Wednesday, 19 November 2014

Cintaku Kandas di Denver

Senin adalah hari yang paling membosankan dalam sebuah minggu. Selain karena pelajaran-pelajaran penting  yang entah sengaja atau tidak ditumpuk pada hari itu, Senin juga menjadi hari dimana seluruh kegiatan rodi yang akan kulalui di penjara ini,segera dimulai pada hari ini. Itu artinya aku harus mememulai waktu-waktu sulit dan melewatinya satu persatu selama 6 hari ke depan. Selain itu, adalah hal yang memualkan ketika kita baru kembali dari rumah yang penuh dengan kenyamanan dan ketenangan, kemudian harus memulai hari yang super sibuk yang dimulakan dengan kegiatan yang sangat membuat boring : upacara bendera. Sebuah kegiatan yang diulang setiap minggunya dengan melakukan ritual-ritual yang sama tanpa ada bekas yang menyenangkan selain pengumuman para juara lomba-lomba yang selalu dipanggil ke tengah lapangan seusai upacara. Lainnya nonsense. Jujur aku tidak menyukainya. Terlebih lagi adanya hukuman yang diberikan kepada kami, para peserta upacara, jika kami terlambat sedetik saja  ketika moderator upacara sudah mulai membaca susunan tata tertib upacara, membuat kegiatan mingguan ini menjadi momok yang menakutkan sekaligus membosankan bagi siswa-siswi SMAN 21 Harapan Ummah Boarding School.

Aku berlari lari kecil menyusuri aspal hitam depan blok E menuju lapangan upacara bendera di hadapan kantor guru. Aku tak berlari sendirian, beberapa orang temanku penghuni blok E juga terlihat berlarian menyusulku dari belakang. Mereka juga tampak khawatir akan terlambat upacara karena bel peringatan akan dimulainya upacara telah dibunyikan.

Setiba di lapangan kami langsung bergabung di barisan bersama teman-teman yang telah duluan tiba. Walaupun beberapa dari kami masih merasa kecapaian setelah berlari sekitar 200 meter, namun kami tetap harus berdiri tegak dan rapi karena ritual itu akan segera dimulai.

Rasa lelah yang masih membuatku ngos-ngosan membuatku menggurutu pelan, “That’s why I hate Monday.. A lot.”

Seorang teman melirik ke arahku dan tersenyum membenarkan.. “Aku juga, I hate Monday too, but I hate flag ceremony the most.” Dia ikut-ikutan menggerutu geram.

Aku baru mulai berdiri tegak dan tenang ketika suara salah seorang petugas upacara dari kelas XI-1 mulai membaca ayat demi ayat dari surat Al-Qur’an yang dipilihnya untuk mengawali upacara bendera pagi ini.

Bacaan ayat-ayat indah itulah yang akhirnya membuatku bisa merasa benar-benar tenang.

Aku menyapukan pandanganku ke seluruh lapangan upacara. Aku memerhatikan barisan aubade di samping kiri lapangan. Kemudian pandanganku mulai memerhatikan teman-teman petugas upacara hari ini yang berdiri di depan sana dan tepat bersitentangan dengan barisan tempat aku sedang berdiri.

Kemudian aku memindahkan arah pandangku ke barisan para guru yang juga berada di depan lapangan namun mereka menempati posisi di sebelah kanan lapangan. Ada sesuatu yang berbeda yang berhasil tertangkap oleh mataku di barisan para guru hari ini. Ada seorang laki-laki berpostur sangat tinggi tampak berdiri di samping para guru laki-laki SMAN 21 Harapan Ummah. Tinggi badannya yang sangat mencolok ditambah dengan baju non seragam yang dipakainya, membuatnya sangat mudah untuk dijadikan pusat perhatian. Aku menyikut Salwa, sahabat sekamarku yang berdiri tepat di sebelah kananku.

“Ada tamu tu, di depan.” Ujarku sabil memberi isyarat dengan dongakkan kepala ke arah depan.

“Mana?” Tanya Salwa. Dia segera mengangguk-anggukkan kepalanya ketika melihat ke arah barisan para guru.

“Bule ya?” Tambah Salwa.

