Saya telah tinggal di sebuah ruko yang berbentuk aneh, bukan persegi panjang melainkan berbentuk trapesium, semenjak anak pertama kami berumur 6 bulan. Kini si
gadis kecil itu sudah duduk di kelas satu Madrasah Ibtidaiyah. Kalau
saya hitung-hitung secara kasar, sudah lebih enam tahun kami menghuni
ruko yang lebih sering kami sebut dengan nama ‘apartment mini ‘ yang
teletak di tengah sebuah pasar tradisional ini.
Pernah sekali saya mencoba memindahkan sampah-sampah dari halaman depan kami dan memotong bunga-bunga jelloberi, nama yang diberikan anak saya untuk bunga-bunga kecil berwarna kuning yang tumbuh liar di halaman, namun yang terjadi setelah halaman saya bersih adalah sebuah keanehan yang tidak bisa dicerna akal. Selang beberapa hari setelah gotong royong massal saya bersama anak-anak saya (6,5 dan 4,5 tahun), sebuah container sampah milik pemerintah tiba-tiba diletakkan disana. Okelah, posisi halaman itu memang strategis karena terletak dekat dengan jalan, tapi bila tempat ini memang dialokasikan untuk tempat pembuangan sampah resmi, sangatlah tidak cocok karena tempat itu termasuk dalam bagian halaman sebuah bangunan, perlu usaha ekstra untuk meletakkan sampah dalam kontainer tersebut. Dan benar saja, saya melihat masyarakat tidak tertarik untuk singgah, turun dari kenderaan dan melompat ke bagian halaman yang dibuat setengah meter lebih tinggi dari jalan, hanya untuk membuang sampah. Wahasil tempat sampah tersebut hanya digunakan oleh pedagang buah untuk membuang buah-buahan busuk dan segala macam sampah sampih yang berhubungan dengan perihal pendistribusian buah.
Perihal kontainer sampah yang diletakkan tanpa izin tersebut kemudian menambah list untuk men-judge bahwa lokasi rumah kami adalah lokasi yng sangat buruk untuk dipilih dan ditinggali oleh dua makhluk mungil milik Allah yang masih belum tahu apa-apa tentang kebrutalan dunia. Dan demi sedikit kenyamanan yang kami harap masih bersisa, kami sama-sama berdoa di suatu Jum’at siang, saat mobil sampah mengangkat benda besar berwarna kuning dan bau itu yang hampir sebulan berada di halaman rumah kami. Masih kuingat sebuah kalimat yang mewakili sejuta harapan dalam hati kami saat itu : “Allah, jangan kembalikan benda itu ke rumah kami.” Dan anak-anak saya menjawab ‘aaamiin’ dengan sangat yakin bahwa Allah selalu mendengarkan mereka. Tak pernah tidak.
Dan benar saja, sampai sore menjelang dan magribpun datang, kontainer itu tidak lagi kembali. Tidak besok atau besoknya lagi. Mudah-mudahan ia benar-benar pergi untuk selamanya.
Namun sampah-sampah itu, masih juga tak pernah mau pergi. Saya sangat sadar bahwa saya tak perlu merutuki sampah-samapah itu. Ini bukan salah mereka. Ini hanya ulah tangan-tangan yang tak pernah belajar bahwa kebersihan sebagian dari iman.
Selain perihal sampah, letaknya yang di tengah pasar membuat kami tak mempunyai tetangga. Tidak seperti di kampung yang dikelilingi oleh sanak saudara, disini kami hanya bisa mempunyai rakan seorang nenek penjual nasi padang dan seorang ibu penjual air mineral yang berasal dari Jawa.
Rasa penat sering kali singgah dalam hati saya. Rasa itu kemudian mulai berubah menjadi gumpalan-gumpalan kegondokan, ketika capek mendera, namun masih harus naik turun tangga. O Pota Allah.. Alasan apalagi yang saya butuhkan agar bisa segera hengkang dari tempat yang weird ini.
Beberapa kali saya pernah mengusulkan kepada abunya anak-anak untuk pindah rumah. Namun jawabannya selalu sama, “Kita punya rumah, kenapa harus sewa tempat lain?”
“Kita memang tinggal di lokasi yang salah,tapi tidak ada yang salah dengan rumah kita.” Imbuhnya lagi.
