Masalah-masalah yang menimpaku gara-gara org lain jatuh cinta, membuatku sedikit ketakutan dan berharap agar Allah menjauhkanku dari ‘bencana’ itu sebelum waktunya tiba..
Pasalnya, dari beberapa cerita yang kulihat sewaktu SMA, tidak ada satupun kisah yang luput dari cerita sakit hati disebabkan oleh perasaan konyol tersebut.. Walaupun akhirnya ada beberapa pasang siswa/i yang mengakhir icerita mereka ke jenjang pernikahan. Tapi perjalanan hubungan yang mereka bangun sebelum saatnya itu, telah menjebak mereka dalam derita yang dalam karena merasa bersalah, telah melanggar aturan2 skolah, diasingkan oleh lingkungan, bahkan dipandang sinis karena dianggap terlalu cepat (maaf) mengumbar napsu, di usia yang pada saat itu masih dianggap ingusan
Namun manusia hanya bisa berencana, semua ketentuan adalah milikNYa. Memasuki pertengahan kelas II MA, aku mulai terusik oleh sesosok kawan yang sebenarnya adalah manusia biasa.Tak banyak yang special darinya.. Banyak kawan2 yang lain yang lebih berprestasi dan lebih hebat utk disukai.. tapi perasaan itu tak bisa ditebak akan menjatuhkan pilihan kpd siapa.. Mungkin krn kebersamaan yang sudah puluhan bulan dikarantina di penjara yang sama, rasa itu pun mulai berani utk bersuara..
Bukankah pepatah2 yang berserakan selalu setuju bahwa kemgkinan besar seseorg akan jatuh hati dengan org yg dekat dengannya..
Untuk membenarkan pepatah2 itu, akupun mulai membuka2 kembali koleksi memoriku akan asbab yg membuatku menyenangi kawanku yang bahkan dianggap tidak baik oleh kwn2ku yang lain. Stempel sombong telah terlanjur ditempelkan di sosoknya yang dingin dan jarang berinteraksi dengan kawan2nya terutama yang perempuan..
Kilasan2 memori itupun hadir. Ketika aku masih duduk di kls I, seorang kawan sekamarku bernama Oli, selalu bercerita tentang si dingin yang pada saat itu menjabat sebagai ketua Bidang Keamanan, yang kami lebih sering menyebutnya dgn Qismul Amni. Kebetulan Oli juga anggota di qismul yang sama dgn kawan yang dari tadi blm jua kusebut2 namanya. Entah krn tak enak perasaan, atau krn perasan ingin menyembunyikan saja nama tersangka utama, agar tidak menjadai fintah dikemudian hari,, Entahlah..
Ingin juga rasanya menyebut namanya dgn JUNA saja, agar sama dgn Ketua Bidang Keamanan kita yang sekarang J.. Tapi perasaanku malah tambah tidak enak saja.. Mungkin enaknya kita kasihkan saja nama Al-Walad untuknya, agar mudah kita ingat. Karena Walad mempunyai arti ‘anak laki2 itu’.. Setujukan???
Ingatan2ku tentang cerita Oli yang selalu berhasil mengobrol dgn ketua bidangnya yang dingin, selalu berhasil membuatku terkesan, karena tak banyak santriwati di Nyawong School yang berani menyapa anak laki2 yang tak banyak omong itu.. Ketika ada satu dua orang yang seperti Oli, aku menganggapnya sukses karena selalu bisa membawa plg conversation2 bersama Walad,
Lintasan ingatan yang lain, ketika aku terpaksa masuk Mahkamah Qismul Amni pada pertengahan semester I mengukir sebuah sejarah tersendiri dalam kehidupan masa sekolahku..
Kenapa aku menyebut kata ‘terpaksa’ utk memasuki mahkamah yang diketuai oleh Walad?? Tidak lain adalah karena, sebenarnya aku tidak terlalu banyak bersalah ketika suatu subuh tidak seorangpun dari penghuni blok putri yang hadir di mushalla untuk shalat berjama’ah, kecuali 5 orang santriwati termasuk aku dan seorang Ustadzah kami yang sering kami panggil Al-Mahbubah (yang tercinta).