“Ssst.” Aku member isyarat kepadanya agar dia kembali diam karena kulihat Bu Ina segera menuju ke barisan kami yang kini tampak kasak kusuk karena hampir seluruh anggota barisan sudah menyadari adanya pemandangan baru di depan sana.

Keberadaan seorang tamu yang sangat tinggi dan berwajah indo telah membuat upacara hari ini jadi sedikit lebih menyenangkan dari hari-hari sebelumnya. Dari Pembina upacara kami mengetahui bahwa tamu baru itu adalah seorang volunteer yang akan mengajar Bahasa Inggris di sekolah kami untuk beberapa bulan ke depan. ‘Mudah-mudahan orangnya asik.’ Bisikku dalam hati.

Dan benar saja, ternyata pria berkebangsaan Amerika yang bernama Landy itu sangat ramah. Pembawaannya sangat menyenangkan dan ia juga sangat murah senyum kepada setiap orang.

Senyuman abadi dan wajahnya yang good looking membuat Mr. Landy segera menjadi bahan gosip terhangat di asrama putri Blok E. Tidak hanya di blok E mungkin, aku yakin kawan-kawan dan adek-adek di blok A dan Blok B juga akan memilih Mr.Landy untuk menjadi topik gosip di asrama mereka.

Teman-temanku dan juga aku, baru bisa melihat Mr.Landy secara dekat keesokan harinya ketika Mr. Landy masuk ke kelas kami. Pertemuan pertama itu diawali dengan perkenalan dirinya. Dia menuliskan sebuah gambar berbentuk persegi empat yang di setiap sisinya ia tuliskan dengan beberapa huruf dan angka.

Sebuah angka 25 dia tulis di sudut kanan atas table tersebut. Di samping kiri atas ia menulis dua buah huruf B besar. Di sudut kiri bawah aku melihatnya menggambar sesuatu yg berbentuk sebuah bukit. Dan di sudut kanan bawah aku melihatnya menuliskan sebuah kata USA, yang tafsirku pastilah singkatan dari United State of America, negara asalnya.

Segera setelah ia menjelaskan maksud dari angka-angka beserta huruf dan lambang yang ditulisnya di dalam kotak persegi di papan tulis sana, dia pun meminta kami melakukan hal yang sama.

Kamipun kemudian sibuk menuliskan inisial dan lambang-lambang yang berhubungan dengan kami untuk sesi perkenalan yang unik itu. Dan kesan pertama yang diberikan Mr. Landy sungguh menyenangkan.

Jadwal untuk pelajaran Bahasa Inggris selanjutnya adalah waktu yang kami tunggu-tunggu. Selain menyenangkan Mr. Landy punya beribu cara untuk membuat kelas Bahasa Inggris kami menjadi lebih hidup dan berwarna.

Keramahan Mr. Landy segera membuatnya dekat dengan beberapa orang kawanku, terutama anak-anak English Club yang Bahasa Inggrisnya sangat luar biasa. Sebersit iri sempat terlintas ketika di kelas, Mr. Landy selalu meminta bantuan kepada Salwa, kawan dekatku semenjak dari SMP. Tapi kenapa aku harus iri ya? Aku tersenyum sendiri memikirkan pertanyaan aneh itu singgah di alam fikirku. Siapa sih itu orang itu, hingga aku juga ingin dekat dengannya? Senyum itu kini berubah menjadi sebuah tawa yang membuatku merasa geli sendiri menertawakan kekonyolanku.

Hingga suatu hari ketika aku terburu-buru berlari menuju toilet di dekat ruang guru, aku tak sengaja menabrak seorang, seorang laki-laki, yang berpakaian kemeja, bukan seragam putih abu-abu, juga bukan pakaian seragam dinas yang sering dikenakan guru-guruku. Dan laki-laki itu pasti begitu tinggi,karena aku menabrak lengannya, kurasa. Jantungku berdegup sangat kencang, begitu kencang hingga kurasa organ itu hampir melompat keluar. Aku ingin sekali mendongak ke atas, tapi rasa malu dalam hatiku membuatku hanya mampu berkata, “Sorry, it’s an accident.”