“Gak salah apa?” Dumelku dalam hati. Satu-satunya tempat yng paling nyaman di rumah ini hanyalah kamar berukuran 4x5 berisi sebuah bed yang comfort, sebuah toalet besar juga sebuah icon yang sudah renta, sebuah lemari kecil dan sebuah kamar mandi kering yang terisi dengan sebuah kloset duduk berserta sebuah bath up yang lebih sering dipakai sebagai tempat menampung air daripada tempat berendam.. :D
“Look, we have our own suit room.” Ujar abunya anak-anak kemudian. Ia selalu punya beribu cara untuk bersyukur (mungkin juga untuk mengelak).
Dan jawaban-jawabannya itu hanya membuat jadwal ‘balik dari kampung’ kami menjadi lebih molor.. Saya dan anak-anak lebih suka menghabiskan waktu libur (bahkan waktu tidak libur) untuk tinggal di rumah orang tua saya di kampung yang sangat nyaman dan aman bagi anak-anak.
Namun saya tersadar bahwa waktu-waktu yang datang setelah itu mewajibkan saya untuk lebih sering berada di rumah kami, karena anak saya sudah akan mulai masuk sekolah formal yang jadwalnya tidak boleh kami atur seperti saat dia belajar di play grup dan TK dulu.
Saya kemudian kembali galau akan rumah yang sudah menjaga dua orang anak saya dari panas terik kota banda aceh dan hujan deras yang mengguyurinya tanpa minta izin terlebih dahulu.
Hingga suatu sore menjelang ashar, selepas hujan turun, saya di tegah kegalauan yang sekali lagi singgah, berdiri sejenak di balik jendela kaca kamar kami, setelah bertahun-tahun tak mendapatkan apa-apa dari balik jendela depan bangunan ini. Saya berdiri mengintip-intip beberapa orang anak laki-laki yang sedang bermain bola di tengah lapangan yang tergenang lumpur dan masih disirami rinai gerimis yang kian menipis.
Sesaat kemudian pandangan saya terpaut kepada sebatang pohon (bak tapang) besar dengan batang yang agak menjorok ke sebelah kanan. Di atasnya beberapa orang anak laki-laki lain sedang melompat-lompat dengan girang untuk mengayuni diri mereka. Dan tepat di seberang semak-semak setinggi 1,5 meter yang berada di sekeliling pohon itu, tampaklah sebuah danau kecil yang sebenarnya saya tak yakin tempat yang dipenuhi genangan air itu layak disebut danau. Di dalam danau tersebut beberapa ekor itik tampak sedang bersenda gurau dengan teman-temannya.
Dan tepat di saat pemandangan indah itu mulai menyadarkan saya dari kegalauan panjang ini, sebentuk lukisan berwarna warni tampak terlukis dengan indah di atas deretan bukit barisan yang selama 6 tahun ini telah saya abaikan keberadaannya karena keindahannya telah berganti dengan deretan-deretan rumah dan ruko yang tersusun acak dan menutupi julangan tinggi bukit barisan tersebut.
Lengkungan lembanyung bak sulaman pita bidadari itu telah meninggalkan kesan yang teramat dalam tentang sebuah view yang dilukiskan-Nya di atas bukit yang sejenak kemudian mulai berganti warna yang tadinya hijau sepenuhnya dengan warna kuning keemasan, tertimpa cahaya matahari sore.
Ah, begitu indahnya lukisan dari Sang Pelukis Agung itu. Sayang, saya tak pernah sempat memerhatikan kelebihan ini ketika saya terlalu sibuk dengan kekurangan-kekurangan yang telah saya buat daftarnya jauh-jauh hari dan saya tanamkan dalam-dalam di lubuk jiwa saya.
Namun semenjak saat itu, berdiri sejenak di jendela kaca berwarna hijau tua itu telah menjadi obat yang paling mujarab untuk saya menepis rasa gundah yang kini sudah jarang singgah.
Bukanlah kondisi dan keberadaan lingkungan kita yang membuat kita tidak nyaman, namun sudut pandang kita yang harus kita ubah. Bila kita tak berhasil melihat dunia dari satu jendela, berpindahlah ke jendela yang lain.
Begitu pula dengan hidup. Ketika kita yakin bahwa hidup telah membuat kita terpuruk, maka kita akan selamanya menderita. Namun ketika kita yakin sepenuhnya bahwa semua yang kita lalui adalah hal-hal yang luar biasa yang orang lain belum tentu sempat melaluinya, maka mulai saat itu kita akan selalu merasa bahagia.. Percayalah.