Ketidakhadiran sebagian besar teman-temanku, kemudian harus kutanggung dengan hukuman dikirim ke Mahkamah Qismul Amni, kerena aku adalah salah seorang dari dua orang anggota Qismul ‘Ubudiyyah yang bertugas di blok putri yang sedang giliran berpiket hari itu.. Sebuah hukuman yang pantas kuterima karena tidak berhasil membangunkan teman2ku untuk shalat berjamaah subuh itu..
Namun di balik semua musibah selalu ada hikmah. Tiba2 saja aku menjadi sangat setuju dengan jargon itu.. Karena Mahkamah itu tidak seburuk yang kubayangkan.. Ketika aku ketakutan membayangkan akan dibentak2 ketua qismul amni,si cuek Walad, yang terjaadi malah sebaliknya.. Baru hari itu aku tau bahwa Al-Walad tidak seburuk dugaanku selama ini.. Dia ternyata adalah orang yang sangat ramah di dalam mahkamahnya walaupun di luar sana dia tak pernah bertegur sapa dgn siswi2 di MA Nyawong school.
“It’s okay. I don’t eat people. I am not a Canibal.” Selorohnya ketika melihatku tampak gugup menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikannya.
Mulai hari itu penilaianku tehadap Waladpun berubah.
*
Ketika aku duduk di bangku kelas II, tugasku sebagai anggota Qismul ‘Ubudiyyah berganti menjadi Sekretaris Umum di OPDA (Organisasi Pelajar Dayah). Sebuah karir yang lumayan baguslah untukku saat itu. Dan kabar baiknya lagi, salah satu anggota formatur kami yang berjumlah 7 org tsb, adalah Al-Walad. Dia menduduki posisi sebagai Ketua I dlm formatur kami.
Pada awal-awal masa tugas kami, aku masih mendapati Walad kurang berkata-kata dgn kami anggota formatur yang perempuan yang berjumlah 4 org. namau semakin lama tugas itu kami jalankan bersama, keakraban antara ke 7 anggota formatur semakin terlihat..
Walaupun demikian perasaanku belum lagi sempat jatuh kpdnya. Ada seorang kawan lagi, sebut saja Ayu, yang menjabat sebagai Bendahara Umum di formatur kami, yang kemudian dijodoh2kan dgn Walad oleh kawan2ku.. Kata kawan2ku mereka cocok karena sama2 cuek.. Orang cuek memang tampak lebih dewasa krn ke-cool-an mereka. Sementara aku ini apalah, hanya seorang gadis biasa yang cerewet dan tidak berprestasi.. berbahasa Inggris saja tidak bisa, apalagi keahlian2 unggulan lainnya seperti berpidato dalam 3 bahasa, menghafal beberapa juz dr Al-Quran,dll.
Namun keistimewaan Walad yang kutemui selama waktu2 dlm organisasi itu, menghadirkan sebersit rasa kagum kpd pribadi yang tak banyak omong itu. Mungkin perasaan seperti itu bolehlah kita beri nama cinlog (CInta daLam OrGanisasi). *maksa ^^.
Ketika perasaan itu datang dengan sangat lambaaat dan merayap-rayap di alam bawah sadarku.. Aku jadi mulai memerhatikan kelebihan saudara seformaturku tersebut.. Aku sangat senang ketika mendengar Walad terpilihsebagai salah satu utusan dari sekolah kami yang akan megikuti dakwah Safari Ramadhan keliling Aceh
Akibat dari ‘kejahatan’ sebuah rasa yang datang di saat yang tak tepat ini, aku mulai merasakan ketidaknyamanan dlm hatiku.. Kenapa aku juga hrs merasakan ‘kutukan manis’ ini sebelum waktunya cocok. Apakah semua orang harus merasakan perasaan yang tak pantas ini ketika usia mereka memasuki bilangan angka 15 ke atas.. Apakah semua orang seperti itu?? Tapi kulihat Tria tidak, Amel juga tidak pernah terlihat menyukai siapapun. Tapi kenapa aku harus.. Aku kebingungan dgn apa yang harus kulakukan saat itu.. Karena persaan yang kurasakan adalah sebuah perasaan terlarang seperti yang selalu dinasehatkan oleh ustadz2ku, agar kami tidak menjalin hubungan special dgn kawan letting sendiri. Karena kepolosanku mencerna maksud yg terkandung dlm nasehat trsbt, kekonyolan demi kekonyolanpun mulai terjadi..