Dan begitu mendengar, “It’s Ok.” keluar dari mulut orang yang sudah kuduga dari tadi, akupun mendongakkan kepalaku sejenak menatap k e wajah indo milik seorang laki-laki setinggi hampir dua meter itu. Ada sebuah senyum yang sangat… Ah, aku tak tahu harus membahasakan dengan istilah apapun untuk senyum itu. Dan matanya yang ternyata berwarna abu-abu telah berhasil membuat irama jantungku berdetak lebih cepat.

That’s him.” Bisik hatiku sesaat setelah aku berhasil melarikan diri dan mengunci diri dari kamar mandi.

“Astaghfirullah. Astaghfirullah., Ya Allaaaah.. Aku berusaha menenangkan diri.

Astaghfirullaaaaaaaaaaaaaaaaaaah.. Ini kamar mandi..” Aku terpekik panik ketika menyadari aku sedang beristighfar ria di kamar mandi.

Aku kembali ke kelasku dengan pikiran kacau dan konsentrasiku yang tidak karuan. Aku harus berbicara dengan seseorang, fikirku. Segera setelah aku kembali ke asrama nanti.

Namun karena kegiatan yang sangat padat di asrama, aku tak sempat bercerita kepada siapa-siapa hingga malam tiba. Hal itu membuat kepalaku hampir meledak. Aku merasakan dadaku semakin sesak dan segera setelah shalat magrib aku tak bisa menahan diri dan seluruh perasaanku pun tumpah dalam bulir-bulir  tangis yang tak mampu kubendung lagi.

“Ya Allah. Mila, ada apa?” Tanya Rere, salah satu kawan sekamarku.

Namun aku tak punya lagi kata yang bisa kutumpahkan untuk mendeskripsikan perasaan hatiku. Hingga setengah jam ke depan aku hanya menangis dan menangis. Hal itu tentu saja mengundang lebih banyak orang yang berkunjung ke kamarku. Siapa saja yang lewat kamar teratai dan tak sengaja melihat ke dalam, pastilah singgah untuk bertanya,  “Mila kenapa?”

Dan jawabanku hanyalah isakan-isakan yang sedang ingin kutahan namun tak jua berhasil.
Hingga setelah semua kawan-kawanku kembali dari shalat Isya di Mushalla, aku baru berhasil mengendalikan luapan emosiku. Dan merekapun kini sudah duduk dengan tidak sabar di sisi tempat tidurku untuk mendengar ceritaku.

“Emm, tadi.. Mila gak sengaja nabrak Mr. Landy waktu lagi buru-buru ke kamar mandi.” Ujarku memulai cerita.

“Terus, emangnya kenapa?” Tanya Rere, bingung.

“Mila lihat matanya. Terus Mila jadi bingung. Jadi galau. Terus pikiran Mila jadi kacau. Terus.. Aaaa..” tiba-tiba aku ingin menagis lagi.

Di pintu kamar kulihat beberapa orang kawan lain sedang memasang wajah penasaran mereka dengan tingkah anehku sedari tadi.
Di tengah isak-isak kecilku yang kembali hadir, aku berucap pias, mungkin Mila jatuh cinta sama Mr. Landy.. Hikshiks..”

“Hahahahah.” Gemuruh tawa segera memenuhi ruang kamarku. “Jatuh cinta kok susah, biasa ajalah. Semua orang juga jatuh cinta. Yang penting jangan lebay.” Kudengar seorang kawan yang berdiri di pintu kamar menyelutuk lalu pergi sambil tertawa.

Sejak saat itu, perasaan yang aneh itu terus menerus memenuhi otakku. Jujur, aku terganggu, tapi terus berusaha untuk tenang dan terus berkonsentrasi. Namun ternyata jatuh cinta itu sangatlah menyusahkan. Sosok itu akan selalu hadir dalam khayalmu dan memenuhi rongga hatimu. Begitu menyiksa sekali.

Namun sebaliknya, perasaan itu juga kadang-kadang membuatmu sangat bersemangat, merasa lebih hidup dan lebih bahagia. Begitu menyenangkan.
Saat-saat bertemu Mr. Landy kemudian adalah waktu-waktu yang sangat spesial. Waktu-waktu yang bisa mengubah hujan menjadi pelangi, terik mentari  terasa seindah purnama. Begitulah cinta. Dan malam itu, tak sengaja aku bertemu dengannya lagi. Aku baru saja berjalan pulang dari kantin bersama Sela ketika tiba-tiba kami melihat sesosok jangkung berbaju Basket yg masih kuyup dengan keringat berdiri di pintu kelas XII-1 tempat dimana anak-anak anggota English Club sedang berlatih debat.

