.

Jika saja dia yang lelaki dan diberikan tanggung jawab itu, mungkin dia akan berusaha apapun untuk keluarganya, untuk anak-anaknya. Tapi dia hanya seorang perempuan, yang bahkan usahanya untuk membantu suaminya dulu, sudah dihentikan dengan alasan agar anak-anaknya tumbuh dibawah pengasuhan yang baik dari seorang baby sitter bernama ‘Ibu’.

Seandainya aku tak mendengarkannya dan terus bekerja, pasti tidak akan sesulit ini.

Seandainya dia mengizinkan untuk ikut program pemerintah untuk beranak dua, pasti aku tidak sepenuntut ini. Desah perempuan dalam hati.

Seandainya, dia tidak terlalu idealis. Mungkin usahanya takkan sesulit ini. Tapi aku juga tak ingin anak-anakku mengkonsumsi rezeki yang tidak jelas dari mana sumbernya. Itu sudah merupakan perjanjian awal.

Mungkin benar dia sedang berusaha, tapi usaha apa. Seorang kerabat bertanya, apa yang dilakukan suaminya hanya dengan duduk di warung kopi.

“Mungkin dia sedang menganalisa bisnis tentang warung kopi,” jawabnya agar tidak kelihatan tertekan.

“Aku heran melihat suamimu termangu di teras masjid pasar dari pagi sampai sore, tidakkah dia melakukan sesuatu?”

“Mungkin dia sedang memperhatikan peluang yang ada di pasar.” Kilah perempuan membela.

Dia kelihatan tegar bukan? Tapi wajibkah dia terus bersabar. Ini bukan hitungan bulan seperti yang tertulis di buku nikah. Ini hitungan tahun, dan tak tentu berapa bulan sekali dia membawa pulang sesuatu. Semua perhiasaan perempuan sudah digadaikan. Ia berjanji akan menebusnya suatu waktu. Namun janji tinggal janji, sebagian besar terpaksa ditukar dengan sejumlah uang.

“Mak, besok adek harus bawa cat krayon yang banyak warnanya.” Kata si Bungsu

“Tapi krayonmu kan masih ada, Sayang. Baru sebulan lalu Mak belikan.”

“Bukan yang seperti itu Mak. Macam anak TK. Adek sudah SD. Harus beli yang merk ini.”

“Iya, nanti Mak carikan.”

“Abang harus kumpul uang perpisahan dan wisuda, Mak, juga membeli hadiah untuk beberapa orang guru, sebentar lagi Abang ujian akhir.” Ujar si Sulung

“Iya, Mak, Kakak juga panitia perpisahan di sekolah. Kakak harus jahit baju panitia dan mengumpulkan uang untuk acara itu.” Tambah si Tengah.

Dan kesabarannya tiba-tiba menguap.

“Mak lelah sayang. Kenapa harus melapor semua kepada Mak, tidakkah kalian punya ayah? Lapor ayahmu. Agar dia tahu anak-anaknya membutuhkan uang. Agar dia mau berusaha lebih keras. Agar dia tidak hanya duduk-duduk di warung mengutang segelas kopi dan sebungkus rokok disana sini. Bilang sama ayahmu.”

Anak-anaknya terdiam.

“Lihatlah, sampai malam begini dia belum pulang. Sampai di rumah dia bisa makan dan beristirahat dengan tenang. Pernahkah kalian mengadu kepadanya bahwa ada seratus satu keperluan di sekolah-sekolah itu.” Perempuan itu naik pitam.

“Mak letih, tanyakan ayahmu, dimana fungsinya sebagai kepala keluarga?” 

Kemudian senyap, perempuan bergegas menuju kamarnya dan menutup pintu. Anak-anaknya hanya bisa saling menatap dan kecewa.

Sementara di luar, di tengah rintik-rintik hujan, suara pintu pagar diseret.

 

Dengan sedikit pias, perempuan mengintip lewat gorden kamarnya, untung saja dia baru pulang.

Namun, sesosok bayang itu, bukan sedang melangkah ke dalam pekarangan. Lelaki itu sedang menapaki lorong di depan rumah di tengah gerimis dan menjauh.

Lalu perempuan itu tergopoh memeluk anak-anaknya yang tak tahu apa-apa. “Dia telah pergi, dia telah pergi. Maafkan Mak yang terlalu emosi.”

Ini purnama yang ke empat, perempuan itu duduk sendiri di atas bangku panjang di teras rumahnya melihat ke arah rembulan yang biasa mereka tatap bersama. Jika saja aku sedikit bersabar, bisik hatinya.