Aku mulai berpikir, mungkin aku harus menyukai seseorang yang lain, utk membuatku tidak perlu lagi mengagumi Walad. Kemudian sebuah ide muncul dlm hatiku yang sedang risau, mungkin lebih aman jika aku menyukai ustadz saja, kan kalau suka sama ustadz tidak berbahaya. Paling ustadz tak akan menaruh peduli mau disukai atau tidak oleh siswi2nya yang berumur setengah dari umurnya.
Setelah beberapa bulan misi mengalihkan kekagumanku dari Walad yang mempunyai kelebihan 30 kepada ustadzku yang mempunyai kelebihan 100, tentu saja hal itu tidak masuk akal sedikitpun. Karena ustadz2ku memang sudah kukagumi dari pertama kali kami mendengar mereka berbicara di hari pertama kami di ospek dengan nasehat2 mereka yang di tinggi jauh di luar jangkauan akalku sebelumnya.
Setelah misi pertamaku gagal, pilihan kedua adalah adek letting kls I. geli rasanya ketika aku mengingat kejadian itu. Kenapa harus memilih santri kls I yang biasa2 padahal di kls II masih banyak santri2 yang luar biasa. Namanya juga galau, apapun caranya akan kutempuh demi misi melupakan kawan seletingku yang makin lama makin menampakkan ke-exist-annya di MA Nyawong School.
Namun misi nekat ini ternyata membawa ujung yang jelek untukku pada saat itu. Ternyata adik lettingku tersebut tenang dan senang saja diejek2 dengan kakak letting. Mungkin malah menjadi sebuah pencapaian tersendiri ketika dia disukai kakka lettignya, mungkin.
Kemudian2 adek2ku yang lain mulai protes dengan situasi tersebut.. Akupun merasa tidak nyaman dan memutuskan untuk mengobrol dgn seorg kawan yang sangat kupercaya pada saat itu. Amel namanya.
Aku bercerita kpdnya ttg seseorg di kls II yang berhasil membuatku senang. Dan rasa penasarannya membuatnya berhasil mendapatkan kunci jawaban tentang nama misterius yg kusembunyikan darinya sejak awal pembicaraan kami. Sebuah trik yang sangat cerdik yang dipakainya telai berhasil membongkar rahasia akan sebuah nama yang sedang membuatku galau.
Rasa khawatir sempat hinggap dalam perasaanku ketika menyadari adalah salah ketika kita menyebut nama seorang laki-laki yang kita sukai di hadapan seorang saja. Hal itu bisa sangat berbahaya, karena angin mendengarnya juga. Rumput-rumput di taman juga ikut mendengar. Daun2 pohon roda yang berjeratuhan juga pasti telah mengupingi pembicaraan kami. bahkan dinding2 Mahkamah Qismul Lughah yang berada tepat di belakang kami juga bisa menjadi penyebab tersebarnya rahasia hatiku kpd seluruh penduduk asrama.
Tapi Allah masih menyayangiku.. Aku berbicara kpd org yang tepat.. Allah telah mengirimiku seorang yang berhati jujur dan bersifat sangat amanah sekali akan janjinya.. Aku berani menjamin bahwa kawan seperti itu sangat terbatas sekali di zamanku, apalagi di zamanmu (kau tak perlu marah, karena aku berbicara fakta).
Kata-kata yang keluar dari mulutnya kemudian mengingatkanku lg akan sebuah nasehat Al-Mukarram, ustadz kami yang mulia..