Aku merasa jantungku tak lagi berada di rongga dadaku  melihat pemandangan aneh itu. “Ya Allah, apa-apaan tu bule kenapa nyusup ke asrama dengan pakaian tak sopan seperti itu?” Aku terpekik sendiri, sementara Sela masih terlihat shock menyaksikan pemandangan di depan sana, persis sepertiku.

Dan setelah malam itu, aku menjadi tambah gila. Aku benar-benar membenci sebuah kata yang tediri dari lima huruf yang dieja  ‘el e en di way’ yang berhasil mengubah keceriaanku menjadi kegundah-gulanaan sepanjang masa. Aku merasa sedang sangat menderita karenaa cinta. Cinta yang salah kepada orang yng tak boleh kucintai. Orang yang telah memaksa masuk ke dalam fikiranku belakangan adalah seorang non-muslim. ‘How could I fall in love to that kind of guy? Oh God. Please help me’.

Di tengah kekhawatiranku yang luar biasa, ternyata Allah masih sangat menyayangiku. Ternyata batas kontrak Mr. Landy mengajar di sekolah kami akan segera habis. Aku bahagia karena akan segera terbebas dari perasaan yang telah membunuh karakter hebohku hanya karena jatuh cinta pada seseorang yang tak boleh kujatuhi cinta. Tapi aku tak henti-hentinya menangis karena dia akan segera pergi. Ya, pergi dari sini dan tak pernah kembali.

***

Berbulan ke depan setelah dia pergi, ternyata aku belum juga berhasil membuang namanya dari hatiku. Senyuman dan mata abu-abunya masih saja melekat erat dalam khayalku. Padahal aku telah berusa keras mengusirnya. Hush hush.. Allaaah. HELP…

Namun penderitaan itu akhirnya berhasil memaksaku menyusun sebuah rencana besar yang tak pernah terlintas sedikitpun sebelumnya.
Aku ingin kuliah di University of Denver, Colorado. Itu gila, aku tahu itu. Tapi hanya dengan cara itu aku bisa bertemu lagi dengan Mr. Landy. Kabar terakhir yang kudengar, Mr. Landy sudah menjadi salah seorang dosen di University of Denver. Mungkin nanti aku bisa menjadi salah seorang mahasiswinya.

Aku baru saja belajar satu hal. Cinta ternyata selalu berhasil membuat orang memotong urat takut dan ragu terhadap kemampuannya. Cinta bisa membangkitkan sebuah energi besar yang terpendam dalam jiwa dan tak pernah disadari seseorang.

Dan semenjak planning itu muncul dalam benakku, aku mulai mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Selain mencari-mencari informasi tentang University of Denver,  aku juga sibuk membrowsing semua link beasisiwa S1 ke Amerika. Selain juga mengasah kebolehan Bahasa Inggrisku dengan mengikuti kursus-kursus yang akan membantuku menembus beasiswa menuju Mr. Landy.

Usaha dan pengorbananku terbalas dengan kegagalan menjadi mahasiswa pada tahun pertama setelah aku meninggalkan bangku SMA. Aku gagal berangkat ke Amerika plus tidak berhasil berkuliah dimana-mana , sementara hampir semua kawan-kawanku telah menjalani rutinitas mereka sebagai mahasiswa di universitas-universitas yang mereka idamkan.

Namun demi sebuah perjuangan cinta aku tak merasa putus asa. Aku masih terus berjuang untuk menuju Denver. Sebuah pengumuman beasiswa dari daerahku berhasil memompa kembali semangatku yang hampir kempes.

Aku sedang mencoba lagi menujunya dan menghubungi semua teman-temanku untuk memohon doa.
Dan sahabat-sahabat terbaik itu tidaklah tercipta kecuali untuk membahagiakanmu di saat galau. Menemanimu di saat-saat susah. Menyemangatimu di saat down, dan menghapus air matamu di saat kau kehabisan tissue. :)

Begitulah perjuangan itu kemudian menghantarkanku menuju Colorado.

