Haruskah kebahagiaan selalu diukur dengan uang? Tentu saja tidak. Ada banyak perkara yang bisa menjadi asbab untuk menggapai bahagia.
Tetapi sayang, hidup ini tidak gratis. Kau
harus bergegas bahkan berlari mengejar uang untuk melengkapi kebahagiaan hidup.
Karena keluargamu perlu makan, istrimu perlu sandang dan sedikit perhiasan untuk
membuatmu betah, dan anak-anakmu perlu sekolah. Apa kau pikir semua itu gratis?
“Seandainya kau mau sedikit berusaha,”
bujuk Perempuannya.
“Lihatlah,
Sayang, kita punya rumah, punya kendaraan. Bukankah itu semua usahaku dari
jalan yang halal?”
Tanpa jeda perempuan kembali mengingatkan,
“Kau terlalu tenggelam dalam masa lalu. Kita punya rumah, tapi ingatlah, anakmu
sudah besar-besar,dan mereka harus terus bersekolah.”
“Aku sudah mencoba, tapi kau tau, bisnisku
sedang tidak mungkin dijalankan.” Lelakinya berusaha menjelaskan hal yang sama
berulang-ulang. Hampir di setiap diskusi yang mereka lakukan.
“Tapi kau bisa berusaha mencari kerja lain,
asal halal.” Tambah Sang perempuan.
“Inongku sayang, aku tak mungkin
menarik becak atau menguli bangunan. Kau tau alasannya kenapa? Karena aku
terlanjur mempersunting seorang putri, dan aku tak ingin dia mempunyai seorang
suami yang menguli.”
Dia sejenak terdiam. Tapi seorang
perempuan tak akan merasa puas sebelum seluruh uneg-unegnya dikeluarkan. “Baiklah,
aku memang tak suka kau memburuh, tapi kau lulusan kuliahan, kenapa tidak
mencoba melamar di perusahaaan-perusahaan.”
“Aku sedang menyusun rencana, Sayang.
Bersabarlah.” Dan jawaban itu tidak tampak sebagai sebuah solusi bagi
perempuan.
“Aku telah bersabar, bukan dalam hitungan
bulan. Ini sudah menahun, dan anak-anakmu semakin banyak keperluan.”
“Diamlah wahai Perempuan, aku tidak ingin
bertengkar. Aku mencintaimu. Tidakkah itu cukup untuk membuatmu menunggu.”
Hanya itu keahliannya, menutup sebuah
diskusi dengan rayuan,” Tapi cinta tidak bisa memberi anak-anakmu makan.”
Dengusnya dan melangkah ke dalam dengan kesal.
Ini sudah berulang berkali-kali. Hampir menjadi
rutinitas sebulan sekali mereka pasti berdiskusi tentang keperluan-keperluan.
Diskusi itu, sayangnya, selalu berakhir dengan kekesalan si Perempuan.
Dia telah berusaha bersabar, namun
sesekali goyah juga ketika anak-anaknya minta dibelikan ini itu untuk keperluan
sekolah.
“Seragam sekolah harus empat, Mak. Putih
dan coklat pramuka, baju olah raga dan batik.” Ujar si Bungsu.
“Buku paketnya
harus dibeli, Mak.” Tambahnya.
“Abang dapat tugas membuat lukisan, Mak.
Harus dibingkai.” Kata si Sulung.
“Kakak, harus beli recorder, Mak.”
Yang tengah menambahkan.
“Ibu guru juga sedang mengusulkan
pembelajaran yang berbasis IT. Dan nanti siswa-siswi harus membawa laptop
masing-masing.” Si sulung menutup daftar panjang keperluan sekolah untuk malam
itu.
Endingnya seperti biasa,
selalu saja, perempuan itu mengangguk. Iya, nanti Mak bicarakan dengan ayahmu.
Jika saja dia yang lelaki dan diberikan
tanggung jawab itu, mungkin dia akan berusaha apapun untuk keluarganya, untuk
anak-anaknya. Tapi dia hanya seorang perempuan, yang bahkan usahanya untuk
membantu suaminya dulu, sudah dihentikan dengan alasan agar anak-anaknya tumbuh
dibawah pengasuhan yang baik dari seorang baby sitter bernama ‘Ibu’.