Semenjak hari pertama kita datang, kita di sini semuanya saudara…
Yang namanya saudara itu, selalu berusaha untuk tidak menyakiti hati sdrnya yang lain.
Saudara itu akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untk saudaranya. Saudara itu akan rela berkorban demi mepertahankan silaturrahmi yang sedang dibangunnya.
“Laa yu’minu ahadakumhatta yubibbu liakhihi mayuhibbu linafsih”
Tidak sempurna iman seorang hamba hingga ia mencintai untuk saudaranya seperti ia mencintai untuk dirinya sendiri.
Orang beriman itu tidak akan redha melihat saudaranya sakit hati karena ulahnya.
Seorang saudara itu tidak akan pernah mengkhianati perasaan saudaranya dengan cara apapun.
Saudara kalian disini 50 orang. Tidak ada saudara yang lebih baik dari saudara yang lain. Semuanya sama.
Karena jumlah yang tidak imbang antara santriwan dan santrwati, kami (ustadz) melarang kalian untuk tidak berpacaran sesama kawan sendiri.
Jangan lukai hati saudara kalian dengan sakit hati karena orang yang disukainya ternyata telah dijadikan hak milik utk satu orang saja dengan hanya sebuah status ‘jadian’.
Janganlah rasa egois kalian memmbuat kalian melupakan bahwa persaudaraan itu di bangun atas pondasi pengorbanan. Dan pengorbanan yang harus kalian lakukan hanyalah dengan MENJAGA PERASAAN SAUDARAMU.
Kita bukanlah malaikat yang bersih dari napsu. Tapi kita disini sama2 menjaga diri demi sebuah hubungan mulia bernama SILATURRAHIM.
Jangan kecewakan kawanmu dengan merebut orang yang disukainya.. Ikhlaskanlah perasaanmu agar keadilan bisa kita tegakkan. Ketika seorangpun tidak pacaran, kita sama2 belajar bersabar, belajar menahan diri, agar tidak ada hati yang kecewa..
Seluruh ingatanku kembali dipenuhi oleh nasehat2 mulia rsebut.. dan ketika Amel beranjak kembali ke kamarnya sebuah bayangan yang lain hadir…
Ingatanku melayang ke pada sebuah kejadian yang terjadi di suatu malam di asrama depan blok putri.. ketika aku tak sengaja melewati kamar II sepulangku dari belajar di markaz al- Mukarram, aku mendengar suara Amel sedang sangat emosi ketika ia mengucapkan kalimat-kalimat yang terdengar bergetar2 keluar dari mulutnya..
“Siapa sih cowok itu? Hebat kali dia ya, hingga ia berhasil merusak hubungan silaturrahmi kedua saudaraku ini hanya gara2 menyukai dia… Sehebat apa dia hingga membuat kalian berdiam diri tidak saling bertegur sapa selama sebulan ini,,, Tidak ada seorang laki2pun di dunia ini yang berhak menghancurkan hubungan persaudaraan kita.. Tidak seorangpun,,,”
Lalu aku mendengar suara Amel terisak2 tak lagi mampu menyambung nasehat2nya kpd kedua org kwnnya sesama anggota kamar II, yang aku juga tau siapa mereka dan kpd siapa mrk telah jatuh cinta…
Semua kilasan bayang2an itu kini menjawab kegalau2n yang telah kusimpan selama bbrp bulan terakhir..
1000 orang Walad tak akan pernah mampu merusak hubungan yang telah kubangun dgn susah payah dgn saudari2ku.. Apalagi hanya seorang Walad saja.. Dia tak ada artinya dibandingkan anugrah silaturrahmi yang harus kujaga ini. Aku berjanji tidak akan pernah berkhianat terhadap perasaan2 sdr2iku yang mungkin juga telah menyimpan rasa kpd seorg yang sama dgnku walaupun mereka tdk pernah menampakkannya.. dalamnya lautan bisa terdeteksi, tapi dalamnya hati siapa yang tau…….