In Colorado 2014.

Aku telah melewati seluruh prosedur pendaftaran online. Sehingga setiba disini aku sudah tidak terlalu repot dengan  administrasi pendaftaran.
Aku hanya perlu menemui seorang professor yang telah kuhubungi selama ini via email. Dan dia ternyata membantuku dengan senang hati. Winny namanya. Dari Prof. Winny aku mendapat informasi tentang kelas-kelas yang akan diisi Mr. Landy.

Aku tak sabaran ingin segera belajar di kampus ini menjadi mahasiswi Mr. Landy yang belum kukabari bahwa aku telah mengejarnya sampai sejauh ini. Aku ingin memberinya sebuah kejutan dengan keberadaanku yang tak hanya berhasil lolos seleksi di University of Denver namun juga sekaligusnya akan menjadi mahasiswinya.

Sambil bersabar menunggu awal musim gugur aku mencari-mencari informasi tentang komunitas Islam dan mencari pusat Islamic Center di seputaran Denver bersama seorang kawan baru –Aisy, yang segera menjadi saudara ketika telah berada dirantau orang.

Dan berbekal identitas muslim dan jilbab yang selalu kukenakan, aku dengan mudah mendapatkan informasi tentang semua hal yng berhubungan gelar keislamanku. Aku kemudian segera menjadi pengunjung setia Islamic Center di Masjid Dawah yang terletak tak seberapa jauh dari University of Denver.

Banyak hal-hal baru yang kupelajari tentang Islam disini, agama yang kubawa sejak lahir dan menjadi agama dengan penganut terbanyak di negeri asalku. Ada perasaan ‘butuh’ yang berlebihan terhadap keyakinan itu ketika aku hidup di lingkungan orang-orang atheis yang bahkan bingung hendak memanjatkan doa ke siapa ketika mereka sangat butuh untuk memohon sesuatu.

Dan kehausanku tentang ilmu agama kemudian mencipta sebuah jadwal tetap untukku berkunjung ke Islamic Center demi menghilangkan dahagaku akan ilmu akhirat itu.

Dan sore ini sekembaliku dari Islamic Center, aku mengajak Aisy utk menghabiskan sore di sebuah taman indah dengan rumput-rumput hijau yang terletak di pinggiran Denver.

Disana, kami memilih untuk melepas lelah dengan duduk lesehan di atas rumput agar kami dengan mudah bisa menjulurkan kaki kami yang telah sangat kecapaian.

Aku sedang memijat-mijat kakiku ketika tak sengaja aku merasakan sesuatu yang aneh. Hatiku tiba-tiba dipenuhi oleh Mr. Landy dan aku dapat merasakan auranya sangat dekat. Aku dapat merasakan dia berada disini, di taman ini, hanya berjarak beberapa ratus meter dariku. Aku sangat yakin dengan hatiku, karena aku percaya dengan sebuah candaan iseng Miss SMA-ku dulu : “Jika kau benar-benar jatuh cinta kepada seseorang, kau akan dengan mudah merasakan auranya dari radius 200 meter.”

Candaan itu juga yang kemudian membuatku bangkit dan mulai berjalan mencari-cari asal aura itu. Dan hatimu takkan pernah bisa menipu, Kawan. Dia adalah referensi paling jujur yang bisa kau jadikan rujukan kapan saja. Dia takkan membohongimu. Takkan pernah, bahkan ketika engkau berusaha keras untuk TIDAK mempercayainya.

Oleh karena itu, aku memilih untuk mempercayai hatiku saat ini. Aku segera berjalan menyusuri rumput-rumput hijau lembut di bawah kaus kakiku. Hatiku menjadi GPS menuju sebuah cinta yang telah jauh-jauh kukejar sampai ke denver. Teriakan-teriakan kecil Aisy tidakk sedikitpun mengalihkan perhatianku. Aku memutar-mutar badan dan kepalaku agar bisa memandang ke seluruh penjuru taman ini.

Dan mataku segera berhenti di sebuah bangku taman bercat hijau yang sedang diisi oleh sepasang bule yang sedang asik mengobrol.
Segera setelah itu, darahku berhenti mengalir, hatiku berhenti berdesir, mataku berkunang-berkunang, aku hampir pingsan karena rasa gembira yang tak berhasil kukendalikan.