Seandainya aku tak mendengarkannya dan
terus bekerja, pasti tidak akan sesulit ini.
Seandainya
dia mengizinkan untuk ikut program pemerintah untuk beranak dua, pasti aku
tidak sepenuntut ini. Desah perempuan dalam hati.
Seandainya, dia tidak terlalu idealis.
Mungkin usahanya takkan sesulit ini. Tapi aku juga tak ingin anak-anakku mengkonsumsi
rezeki yang tidak jelas dari mana sumbernya. Itu sudah
merupakan perjanjian awal.
Mungkin benar dia sedang berusaha, tapi
usaha apa. Seorang kerabat bertanya, apa yang dilakukan suaminya hanya dengan
duduk di warung kopi.
“Mungkin dia sedang menganalisa bisnis
tentang warung kopi,” jawabnya agar tidak kelihatan tertekan.
“Aku heran melihat suamimu termangu di
teras masjid pasar dari pagi sampai sore, tidakkah dia melakukan sesuatu?”
“Mungkin dia sedang memperhatikan peluang
yang ada di pasar.” Kilah perempuan membela.
Dia kelihatan tegar bukan? Tapi wajibkah
dia terus bersabar. Ini bukan hitungan bulan seperti yang tertulis di buku
nikah. Ini hitungan tahun, dan tak tentu berapa bulan sekali dia membawa pulang
sesuatu. Semua perhiasaan perempuan sudah digadaikan. Ia berjanji akan menebusnya
suatu waktu. Namun janji tinggal janji, sebagian besar terpaksa ditukar dengan
sejumlah uang.
“Mak, besok adek harus bawa cat krayon
yang banyak warnanya.” Kata si Bungsu
“Tapi krayonmu kan masih ada, Sayang. Baru
sebulan lalu Mak belikan.”
“Bukan yang seperti itu Mak. Macam anak TK.
Adek sudah SD. Harus beli yang merk ini.”
“Iya, nanti Mak carikan.”
“Abang harus kumpul uang perpisahan dan
wisuda, Mak, juga membeli hadiah untuk beberapa orang guru, sebentar lagi Abang
ujian akhir.” Ujar si Sulung
“Iya, Mak, Kakak juga panitia perpisahan
di sekolah. Kakak harus jahit baju panitia dan mengumpulkan uang untuk acara
itu.” Tambah si Tengah.
Dan kesabarannya tiba-tiba menguap.
“Mak lelah sayang. Kenapa harus melapor
semua kepada Mak, tidakkah kalian punya ayah? Lapor ayahmu. Agar dia tahu
anak-anaknya membutuhkan uang. Agar dia mau berusaha lebih keras. Agar dia
tidak hanya duduk-duduk di warung mengutang segelas kopi dan sebungkus rokok disana
sini. Bilang sama ayahmu.”
Anak-anaknya terdiam.
“Lihatlah, sampai malam begini dia belum
pulang. Sampai di rumah dia bisa makan dan beristirahat dengan tenang.
Pernahkah kalian mengadu kepadanya bahwa ada seratus satu keperluan di
sekolah-sekolah itu.” Perempuan itu naik pitam.
“Mak letih, tanyakan ayahmu, dimana
fungsinya sebagai kepala keluarga?”
Kemudian senyap, perempuan bergegas menuju
kamarnya dan menutup pintu. Anak-anaknya hanya bisa saling menatap dan kecewa.
Sementara di luar, di tengah rintik-rintik
hujan, suara pintu pagar diseret.
Dengan sedikit pias, perempuan mengintip
lewat gorden kamarnya, untung saja dia baru pulang.
Namun, sesosok bayang itu, bukan sedang
melangkah ke dalam pekarangan. Lelaki itu sedang menapaki lorong di depan rumah
di tengah gerimis dan menjauh.
Lalu perempuan itu tergopoh memeluk
anak-anaknya yang tak tahu apa-apa. “Dia telah pergi, dia telah pergi. Maafkan
Mak yang terlalu emosi.”
Ini purnama yang ke empat, perempuan itu
duduk sendiri di atas bangku panjang di teras rumahnya melihat ke arah rembulan
yang biasa mereka tatap bersama. Jika saja aku sedikit bersabar, bisik
hatinya.