Akhirnya aku menemukannya disini. Dia, cinta yang telah kusimpan selama dua tahun, sekarang hanya berjarak beberapa puluh meter di hadapanku.

Aku berusaha menguasai diri. Mengatur irama nafasku, merapikan jilbabku dan mengibasi rumput-rumput yang lengket di pakaianku.
Aku akan menujunya, dan aku ingin terlihat sempurna.

Aku menyeret langkahku perlahan-lahan diikuti Aisy di belakangku yang sepertinya sudah mendapatkan clue tentang sikap anehku. Mataku dan matanya kini berfokus ke satu titik, seorang laki-laki bule berusia sekitar 27 tahun yang sedang duduk di sana bersama seorang teman.

Setiba di hadapannya, kudapati laki-laki bermata abu-abu itu tersenyum kebingungan menebak-nebak kalau-kalau dia pernah melihatku, mungkin dalam mimpi buruknya, tebakku.

“Mister.. It’s me, Mila, one of Harapan Ummah students. Do you remember me?”

“Ow. Hi you.. “ Jawabnya menggantung. Mungkin masih berusaha mempercayai bahwa aku tidak sedang membohonginya.

“What a surprise to see u here, in Denver.” Sambungnya lagi berbasa basi. Dan dia adalah bule yang paling pintar mengambil hati orang timur dengan basa basinya yang tak penah basi.

Ingin rasanya aku berteriak menjawab kaliamatnya tadi, “I’m here to find you, my love. You have succesfully taken my heart to Denver. That’s why I’am here.” Tapi kalimat itu kutelan kembali mentah-mentah.

“Oh yeah, I will be one of students in University of Denver for Education Program , Mister.

“Ow really?? I can’t believe my ears. What a chance.” Tambahnya lagi.

“I will be one of your lecturers, then, together with my wife, Amera. It will be a really great time to us to get you join in our classes.” Dia berucap panjang lebar, namun aku tak lagi jelas mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya. Hanya satu kata yang berhansil kutangkap dengan baik : wife, ya wife.

Dan perempuan berambut pirang dengan kaos berleher lebar itu ternyata adalah istrinya.

Demi Allah, ini adalah hal tersakit yang pernah kurasa selama 19 tahun aku hidup. Setelah menelan pahit pil-pil rindu selama dua tahun dan berhasil menyusulnya kemari, aku kemudian menemukannya telah beristri. Ya Allah, kenapa buruk nian suratan yang tetulis di atas garis takdirku. Kenapa aku harus jauh-jauh ke Denver hanya untuk merasakan pedihnya patah hati.

Dalam rasa sakit yang tak berhasil kubuang, aku menggenggam tangan Aisy dan bersiap untuk segera lari menjauh darinya, yang telah mengajariku arti rasa sakit akan cinta pertama yang harus kandas di sebuah tempat yang berjarak ribuan mil jauh dari rumahku, dari orangtuaku. Dan pilihan untuk mati menyusup-menyusup dengan sayup ke dalam alam gamangku.

“Astaghfirullah.. Astaghfirullah.” Aku membuang pikiran-pikiran setan itu dan segera berlalu dari hadapan cinta pertamaku yang tak pernah berhasil kugapai, takkan pernah bisa kucapai, selamanya.

Dia terlalu jauh, bahkan dalam mimpi burukpun aku takkkan pernah dapat menggapainya.

Dan aku dengan airmata, kemudian berusaha mengumpulkan kembali kepingan-kepingan hatiku yang bertabur luka dan berhasil dialirkan ke seluruh pembuluh darahku dengan kepedihan yang tak berhasil kulukiskan lewat kata-kata. Dan engkau takkan pernah bisa merasakan apa yang kurasa, Kawan. Karena aku telah membayar telalu mahal hanya untuk sebuah kata “Heart-breaking.”

Namun, bertahun setelah itu, aku baru menyadari bahwa rasa sakit itulah yang kemudian mengantarku menjadi seorang muslimah tangguh yang tidak mudah ditaklukkan oleh sembarang hati.